
Alif sedang menemani istrinya makan omelet abon full keju diruang keluarga, keadaan rumah sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bulan yang sudah tertidur karena merasa lapar terpaksa membangunkan suaminya, ia sangat ingin makan omelet buatan suami itu. Alif mengesampingkan rasa ngantuknya demi permintaan istri dan anaknya, ia membuatkan apa yang di inginkan mereka
“Mas, Mbok udah tau belum kalau Bulan hamil?” tanya Bulan setelah memasukan suapan terakhir omeletnya. Alif menepuk jidatnya, ia lupa mengabari kehamilan istrinya pada si Mbok.
“Belum sayang, Mas lupa. Besok Mas kasih tau ya?”
“Kayak orang tua aja Mas? Bisa-bisanya lupa.” Sindir Bulan.
“Eh! Mas masih muda ini disamain sama orang tua, biar pun Mas nanti tua pasti Mas akan tetap terlihat tampan.”
“Pe De banget Mas, mana ada yang namanya udah tua masih tampan. Adanya juga keriput di mana-mana, belum lagi ubanan. Mas jangan seperti Papa tidak mengaku kalau udah tua.”
“Kamu ngatain Papa tua?” Alif dan Bulan terjengkit, mereka menoleh kearah suara bariton Arman dari belakang mereka.
“Papa-Mama!” ucap mereka bersamaan.
“Kok ngga kedengaran suara mobil?” tanya Bulan heran. Tiba-tiba Papa sama Mama nya sudah ada disana.
“Kamu ngatain Papa tua, keriput, ubanan?” Arman menatap horor menantu dan anaknya. Ia tidak menjawab pertanyaan Putrinya itu, Suci yang berada disampingnya memutar malas bola matanya.
“Papa pulang-pulang malah marah-marah!”
“Emang Papa udah tua, tapi masih tampan kok. Kulit Papa aja masih kencang, liat otot-otot lengan Papa masih kekar. Perut Papa juga ngga buncit, berarti Papa belum tua. Yang dikatain tua itu kalau perutnya udah buncit.” Bulan meringis melihat tatapan horor sang Papa. Papanya ini paling sensitif kalau udah dengar kata tua, padahal Papanya emang udah tua. Tapi tidak pernah mau terima dikatain tua,
“Mah, benar Papa masih tampan? Belum ada keriput?” Arman menoleh, bertanya pada sang istri.
“Iya Pah, benar yang dikatakan Bulan. Ketampanan Papa ngga kalah dari yang muda,” jawab Suci membuat suaminya senang.
“Apalagi diranjang ya Mah, masih hot?” Suci mendelik, tangannya spontan mencubit pinggang suaminya.
“Awwhh.. Kok dicubit sih Mah?” Arman mengusap perutnya yang dicubit Suci.
“Papa itu kalau ngomong suka ngga liat sikon!” ketus Suci.
__ADS_1
“Berarti kalau dikamar, boleh dong?” Arman mengedip genit pada Suci, lalu menarik pinggang istrinya hingga menempel di tubuhnya.
“Haloo... Halaoo, masih ada orang disini!” seru Bulan, menghentikan kegenitan sang Papa.
“Kamu ini ganggu aja,” Bulan mendengus.
Kenapa ia bisa punya Papa yang genitnya minta ampun. Kenapa juga Mamanya itu bisa kepincut sama Papanya, aduuhh... Aku mikir apa sih? Kalau Papa tau, bisa dikutuk jadi anak durhaka aku! Umpat Bulan dalam hati.
“Kalian kenapa belum tidur? Udah jam sebelas lewat.” Tanya Suci.
“Bulan tadi lapar Mah, pengen makan omelet.” Sahut Alif.
“Tumben, biasanya kamu makan buah kalau lapar tengah malam gini?” heran Suci, Putrinya itu paling takut makan berat kalau udah malam.
“Beda Mah, ini yang makan bukan Bulan tapi yang didalam sini.” Bulan mengelus perutnya dengan senyum mengembang diwajahnya. Ia melirik suaminya yang juga sedang melihat kearahnya.
“Ka.. Kamu, kamu hamil?” Suci tergagap saking shocknya, mengetahui sang Putri sedang mengandung.
