Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
54 - Klinik Bersalin


__ADS_3

Gedebug


“Arrghh...”


Ibra yang berusaha melawan si gondrong jatuh tersungkur dengan kursi roda menimpa tubuhnya, ia pun memekik tatkala lututnya terbentur sangat keras.


“Yaaaank...”Raung Nura.


Pria itu tampak kesulitan untuk bangun, ia menggeserkan kursi roda dari tubuhnya dengan kedua tangan. Nura yang tidak sanggup melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, menyikut perut satu pria yang memegangnya dan satunya ia dorong sampai terjengkang kebelakang.


Wanita yang mengenakan celana jeans dan kaos oversize itu berlari mendekati suaminya, namun pria berambut gondrong menodongkan pisau sehingga membuat langkahnya terhenti.


“Lepaskan mereka..” Seru Alif, pria beristri yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang Ayah menatap tajam pada pria gondrong yang bau aneh itu.


“Mas Alif,” gumam Nura pelan.


“Siapa kau, berani ikut campur hah?” bentak si gondrong.


“Kau sudah berani menyakiti mereka, tentu aja aku harus ikut campur,” Nura yang melihat pria gondrong itu lengah, dengan cepat kakinya menendang pisau yang ada ditangannya hingga terlepas dari genggamannya.


Kemudian ia membantu suaminya yang terduduk di atas tanah yang berkerikil untuk kembali ke atas kursi roda, Alif yang melihat pria gondrong itu ingin mengambil kembali pisaunya dengan cepat menjegal kaki pria gondrong hingga ia jatuh tersungkur.


Pria gondrong itu tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Alif, ia pun membalas dan aksi perkelahian pun tidak terelakan.


“Nura awaaaass...!” teriak Bulan dari tempatnya berdiri melihat dua pria lainnya akan menyerang bestienya dari belakang, Nura terjatuh ke atas rerumputan yang tumbuh di pinggir jalan tersebut bukan karena pukulan dari pria-pria itu melainkan suaminya yang mendorong, sehingga yang menjadi sasaran bogem mentah wajah Ibra.


Darah segar pun mengalir dari hidung Ibra, Nura yang melihat suaminya terluka menjadi murka. Kemudian menatap penuh amarah pada kedua pria itu, tanpa ampun Nura menghajar kedua pria itu sekaligus dengan membabi buta.


“Kau berani memukul suamiku, hah? Rasakan ini..” Bentak Nura seraya tangannya memberikan pukulan-pukulan yang sangat keras pada kedua laki-laki itu, remuk-remuklah tulang kalian. Seperti itulah hatinya yang juga ikut mengumpat karena saking marahnya.


Baagh


Bughh

__ADS_1


Baghh


Bughh


Tidak sulit bagi seorang Nura untuk menghadapi dua orang sekaligus yang bisa dikatakan bukan tandingannya sebagai pemilik dari sabuk hitam Taekwondo. Dengan gerakan tubuh memutar, kaki jenjangnya menghantam kepala pria itu hingga ia jatuh dengan mulut mengeluarkan darah segar.


Kini pandangan wanita itu beralih pada pria satu nya, pria itu tampak gemetaran melihat bagaimana wanita itu menghajar temannya hingga terbaring tak berdaya. Perlahan ia mundur ingin melarikan diri namun sayang, gerak geriknya dapat di baca Nura.


Nura berlari kemudian menunjang punggung pria itu hingga ia tersungkur, tidak hanya sampai disitu Nura juga menghujami beberapa pukulan diwajah pria itu sehingga kondisinya tidak jauh berbeda dengan temannya.


Kedua pria itu terkapar tak berdaya dibuatnya, dengan wajah babak belur. Sangat mengenaskan keadaan mereka, begitu juga Alif yang sudah melumpuhkan si gondrong, sudah setengah mampus tapi si gondrong masih melawan hingga Alif memberikan pukulan terakhir diperutnya membuat dia memekik kesakitan dan terkapar diatas rumput. Keadaannya juga tidak kalah mengenaskan dari kedua temannya.


“Yank, kamu berdarah.” Kata Nura, kini ia sudah berjongkok di depan suaminya setelah membalas rasa sakit hatinya pada mereka yang sudah membuat suaminya terluka. Matanya memanas melihat kondisi suaminya. Leher yang tergores, sudut matanya memar, hidung berdarah.


