Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
38 - Alif Cemburu


__ADS_3

Setelah mengantar Alif dan Bulan pada meja yang sudah dipersiapkannya, Bagas meninggalkan pasangan suami istri itu. Bagas akan meminta karyawannya untuk menyiapkan makanan untuk mereka.


Bulan terus saja memandang Bagas yang bahkan hanya terlihat punggungnya saja sudah menjauh dan hilang dibalik pintu kaca yang membatasi bagian depan dan belakang Cafe itu. Alif yang sejak tadi memperhatikan istrinya berdehem, menyadarkan sang istri bahwa suaminya ada disamping.


“Ekhem...ekhem...“


“Mas kenapa? Tenggorokannya gatal?” tanya Bulan polos.


Alif mendengus, “Pake nanya lagi kenapa! Kamu itu yang kenapa?”


“Mas kenapa sih? Dari tadi sensi mulu, lagi datang Bulan?” sontak mata Alif terbelalak.


“Mas laki sayang, datang bulan dari mananya!” protes Alif melirik istrinya yang terlihat santai.


“Lhah, terus kenapa itu muka di tekuk udah kayak kain setrikaan. Kusut ambrul adol gitu?” omel Bulan sambil menunjuk wajah suaminya dengan gerakan jari telunjuknya seperti membentuk lingkaran.


“Kamu yang kenapa? Lihatin Bagas sampai segitunya! Apa ketampanan suami kamu ini masih kurang? Hm?” Bibir Bulan bergetar karena menahan tawanya, wajah suaminya cemberut dan itu terlihat sangat lucu.


“Hahahaha....” Bulan tidak bisa lagi menahan ketawanya, melihat wajah suaminya yang semakin asam seperti jeruk purut.


“Mas.. Mas... Kamu ini lucu banget sih? bisa-bisanya mikir kayak gitu. Aneh-aneh saja kamu ini Mas.”


“Mas cemburu ya?” lanjut Bulan lagi, menaik turunkan alisnya menggoda Alif.


“Suami mana yang ngga cemburu lihat istrinya mandangi laki-laki lain didepan matanya. Mana ngga bekedip lagi.”


Bulan menghempaskan nafasnya dengan kasar, “Mas, Bulan itu sedang memikirkan wajah Bagas yang tidak asing. Bulan seperti pernah melihatnya, tapi di mana Bulan lupa.” Bulan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya, ia memandangi suaminya lekat-lekat.


“Mas...” Pekik Bulan tiba-tiba sambil menjentik jarinya, Alif yang akan meletakkan ponselnya ke atas meja terjengkit. Untung saja ponselnya tidak sampai mencium mesra lantai, ya..walaupun lantainya dilapisi karpet.


“Sayang!” Alif menarik nafasnya pelan, “Bisa ngga sih? Kamu jangan bikin Mas kaget.”


“Ngga bisa Mas, karena ini sangat-sangat mengejutkan.” Ucap Bulan dengan wajah berseri-seri, seperti abis menang undian besar.


“Soalnya Bulan udah menemukan orang yang wajahnya mirip dengan Bagas, eh! Kebalik, Bagas mirip orang itu.” Ralat Bulan cepat.

__ADS_1


“Siapa? Dimana?” tanya Alif yang jadi ikut penasaran.


“Disini, di depan Bulan orangnya.” Alif memutar-mutar kepalanya kiri, kanan, ke belakang. Tapi tidak menemukan orang yang di maksud oleh istrinya.


“Ngga ada siapa-siapa sayang.”


“Ada, orang itu adalah.....” Bulan menggantung ucapannya, alis Alif semakin bertaut karena rasa penasarannya. “Mas.” Imbuh Bulan kemudian.


“M-mas?” tunjuk Alif pada dirinya sendiri, Bulan mengangguk sambil tersenyum lebar.


“Hu-um, orang itu Mas. Wajah Bagas sangat mirip dengan Mas, Bagas versi muda kalau Mas versi dewasanya.” Jelas Bulan sumringah.


“Masa sih sayang?” Alif meraba-raba wajahnya.


“Iya, Mas. Makanya sejak tadi Bulan perhatikan terus. Apa jangan-jangan Bagas adiknya Mas?" tanya Bulan yang mulai penasaran, sepertinya masalah ini akan menarik bagi seorang Bulan yang notaben seorang pengacara.


“Ngaco kamu, kamu tau sendiri Mas ngga punya saudara lain.” Sanggah Alif.


“Iya sih..” Jawan Bulan sambil mangut-mangut.


“Atau mungkin dulu waktu kecil Bagas diculik orang, jadi terpisah deh dari keluarganya dan Mas ngga tau." Alif dengan gemas menyentil kening sang istri, kemudian ia menunjuk-nunjuk kepala Bulan. “Otak kamu ini, kebanyakan di isi komik, jadi ngelantur kemana-mana udah pikirannya.”


