
Pertemuan antara keluarga Bulan dan Alif telah dilakukan, Alif secara resmi telah melamar Bulan untuk menjadi istrinya. Tinggal beberapa hari lagi mereka akan melangsungkan akad nikah dan resepsi pernikahan dikediaman orang tua Bulan sesuai keinginan mempelai wanita yang tidak ingin dilakukan di hotel.
Seperti layaknya calon pengantin yang lain, mereka juga sedang dalam masa pingitan. Bahkan sekedar bertukar kabar saja tidak bisa, ponsel keduanya disita oleh orang tua masing-masing. Sungguh sangat menyiksa hati mereka kala rindu datang menyerang.
Bulan berguling kesana kemari diatas tempat tidurnya sampai-sampai posisi badan dan kepalanya berada dilantai dengan kakinya berada diatas tempat tidur, ia merasa sangat bosan saat ini.
kedua bestienya Nura dan Alin. Tapi wajahnya tidak sedikitpun bersemangat karena rasa rindu pada Alif calon Suaminya.
"Bego, lu napa sih kayak gasingan mutar sana mutar sini, nungging sana nungging sini. Lu mau ikut atraksi sirkus? terus itu muka kagak ada aura-aura manten dikitpun? seperti orang kawin paksa tau ngga lu!" omel Nura jengah melihat bestienya seperti ulat bulu.
"Lu kagak tau, gimana rasanya nahan rindu. Berat bestie!!! lu lihat langit aja menangis, mengerti gimana rindunya Bulan pada pangerannya." Bulan menghiperbolakan keadaan. Nura memutar bola mata jengah, melihat bestienya alay.
"Preett,, lebay lu!"
"Ini namanya hujan rindu, Oh..hujan bawalah rinduku padanya, sampaikan betapa hatiku tersiksa disini. Datanglah malam ini, akan kudekap kakang Mas Alif sekuat dan semampuku."
Plaaakk
"Napa lu gampar gue, wahhh KDRT lu." Bulan yang sedang berbaring langsung bangun, melotot tajam pada Nura.
"Panas kuping gue dengerin ocehan lu, kagak usah sok berpuitis lu, Lebih cocok lu hapalin pasal-pasal. Sok-sok an kakang Mas, jijay gue!" tungkas Nura.
"Serah gue, mulut-mulut gue napa lu? ngga suka!"
"Kalian kayak tikus sama kucing." Alin terkekeh.
"Dia tuh yang tikus!" sahut Bulan.
"Lu yang tikus gue meong!" balas Nura.
"Lu tikus!"
"Lu tikus!"
"Dasar bucin akut." Sarkas Nura.
"STOP!! malah ributin tikus, liat nih masker gue jadi rusak gara-gara kalian berisik." Jerit Alin.
"Astaga naga, Lin. Yang mau nikah itu Bulan, napa lu yang sibuk maskeran?"
__ADS_1
"Mau daftar jadi Istri kedua Pak penghulu kali dia!"
"Amit-amit, mulut lu kalau ngomong kagak pake saring! Dunia akhirat gue pengen jadi Istri satu-satunya Suami gue." Ucap Alin dengan sebal.
"Hilal jodoh lu aja belum keliatan." Ledek Nura.
"Gue bakal kecengin cowok-cowok cakep nanti waktu nikahan Bulan." Sahut Alin dengan menaikan dagunya.
Jika Bulan sedang galau menahan rindu dan debat dengan bestienya, lain lagi dengan Alif yang duduk termenung diberanda rumahnya sedang memandang hujan. Tapi, pikirannya jauh melayang, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Mbok Maryam yang sudah hampir seminggu ini tinggal bersama Putranya, dapat melihat kegusaran diwajah anaknya.
"Ada apa?" tanya si Mbok lembut sambil mengelus pundak Alif. Membuat sang empunya terlonjak kaget.
"Eh, Mbok." Alif memutar kepalanya menoleh pada si Mbok.
"Ceritakan, nang. Apa yang mengganjal dihatimu?"
"Ngga ada, Mbok. Lagi mikir aja, apa pantas Alif jadi Suami Bulan. Bagaimana jika setelah menikah Bulan menyesal dengan pernikahan ini!" Alif berucap dengan lirih sesuai dengan perasaan hatinya yang tak menentu, khawatir dan takut.
