
Malam hari, Alif membaringkan tubuhnya diatas kasur busa di ruang depan, pandangannya menatap atap rumah yang tidak tertutup plafon. Ingatannya berputar pada pembicaraannya dengan si Mbok sore tadi.
"Mbok tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap dan berkata kasar pada perempuan, apa lagi sampai membentaknya."
"Ibarat kaca yang retak, apa bisa kamu memperbaikinya menjadi seperti semula?"
"Ngga, Mbok."
"Begitu juga hati perempuan, ia ibarat kaca itu. Sedikit saja kau membentaknya, maka ia akan retak. Jika kau terus bersikap dan berkata kasar maka hatinya akan hancur, seperti kaca yang jatuh kelantai pecah berserakan. Tidak akan sempurna lagi saat disatukan, pasti ada bagian yang hilang."
"Jangan korbankan hidupmu, Nak. Masa depanmu masih panjang, raihlah kebahagiaanmu. Ada seorang gadis yang sangat mencintaimu dengan begitu tulus. Mbok tau, kamu juga mencintainya."
"Bagaimana dengan juragan Syamsol, Mbok. Alif engga mau, sampai Mbok harus kehilangan semua peninggalan Bapak."
"Mbok sudah tua, Nang. Semua itu tidak ada artinya lagi saat Mbok menyusul Bapak nanti. Kembalilah kekota, sekarang cari kerja susah. Walaupun hanya sebagai Satpam, yang penting halal. Janganlah kamu mengikuti jejak Bapak yang hanya seorang petani. Di dalam sana ada gadis yang menunggu balasan cintamu."
"Tapi Mbok, ada jarak diantara kami."
"Jika alasanmu karena Bulan berasal dari keluarga kaya sehingga kau merasa rendah diri, kau salah Nang. Sifat seorang anak itu mencerminkan bagaimana orang tuanya, Mbok yakin, orang tuanya Bulan tidak mempermasalahkan latar belakang kamu. Percayalah sama Mbok, Nang."
"Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu lalukan pagi tadi." Ucap Mbok Maryam berlalu pergi masuk kedalam rumah, membuat mata Alif membola.
"Apa benar Bulan tulus mencintaiku seperti yang si Mbok katakan. Jika dia bukan perempuan penggoda kenapa setiap hari berada di hotel, sedangkan dia seorang pengacara. Saat ciuman tadi dia terlihat sangat berpengalaman, aahh.. Bulan, kamu buat kepala Mas pusing!" Alif bergumam pada dirinya sendiri. Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya, bisa gila dia kalau terus-terusan memikirkan Bulan.
*****
Keesokan harinya, Bulan dan Nura sedang membereskan barang bawaan milik mereka dan bersiap-siap kembali ke kota. Nura melihat wajah Bulan yang sangat murung, ia memeluk bestienya itu.
"Udahlah, Lan. Jangan sedih terus, gue harus apa biar lu engga sedih lagi?" Bulan menggeleng lemah.
"Udah beres semua?" tanya Alif yang sudah berdiri di depan pintu kamar, ia sejak tadi memperhatikan Bulan yang terlihat tidak ceria seperti biasanya.
Nura membiarkan kedua sejoli itu untuk menyelesaikan masalah diantara mereka, ia beranjak ke depan dengan membawa barang miliknya dan Bulan.
__ADS_1
"Lan, kamu belum maafin, Mas?" tanya Alif.
Bulan menarik nafas dan membuangnya lewat mulut, lalu mengangguk seraya berkata. "Udah, Bulan udah maafin, Mas." Jawab Bulan dengan suara serak tanpa melihat pada Alif.
Alif membalikkan badan Bulan menghadap padanya, kemudian menangkup kedua pipi mulus tanpa cacat itu dengan kedua tangannya yang lebar. Menyeka sisa air mata itu dengan lembut, Bulan tidak mau melihat kearah Alif, matanya melirik kearah lain.
Bulan yang memiliki hati Hello Kitty terenyuh dengan sikap Alif, apalagi yang melakukannya laki-laki yang dicintainya mana bisa merajuk lama-lama matanya langsung mengembun merasakan perlakuan hangat dari Alif.
"Kenapa tidak mau lihat, Mas?" tanya Alif lembut. Suara lembut Alif berhasil membuatnya melting. Alif membawa Bulan masuk kedalam dekapannya, mengelus lembut rambut gadis itu. Sesekali mengecup puncak kepala gadis itu.
"Mas, benar-benar minta maaf sudah menyakitimu dengan sikap dan kata-kata Mas. Tolong jangan menangis lagi? Mas akan mengantar kalian pulang."
