Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
44 - Kehangatan Sebuah Keluarga


__ADS_3

Sore hari Alif menjemput Ibra untuk di ajak kerumah orang tua Bulan, tentunya tanpa sepengetahuan Nura. Alif datang seorang diri, dia mengatakan bahwa Bulan ingin Ibra kerumah dengan alasan keinginan sang jabang bayi. Sudah tentu itu idenya si Bumil, maafkan Ibumu ya nak? terkadang emang Ibumu suka begitu.


Kedatangan Ibra di sambutan dengan hangat oleh orang tua Bulan, bahkan Suci sampai memeluknya. Hati Ibra menghangat saat merasakan pelukan dari Suci, pelukan seorang Ibu yang sudah lama tak pernah dirasakannya lagi.


“Ada apa?” tanya Suci setelah melerai pelukannya, melihat wajah Ibra berubah murung, dengan memaksakan senyumnya Ibra berkata. “Tidak ada Tante, hanya teringat Ibu saja saat Tante memeluk Ibra tadi.”


Suci melihat suami dan anaknya yang tersenyum padanya lalu ia menunduk menatap Ibra, “Mulai sekarang kamu bisa menganggap Tante sebagai Mama kamu dan Papa nya Bulan sebagai Papamu, jangan merasa kamu tidak memiliki orang tua.” Suci mengelus lengan Ibra dengan penuh kasih sayang.


“Terima kasih Tante,” ucap Ibra dengan mata yang berkaca-kaca.


Alif merangkul istrinya yang berdiri di sampingnya, Bulan mendongak tersenyum bahagia melihat suaminya.


“Kamu bahagia sayang?” tanya Alif pelan, karena keinginan istrinya terwujud.


“Sangat, sangat bahagia Mas.” Bulan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya dengan kepalanya ia rebahkan pada lengan suaminya.


“Mah, udah dong drama-drama nya. Pegel nih berdiri terus!” seru Bintang ditengah keharuan Ibra dan sang Mama.


“Kamu kira kita lagi syuting drakor, drama-drama segala.” Semprot Suci pada Putranya.


“Nah ini, emak-emak sekarang suka nya drakor.” Bintang menyindir Mama nya.


“Bagus dong sukanya drakor dari pada pelakor.” Balas Suci.


“Sudah-sudah, kalian ini lagi ada tamu.” Lerai Arman menghentikan perdebatan istri dan anaknya.


“Maafkan Bintang ya Ibra. Dia memang suka begitu, tapi dia sama seperti Bulan baik anaknya.” Kata Arman, menepuk-nepuk pundak Ibra.


“Ngga apa Om, pasti setiap hari rumah Om selalu ramai. Ngga seperti di rumah Ibra sepi.” Ucap Ibra tersenyum.


“Kedepannya kamu sering-seringlah main kesini, biar ngga kesepian.” Mereka menuju ruang tengah agar lebih nyaman dan santai ngobrolnya.


“Mah, mentang-mentang ada anak baru. Mama banyak banget buat cemilan, giliran Bintang sesekali pulang kagak pernah di buatin cemilan kayak gini.” Seru Bintang ketika ART selesai menghidang berbagai macam kudapan di atas meja.

__ADS_1


“Jadi yang setiap hari Kakak comot-comot itu apa? Bukan cemilan? Udah tiap hari Kakak juga yang tukang habisin mana jatahnya Bulan juga ikut ludes.”


“Tapi ini ada yang beda, Bul?” Bintang mengambil cookies dengan taburan choco chip di atas nya.


“Yee, itu mah udah lama keles. Kakak aja mungkin yang ngga pernah makan,”


“Masa sih?” tanya Bintang dengan alis bertaut.


Bulan mengangguk, “Iya, tanya Mama deh ngga percaya.”


“Iya Ma?” Bintang bertanya pada sang Mama.


“Iya, Kamu pernah bawa setoples ke asrama.” Bintang tampak berpikir, kemudian ia teringat saat itu ketika tiba di asrama paper bag yang di bawanya langsung di serbu oleh rekan-rekannya.


“Pasti yang di ambil sama si kutu kupret Beni nih, Bintang ngga sempat makan waktu itu Ma.” Ucap Bintang dengan wajah sedihnya, karena rasa cookies itu sangat enak.


