
“Yang, aku punya sesuatu untuk kamu.” Ucap Nura kepada suaminya, saat ini mereka baru tiba dirumah sekembalinya dari rumah sakit. Karena hari ini jadwal suaminya terapi, kaki Ibra sudah banyak kemajuan. Ia sudah bisa berjalan seperti biasa, namun ia masih tidak boleh terlalu banyak bergerak.
“Sesuatu apa sayang?” Ibra menarik Nura, mendudukkannya di atas pangkuannya.
“Yang, nanti kakinya sakit.” Khawatir Nura pada kaki suaminya yang belum sepenuhnya pulih, Nura pun melingkarkan tangan di leher suaminya.
“Ngga, cuma kamu sendiri yang duduk tidak akan sakit.” Ibra mengeratkan rangkulan tangannya di pinggang Nura, kening pria itu berkerut merasakan ada yang lain saat memeluk pinggang wanitanya.
“Kok pinggang kamu makin lebar sayang? Karena suka makan tengah malam pasti ini.” Tebak Ibra, Nura pun tersenyum. Kemudia ia meraih tasnya dan mengambil sebuah amplop dari dalam tersebut.
Nura menyerahkan amplop putih dengan logo rumah sakit tempat Ibra juga melakukan terapi disana.
“Apa ini?” tanya Ibra mengambil amplop itu dari tangan istrinya dan membolak-balikkannya dengan wajah bingung.
“Buka aja, nanti juga tau sendiri.” Kata Nura seraya tersenyum.
Ibra kemudian membuka amplop itu sesekali ia melihat istrinya yang tak lepas tersenyum, hanya sebuah kertas di dalamnya.
Saat Ibra membuka lipatan kertas itu sebuah foto hitam putih jatuh di atas paha istrinya, tentu saja Ibra tau foto apa itu. Mata Ibra mengembun ketika melihat foto itu dan membaca suratnya.
“Sayang, ini beneran?” tanya Ibra seakan masih belum percaya.
Nura mengangguk-anggukkan kepalanya, “Iya beneran, masa boong.” Ibra langsung memeluk erat istrinya, air matanya pun ikut menetes. Rasa haru menyeruak dalam relung hatinya, ia masih tidak percaya secepat ini di beri kepercayaan untuk menjadi calon orang tua.
Iya, surat yang di beri oleh Nura adalah hasil pemeriksaannya di Dokter kandungan saat mengantar Ibra terapi tadi.
Sudah hampir dua bulan ini Nura tidak kedatangan tamu bulanannya, ia khawatir jika ada penyakit yang bersarang dalam tubuhnya.
Saat Ibra sedang melakukan terapinya, Nura diam-diam mengunjungi poli kandungan.
__ADS_1
Karena tidak biasanya ia telat datang bulan. Karena itu, ia memutuskan untuk melakukan USG di Dokter kandungan. Untuk antisipasi jika benar ada masalah dengan rahimnya, sehingga bisa cepat ditangani.
Nura sendiri tidak pernah kepikiran bahwa ia sedang hamil, karena ia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan. Hanya saja belakangan ini, ia sering merasa lapar saat tengah malam. Tapi ia tidak menyangka kalau ada kehidupan lain yang mulai tumbuh dalam rahimnya.
Nura pun ikut menangis, menangis haru karena rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya. Ia di beri kepercayaan untuk bisa mengandung benih cinta mereka, memberikan keturunan untuk suaminya.
Ibra melerai pelukannya, menyeka air matanya dan juga air mata istrinya. Netra keduanya saling bertemu, menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta.
“Makasih sayang, sudah bersedia mengandung anak kita.” Dengan tangan gemetar Ibra mengelus perut Istrinya.
“Pantas saja perut kamu sudah lebar, ternyata ada dia di dalam sana.” Ucap Ibra memandang wajah istrinya, wanita yang dulu selalu berdebat dengannya siapa sangka menjadi istrinya dan sekarang sedang mengandung buah cinta mereka. Ibra memagut sekilas bibir Nura, menyalurkan rasa bahagia yang di rasakannya.
