Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
60 - Bumil Sakit


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul empat pagi, sepasang suami istri itu sedang sibuk di dalam kamar mandi. Alif menompang tubuh istrinya yang sudah sangat lemah, karena dari dua jam yang lalu istrinya itu terus saja mengeluarkan isi perutnya. Bahkan saat ini saja sudah tidak ada lagi yang di keluarkannya, hanya cairan saja. Bulir keringat membasahi wajah cantik yang sudah seputih kapas.


“Sayang, ke Rumah Sakit ya?” Ucap Alif, tangannya menyeka keringat yang membasahi wajah putih istrinya. Bulan yang sudah tidak memiliki tenaga hanya menggangguk dalam dekapan suaminya.


Alif membopong istrinya kembali kekamar, ia mendudukkan Bulan terlebih dahulu di sofa agar istrinya itu bisa duduk bersandar dengan nyaman. Setelah itu, Alif bergegas menuju lemari pakaian, tidak lupa ia mengganti bajunya lalu mengambil baju istrinya dan juga sweater untuk di pakaikan pada istrinya.


“Mas, pusing banget.” Rengek Bulan saat Alif mengganti piyama tidurnya yang sudah basah di bagian depannya dengan baju lain yang lebih santai dan nyaman kemudian memakaikan sweater diatasnya, kedua mata Bulan tetap terpejam.


Wanita hamil itu pasrah apa yang suaminya lakukan, untuk berbicara saja ia sudah tidak sanggup apalagi mau protes.


“Tahan bentar ya sayang,”


“Mas, mau muntah lagi..” Alif dengan sigap mengangkat tubuh istrinya membawa ke kamar mandi.


Setelah selesai, Alif menggendong istrinya, kedua tangan Bulan melingkar di leher suaminya. Wanita hamil itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Alif dengan hati-hati menuruni tangga, sampai di bawah ia melihat salah satu ART.


“Bi..” Panggil pria itu.


“Iya den,” ART dengan tergopoh-gopoh menghampiri Alif, “Loh non Bulan kenapa den?” tanya si bibik melihat anak majikannya tampak pucat.


“Saya akan bawa Bulan ke Rumah Sakit, tolong bilang sama Mama atau Papa ya bik kalau mereka tanya nanti.” Alif langsung beranjak tanpa menunggu ART menjawab.


“Iya den, itu non Bulan kenapa ya? Udah kayak mayat gitu wajahnya, semoga tidak terjadi apa-apa dengan non Bulan, aamiin.” ART itu berdoa dengan tulus untuk anak majikannya.


Jalanan yang lenggang, membuat mobil yang di kemudi oleh Alif melaju tanpa hambatan. Sesekali ia melihat ke samping kiri, dimana istrinya duduk setengah berbaring. Ya, Alif menurunkan sandaran kursi itu agar Bulannya nyaman. Tidak butuh waktu lama mereka tiba di Rumah Sakit.


“Dokter, tolong istri saya!’ teriak Alif ketika masuk kedalam IGD dengan Bulan dalam gendongannya.


Dokter dan perawat yang berjaga langsung menghampiri Alif dan meminta pria itu membaringkan istrinya di salah satu brangkar yang kosong.

__ADS_1


“Istri anda kenapa pak?” tanya Dokter ketika melihat pasiennya sangat pucat.


“Muntah-muntah terus Dok, ngga berhenti.” Jawab Alif dengan raut penuh ke khawatiran.


“Kita periksa dulu,” ujar Dokter itu.


“Bapak mohon tunggu di luar,” perawat itu meminta Alif untuk memberi ruang pada Dokter untuk memeriksa pasiennya.


Alif mengusap kasar nafasnya, ia mondar mandir sambil sesekali matanya melihat tirai yang tertutup. Dimana Bulan sang istri sedang ditangani oleh Dokter.


Beberapa menit kemudian, Dokter pun keluar. Dokter bisa melihat kecemasan di wajah pria bertubuh tinggi tegap itu.


“Dokter apa yang terjadi dengan istri saya?” tanya Alif dengan panik.


“HB istri Bapak sangat rendah, itu akan sangat beresiko untuk anak yang ada dalam kandungannya. Ditambah kondisi istri Bapak yang sangat lemah.” Jelas Dokter itu.


“Saat ini tidak apa-apa, untuk memastikannya lagi, saya akan konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan.” Ucap Dokter itu.


“Tolong lakukan yang terbaik Dok.” Pinta Alif.


“Kami akan usahakan yang terbaik, kalau begitu saya permisi.” Ucap Dokter itu kemudian meninggalkan Alif.


Alif menghampiri Istrinya yang terbaring lemah, ia menarik kursi yang ada disana kemudian duduk disisi kiri brangkar. Tangannya meraih lalu menggenggam tangan kecil milik istrinya, seandainya bisa biar dia saja yang menanggung semua rasa sakit yang di rasakan istrinya. Ia tidak sanggup melihat Bulannya yang manja dan ceria harus terbaring lemah seperti ini.


Perawat yang membantu Dokter tadi kembali, meminta Alif untuk mengurus adminitrasi istrinya. Alif pun meninggalkan sang istri dan pergi mengurus semuanya.


Kini Bulan sudah di pindahkan keruang perawatan VIP, tangan kirinya terpasang jarum infus. Wanita hamil itu masih memejamkan matanya, tubuhnya meringkuk. Bulan tidur dengan beralaskan lengan suaminya yang di julurkan sehingga posisi wajahnya tepat di depan dada Alif yang duduk di samping brangkar.


Satu tangan Alif mengusap-usap punggung istrinya, karena rasa pusing yang dirasakannya tadi membuat Bulan sempat menangis. Alif menjatuhkan kecupan lembut di pelipis istrinya, pria itu dengan sabar menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


Saat Alif hampir terlelap, benda pipih yang ada di saku celananya bergetar. Pria itu merogoh saku celananya, lalu meraih benda tersebut dan melihat nama yang muncul dilayar.


“Halo Ma.” Ucap Alif dengan suara berat karena menahan rasa ngantuk.


“Lif, kalian di Rumah Sakit mana nak?” tanya sang Mama mertua dari seberang sana.


“Rumah Sakit Permata Bunda Ma.” Sahut Alif.


“Mama sama Papa kesana, apa ada yang ingin dibawakan Lif?”


“Boleh Mah, Alif minta tolong bawakan perlengkapan Bulan, tadi pagi Alif ngga sempat siapin.”


“Baiklah, itu aja?” tanya Suci lagi.


“Iya Ma, itu aja.”


“Mama tutup telponnya ya.”


Setelah panggilan telpon terputus Alif meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian dia membenarkan posisi tidur istrinya yang sudah terlelap. Alif perlahan naik di atas brangkar dan tidur di samping sang istri, Bulan terusik dengan mata masih terpejam ia memanggil suaminya


“Mas,” gumamnya seperti sebuah bisikan, tapi Alif bisa mendengar dengan jelas.


“Iya sayang, Mas disini.”


Alif meraih kepala Bulan, merengkuhnya kedalam dekapannya. Wajahnya putih pucat itu tenggelam di dalam dada bidang suaminya dan ia pun kembali tidur dengan nyaman.Begitu juga Alif, matanya yang sudah tidak bisa di ajak kompromi perlahan tertutup.


Pasangan suami istri itu tertidur dengan begitu damai, dalam posisi yang sangat sweet banget. Bikin jiwa-jiwa jomblo meronta-ronta minta untuk segera dihalalkan, hihihi... Namun sayang, hilalnya belum terlihat.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2