“Bukannya kita didunia ini ada tujuh kembaran ya? Mungkin itu salah satunya yang udah ketemu.” Ujar Alif.


“Iya juga, walaupun ada beti-betinya.” Kening Alif berkerut, “Beti-betinya apa sayang?” Bulan menepuk jidatnya.


“Beti itu beda tipis Mas, mosok Mas itu aja ngga tau.”


“Ya mana Mas tau bahasa kamu sama bestie kamu itu.”


Gue harus selidiki tentang ini tanpa diketahui oleh Mas Alif, tidak mungkin hanya kebetulan saja. Dimulai dari Bagas, ya...Bagas kunci utamanya, selanjutnya menjadi urusan Malik. Bulan berbicara dengan hatinya.


Tidak lama kemudian Bagas kembali di ikuti dua orang pelayan wanita di belakangnya dengan membawa nampan yang berisi makan siang mereka yang sudah terlambat.


“Maaf ya Mas Alif, Mba Bulan lama.” Ucap Bagas merasa tidak enak hati.

__ADS_1


“Engga kok, minum kita aja belum habis setengah.” Jawab Bulan menunjukkan jus di depannya.


“Hem,, ada cumi krispi.” Seru Bulan ketika makanan dihidangkan di atas meja, kedua pelayan itu tersenyum ramah.


“Mba Bulan suka cumi?” tanya Bagas.


“Sejak hamil dia jadi doyan cumi krispi sama gurami bakar bumbu rujak, makannya bisa nambah-nambah kalau ada menu dua itu.” Bukan Bulan yang menjawab tetapi Alif.


“Wah, benarkah? Kebetulan sekali kalau gitu, aku juga udah siapin gurami bakar bumbu rujaknya. Nah! Itu dia datang gurami bakar bumbu rujaknya.” Ucap Bagas, bersamaan datangnya seorang pelayan laki-laki yang mungkin usianya tidak berbeda jauh dari Bagas dengan membawa dua piring besar ikan gurami bakar.


“Berdoa saja, semoga anak dalam kandungannya tidak membuat ulah menolak makanan yang bukan di masak Ayahnya.” Canda Alif.


“Serius Mas?” tanya Bagas melihat Alif dan Bulan bergantian.


“Biasanya gitu, tapi dua hari ini udah agak aman. Bisa masuk sedikit makanan yang beli diluar.” Jelas Alif mengerti perubahan wajah Bagas yang terlihat cemas. Mungkin ia takut jika Bulan tidak bisa makan, pikir Alif.


Mereka pun makan sambil diselingin obrolan ringan, seperti kata Alif tadi. Bulannya makan dengan porsi besar dan aman dari ke isengan sang jabang bayi. Mungkin juga karena Alif yang mengambil semua menu kedalam piring Bulan, jadi bolehlah ada bau-bau tangan sang Ayah untuk menghindari trouble.


Benar-benar Bumil satu itu tidak peduli keadaan disekitarnya, piringnya bersih tanpa sisa. Setelah selesai dan meja pun telah dibersihkan dari piring-piring kotor, mereka kini terlihat lebih santai di temani beberapa buah dan desert sebagai hidangan penutup.


“Ini makan siang, udah sangat mewah lhoh Gas. Udah kayak Hotel bintang lima.” Ucap Bulan yang sedang menikmati desert strawberry.


“Biasa aja Mba, ya.. Sekalian promosi juga. Siapa tau nanti teman-teman Mba Bulan sama Mas Alif ada yang berkenan mampir kesini.”


“Marketing kamu jalan ya..” Alif terkekeh.


“Sambil menyelam minum air, Mas.” Mereka tergelak, hingga Bulan bertanya pada Bagas di sela- sela obrolan mereka.


“Gas, kamu kuliah dimana? masih kuliah kan?" tanya Bulan.


"Masihlah Mba, aku kan baru mulai kuliah. Masih semester satu, disini dari pagi sampe sore. Malamnya baru aku kuliah." Ujar Bagas.


"Berarti kamu baru lulus sekolah dong, waahh..hebat banget kamu. Masih muda udah punya usaha kayak gini, pasti orang tua kamu bangga nih punya anak yang mandiri kayak kamu." Bulan mulai memancing obrolan mereka, untuk bisa mengulik sedikit informasi.


Bagas tersenyum getir, "Aku udah ngga punya orang tua lagi Mba, selama ini aku sekolah sambil kerja untuk biaya hidup aku sehari-hari. Dan aku udah lulus dari dua tahun yang lalu, bisa kuliah juga karena dari hasil Cafe ini." ungkap Bagas.

__ADS_1


"Maaf, Gas. Mba ngga bermaksud membuat kamu sedih." Ucap Bulan sunggu-sungguh, Bulan bisa melihat raut kesedihan dari sosot netra hitam pekat itu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2