Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
13 - Satu Ronde


__ADS_3

"Aaaaaakkhhhhh....."


"WOWW.... Menantuku sangat PERKASA." Suci tersenyum girang membuat Arman melotot tajam mendengar pujian sang Istri untuk menantunya.


Dasar Istri kagak ada akhlak, berani puji pria lain! akan aku sadarkan dia kalau Suaminya ini jauh lebih perkasa! batin Arman.


"Papa napa plototin Mama gitu?" tanya Suci dengan tampang polosnya, ia tidak menyadari kalau sudah membangunkan Singa.


"Jadi MENANTU Mama sangat PERKASA!!" Arman menyipitkan matanya, ia tidak terima Istrinya memuji sang menantu.


Suci berkedip seraya mengangguk cepat, "Papa dengar sendiri kan tadi, anak kita sampai menjerit."


"Kalau begitu kita buat adik untuk Bulan, biar Mama tau kalau Papa lebih PERKASA." Arman mengedipkan matanya membuat Suci mengerti keinginan Suaminya.


"Hah! tidak-tidak, Mama tidak mau." Suci yang merasa malam ini tidurnya terancam segera berlari kekamar menghindari Suaminya. Dalam pikirannya, ia harus segera tidur maka Suaminya tidak akan tega macam-macam.


Arman yang merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah jatuh karena sang Istri memuji menantunya tidak menerima penolakan, ia langsung mengejar Istrinya.


"Papa tidak terima penolakan, Ma..!"


"Ingat umur, Pah!"


"Adon aja, Mah. Jangan dicetak..."


"Ngga mau!!"


"Mama harus mau....."


"No... Papa...!"


"Yes.. Mamaaa..."


Jika Arman sedang merayu Istrinya, didalam kamar pengantin baru Alif sedang menyeka air mata dikedua sudut mata Istrinya lalu memberikan kecupan ringan dikening Bulan.


"Jangan nangis lagi, bisa-bisanya kamu main akrobat dalam kamar mandi."


"Maaass..." Rengek Bulan manja membuat Alif terkekeh.


"Sekarang coba gerak."


"Hah! udah ngga sakit, kok bisa?" seru Bulan mengerakkan kakinya kekanan dan kekiri lalu ia berdiri sedikit berjingkrak.


"Beneran?" tanya Alif memastikan lagi.


Bulan menganggukkan kepalanya tersenyum senang, kemudian memandang dalam wajah pria yang sudah resmi menjadi Suaminya itu. Ia masih tidak menyangka bisa secepat ini menyandang status Nyonya Alif Haikal Alfarezi.


Alif semakin mendekatkan diri pada Bulan dengan sekali tarikan tubuh Bulan sudah berada dalam pelukannya, kedua netra mereka bertemu. Hingga perlahan bibir mereka saling menempel, Alif menggerakkan bibirnya untuk mengecup pelan dan semakin lama menjadi luma tan lembut kecil-kecil penuh perasaan, pasangan pengantin baru itu larut dalam ciuman serta kecupan penuh cinta.


Alif melepaskan tautan bibir mereka saat merasakan pasokan udara mulai menipis, kening mereka saling menempel. Senyum dibibir pengantin baru itu terus mengembang.


"Engga jadi mandi, sayang?" bisik Alif dengan nada sensual di depan bibir Bulan setelah berhasil mengatur nafas mereka yang tak beraturan.


"J-jadi, ini mau mandi"

__ADS_1


"Kenapa jadi gugup gitu sih, biasanya ngga."


Bulan langsung mendorong tubuh Alif, ia segera berlari masuk kedalam kamar mandi. Alif tersenyum melihat Istrinya yang salah tingkah.


"Kenapa aku jadi salah tingkah gini, oh.. jantung tolong kerjasamanya!" Bulan bersandar di balik pintu kamar mandi, memegang dadanya yang berdegup cepat lalu kedua tangannya menangkup pipinya yang bersemu merah. Bahkan dengan susah payah Bulan mengatur deru nafasnya saat ini.


Selesai menyegarkan tubuhnya, saat akan hendak mengambil handuk Bulan tidak menemukannya.


"Seharusnya ada disini, kok bisa ngga ada sih?" Bulan bertanya pada dirinya.


"Aduh.. gimana ini?" Bulan berjalan gusar sambil menggigit kukunya, ia bingung bagaimana caranya keluar pasti Alif Suaminya ada disana.


"Ahh, Bulan bego banget sih lu, bisa-bisanya lupa bawa handuk." Umpat Bulan untuk dirinya.


"Minta tolong Mas Alif aja kali ya? ya bener ngga ada cara lain."


"Maaas... Mas Alif..." Jerit Bulan dari dalam kamar mandi.


"Iya sayang." Alif tersenyum jail, iya ingin menggoda Bulannya. Ia tau Istrinya itu lupa bawa handuk yang saat ini ada di tangannya.


