
Akhir-akhir ini Jo selalu teringat akan ucapan Vheya. Mungkinkah dirinya bisa membuka hati kembali untuk wanita lain. Sedangkan hatinya saja masih enggan untuk menerima kehadiran wanita lain. Jo sempat berpikir untuk mencoba mendekati Ghea, seperti apa yang Vheya sarankan. Namun jika berada di dekat Ghea, hatinya tak merasakan getaran atau apapun, yang bisa membuat Jo mencoba untuk membuka hatinya.
Jo berusaha sekuat tenaga untuk menjaga perasaannya saat berada didekat Vheya. Dia harus bisa menahan sikapnya untuk seolah-olah bersikap biasa saja layaknya seorang teman. Meski terkadang rasanya ingin memberontak, namun apalah daya, Jo sudah berjanji kepada Vheya.
Sama seperti saat Vheya dan Ghea sedang duduk di bangku taman, ingin rasanya mendekati, namun Jo harus menahan diri. Sebab disana juga ada Rey yang sedang sibuk dengan ponselnya, namun tubuhnya merapat disisi Vheya.
" Ghe, kapan kita jalan-jalan ke pantai lagi. Kayanya seru deh." ucap Vheya.
" Ya seru kalo cuma kita berdua. Kalo kamu ngajak suami, itu baru nggak seru. Soalnya pasti ujung-ujungnya aku cuma jadi obat nyamuk doang." ucap Ghea merasa sedih.
" Hahaha derita lho jomblo." ledek Vheya.
" Sialan lho Vhey."
Tiba-tiba saja Jo memberanikan diri untuk datang menghampiri Ghea dan Vheya. Meskipun langsung mendapat tatapan tajam dari Rey. Namun Jo berusaha bersikap tenang, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.
" Ehh Jo dari kapan disini?" tanya Vheya.
" Baru aja Vhey." jawab Jo santai.
" Ngapain lho disini Jo." tanya Ghea.
" Terserah gue dong mau ngapain. Ini kan tempat umum." jawab Jo ketus.
" Udah-udah jangan berantem. Nanti jodoh lho." kata Vheya meledek.
" Hihh amit-amit jodoh sama Jo." ucap Ghea seolah menolak, namun dalam hatinya berharap.
" Siapa juga yang mau sama lho. Masa iyaa turun level. Dari seorang bidadari kaya Vheya jadi nenek sihir kaya lho." kata-kata Jo langsung saja membuat Ghea sakit hati.
" Ekhmmmmmm." tiba-tiba Rey seperti tak rela istrinya di puji laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu adalah mantan terindah sang istri.
" Sory bro bukan maksud gue muji-muji Vheya. Kita udah sama-sama janji buat jadi sahabat aja kedepannya. Iya kan Vhey." ucap Jo meminta bantuan Vheya untuk menjelaskan kepada Rey.
" Iya sayang, kamu jangan mikir macem-macem ya?" kata Vheya sembari menatap mata Rey.
__ADS_1
" Ok. Awas aja kalo sampai berani nyentuh milik gue, habis lho Jo ditangan gue." ucap Rey penuh ancaman.
" Tenang bro, kita kan prend. Damai itu indah bro." ucap Jo cengengesan namun sedikit panik dengan ancaman Rey.
Jo masih mencuri-curi pandang saat melihat Vheya dan Rey bermesraan. Bahkan Jo malah membayangkan jika yang berada di posisi Rey saat ini adalah dirinya. Sampai tak sadar dirinya tersenyum sendiri seperti orang tak waras.
Ghea yang melihat Jo tersenyum kearahnya, malah menganggap Jo sedang tersenyum padanya. Ghea menjadi salah tingkah dibuatnya. Andai Ghea tau kalo Jo tersenyum bukan untuk dirinya, pasti dia akan kecewa.
" Sayang malam ini nginep di hotel aja yuk." ajak Rey.
" Ngapain mas. Pulang aja deh."
" Ayolah sayang. Malam ini aja." rengek Rey kepada Vheya.
