Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
49 - Kegelisahan Mbok Maryam


__ADS_3

Bulan beserta seluruh keluarganya tiba di kampung halaman Alif, kedatangan mereka menarik perhatian warga sekitar tempat tinggal Alif tersebut. Bagaimana tidak mobil mewah milik Arman terpakir di halaman rumah Mbok Maryam dan tidak ketinggalan satu mobil Pick up yang ditumpangi oleh Bulan dan Nura beserta suami mereka.


Mbok Maryam sendiri sangat terkejut dengan kedatangan besannya itu yang tiba-tiba, sedangkan Alif sendiri tidak mengabari jika ia dan mertuanya akan datang berkunjung. Sehingga Mbok Maryam tidak ada persiapan apapun untuk menyambut besannya itu.


“Assalamualaikum besan.” Ucap Mama Suci ramah menghampiri Mbok Maryam yang berdiri di depan rumah.


“Waalaikumsalam, aduh ini Bapak sama Ibu datang ngga kasih kabar dulu.” Sahut Mbok Maryam, menyambut dengan hangat kedatangan besannya itu.


“Kami sengaja tidak mengabarkan Mbok, biar Mbok ngga perlu repot-repot.”


“Mana ada saya repot Bu, malah saya senang. Kalau dadakan begini, saya yang tidak enak Bu, sekali-kali datang saya tidak bisa menyuguhkan apa-apa.” Ucap Mbok Maryam merasa tidak enak hati.


“Menantu Mbok itu sudah membawa banyak makanan, jadi Mbok tidak perlu merasa tidak enak hati.” Kata Suci mengerti perasaan Mbok Maryam.


“Saya sama istri penasaran, kenapa Bulan sangat senang ke sini, ternyata suasananya benar-benar tenang dan bikin betah ya Mbok.” Ucap Papa Arman tersenyum sambil memandang sekeliling yang masih banyak di tumbuhi tanaman dan pepohonan. Membuat udara masih terasa sejuk padahal sudah hampir menjelang siang dan matahari bersinar sangat cerah.


“Aaaa... Akhirnya sampai juga...!” seru Bulan sambil melakukan stretching, meregangkan otot-otot ditubuhnya.


"Pegal?" tanya Alif yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


“Lumayan pegal Mas, tapi asik. Heehehe...”


“Iya asik, sampai muka kamu merah gitu.”


“Merah banget ya Mas?” tanya Bulan ingin memegang mukannya tapi di cegah oleh suaminya.


“Tangan kamu kotor sayang! Nanti kamu ngomel-ngomel lagi kalau jerawatan.” Kata Alif yang pernah gara-gara satu jerawat muncul di wajah mulus milik istrinya gempar satu rumah.


“Ra, merah banget ya muka gue?” Bulan berbalik, nanya pada bestienya itu.


“Iya, makanya lu di suruh pakai topi jangan ngeyel!” Ketus Nura, karena selama perjalanan Alif memintanya untuk memakai topi Bulan selalu menolak, sehingga Nura gemas sendiri dengan Bumil satu itu.


“Kenapa lu cemberut, tinggal lu dinginkan pakai masker. Selesaikan?” Kata Ibra, yang sering melihat Bulan kalau setiap abis kembali dari luar kantor selalu memakai masker di ruang kerjanya. Untuk mendinginkan wajahnya yang merah, jadi tidak heran jika dilaci kerjanya banyak stock masker dengan berbagai merek.


“Oh iya, kok gue jadi bego ya?” Bulan menepuk jidatnya sendiri.


“Lhah, kan emang lu bego. Baru nyadar lu?” ejek Nura.

__ADS_1


“Isss.. Dasar bestie kampret.”


Bulan mengulurkan tangannya kepada Alif yang sudah menunggunya untuk turun dari atas mobil. Saat Bulan menunduk tiba-tiba Bulan meraung.


"Aakhh.. aduh Mas..a...aduh sakit?" Bulan meringis satu tangannya memegang perutnya,


“Sayang, apa yang sakit?” tanya Alif khawatir.


"Mas Alif Bulan kenapa?" tanya Nura yang ikut cemas melihat bestienya kesakitan.


"Perutnya keram, Mas." Ucap Bulan mere-mas bahu suaminya, Alif dengan sigap mengusap-usap perut istrinya, biasanya jika di usap seperti itu akan hilang.


Alif meminta istrinya duduk di pinggiran pembatas bak mobil tersebut, tangan Bulan merangkul leher suaminya. Dengan lembut Alif terus mengusap-usap perut istrinya, hingga perlahan rasa keram di perut Bulan menghilang.


"Mungkin tadi lu terlalu kuat waktu stretching, jadinya anak lu kaget." Nura berucap setelah bestienya sudah terlihat lebih tenang.


"Mungkin."


Mereka menyusul Arman dan Suci yang sudah lebih dulu bertemu dengan Mbok Maryam.


“Mbok, Bulan datang lagi. Bersamaan dengan munculnya purnama merindu.” Pekik Bulan, menghambur kedalam pelukan mertuanya. Bulan kembali ceria, padahal tadi ia abis kesakitan karena perutnya keram.