"Mas tolongi Bulan."


"Tolongi apa, sayang?" Alif mengulum senyumnya.


"Bulan lupa bawa handuk." Bulan mengigit bibir bawahnya.


"Handuk ya, sebentar Mas ambilkan."


Bulan membuka kecil pintu kamar mandi, hanya menjulurkan tangan untuk meraih handuk dari Suaminya.


"Mas, mana handuknya?" Bulan meraba-raba udara mencari handuknya saat tangannya meraih apa yang di cari dengan cepat menariknya. Tapi sayangnya justru ia yang tertarik keluar hingga tubuhnya menabrak dada bidang Suaminya.


"Mass!!" pekiknya saat tubuhnya yang polos sudah berada dalam dekapan Alif.


Alif menegang merasakan lembut kulit punggung Bulan yang toples, dengan susah payah Alif menelan salivanya. Niat hati ingin menggoda sang Istri, ternyata justru imannya yang terguncang.


"Mas!" lirih Bulan pelan, wajahnya sudah semerah tomato menahan malu.


"Hm.."


Alif sedikit merenggangkan pelukannya untuk melampirkan handuk yang dipegangnya menutupi tubuh sang Istri lalu dililitkannya dengan sempurna. Bulan terus saja menunduk tidak berani menatap Alif.


"Lan, pakai bajunya. Nanti kamu bisa masuk angin, Mas mandi dulu." Ucap Alif pelan, ia sangat gugup lalu segera masuk kedalam kamar mandi.


"Ya ampun, gue kira bakalan digendong terus dibawa ke tempat tidur terus... Haisss...Dasar kamu otak pikirannya mesum." Bulan memukul-mukul kepalanya, menggeleng-geleng tak jelas mengusir syaiton yang nyasar dalam pikirannya.


Selesai memakai baju tidur dan kegiatan rutin skincare malamnya. Bulan duduk manis diatas ranjang pengantin yang sudah dihias, pikirannya kembali berkelana jauh membayangkan malam pertamanya, otak mesumnya bekerja dengan sangat baik.


Ceklek


Bulan mengalihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang terbuka. Dengan susah payah Bulan menelan salivanya kala melihat pahatan tubuh Suaminya yang hanya dililit handuk dari pinggang kebawah.


Matanya tak berkedip menyusuri tubuh itu, otot-otot dada dan perut begitu menggoda seakan memanggil dirinya minta disentuh, lalu pandangannya beralih pada bagian yang tertutup handuk, tangannya sangat gatal ingin rasanya menarik kain penutup itu.

__ADS_1


Otot-otot itu bikin badan gue panas dingin. Gimana ya rasanya, kalau...otot itu...!! udah gila.. pasti udah gila gue. Cicit Bulan dalam hati.


"Sayang,,,"


"Hah.."


"Melamunin apa sih sampe bengong gitu?" Alif sudah duduk disisi tempat tidur, Bulan menjawab dengan sebuah gelengan.


"Ayuk tidur, malam ini kita istirahat aja. Mas tau kamu pasti lelah."


Yah, pembaca kecewa dong! Bulan berucap dengan lesu dalam hatinya.


*****


Keesokan hari, Suci yang baru bangun dari tidur seketika matanya langsung melotot saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Papaaaa..."


"Apa sih Mah, masih pagi udah teriak-teriak!"


"Masih pagi dari Hongkong! liat jam Pah udah siang, udah jam 10." Sungut kesal Suci.


"Ayo bangun Pah!" Suci menarik-narik tangan Suaminya.


"Papa masih ngantuk, Mah. Udah Mama tidur aja lagi sini." Arman menarik tubuh Istrinya masuk dalam pelukannya.


"Iiihh.. Pah, lepasin!" Suci meronta-ronta dalam pelukan Arman.


"Jangan gerak Mah," bisik Arman dengan suara berat menahan sesuatu.


"Makanya lepasin atuh Pah! Ini karena ulah Papa, jadi kesiangan kita!!"


"Kenapa Papa lagi sih, Mah?"


"Papa ngga kira-kira gempur Mama ampe pagi!"


"Eits.. ralat Mah, Papa cuma sampai jam 3 selebihnya Mama minta nambah. Jadi jangan salahin Papa, udah jangan berisik mending kita tidur aja lagi udah nangung juga atau Mama mau nambah ronde untuk sarapan pagi kita."


"Engga ah, Mama cape...!!"


"Satu Ronde, Mah..."


"Papaaaa...!"


"Salah sendiri siapa suruh gangguin Papa..."


"Papaa.. Aaahhh...!"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Ya Salam Papa Arman πŸ€¦β€β™€οΈ


Yang pengantin baru siapa, yang malam pertama siapa πŸ™ˆ

__ADS_1


__ADS_2