
Sudah seminggu Bulan di rawat, seminggu pula Alif tidak pergi bekerja. Semua urusan kerjaannya di serahkan pada Rayhan, sang Ratu tercinta tidak ingin di tinggalkan barang sejenak oleh suaminya.
Hari ini Bulan sudah di ijinkan untuk pulang karena kondisi kesehatannya semakin membaik. Janin yang di kandungnya juga tumbuh dengan sehat, akan tetapi Bulan juga harus tetap banyak istirahat tidak boleh melakukan pekerjaan berat, seperti itulah pesan Dokter yang merawatnya.
Kini mereka sudah tiba dirumah di sambut oleh Suci dan Arman yang sudah sejak tadi menunggu mereka datang.
“Selamat datang kembali ke rumah sayang,” Suci merentangkan tangannya menyambut Putri kesayangannya. Wanita dua anak itu mencium kedua pipi anaknya dengan sayang sekaligus gemas, karena terlalu chubby.
“Maaa...” Rengek Bulan manja, Wanita paruh baya itu hanya terkekeh mendengar sang anak protes akan ulahnya.
“Mama gemas banget sayang, lihat pipi kamu yang bulat ini udah kayak bakso tenis.” Pipi bulat kenyal itu di unyel-unyel kembali oleh Suci.
“Papa lihat Mama, masa pipi Bulan di samain sama bakso tenis!” adunya pada Arman sambil merajuk.
“Ma, udah dong. Bulan baru pulang bukannya di suruh istirahat, malah di gemesin.” Bulan tersenyum senang, ada sang Papa yang membelanya. Ia pun memeluk erat Arman dari arah samping, karena perutnya yang sudah membesar jika harus memeluk sang Papa dari depan.
“Dasar anak Papa!” sindir Suci.
Arman meminta Alif untuk membawa Bulan ke kamar, biar Putrinya itu bisa istirahat. Ia tidak mau sampai kesayangannya itu jatuh sakit dan harus di rawat lagi.
Sampai di kamar Alif membantu Bulan untuk duduk bersandar pada kepala sandaran tempat tidur, Alif menaruh bantal di belakang punggung Bulan agar istrinya itu bisa duduk dengan nyaman.
Sejak perutnya mulai besar, wanita hamil itu kesusahan untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur dan duduk. Terkadang Alif merasa kasihan melihat Bulannya yang kepayahan gara-gara ulah perbuatannya, tapi mau gimana lagi udah terjadi juga.
“Sayang, gimana?”
Bulan mengangguk, “Udah Mas, ini udah pas posisinya.” Bulan menarik nafas lalu menghembuskan pelan.
“Mas, lapar lagi.” Keluh Bulan dengan bibir mengerucut.
Alif tertawa kecil, istrinya ini kalau sudah lapar pasti selalu cemberut. Bukan karena laparnya yang membuat sang istri manyun, tapi karena pipinya akan semakin bengkak .
Alif dengan sabar menyemangati istrinya, ia tidak masalah berat badan Bulan bertambah. Nanti kalau anaknya sudah lahir, Ibunya bisa olah raga untuk menurunkan berat badannya yang membuat pipinya jadi chubby.
__ADS_1
Untuk saat ini anak dalam kandungnya hanya bisa mendapatkan nutrisi makanan dari sang Ibu, jika Ibunya menahan makan bagaimana keadaan bayi dalam kandungannya.
Dan pada akhirnya mood Bumil itu kembali membaik, kesabaran Alif selama kehamilan istrinya benar-benar di uji. Alif yang sangat mencintai istrinya tidak pernah sekalipun lelah atau pun marah jika sang istri berulah, karena ia tau itu bawaan dari hormon kehamilannya.
“Mau makan apa, hm?” Alif mengusap pipi chubby istrinya.
“Makaroni schotel mozzarella, tapi Mas yang bikinin, ngga mau yang di beli.” Ucap Bulan. Bumil cantik itu menelan air liurnya membayangkan macaroni dengan lelehan mozzarella, hmm.. Pasti lezat banget.
“Anaknya apa Ibunya yang pingin?” kata Alif menggoda sang istri.