“Aku ngga pa-pa yank, kamu mana yang terluka atau ada yang sakit?” Ibra malah mengkhawatirkan sang istri, ia menelisik wajah istrinya yang penuh keringat. Laki-laki itu seakan tidak peduli dengan kondisinya. Padahal disini dia yang banyak terluka.


Bulan yang sejak tadi berdiri sedikit jauh dari mereka, mendekat ketika melihat keadaan sudah aman. Ia tadi di minta oleh suaminya untuk tetap berdiri di sana, dengan patuh ia mengiyakan perintah suaminya itu. Kondisinya dengan perut buncit juga tidak memungkinkan ia ikut membantu, karena gerakannya yang terbatas.


“Maaass...”


“Mas ngga pa-pa kan?” Alif menggelengkan kepalanya.


*****


“Pa... Papaaaa...” Histeris Suci melihat kondisi Ibra saat tiba dirumah.


Suara teriakan Suci membuat Mbok Maryam yang sedang berada di dapur menjadi terkejut, ia meninggalkan masakannya beranjak ke depan di mana suci berada. Mata tua itu menatap tak berkedip melihat laki-laki muda yang berwajah seperti Anisa duduk di atar kursi rodanya yang didorong oleh Alif dengan keadaan berantakan.


“Ada apa sih Mah, teriak-teriak udah kayak orang lihat setan aja.” Arman dengan tergopoh-gopoh masuk ke rumah dari pintu belakang, saat itu ia sedang bersama supir dan Bagas di belakang rumah.


Plakk


Suci memukul lengan suaminya, “Setan-setan, itu lihat Ibra bonyok gitu mukanya.” Mata Arman melebar, melihat wajah memar dan hidung yang berdarah.

__ADS_1


“Nduk, ini kenapa?” tanya Mbok Maryam, mata tua dengan kelopak mata yang sudah keriput itu memanas, tapi sebisa mungkin si Mbok menahannya agar tidak menangis di hadapan mereka.


“Nura apa yang terjadi dengan suami kamu?” tanya Arman juga sambil membantu Alif menurunkan Ibra dari kursi rodanya untuk di dudukan di atas tikar. Lalu Nura pun menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya.


"Syukurlah, kalau mereka sudah di amankan sama warga."


“Untung dulu kalian Papa paksa masuk Taekwondo, bermanfaatkan sekarang!” lanjut Arman kemudian.


“Maksud Papa, Bulan sama Nura atlet Taekwondo?” tanya Alif yang tidak tau jika sang istri bisa bela diri.


“Maunya sih jadi atlet, tapi kamu tau sendiri. Istrimu lebih tertarik masalah hukum.” Alif melirik istrinya, menaikan kedua alisnya seolah meminta penjelasan kenapa tidak memberitahunya.


Mungkin kalau tidak bunting, nih perempuan udah ikut berkelahi tadi. Begitulah kira-kira pemikiran Alif yang masih menatap istrinya yang nyengir memperlihatkan giginya yang rapi dan bersih terawat.


Suci kembali dari dapur dengan membawa sebaskom air dan handuk kecil, untuk membersihkan luka Ibra.


“Nang, tolong kamu ambilkan ramuan dalam botol putih di kamar Mbok.” Titahnya.


“Ramuan yang Mbok pakaikan untuk Alif dulu?” tanya Alif memastikan.


“Iya, biar memarnya cepat hilang. Tolong ambilkan juga lidah buaya.”


“Biar Bagas aja Mbok yang ambil,” Mbok Maryam hanya mengangguk, Bagas pun langsung menuju ke samping rumah di mana ia melihat banyak tanaman lidah buaya di sana.


Sementara Alif masuk kedalam kamar, pria itu mengedarkan pandangannya mencari botol yang di sebutkan oleh Ibunya.


“Nah, ini dia.” Alif mengambil ramuan yang di katakan oleh si Mbok, di mana botol ramuan itu berada di atas lemari. Saat hendak berbalik tidak sengaja ia menyenggol kotak kayu dengan ukiran jati, hingga benda itu terjatuh dan membuat isi di dalamnya berhamburan.


Alif segera membereskan kotak tersebut, memasukkan kembali kertas-kertas usang yang berserakan. Namun gerakan tangannya terhenti saat tanpa sengaja membaca sebuah tulisan di kertas yang sudah menguning itu.


“Klinik bersalin Rosemaeity,” kening Alif berkerut melihat alamat yang tertera dan semakin berkerut saat membaca nama yang di tertera di surat keterangan itu.


"Alif A......"

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2