Ghea dan Jo yang melihat dan mendengar langsung obrolan suami istri itu langsung tak percaya. Ternyata Rey semanja dan sebucin itu terhadap Vheya.
Jo semakin cemburu dan merasa sakit hati melihat orang yang dicintainya bermesraan di hadapannya langsung. Walaupun nyatanya mereka memang sudah sah. Namun Jo tetap berusaha mengontrol hatinya. Dan mengingat kembali perjanjian diantara mereka.
" Eh Vhey, aku pulang dulu ya, udah sore banget nih." ucap Ghea.
" Hmzzzz yang udah sah mah bebas mau kemana aja." ucap Ghea meledek.
" Makanya jangan jomblo terus Ghe. cari cowo kenapa? kalo perlu langsung cari suami." ledek Rey.
" Emang mas Rey ada temen yang jomblo. Kenalin dong mas. Siapa tau cocok." ucap Ghea bersemangat.
" Murahan banget." tiba-tiba Jo berkomentar.
" Apaan sih lho nyambung aja. Pergi sono, ngerusak pemandangan aja." ucap Ghea ketus.
Jo yang merasa kesal dengan ucapan Ghea, langsung cabut tanpa pamit. Vheya hanya bisa membuang nafas kasar melihat kelakuan orang-orang yang ada dihadapannya itu.
" Udah deh, pusing gue liat kalian berantem terus. Jodoh baru tau rasa. Yuk sayang aku cape mau istirahat." ajak Vheya kepada suaminya.
Akhirnya Ghea nemutuskan untuk pulang, dan Vheya bersama Rey memutuskan untuk menginap di Hotel. Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah Vheya dan Rey di Hotel milik keluarganya. Mereka langsung memesan kamar yang biasa mereka tempati.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam kamar, Vheya langsung saja merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rasanya hari ini, meskipun tidak melakukan aktifitas melelahkan, namun rasanya badannya merasa sedikit pegal.
" Mas tolong pijitin dong. Badan aku pegel semua rasanya mas." pinta Vheya kepada Rey.
" Ya elah, diajak kesini mau seneng-seneng, malah suruh jadi tukang pijit." ucap Rey menggerutu.
" Jadi nggak mau nih." ucap Vheya ketus.
" Ya mau sayang. Sini mana yang pegel, biar mas pijitin. Tapi ntar gantian ya sayang." ucap Rey ada maunya.
" Dasar pamrih. Nolong kok nggak ikhlas."
" Iya ikhlas sayang. Gitu aja marah. Gitu aja ngambek. Kaya lagi PMS aja." ucap Rey.
" Eh bentar deh mas. Jangan-jangan bener. Ini tanggal biasanya soalnya."
Vheya berlari ke kamar mandi dan mengeceknya. Benar saja dirinya sedang berhalangan. Untung saja ditasnya selalu ada persediaan pembalut. Kalau sampai nggak ada, pasti Rey yang harus mencarikannya.
" Gimana sayang, nggak lagi pms kan?" tanya Rey.
" Iya sayang, untung aja aku ada persediaan pembalut. Coba kalo nggak ada, pasti repot banget." ucapnya santai.
" Terus ngapain kita kesini, kalo kamu aja lagi berhalangan. Mau main apaan." ucap Rey emosi.
" Emang kita kesini mau main apaan. Emang ada mainan?" tanya Vheya sok polos.
" Tau akh gelap."
" Mana gelap. Terang benderang kaya gini dibilang gelap. Mata mas Rey bermasalah ya?" ucap Vheya meledek.
" Tau akh sayang. Niat hati mau enak-enak malah jadi kaya gini. Nggak pas banget sih momentnya. Udah ah mau tidur aja. Met malem." ucap Rey yang langsung menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Vheya yang melihat suaminya seperti itu langsung menghampiri dan memeluknya. Diusap wajah tampan suaminya dan dikecupnya pipi Rey. Rey yang sebenarnya belum tidur hanya menikmati usapan-usapan lembut dari tangan istrinya itu.
" Selamat tidur suamiku. Mimpi indah ya?" bisik Vheya ditelinga suaminya.
__ADS_1