"Tidak usah, Bulan bisa pulang berdua sama Nura!" ketus Bulan.
Alif tersenyum, ia tau Bulannya udah tidak merajuk lagi, Ia melepaskan dekapannya, menatap wajah sembab gadis itu.
"Oh, jadi mas engga diijinin balik kekota nih ceritanya? udah ikhlas Mas sama Rainbow Cake?" kata Alif yang ambigu membuat Bulan bingung. Bulan menatap Alif, kedua netra mereka saling bertemu.
Alif melu mat bibir Bulan sekilas lalu berjalan keluar kamar meninggalkannya yang masih diam terpaku.
Kenapa rasanya beda, apa karena Mas Alif yang cium duluan. Monolog Bulan dalam hatinya.
Alif yang sudah berada di depan rumah tersenyum. Ia bernafas lega, Bulannya telah kembali. Mbok Maryam yang melihat senyuman diwajah anaknya ikut tersenyum.
"Jangan kamu usilan Bulan terus, Nang! Kasian dia."
"Sedikit bolehkan, Mbok?"
Si Mbok hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah anaknya. Tak lama Bulan keluar dari dalam lalu mereka berpamitan dong si Mbok.
"Mbok ikut aja kekota ya, kalau Bulan rindu Mbok kan dekat!" ucap Bulan manja.
"Cukup rindukan anak Mbok aja." Goda Mbok Maryam tersenyum. Bulan rasanya ingin menghilang permisah. Sementara Alif ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Mbok, makasih udah nerima Bulan sama Nura di rumah ini," ucap Bulan tulus memeluk tubuh si Mbok, air matanya menetes.
"Sama-sama, Mbok malah senang kalau di rumah rame. Makanya Alif secepatnya kasih Mbok cucu," ia masih memeluk Bulan matanya melirik anaknya sekilas.
Alif melongo dengan ucapan Mbok Maryam, sedangkan Bulan wajahnya sudah memerah menahan malu dengan ucapan si Mbok.
"Kode alam.. kode alam.." Bulan melotot ke arah Nura.
*****
Bulan pulang dalam suasana hati yang berbunga-bunga, sang pangeran Hermesnya sudah memberi lampu hijau, upss!! persimpangan kali ya? Wajah Bulan tiada henti-hentinya tersenyum menunjukkan betapa bahagianya dia.
"Lan, lu masih waraskan?" bisik Nura ditelinga Bulan dari sela kursi yang diduduki Bulan.
"Apaan sih, bego. Berisik tau engga! ngerusak mood gue aja lu!" Bulan pun balas berisik tapi masih bisa didengar oleh Alif, pria tampan yang kembali fokus menyetir itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng melihat keduanya.
"Idiiiihh,,, yalah...yalah! yang udah dapat pangeran Hermesnya. Upik abu di belakang ini apalah, cuma remahan reginang yang tersisa dikaleng bekas biscuit. Jangankan Zeus Bapaknya Hermes, Park Bo Gum aja kagak mau melirik gue." Nura mendengus sebal, menyandarkan kembali punggungnya dibangku belakang sambil meratapi nasibnya yang JOMBLO.
Tidak ada lagi perdebatan diantara duo gesrek itu hingga mobil Bulan masuk kedalam perkarangan rumahnya dan berhenti tepat di depan pintu utama, huff.. gimana mau debat lhah orangnya aja udah diantar pulang, hehehe.
Bulan turun dari mobil diikuti Alif, awalnya Alif menolak untuk ikut kerumah Bulan. Ia masih merasa rendah diri di depan keluarga Bulan, tapi Bulan membujuk dengan segala rayuan pulau kelapa sampai akhirnya berhasil.
"Mamaaaa...!" pekik Bulan ketika pintu dibuka oleh Suci, sang Mama. Bulan segera menghambur kedalam pelukan Mamanya.
"Kamu pulang-pulang kayak Tarzan." Sungut sang Mama. Bulan hanya nyengir tanpa dosa.
"Gimana liburan dikampung, asik?" tanya Suci lagi, sepertinya ia melupakan bakal calon mantunya deh.
Ternyata Bulan tidak berbohong pada orang tuanya, kalau dia kekampung. Ucap Alif dalam hati.
"Asik dong Ma. Eh.. iya Bulan lupa!" melepaskan pelukan dari sang Mama, berbalik menarik tangan Alif masuk kedalam rumah.
"Ma, kenalin ini Mas Alif." Bulan memperkenalkan Alif pada sang Mama dengan wajah berbinar dan itu bisa dilihat oleh Suci.
__ADS_1
"Siapa Ma..?"
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