Pacarku Bukanlah Jodohku

Pacarku Bukanlah Jodohku
episode 19


__ADS_3

Setahun sudah hari-hari dilalui Vheya tanpa ada kabar dari Jo. Usaha yang dilakukan untuk mencari keberadaan Jo hanya sia-sia. Bahkan orangtua Jo dan om nya pun sudah pasrah. Mereka sudah mengikhlaskan jika memang Jo telah pergi.


Rey sudah kembali dan menetap di Indonesia. Usahanya untuk mengambil hati Vheya sudah mulai terbuka lebar. Namun untuk melangsungkan ke jenjang yang lebih serius Vheya masihh ragu. Meskipun sudah berkali-kali didesak oleh orangtuanya.


Hari ini Rey menemui Vheya untuk mengajak jalan. Rey sudah berdandan rapi untuk menemui sang pujaan hati. Sesampainya dirumah Vhey, Rey langsung menemui mamahnya Vheya.


" Ehhh nak Rey sudah datang."


" Iya mahh, Vhey dimana mahh."


" Ada di dalem. Masuk aja langsung ke kamarnya."


" Nggak papa mah emangnya."


" Ya nggak papa, dari pada nunggu lama. Samperin aja langsung."


" Ya udah aku ke atas dulu mah."


Rey pun menuju ke kamar Vheya. Dilihatnya pintunya sedikit terbuka. Rey mendekat dan membuka pintunya perlahan. Ternyata Vheya sedang sibuk memainkan hpnya.


" Vhey"


" Ehh mas Rey. Udah lama disini."


" Baru aja. Disuruh mamah nyamperin kamu kesini. Marah nggak?"


" Nggak papa kok."


" Jalan yuk. Udah siap kan?"


" Udah kok. Ya udah mas turun dulu, bentar lagi aku nyusul."


Setelah beberapa menit Vheya sudah bersama Rey didalam mobil.


" Mau kemana Vhey?" tanya Rey.


" Terserah mas aja." ucap Vhey datar.


" Vhey ada yang mas mau omongin."


" Ngomong aja ."


" Mas pengen kita nikah."


" Mas nggak usah bahas itu lagi dech."


" Mas tau kamu masih mikirin Jo kan."


Rey terlihat nampak kecewa. Sudah sekian lama Rey menunggu. Namun jawaban Vhey selalu sama. Rey hampir putus asa, namun orangtuanya dan orangtua Vhey yang selalu menyemangati Rey.


" Mas nggak usah bahas itu. Yang udah berlalu ya udah. Nggak gampang setahun ini aku lewati." ucap Vheya tegas.


" Maaf Vhey, tapi please kasih mas satu kesempatan. Dalam waktu satu minggu ini kalau emang kamu belum yakin sama mas, mas siap mundur kok."

__ADS_1


" Mas apaan sih. Ngomong apa nggak jelas."


" Vhey, udah satu tahun mas nunggu kamu, meskipun status kita udah tunangan, mas nggak maksa kamu buat kita nikah cepet."


" Mas kan tau sendiri alasannya. Kenapa di bahas terus sih mas. Bikin sebel aja."


" Ok. Kalau emang itu mau kamu. Mas nggak akan gangguin kamu lagi. Mas nggak mau maksa kamu." ucap Rey dengan nada sedikit kesal dan emosi.


Rey melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi. Kemudian menghentikan mobilnya di Restoran Sea Food.


" Kok berenti mas."


" Kamu mau makan atau enggak."


" Aku udah kenyang mas. Kita lanjut aja ke Mall. Ada yang mau aku beli."


" Yaudah." jawab Rey datar.


Semenjak obrolan di mobil tadi, Rey hanya diam dan fokus menyetir. Ada sedikit rasa kecewa dan marah. Namun Rey berusaha menahannya. Vheya yang melihat sikap Rey jadi sedikit merasa bersalah.


Akhirnya mereka sampai di parkiran Mall terbesar di Kota itu. Mereka pun turun dari mobil .


" Mas jangan cepet-cepet." ucap Vheya yang tertinggal beberapa langkah dari Rey.


" Iya." jawab Rey sembari melambatkan langkahnya.


" Mas marah ya."


" Itu mukanya jutek kaya gitu. Tadi pas berangkat nggak kaya gitu dech." ucap Vheya.


" Ya udah buru mau beli apa. Abis itu langsung pulang."


