Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
22 - Tentang Perasaan Ibra


__ADS_3

Seorang pria sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran jauh melayang-layang pada apa yang dilihatnya sore tadi di sebuah resto. Ia bingung dengan apa yang tengah dirasakannya, rasa kesal, marah, sedih, kecewa ia tidak tau rasa mana yang sedang hinggap di hatinya.


Dialah Ibra lelaki yang tanpa sengaja melihat kedekatan gadis yang telah mengusik hati dan pikirannya sejak awal bertemu sedang berdua dengan seorang pria.


"Ada apa denganku, kenapa hatiku sakit melihat Nura dekat dengan seorang pria? mereka terlihat sangat dekat!" gumam Ibra pada dirinya sendiri.


Ibra menekan dadanya, rasanya begitu sesak. Pria itu berusaha mengenyahkan bayangan gadis itu, ia mencoba memejamkan matanya berharap rasa ngantuk mendera dan membuatnya tertidur sehingga melupakan kejadian yang membuatnya tersiksa.


*****


Pagi menyapa, bumi menyambut sapaan mentari yang cerah. Sinarnya yang indah memberi kehangatan di pagi yang dingin, tapi tidak dengan pasangan suami istri ini. Mereka sedang panas, sepasang suami istri ini sedang berdebat karena hal kecil.


"Sayang, ini baju yang kamu siapin loh."


"Tapi Bulan ngga suka, Mas. Mas itu makin tampan tau ngga, Bulan ngga rela Mas dilihatin sama cewek-cewek ngga jelas disana nanti." protes Bulan memperhatikan suaminya dari ujung kaki sampai ujung kepala, suaminya ini sangat sempurna dalam balutan jas kerjanya.


"Ya ampun sayang, Mas ini mau kerja bukan mau tebar pesona. Kalau Mas tampan, ya itu emang udah dari sononya."


"Tuh kan, masih dirumah aja udah ganjen. Apalagi disana nanti, pokoknya Bulan ngga rela. Mas ganti baju lain, yang tidak membuat ketampanan Mas terlihat."


"Ya udah terserah kamu aja, Mas ngikut!"


Hampir setengah jam Alif bolak balik mengganti bajunya tapi tidak ada satu pun yang cocok di mata Bulan, suaminya itu tetap terlihat tampan maksimal. Hingga Bulan nyerah dengan mata berkaca-kaca.


Alif menghirup udara sebanyak yang ia bisa, lalu mengeluarkannya dengan kasar. Berusaha sabar dengan keinginan sang istri, Alif mendekati Bulan yang duduk ditepi ranjang dengan kepala menunduk.


"Sayang,," Alif menangkup pipi istrinya dengan kedua tangannya yang lebar mengangkat wajah sang istri melihat kearahnya.


"Kamu kenapa sih, belakangan ini Mas perhatikan sikap kamu sangat aneh!" Alif menyeka air mata di pipi mulus milik Bulan, ia menatap penuh cinta wanita didepannya itu.


Bulan tidak menjawab, ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan suaminya dan terisak disana. Alif membiarkan saja istrinya itu menangis, ia mengelus lembut punggung Bulan sesekali mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih.


Setelah Bulan terlihat tenang, Alif melerai pelukannya.


"Sudah lebih baik?" tanya Alif, Bulan mengangguk pelan. Alif menatap wajah sendu itu dengan kedua jempol tangannya menyeka sisa air mata diwajah sang istri.


"Apa yang kamu pikirkan, Mas selamanya hanya untuk kamu. Hati dan tubuhnya sudah jadi milik kamu, sayang. Tidak ada sedikitpun niat dalam hati Mas untuk melirik perempuan lagi, kalau mereka suka sama Mas, itu hak mereka tidak bisa Mas larang. Begitu juga jika mereka melihat Mas, kan tidak mungkin Mas menutup semua mata perempuan agar tidak bisa melihat suamimu ini."


"Mas mengerti perasaan kamu, Mas juga tau apa yang kamu khawatirkan. Coba kamu berpikir lebih positif, karena jika kamu berpikir buruk terus itu bisa merusak diri kamu sendiri." Alif menarik nafasnya dalam kemudian melanjutkan kembali ucapannya.

__ADS_1


"Jika kamu berpikir positif maka kamu akan dikelilingi oleh hal-hal yang positif, begitu juga sebaliknya jika kamu terus-terusan berpikir negatif maka apa yang kamu pikirkan itu lah yang akan terjadi."


"Mana Bulannya Mas yang selalu optimis dan berpikiran terbuka, tidak mudah terpuruk hanya karena sesuatu yang tidak penting. Bulannya Mas itu perempuan yang sangat enerjik tidak mudah putus asa, ia akan menjaga dan memperjuangkan apa yang sudah menjadi miliknya." lanjut Alif lagi membuka pikiran istrinya.


"Bulan juga ngga tau Mas, entah kenapa Bulan rasanya cemburu kalau membayangi perempuan diluar sana lihat Mas apalagi ada yang coba godain Mas." Ucap Bulan dengan wajah cemberut.


Cup


Alif mengecup sekilas bibir Bulan, karena gemas dengan ekspresi istrinya itu. Kalau tidak mengingat hari ini pertama ia mulai kerja, Alif akan mengajak istrinya berpetualangan kembali meneguk manisnya percintaan.