Si Mbok tersenyum, lalu berkata. "Nang, ini namanya ujian menjelang pernikahan. Yakinkan hatimu, jangan biarkan keraguan menguasainya. Percayalah, semua akan berjalan dengan baik." Nasehat si Mbok membuat hati Alif menjadi lebih tenang.
Keadaan rumah keluarga orang tua Bulan tampak ramai, hilir mudik orang mempersiapkan segala keperluan acara Putri pemilik rumah. Halaman samping rumah yang luas telah disulap oleh pihak WO menjadi tempat akad dan resepsi, sesuai dengan konsep pilihan Suci sang Mama.
Bulan menyerahkan semua urusan pernikahannya pada kedua orang tuanya, hanya tempat saja yang ia tentukan. Selain itu, ia terima beres.
Sebuah mobil Audi R8 Quatro V10 Plus warns Tango Red Metallic memasuki halaman rumah yang sedang mempersiapkan sebuah acara itu. Semua mata menatap kagum pada pemuda yang baru saja turun dari dalam mobil itu, dengan kacamata hitam yang bertenger dihidung mancungnya membuat kaum Hawa tak mengedipkan mata mereka melihat pahatan maha sempurna.
Dengan baju kaos pas body dilapisin jaket kulit menambah penampilannya makin- makin meresahkan jiwa. Tanpa peduli tatapan mereka padanya, ia melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah tegap dan lebar.
Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, ia terus berjalan kedalam rumah sambil mengedarkan pandangannya. Sudut bibirnya terangkat saat menangkap apa yang dicarinya dengan perlahan ia berjalan pada sosok itu.
Grep
Tangan kekar laki-laki itu memeluk seorang wanita paruh baya, hingga membuatnya terpekik dan menjatuhkan bunga yang sedang disusunnya dalam vas. Wanita paruh baya itu membuang kasar nafasnya dengan kelakuan laki-laki itu.
"Kamu sengaja membuat Mama jantungan, hah!"
"Ngga dong, Ma. Hanya memeluk saja." Pemuda yang merupakan anak pertamanya hanya cengar cengir tak bersalah.
__ADS_1
"Sudah lepasin pelukannya, Mama mau lanjutin pekerjaan Mama. Sana, temuin adik kamu."
"Masih pengen peluk Mama," rengeknya.
"Udah sana, jangan ganggu Mama." Dengan cemberut laki-laki itu melepaskan pelukannya pada sang Mama, lalu melangkah kearah tangga menuju lantai atas.
Brakkk
Pintu kamar dibuka kasar, Bulan yang sedang membereskan kamarnya yang berserakan akibat ulah kedua bestie durjananya itu terlonjak kaget. Ia melotot ketika melihat siapa yang berdiri diambang pintu sambil menyenderkan bahunya pada kusen.
"Kabin!" Pekiknya. Bulan langsung berlari pada laki-laki itu.
"Panggil yang benar, kabin-kabin emang pesawat!" ketus laki-laki itu.
"Itu panggilan kesayangan, biar sweet gitu." Goda Bulan memainkan alisnya. laki-laki itu menatap tajam Bulan kemudian membalikan badannya berjalan kearah tangga
"Kabin mau kemana?"
"Mau balik ke asrama."
"Loh kok balik? adiknya mau nikah malah balik asrama!"
"Kagak punya adik!"
"Terus aku apa dong....!"
"Cari aja Kabin pesawat..!"
"Itu aja ngambek seperti perempuan kakak nih."
"Bodo...!
"Kak Bintang, jangan pergi!" Pinta Bulan udah berdiri didekat tangga, sang kakak tersenyum puas mendengar rengekan Bulan.
Kabin alias Bintang kembali menapaki tangga mendekati Bulan yang berdiri diujung tangga. Drama di antara mereka sepertinya tidak akan pernah usai.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Akhirnya, pulang juga kakaknya Bulan setelah Kak Jingga bujuk rayu sekian purnama🤭
__ADS_1
Hampir aja balik lagi ke asrama gegara merajuk, untung bisa dicegah sama Bulan🙈