
Di depan tv, Vheya sedang asik menikmati cemilannya. Tiba-tiba hpnya bergetar.
📩Vhey lagi sibuk nggak.
📩Ada waktu nggak Vhey.
📩Kalo ada, jalan yuk. Aku jemput.
...📨Nggak sibuk kok....
...📨Boleh aja. Mau kemana?...
📩Kemana aja.
📩Share lok ya. Nanti kalo udah sampe aku kasih tau.
...📨Ok. Aku siap-siap dulu ya....
"Sumpah demi apa ya tuhan, Jo ngajak aku jalan. Aku harus siap-siap nih. Apa dulu ya? kayanya pilih baju dulu dech, terus sepatu sama tas." ucap Vheya sembari bergegas memilih baju.
Hampir seluruh isi lemari dikeluarkan. Dan akhirnya menemukan baju yang dirasa pas olehnya. Memadukan dengan sepatu dan tasnya. Setelah beres Vhey kemudian duduk di depan cermin. Kemudian lanjut memoles wajahnya. Tidak terlalu tebal, cukup tipis-tipis karena Vhey lebih suka natural. Dan memang aslinya sudah cantik walaupun tanpa make-up sekalipun.
Setelah 30 menit berlalu, Vhey telah selesai bersiap-siap. Seketika itu Vhey membuka hpnya. Ternyata dari tadi Jo sudah menelfonnya, tetapi Vhey tidak menyadarinya, karena asik bercermin terkagum-kagum melihat bayangan dirinya yang begitu cantik di hadapannya.
Vheya kemudian berlari keluar Halaman. Jo sudah menunggunya diatas motor sport miliknya.
"Maaf ya Jo, nunggu lama ya?" tanya vheya dengan muka panik.
"Nggak kok. Aku baru sampe. Yuk berangkat." ajak Jo sembari memberikan helmnya kepada Vheya.
Ternyata Vheya susah memakai helmnya. Jo yang dari tadi melihat kecantikan Vhey, akhirnya meminta kembali helmnya, dan memakaikannya di kepala Vheya.
"Makasihh" ucap Vhey sambil cengar cengir.
__ADS_1
"Iya sama-sama cantik. Yuk naik. Jangan lupa pegangan ya, takutny ntar jatuh." jawab Jo sembari mengulurkan tangannya membantu Vheya naik ke atas motor.
Disepanjang jalan mereka hanya terdiam. Jo yang mencuri-curi pandang lewat kaca spion, hanya tersenyum menikmati indahnya pemandangan, yaitu wanita cantik yang ada dibelakangnya. Hingga tiba-tiba suara Vheya mengagetkan dirinya.
"Sebenernya kita mau kemana sih jo?" tanya Vheya yang sedari tadi diam, tetapi banyak pertanyaan di dalam hatinya.
"Nanti kamu juga tau. Enggak jauh kok. Bentar lagi sampai. Sabar y cantik?" ucap Jo sembari memuji kecantikan wanita yang diboncengnya.
Alhasil Vheya hanya tersenyum menanggapinya. Bahkan dia sendiri tidak pernah membayangkan akan sampe ke tahap ini secepatnya. Awalnya dia hanya sekedar mengagumi, eh pucuk di cinta ulam pun tiba, malah diajak jalan-jalan sama Jo.
Tiba-tiba motornya berhenti disebuah Taman yang dikelilingi banyak bunga-bunga indah yang sedang bermekaran. Seketika membuat vhey terkejut. Ini seperti bayangan pada awal melihat Jo. Seperti terbang diatas awan, dan melihat banyak bunga yang bermekaran.
"Ayo turun." ucap Jo mengagetkannya.
"Oh iya.Udah sampai ya?" jawab Vhey sembari melepas helmnya dan merapikan rambutnya kembali.
"Yuk duduk disitu." ajak Jo sembari menggandeng tangan Vhey menuju kursi yang ada di sebelah mereka.
"Vhey aku ngajak kamu kesini, ada yang marah nggak?" tanya Jo dengan nada pelan .
"Kalo ada kenapa emangnya jo?" jawab Vheya.