" Kok pulang. Katanya mau nonton." ucap Vheya tidak peka dengan perubahan sikap Rey.


" Ya udah terserah kamu."


Vheya pun melanjutkan langkahnya. Saat sampai ditempat sepatu yang diinginkan, Vheya agak sedikit berlari, namun malangnya Vheya malah terpeleset karena lantainya yang licin. Untung Rey secepat kilat langsung menangkap tubuh Vheya.


" Kamu nggak papa Vhey."


" Nggak papa mas."


" Ada yang sakit atau luka nggak." ucap Rey panik dan khawatir takut Vheya terluka.


" Nggak papa mas cuma kepleset aja. Lantainya licin banget nichh." ucap Vheya sembari menatap mata Rey yang sedari tadi tak henti menatap dirinya.


" Pelan-pelan makanya. Sini pegangan."


" Iya mas." jawab Vheya.


Vheya menjadi tidak karuan. Perhatian kecil Rey memang selalu dia dapatkan. Tapi entah mengapa kali ini Vheya sangat tersentuh. Bahkan Vheya merasa nyaman saat memegang lengan Rey.


Vheya mengikuti langkah Rey perlahan dengan masih memegang erat lengan Rey.

__ADS_1


" Udah sekarang mau pilih yang mana. Kamu duduk sini biar aku yang ambilin."


" Yang itu mas." ucap Vheya sambil menunjuk sepatu yang di inginkan.


" Yang ini." kata Rey segera mengambil sepatu yang diinginkan Vheya.


" Iya mas."


Rey pun menghampiri Vheya dan berlutut di depannya untuk memakaikan sepatu yang sudah dipilihnya. Vheya kaget dan tak percaya Rey melakukan itu.


" Mas biar aku pake sendiri aja."


" Nggak papa. Udah kamu duduk aja. Gimana pas nggak. Atau mau cari nomor yang lain."


" Udah pas kok mas. Ini aja."


" Ya udah langsung bayar yuk. Abis ini mau kemana lagi?"


" Mau beli es krim boleh mas."


" Boleh, ya udah yuk."


Vhey pun langsung menggandeng lengan Rey tanpa diperintah. Setelah membayar di kasir mereka kemudian ke tempat penjual es krim.


Vheya makan es krim begitu lahap seperti anak kecil dan sampai belepotan di bibirnya. Rey yang melihat malah tersenyum.


" Kenapa mas senyum."


" Nggak papa. Sini mas bersihin. Nihh belepotan kaya anak kecil." ucap Rey sembari membersihkan bibir Vheya.


Vhey yang bibirnya disentuh Rey, seketika langsung terdiam dan memerah pipinya. Baru kali ini Vheya merasa sangat nyaman didekat Rey.


Mereka pun menuju parkiran untuk pulang. Mereka mengurungkan niatnya untuk nonton. Cuaca sudah sangat gelap sepertinya akan turun hujan.


Selang beberapa menit mereka sudah sampai dirumah Vheya. Karena jarak dari Mall ke rumah Vheya itu dekat. Ketika baru turun dari mobil, tiba-tiba petir menggelegar, angin bertiup kencang dan hujan turun begitu deras.


Mereka masuk kedalam rumah. Dan ternyata ada mamahnya Vheya.


" Mahh lagi apa. Rey pamit ya mah mau pulang."


" Jangan Rey. Di luar cuacanya lagi kaya gitu. Nginep disini aja."


" Nggak papa mah, udah biasa. Rey pulang ya mah."


Vheya yang melihat Rey kekeh ingin pulang akhirnya angkat bicara.


" Mas tidur sini aja. Besok pulangnya. Hujannya gede banget mas. Nurut dech." ucap Vheya.


" Iya udah iya. Mana bisa nolak kalo yang nyuruh tuan putri." kata Rey meledek.


Mamahnya yang melihat itu hanya senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya bersorak gembira. Sepertinya Vheya sudah membuka hati untuk Rey. Perhatian kecil Vheya membuktikan kalau sebenernya dia peduli terhadap Rey.


Rey pun duduk di sebelah Vheya. Rey sedikit merasa canggung, apalagi ada mamahnya Vheya, namun berusaha untuk terlihat santai. Mereka cukup lama ngobrol sampai tak terasa hujan semakin deras mengguyur bumi.

__ADS_1


__ADS_2