Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
52 - Bayang Masa Lalu


__ADS_3

Malam semakin larut dan sunyi, purnama merindu dengan setia menemani gelapnya malam. Bulan dan yang lain telah memasuki alam mimpi mereka dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh karena dinginnya udara malam ini.


Bulan, Mama Suci dan bestienya menempati kamar Alif, sementara para pria tidur diruang depan. Mereka semua sudah seperti kepompong bergelung dengan selimut tebal hanya tampak kepala saja yang nongol.


Namun lain halnya dengan seorang wanita tua di dalam kamarnya yang berukuran kecil yang hanya terdapat sebuah lemari pakaian dan tempat tidur. Wanita tua itu tidak dapat memejamkan kedua matanya, bayang-bayang masa lalu kembali berputar di ingatannya dengan kehadiran dua pemuda yang membuatnya seakan membuka kembali lembaran lama.


Wanita tua itu tak lain adalah Mbok Maryam, ia menghela nafas panjang dan berat. Perlahan ia bangun dari tidurnya, wanita tua itu menyeret kaki rapuhnya pada lemari usang, tangan keriputnya dengan sangat perlahan dan hati-hati membuka lemari itu agar tidak menimbulkan suara.


Krek!


Saat pintu lemari dibuka walaupun sudah sangat pelan tapi namanya juga lemari sudah dimakan usia tetap saja mengeluarkan bunyi. Mata tuanya tertuju pada sebuah kotak kayu yang berada di antara tumpukan baju miliknya, tangannya terulur mengambil kotak tersebut. Wanita tua itu menjatuhkan bokongnya di atas tempat tidur, mata tuanya memandang dalam pada kotak kayu dengan ukiran jati. Tersirat keraguan dari matanya untuk membuka kotak yang sudah seusia Alif itu.


“Apa yang harus Mbok lakukan, Pak?” Mbok berkata lirih mengingat mendiang suaminya. Tanpa terasa air matanya menetes jatuh tepat diatas kotak kayu itu.


Dengan tangan gemetar, ia membuka perlahan kotak itu. Tidak ada sesuatu yang berharga didalam sana, hanya selembar foto pria dan wanita yang di ambil di sebuah taman yang berlatar belakang sebuah rumah besar.


Mereka seperti pasangan suami istri yang sangat bahagia, terlihat dari senyuman yang mereka berikan saat foto itu diambil. Foto yang sudah tampak buram tapi masih bisa terlihat dengan jelas wajah mereka dan juga beberapa lembar kertas yang sudah menguning.

__ADS_1


“Anisa, apa kamu melahirkan bayi laki-laki lagi?” Mbok Maryam mengusap wajah wanita yang ada dalam foto itu. Nama yang disebutkan oleh wanita tua itu kala melihat wajah Ibra yang sangat mirip dengannya.


Mbok Maryam tidak dapat menahan kesedihannya, ia menangis dalam diam hanya kesunyian malam yang menyaksikan betapa pilu tangisannya. Terlalu lama menangis membuat wanita tua itu lelah, sambil memeluk foto tersebut Mbok Maryam pun terlelap.


*****


Ke esokan paginya, pasangan pengantin baru itu berniat jalan-jalan pagi menghirup udara perkampungan yang masih sangat bersih, sejauh mata memandang hanya tampak penghijauan sangat berbeda jauh dengan suasana di kota.


“Kalian jadi jalannya?” tanya Bulan membuka suara, saat ini mereka sedang sarapan di halaman samping rumah yang terdapat sebuah bangku yang terbuat dari rotan. Biasanya di kota mereka sarapan dengan roti, sesekali nasi goreng. Namun kali ini mereka sarapan dengan ubi rebus, pisang rebus dan goreng sebagai minuman pelengkap kopi hitam dan teh manis.


“Jadi,” sahut Nura. Kemudian melanjutkan sarapannya.


Selesai sarapan Nura mendorong kursi roda suaminya, mereka menyusuri jalanan perkampungan. Bertegur sapa dengan warga yang di temuinya, Ibra sangat bangga dengan istrinya yang bisa dengan mudah membaur tidak sedikitpun terlihat risih, benar seperti apa yang istrinya katakan bahwa ia siap tempur.


Ah! Kalau seperti ini gimana ngga makin cinta coba. Ibra bertekad ia harus secepatnya bisa berjalan lagi, dia ingin kembali ke kampung ini bisa jalan-jalan dengan istrinya dan bermain di sawah yang di datanginya kemarin.


Seperti apa yang di lakukan oleh Bulan, ia dan suaminya menyisir pematang sawah mengambil beberapa foto dengan pemandangan persawahan yang hijau. Jika dilihat dari kejauhan tampak seperti ambal yang terbentang, bahkan Ibu pengacara itu sempat-sempatnya berfoto dengan orang-orangan sawah, ada-ada saja kelakuannya.

__ADS_1


“Yang... Yang...”


“Hm.. Apa?”


“Aku dari tadi ajakin ngobrol malah di cuekin, lagi mikir apa sih?” tanya Nura membungkukkan badannya sehingga ia bisa melihat wajah suaminya dari samping.


“Ngga mikir apa-apa, cuma lagi bayangin aja. Nanti kalau suamimu ini udah bisa jalan, kita kesini lagi main ditengah sawah seperti Bulan kemarin.”


Nura menghela nafasnya, kedua tangannya yang tadi berada di pegangan kursi roda kini melingkar di leher suaminya.


Cup


Nura memberikan kecupan di pipi Ibra, “Yang.. Aku itu senaaang banget, bisa menemani kamu jalan-jalan seperti ini. Aku juga senang kamu berusaha untuk sembuh, tapi aku mohon jangan sampai jadi beban pikiran kamu. Aku tidak mau kamu stres, nantinya bisa berakibat buruk dengan kesehatan kamu.”


“Makasih yang, atas pengertian kamu.” Ucap Ibra sembari mengelus pipi istrinya.


“Itu sudah kewajiban aku sebagai seorang istri.” Nura memberikan kecupan cinta lagi di pipi suaminya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2