“Sekali lagi makasih sayang.” Ucap Ibra tulus pada Nura setelah melepas pagutannya. Kemudian pria itu menunduk di depan perut calon ibu itu.
“Halo anak Papa, sehat-sehat ya sayang. Papa akan tunggu kamu lahir kedunia ini.” Ibra mengajak anaknya berbicara.
“Ciee,, manggilnya Papa nih?” Goda Nura.
“Aku ikut aja, maunya suami aku gimana.” Ucap Nura sungguh-sungguh.
*****
Ibra mengabarkan kehamilan istrinya kepada Alif sebagai Kakak satu-satunya yang dimilikinya, tak lupa ia juga menghubungi Arman sebagai orang tua yang sudah menganggapnya sebagai anak.
Ia tidak menyangka mereka begitu sangat antusias mengetahui kabar kehamilan Nura, sebagai ungkapan rasa syukur Ibra mengajak mereka untuk makan bersama.
Tapi Suci menolak ajakan Ibra untuk makan di luar, ia meminta anak angkatnya itu untuk membawa istrinya datang kerumah. Ia sendiri yang akan menyiapkan makan malam sebagai syukuran atas kehamilan Nura, dan Suci tidak suka penolakan.
Jadilah sekarang mereka makan malam bersama di kediaman Arman, suasana hangat kekeluargaan begitu terasa di ruang makan tersebut. Mereka tampak seperti satu keluarga besar, tidak ada yang mengira jika mereka tidak memiliki hubungan darah.
__ADS_1
Kebahagiaan mereka semakin bertambah melihat Ibra bisa berjalan, biar pun masih belum bisa seperti orang normal pada umumnya. Tapi itu cukup membuat mereka bahagia.
“Tante makasih banyak, Ibra jadi merepotkan Tante harus cape-cape masak.” Ucap Ibra merasa tidak enak hati melihat begitu banyak menu masakan diatas meja yang di siapkan oleh Suci.
“Sudah, jangan di pikirkan. sekarang tugas kalian adalah habiskan makanan ini.”
“Nura makannya yang banyak, jangan malu-malu. Ambil aja apa yang kamu mau, Tante sengaja masak yang banyak biar ibu-ibu hamil pada kenyang makannya. Kamu lihat Bulan semuanya dimakan, kamu juga jangan sungkan.” Ucap Fani yang melihat Nura hanya mengambil makanannya sedikit.
“Iya Tante, makasih banyak Tante udah siapin semua untuk menyambut kehamilan Nura.” Ucap Nura tulus dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan bicara seperti itu, Ibra sudah tante anggap anak sendiri, berarti kamu juga menantunya Tante. Bukan begitu Pah?” ucap Suci bertanya pada Arman suaminya.
“Benar apa yang katakan istri Om, jadi makanlah semua yang sudah di siapinnya, Kalau bisa kamu habiskan sekalian.” Kekeh Arman.
“Udah Ra, ngga usah sok-sok an sungkan. Biasanya juga di kantor jatah makan gue lu comot, mumpung Mama gue masak banyak mending lu makan dah. Jarang-jarang Mama gue masak seenak ini, besok kalau lu minta lagi ngga bakalan ada.” sahut Bulan yang asik dengan makannya.
Suci mendelik, “Maksud kamu selama ini Mama masak ngga enak?”
“Enak Mah, maksud Bulan malam ini lebih enak. Hehehe...” Bulan membuat huruf V dengan jarinya sambil nyengir.
“Itu karena kamu yang kelaparan,” ledek Suci, lalu menoleh pada Nura. “Kamu juga Nura makan yang banyak, jangan mau kalah sama si pipi chubby itu yang makan hampir tiga piring.”
“Mah, baru mau dua piring.” Protes Bulan menunjuk piringnya yang berisi ayam bakar.
“Yang tadi di dapur tidak kamu hitung.” Fani melototi Putrinya itu.
Sebelum mereka datang, Bulan sudah lebih dulu mencomot ayam bakar di dapur dan makan sambil duduk lesehan di atas lantai dapur. Bahkan ia menghabiskan dua potong paha ayam bakar.
“Massss...”Adu Bulan pada Alif dengan mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