Suci tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, wanita paruh baya itu meneteskan air matanya, kemudian ia mendekati Bulan dan memeluk putrinya itu. Ah! rasanya baru kemarin ia melahirkan anak-anaknya, waktu berjalan sangat cepat. Putrinya menikah dan menjadi seorang istri, sekarang putrinya itu mengandung dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.
Arman pun tidak bisa membendung rasa bahagia yang membuncah dihatinya, lelahnya diperjalanan pulang tadi terbayarkan dengan kabar kehamilan sang Putri. Ia pun ikut bergabung memeluk Putri dan istrinya. Alif yang melihat bagaimana dekatnya hubungan Bulan dengan kedua orang tuanya ikut terharu, mereka sangat hangat satu sama lain.
“Selamat ya sayang, udah berapa minggu?” Suci memegang perut Bulan. Setelah melepaskan pelukan mereka.
“Jalan sembilan minggu Ma.” Jawab Bulan.
“Sembilan minggu?” Bulan mengangguk, “Iya Mah.”
“Pah, benarkan apa kata Mama. Saat mereka pulang bulan madu dulu, Bulan udah isi.” Kata Suci antusias, ia sangat senang ternyata dugaannya selama ini benar.
“Kenapa kamu baru tau sekarang, nak?”
“Ceritanya panjang Mah.”
__ADS_1
“Ya sudah, besok aja ceritanya. Ini udah larut malam, apalagi kamu sedang hamil tidak baik begadang.” Sela Arman cepat sebelum istrinya itu minta Putrinya untuk bercerita. Suci yang sangat penasaran tidak bisa berkata lagi, ucapan suaminya memang benar.
*****
Esok harinya, pagi-pagi sekali Suci sudah berada didapur. Ia begitu semangat menyiapkan sarapan untuk Bulan, ia menyiapkan makanan-makanan sehat dan bergizi untuk calon cucunya. Tampak wajah sang calon nenek itu berbinar-binar, diusinya yang tidak lagi muda. Kecantikannya tidak jauh berbeda dengan Bulan yang lebih menuruni gen dari sang suami. Kecantikan Bulan copyan dari Arman versi wanitanya sama seperti Bintang sang Kakak.
Arman yang baru terjaga tidak menemukan istrinya, ia kemudian membersihkan diri. Arman akan lari pagi agar tubuhnya selalu bugar, ia tidak ingin seperti kakek-kakek pada umumnya. Ia harus tetap terlihat gagah walaupun sudah memiliki cucu nantinya.
“Mah, Papa jogging dulu ya.” Ucap Arman memeluk istrinya dari belakang.
“Biasanya juga langsung keruang Gym, Pah.”
“Mulai hari ini Papa mau jogging ditaman komplek Mah.” Suci membalikkan tubuhnya, ia memperhatikan penampilan suaminya dari atas kebawah.
“Papa serius? Ada angin apa?” selidik Suci dengan menarik satu alisnya.
“Mama mikir buruk pasti nih?” tuduh Arman mengetuk kepala Suci dengan telunjuknya, “Papa sebentar lagi akan jadi kakek, jadi Papa harus selalu sehat. Biar cucu Papa nanti bangga punya kakek yang tampan dan terlihat muda.” Suci menghela nafas panjang, suaminya ini memang ajaib.
Sementara dikamar Bulan, Alif sudah terbangun lebih dulu. Bulan tertidur begitu lelap dalam dekapannya, Alif menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, ia memandang lekat wajah calon Ibu dari anaknya itu, lalu mengecup dalam kening sang istri membuat Bulan membuka matanya.
“Morning sayang, maaf jadi ganggu tidurnya.”
“Mas, udah nelpon Mbok?”
“Belum, kenapa?”
“Jangan telpon Mbok, kita kesana aja. Bulan pengen ke kampung, kita berangkat sekarang ya Mas?” rengek manja Bulan.
“Sayang, tapi Mas hari ini kerja.”
“Pokoknya Bulan mau ke kampung, kalau Mas ngga mau anterin. Bulan pergi sendiri aja!” rajuk Bulan. Alif menggaruk tengkuknya dengan permintaan istrinya. Apa semua Ibu hamil seperti ini, pikirnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1