“Sirik aja lu!” sinis Bulan.


“Kalian berdua ini ya?” Suci geleng-geleng kepalanya, dua-duanya sudah bersuami tapi tingkah tetap aja seperti masih gadis.


“Mbok sehat?” tanya Nura yang bergantian dengan Bulan memeluk si Mbok yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri.


“Mbok sehat, kamu sendiri makin cantik Nduk?” si Mbok memperhatikan wajah Nura tampak aura berseri-serinya sambil mengusap bahu Nura.


“Bulan tadi engga ada Mbok bilang cantik, Bulan udah ngga cantik ya Mbok?” tanya Bulan dengan bibir manyun.


Alif menghela nafas panjang, mood istrinya ini bisa berubah-ubah dengan sangat cepat. Mbok Maryam tersenyum mendengar protes sang menantu, ia merangkul menantunya itu.


“Menantu Mbok tetap cantik, apalagi ditambah pipi bulatnya ini. Makin terlihat cantik.” Kata si Mbok dengan sungguh-sungguh, karena nyatanya tanpa riasan apapun istri dari anaknya itu memang sangat cantik dan imut. Masih terlihat seperti anak sekolahan.


“Benar Mbok?” si Mbok menganggukan kepalanya seraya tersenyum menatap menantunya itu.

__ADS_1


“Oh iya Mbok. Kenalin, ini suami Nura. Namanya Ibra.” Ucap Nura memperkenalkan Ibra.


Deg


“Anisa!” ucap Mbok Maryam tanpa sadar, kening Ibra berkerut.


“Anisa?” ulang Nura, melihat suaminya dan si Mbok secara bergantian dengan wajah bingung.


“Anisa siapa Mbok?” tanya Alif. Si Mbok sangat terkejut dan menegang saat melihat Ibra, Mbok Maryam masih tidak melepaskan pandangannya dari Ibra. Sementara Ibra sendiri dan juga yang lain tampak bingung dan bertanya -tanya dalam hati mereka.


“Mbok,” Bulan Menyentuh lengan mertuanya.


“Iya Nduk, kenapa?” tanya Mbok Maryam yang seperti orang bingung setelah sadar dari keterkejutannya, memaksa untuk tersenyum sedangkan matanya terus melirik Ibra.


“Ini suaminya Nura, mereka baru menikah Mbok.” Bulan memperkenalkan Ibra lagi.


"Selamat ya Nduk, dulu pertama kali datang ke sini kalian masih sendiri. Sekarang sudah pada menikah." Mbok Maryam berusaha menutupi kegelisahan hatinya di depan Bulan dan yang lain tapi tidak dengan Alif. Ia merasa ibunya itu seperti menyimpan sesuatu, karena sesekali Mbok Maryam mencuri pandang pada Ibra.


"Ayo... ayo.. masuk, maaf saya sampai lupa suruh masuk. Maaf ya, beginilah keadaan rumah kami." Kata Mbok Maryam ditengah rasa canggung yang dirasakannya.


“Pah-Mah, ayok silahkan masuk. Masak kita berdiri terus, udah seperti patung selamat datang aja,” tambah Alif dengan guyonan.


“Bulan mau makan gurami bakar lagi, Mbok! Anak Mas Alif sangat suka gurami yang di tambak.” Kata Bulan yang mengamit lengan mertuanya masuk kedalam rumah dengan senyum lebar.


“Anaknya apa Ibunya?” sindir Alif yang berjalan di belakang mereka.


“Yeee.. Anak Mas nih yang pengen.” Sahut Bulan dengan pipi mengembung dan mata membesar menatap suaminya. Alif menarik nafas dalam-dalam, bukan masalah siapa yang pengen sebenarnya, tapi siapa yang akan menangkap ikannya yang sangat mengganggu hati Alif.


“Nanti minta suamimu tangkap yang banyak, Nduk.” Ucap si Mbok


“Bulan ngga mau Mas Alif yang tangkap Mbok, tapi Bagas.”


“Bagas siapa?” tanya Mbok Maryam dengan kening berkerut.


Bulan menunjuk laki-laki muda yang sudah duduk di samping Papanya, karena terlalu kaget dengan Ibra. Mbok Maryam sampai tidak memperhatikan laki-laki muda yang datang bersama besannya. Si Mbok kembali terpaku, ia seperti melihat Alif yang berusia belasan tahun.


Apa yang sedang di pikirkan si Mbok? Kenapa kehadiran mereka membuat si Mbok sangat terkejut. Apa si Mbok mengenal mereka, atau si Mbok mengetahui sesuatu tentang mereka? monolog batin Alif, tanpa mereka semua sadari Alif terus saja memperhatikan ibunya yang terlihat sangat berbeda.

__ADS_1


Ibunya sering kali melirik Ibra dan Bagas secara bergantian, atau jangan-jangan apa yang pernah di katakan Bulan benar kalau ada hubungan antara dirinya dengan Bagas, lalu bagaimana dengan Ibra?


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2