“Mah, nanti Bintang balik asrama bikinin lagi ya dua toples. Kalau cuma satu nanti abis di makan sama si kunyu-kunyu itu.” Imbuh Bintang lagi sambil mengangkat dua jarinya.


“Jadi Kak Bintang, ngga tinggal di rumah?” tanya Ibra.


“Ngga, gue di asrama. Ini pulang sebentar karena bocah itu minta gue pulang.” Menunjuk adiknya dengan dagunya, Ibra pun tersenyum melihat bagaimana dekatnya Bulan dengan sang Kakak. Seandainya ia memiliki seorang Kakak apa akan sedekat mereka, pikir Ibra.


“Ayo Ibra di minum tehnya, cemilannya juga di makan jangan di anggurin. Anggap aja rumah sendiri, jangan malu-malu.” Ucap Suci melihat Ibra belum menyentuh minumannya.


“Udah Ib, santai aja jangan tegang gitu. Kita ngga lagi di ruang sidang.” Sambung Bulan diselingin candaan.


“Iya,” sahut Ibra mengambil cangkir yang berisi teh dan meminumnya.


Perlahan Ibra mulai menyatu dengan keluarga Bulan, ia sudah tidak terlihat canggung dan kaku lagi. Sesekali mereka bercanda dan tertawa apalagi melihat Bulan dan Bintang, ada saja yang mereka debatin membuat suasana rumah semakin ramai dan penuh kehangatan.


“Jangan heran Ibra, yang kamu lihat ini belum seberapa. Biasanya mereka bisa sampai kejar-kejaran, ini karena Bulan sedang hamil aja. Kalau tidak persis seperti rimba Tarzan.” Ujar Arman sambil terkekeh.


“Papa apa-apaan sih, buka kartu aja.” Bulan memajukan bibirnya.

__ADS_1


“Lhoh, kenapa? Ibra ini udah jadi anak Mama sama Papa. Ngga apa dong dia tau kelakuan kamu.”


“Terus aja Pah, teruuss...nanti kalau ada anak lain lagi gitu aja terus.” Sindir Bulan.


Arman tergelak, dia ngga akan pernah menang kalau sudah berhadapan dengan Putrinya itu, ada aja jawabannya.


“Oh iya Ibra, kata Bulan kamu mau nikah?” tanya Arman mulai masuk kedalam inti pembicaraan mereka.


“Baru mau lamaran Om, minggu depan.” Jawab Ibra.


“Siapa aja yang akan mendampingi kamu?”


“Cuma Mas Alif aja Om,” jawab Ibra seraya tersenyum.


“Apa kamu keberatan kalau Om dan Mamanya Bulan yang melamarkan Nura untuk kamu?” Ibra tentu saja kaget dengan ucapan Arman, ia melihat ke arah Bulan yang sedang bersandar pada suaminya malah tersenyum padanya. Kemudian kembali melihat kedua orang tua Bulan yang tampak serius menatapnya.


“Sedikitnya kami sudah tau tentang kamu dari Bulan, tolong jangan tersinggung. Kamu bisa menganggap kami sebagai pengganti orang tuamu, dan jika kamu mau kami dengan senang hati akan melamarkan Nura untuk kamu.” Ucap Suci, Ibra masih terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.


“Udah terima aja bro, ngga akan nyesel lu jadi anak mereka.” Sahut Bintang yang duduk di dekat Ibra.


“Bukan, bukan seperti itu Kak Bintang. Saya merasa tidak pantas...”


“Tidak pantasnya di mana?” potong Arman.


“Keluarga ini terlalu baik untuk saya, yang bukan siapa-siapa.” Ibra menunduk.


“Makanya jadilah bagian keluarga ini, jangan pernah merasa kecil hati. Kamu tidak pernah minta untuk dilahirkan di dunia ini, kamu juga tidak minta dilahirkan dari Ibu yang mana. Semuanya sudah takdir, anggaplah kami keluargamu jangan pernah merasa sendiri lagi.” Kata Suci yang sudah berpindah duduk disamping Ibra, Suci mengelus punggung Ibra dengan lembut dan penuh kasih sayang layaknya Putra kandungannya sendiri.


Ibra menyeka air matanya yang menetes, tidak menyangka kedatangannya ke rumah temannya itu dia akan mendapatkan perlakuan semanis ini.


Sebuah keluarga yang menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka, kehangatan sebuah keluarga yang sudah sejak lama di rindukannya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2