"Mas senang, bahagia banget malah dicemburuin sama istri Mas ini. Itu tandanya kamu benar-benar mencintai suami kamu ini. Mas juga ngga keberatan kamu manja sama Mas."


"Jadi Bulan aja yang benar-benar cinta sama Mas? Mas ngga?" protes Bulan.


Alif membawa Bulan kembali kedalam dekapannya, memberikan pelukan hangat pada sang istri.


"Cukup kamu rasakan apa yang Mas lakukan sama kamu, karena Mas tidak ingin cinta itu hanya sekedar sebuah kata belaka tapi Mas ingin membuktikan sebesar apa cinta Mas terhadap kamu."


*****


Ibra yang akan masuk kedalam pantry karena ingin membuat secangkir kopi mengurungkan niatnya kala melihat gadis yang sudah membuatnya susah tidur semalam berada disana.


Ibra menggeserkan sedikit tubuhnya kedekat tembok agar tidak ketahuan oleh gadis itu, tanpa disadarinya seorang perempuan telah berdiri di belakangnya memperhatikan apa yang di lakukan oleh lelaki itu.


Ibra terjengkit kaget, untung saja ia tidak sampai menjerit. Bisa-bisa ketahuan kalau sejak tadi melihat gadis itu.


"Sssttt... lu bikin kaget aja!" bisik Ibra pelan membuat Bulan terkekeh.


"Gue tau sejak awal lu itu udah suka sama Nura!" Bulan menaik turun kan alisnya menggoda Ibra.


"Sok tau lo!" sanggah Ibra membuang pandangan kearah lain.


"Ya... yaa.. yaa.... gue emang sok tau, tapi mata lu kagak bisa bohong Ib, lu itu jatuh cintakan sama bestie gue." Bulan terus menggoda rekan kerjanya itu.


"Lan, kalian ngapain disini?" tanya Nura tiba-tiba, ia sudah berdiri didepan pintu pantry, Nura melihat Ibra dan Bulan bergantian.


Mampus gue, sejak kapan dia berdiri disitu! semoga aja dia ngga dengar. Harap Ibra dalam hatinya.


"Ya mau bikin minumlah, masak berenang di pantry?" jawab Bulan asal.

__ADS_1


"Eh, iya juga ya. Berarti gue yang salah nanya, ya udeh gue duluan ya." Ucap Nura sembari berjalan meninggalkan kedua manusia penguntit itu.


"Hampir aja ketahuan!" Mereka bisa bernafas lega. Tapi pandangan Ibra tetap mengikuti gadis itu hingga hilang dibalik kaca ruangannya.


"Masih mau ngeles lu, ngga suka sama Nura! orangnya aja udah hilang masih juga dilihatin."


"Tapi dia udah punya cowok, Lan!" Bulan mengerutkan keningnya, ia bisa melihat sorot mata itu begitu sendu.


"Lu yakin?"


Ibra mengangguk, "Iya, kemarin gue liat dia sama cowok di mall lagi makan."


"Kemarin sore maksud lu, diresto?"


Lagi-lagi Ibra mengangguk pasrah kemudian ia mematung menatap Bulan lama, otaknya sedang berputar mencerna apa yang dikatakan Bulan.


"Kok lu bisa tau?" Ibra sungguh penasaran dengan rekan kerjanya itu, seolah wanita yang berdiri dihadapannya itu bisa membaca pikirannya.


"Lu yakin cuma liat mereka berdua? lu ngga liat wajah cowok itu?"


"Iya gue liat mereka aja, dan cowok itu gue ngga tau karena duduknya membelakangi."


Saat itu, Ibra tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria yang sedang bersamanya. Begitu juga dengan Alif dan Bulan, karena posisi mereka yang terhalang oleh sebuah tembok. Sementara Aldo pria yang diduga oleh Ibra pria yang sedang dekat dengan Nura hanya terlihat punggungnya saja.


Mungkin jika ia melihat wajah pria itu, ia tidak akan segalau ini. Eh, tapi tetap aja galau karena seorang wanita berdua dengan seorang pria pasti ada sesuatu diantara mereka. Walaupun mereka menganggap hanya sebatas teman, tapi orang pasti berpikir mempunyai hubungan yang spesial.


Bulan tersenyum, membuat Ibra semakin bingung.


"Gue sama suami gue ada disana, kalau lu serius sama Nura lu perjuangin sebelum gue jodohin dia sama cowok yang kemarin." Bulan menepuk bahu Ibra kemudian masuk kedalam pantry.


"Lan, jadi lu setuju gue sama Nura?"


"Iya,"


"Apa Nura mau terima gue?"


"Lu gimana sih, jadi laki! belum berjuang aja udah nyerah." Bulan mendengus kasar, ia membalikkan badannya melihat Ibra yang masih berdiri didepan pintu pantry tersebut.


"Luluhkan hati Nura itu gampang, kasih aja dia perhatian kecil yang sweet dan satu hal yang harus lu hindari Nura itu tidak suka di kasih barang mewah, karena menurutnya dia seperti dibeli."

__ADS_1


"Semoga berhasil..."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2