"Jadi beneran ada yang marah. Maaf ya aku udah lancang ngajak kamu jalan sama aku. Terus gimana dong? apa balik aja gitu?" ucap Jo dengan raut muka bingung, panik dan seperti kecewa.
"Biasa aja kali mukanya. Nggak usah tegang gitu, nggak ada yang marah kok. Kan tadi aku udah ijin sama mamah." jawab Vhey sedikit menenangkan hati Jo.
"Kalau pacar marah nggak?" tanya Jo balik.
"Aku belum punya pacar. Mana mungkin mau marah. Sebenernya kamu ngajak aku ke tempat beginian mau ngapain sihh?" tanya Vhey balik, masih menerka nerka apa yang hendak Jo katakan.
"Vhey nggak usah basa basi ya. Aku cuma mau bilang, aku suka sama kamu dari awal kita ketemu. Mungkin ini emang terlalu cepat buat kamu, tapi aku nggak mau menahannya. Kamu mau enggak jadi pacar aku." tutur Jo sembari menggenggam tangan Vheya.
Vhey hanya terdiam. Dia masih tidak percaya orang yang ada didepanya, orang yang di kaguminya ternyata juga menyukainya. Malah menyatakan perasaannya secara langsung. Vheya sebenarnya ingin langsung menjawab iya. Tetapi dia malu , takut dikira cewe yang gampangan. Baru kenal udah mau aja dipacarin. Tapi kalau nolak nggak mungkin juga, karena memang Vheya dari awal menyukai Jo.
__ADS_1
"Gimana Vhey? mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku nggak mau menyimpan dan menahannya. Kalau emang kamu nggak bisa jawab sekarang nggak papa kok. Aku kasih kamu waktu." ucap Jo menyadarkan lamunan Vheya.
"Gimana ya Jo. Kita kan baru kenal, aku takut kamu cuma main-main aja. Kasih aku waktu ya Jo buat mempertimbangkan. Nggak papa kan Jo?" jawab Vheya sedikit jual mahal.
"Ok . Nggak papa kok Vhey. Ya udah kita lanjut jalan yuk. Kita makan dulu yuk. Tenang aku yang traktir." ucap Jo sembari menggoda.
"Hmmm nyogok nihhh, pake alasan mau traktir segala. Mampu kali aku , timbang bayar makan doang." jawab Vheya dengan sedikit sombong.
Setelah menemukan Restoran disekitar Taman, akhirnya mereka memutuskan untuk makan disana. Tidak butuh waktu lama mereka menyelesaikan acara makan mereka , dan memutuskan untuk pulang.
Diperjalanan suasana kembali hening. Sedikit canggung untuk Jo memulai pembicaraan. Dia juga masih deg-degan menunggu jawaban apa yang akan Vheya katakan. Entah ditolak atau diterima.
Hingga tak terasa laju motor telah sampai di depan rumah Vhey. Seketika motor berhenti, Vheya langsung turun dan memberikan helmnya kepada Jo.
"Makasih ya Jo buat hari ini. Makasih udah ngajak jalan, udah ngajak makan." ucap Vheya seperti ingin mengucapkan hal lain, namun tertahan.
"Ok. Santai Vhey. Ya udah aku langsung balik ya, gih tidur sana. Sampai ketemu di Sekolah." jawab Jo sembari menaruh helmnya di jok belakang.
Ketika Jo akan melajukan motornya, tiba tiba Vheya memegang tangan Jo. Vhey menatap mata Jo, dan Jo seketika gemeteran dan kaget.
"Ada apa lagi Vhey?" tanya Jo heran.
"Emmmzzz gimana ya Jo."
"Gimana apanya?" tanya balik Jo.
"Jo aku mau jadi pacar kamu." ucap Vhey membuat mata Jo terbelalak dan tersenyum lebar.
"Kamu serius Vhey??" tanya Jo meyakinkan ucapan Vheya.
"Iya aku mau jadi pacar kamu. Ya udah sana pulang. Sampe ketemu di Sekolah." jawab Vhey sambil berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Jo yang masih syok.
Jo masih tersenyum dan hampir berteriak kegirangan. Namun diurungkan, karena takut dikira orang nggak waras. Akhirnya Jo bergegas pulang dengan hati riang.
__ADS_1