Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
10 - Lampu Hijau


__ADS_3

"Siapa Ma..?"


"Papaaa...!" Bulan kembali berteriak ketika melihat Arman sang Papa berjalan kearah mereka.


Sepertinya Bulanku beraneka ragam sifat dan tingkahnya. Kata Alif dalam hatinya.


"Papa, kangeeenn!" ucap Bulan memeluk Arman dengan erat.


"Bulan kamu mau membunuh Papa!" seru Arman anaknya itu memeluknya sangat kuat, membuatnya kesulitan bernafas.


Bulan hanya cengengesan, lalu menarik tangan sang Papa bergabung dengan Alif dan Mamanya.


Deg


Jantungnya Alif berdetak hebat, begitu melihat siapa orang tua dari Bulan.


Jadi Bulan, anak Pak Arman pemilik hotel tempatku bekerja. Batin Alif.


"Mas, kenalin ini Papa Bulan." Ujar Bulan masih bergelayut manja pada lengan sang Papa. Keduanya saling berjabat tangan.


"Arman, Papanya Bulan." Memperhatikan sejenak wajah Alif.


"Alif, Pak." Sahut Alif setenang mungkin.


"Kenapa tangan kamu sangat dingin? ah sudahlah lupakan saja!" kelakar Arman.


"Saya seperti tidak asing dengan wajah kamu, apa kita pernah bertemu?" lanjut Arman lagi.


"Hm, saya bekerja di hotel Bapak."


"Oh ya, sebagai apa?"


"Satpam, Pak."


"APAAA!!" pekik Arman.


Jangan-jangan waktu itu, Bulan tanya tentang Satpam baru di hotel laki-laki ini. Terka Arman dihatinya.


"Bulan, ini?" menoleh pada Putrinya untuk memastikan apa yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


Bulan mengangguk cepat sambil tersenyum, Arman hanya bisa menghela nafas. Sedangkan Alif ia sudah keringat dingin, rasanya jantung dan nadinya sudah ingin mengundurkan diri dari masa jabatannya.


"Apa kita akan berdiri terus, pah?" tanya Suci mendelikkan matanya.


"Ah, iya.. Papa lupa kalau di rumah kita ada sofa ya ma." Suci hanya menggelengkan kepala melihat Suaminya.


Mereka berjalan mendekati sofa lalu mendudukan diri disana, Bulan duduk disamping Alif berhadapan dengan sang Papa. Sementara Suci beranjak ke dapur meminta ART membuatkan minum dan menyiapkan cemilan. Setelah semua selesai Suci kembali ke ruang tamu diikuti ART di belakangnya.


"Ayo diminum dulu, pasti haus abis perjalanan jauh." Suci duduk disamping Suaminya, setelah ART nya selesai menghidangkan minuman dan beberapa kudapan ia mempersilahkan tamunya untuk minum.


"Makasih, Tante."


Arman sang Papa terus saja menatap Alif dengan tatapan tak terbaca, ia melusuri Alif dari ujung kepala sampai kaki membuat Alif semakin gugup.


Bulanku emang pintar ngebidik calon mantu. Arman terkekeh geli dalam hatinya.


"Jangan gugup, santai aja. Sekarang kita sedang di rumah bukan di hotel, jadi tidak ada atasan dan bawahan." Ujar Papa Arman, membaca gelagat Alif.


Ternyata bertemu calon mertua lebih menegangkan daripada wawancara kerja. Kata hati Alif.


"Jadi, kemarin Bulan liburan kekampung kamu?" imbuhnya lagi.


"Jangan panggil Pak, berasa tua saya. Panggil Papa seperti Bulan, sepertinya telinga saya akan suka mendengarnya." Ujar Arman disertai candaan.


Bulan tersenyum senang, kedua orang tuanya menerima Alif dengan tangan terbuka.


Yessss...Lampu hijau, Bestiiiiee..lampu hijau. Teriak batin Bulan.


Ternyata benar kata si Mbok, kedua orang tua Bulan begitu Low Profile. Batin Alif berbisik.


"Kapan kamu akan melamar anak saya?"


Uhuuukk... uhuuukk..


Pertanyaan Papa Arman sungguh diluar dugaannya, membuat Alif yang sedang minum tersedak. Tidak diusir aja waktu mengantar Bulan ia sudah sangat bersyukur. Bulan yang duduk disampingnya mengelus lembut punggung Alif. Arman dan Suci saling pandang, mereka tersenyum melihat betapa perhatiannya Bulan mereka pada lelaki itu.


"Pah!" rengek Bulan.


"Kenapa? lebih cepat lebih baik, bukan begitu mah?" tanyanya pada sang Istri. Suci membalas dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


"Tapi Pak eh Pa. Sa--"


"Tapi apa? kamu tidak serius dan hanya bermain-main dengan anak saya?" Arman memotong cepat kalimat Alif, menatap tajam pemuda itu.


"Bu-Bukan pah,"


Aduuhh, gimana ngomongnya ini. Gumam hati Alif bingung.


"Terus?"


Alif menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian ia berkata. "Orang tua saya hanya petani biasa, rumah kami hanya sebuah gubuk. Papa bisa tanya sama Bulan seperti apa kondisinya, dikota ini saya tinggal dikontrakan kecil, Pah." Alif terdiam sejenak mengatur nafasnya, menatap Arman dan Suci bergantian. Hatinya harap-harap cemas kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.


"Apa Papa tidak malu punya menantu seperti saya yang bukan dari keluarga kaya!" imbuh Alif dengan begitu lirih.


Pemuda ini begitu jujur, tidak malu mengakui seperti apa kehidupannya yang apa adanya. Batin Arman.


"Apa kamu mencintai Putri Papa?" tanya Arman.


"Sangat, saya sangat mencintai Bulan." Jawab Alif mantap dan tegas. Tidak ada keraguan sedikitpun akan perasaannya pada Bulan.


"Baiklah, dua minggu lagi kalian menikah. Segeralah bawa orang tuamu, melamar Bulan secara resmi." Titah Arman.


Hah!


"Kenapa? kelamaan?"


"Bukan Pah!" sanggah Alif.


"Baiklah sepuluh hari, sepuluh hari lagi kalian menikah. Keputusan final, tidak dapat diganggu gugat." Putus Arman dengan senyuman kemenangan diwajahnya.


"Papa udah seperti penjurian aja." Suci terkekeh memukul lengan Suaminya gemas.


"Berikan mahar semampu kamu, Bulan akan dengan senang hati menerima, benarkan sayang?" kali ini ia menatap Putrinya yang terlihat sangat bahagia.


"Iya pah, makasih Papa." Bulan berdiri dari duduk berjalan cepat mendekati Arman, menjatuhkan diri memeluk Papanya. Tangan Suci terulur membelai lembut kepala anak gadisnya yang telah dewasa.


"Kami sudah merestui kalian, saya minta sama kamu, jangan pernah sakiti hatinya apa lagi sampai membentaknya. Karena kami orang tuanya tidak pernah sekali pun menyakiti fisik dan psikisnya." Terang Papa Arman.


Kata-kata Arman, seperti sebuah cambukan kuat untuk Alif, orang tua Bulan begitu menjaganya. Tapi ia yang bukan siapa-siapa sudah memberi goresan pada hati gadis itu.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2