“Anaknya nih yang minta, coba Mas tanya sendiri sama anaknya.” Bulan menunjuk perutnya.
Alif pun mengajak sang jabang bayi bicara, “Sayang, beneran kamu yang ingin makan macaroni?” Alif bisa melihat perut istrinya yang bergerak-gerak. Pri itu menaikan dress hamil istrinya agar ia bisa melihat langung jika kaki atau siku anaknya yang menonjol.
Alif sangat suka jika anaknya aktif di dalam sana, tapi ia khawatir juga melihat Bulan yang meringis saat bayinya menendang dari dalam.
*****
Sambil menunggu makaroni yang di rebusnya matang, ia mencincang bahan-bahan untuk menumis seperti bawang bombay, bawang putih.
Alif juga menambahkan jamur, untuk dagingnya sendiri Alif menggunakan daging giling dari sapi asli bukan yang instan. Ia tidak ingin Bulannya makan daging kalengan, untung saja masih ada stock di freezer.
Alif terlalu fokus tidak menyadari jika Arman sudah berada di dekatnya, dengan kepala di panjangkan Arman ingin melihat apa yang menantunya itu lakukan. Arman pun berdehem supaya Alif tau jika ada dirinya di sana.
“Ekhem!”
“Eh! Papa!”
“Pasti istrimu lapar lagi?” Arman sudah bisa menebak, karena ia sering memergoki menantunya itu tengah malam krusak krusuk di dapur membuatkan makanan yang di inginkan oleh Putrinya. Sedangkan sang Tuan Putri duduk dengan manis di meja mini bar yang ada didekat dapur menunggu makanannya datang.
“Iya Pa, minta di bikinin macaroni. Papa mau?” tawar Alif.
“Papa ngga di tawarin pun pasti minta kamu bikinin lebih,” kekeh Arman.
__ADS_1
“Karena Kalau kamu yang masak rasanya ngga pernah gagal, Lif.” Puji Arman.
“Papa terlalu berlebihan.”
“Eh, beneran loh. Buktinya itu, istri kamu ampe pipinya melebar gitu.” Arman tertawa geli, Kalau ada Bulan pasti wanita hamil itu akan merajuk di katain melebar oleh sang Papa.
Memang benar, setiap makanan yang di olah Alif semuan terasa sangat enak. Walau makanan rumahan sekalipun, membuat naf-su makan makin bertambah.
Alif menyelesaikan macaroninya sambil berbincang dengan Papa mertuanya, mereka tampak bukan seperti menantu dan mertua.
Tak lupa Alif membuat lychee tea untuk istrinya, dengan sedikit es batu dan biji selasih. Setelah memberikan satu mangkuk macaroni yang baru keluar dari oven dan segelas lychee tea dingin untuk mertuanya, Alif meminta ijin pada mertuanya untuk ke kamar membawa pesanan Bumil.
Bulan yang melihat suaminya datang, mata Bumil itu sangat berbinar-binar apalagi melihat lychee tea nya dengan banyak buah lychee di dalam gelas jumbo itu.
“Mas, mau makannya di balkon.” Seru Bulan, Alif pun membawa nampan yang berisi macaroni dan lychee tea ke balkon dan meletakan di sana, kemudian ia berbalik untuk membantu istrinya.
Bulan sudah lebih dulu turun dari tempat tidur, usia kandungan masih dua puluh empat minggu tapi ia sudah mengap-mengap. Bulan berpikir bagaimana jika sembilan bulan nanti, apa lebih parah dari sekarang.
“Mas,” ketika Alif sudah berada di depannya.
“Kenapa?”
“Bulan ikut senam hamil boleh? Kayaknya Bulan kurang gerak deh, baru gerak dikit aja udah mengap.” Keluhnya seraya menarik nafas satu satu.
“Boleh, nanti kita konsul sama Dokter dulu ya. Kapan di perbolehkan, karena kamu baru juga pulih.” Alif mengusap lembut punggung istrinya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Haiiii kesayangan Jingga semuanyaaaa, maaf yang sebesar-besarnya ya lama Hiatus🙏
Doain ya, mulai hari ini sampai tamat bisa Up rutin lagi🤗
Caiyoooooooo 💪💪💪
__ADS_1