Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
51 - Asal Kamu Bahagia


__ADS_3

“Awwhh...” Pekik Bulan ketika tangannya ditarik secara tiba-tiba.


“Eh, kampret lu apa-apaan sih tarik-tarik gue. Kalau gue jatuh gimana?” sembur Bulan dengan galak.


“Buktinya lu baik- baik aja kan?” balas Nura tidak kalah galak, Ibra sang suami hanya diam saja melihat istrinya dan juga temannya. Masalah perempuan, biar istrinya saja yang menyelesaikan.


Bulan menatap nyalang bestienya itu, Nura menarik nafas sebanyak yang ia mampu untuk melapangkan rongga dadanya yang terasa sesak.


“Ada yang mau gue omongin sama lu.” Ucap Nura kemudian.


“Ya udah tinggal ngomong aja, biasanya lu juga langsung ngomong!”


Bulan terlihat masih kesal dengan apa yang dilakukan Nura padanya, tapi bestienya itu seakan tidak peduli. Yang terpenting dia harus mengeluarkan semua uneg-uneg dihatinya dengan apa yang dia lihat tadi siang. Nura tidak tega melihat Alif yang menahan rasa cemburu karena bestienya yang terus saja memuji laki-laki muda yang datang bersama mereka.


“Sekarang gue tanya sama lu, kalau misalnya Mas Alif memuji perempuan lain yang lebih cantik, sexy, bahenol atau apalah lu marah ngga?” tanya Nura menatap bestienya itu dengan serius.


“Marah dong gue, enak aja laki gue muji-muji perempuan lain. Kalau matanya sampai jelalatan, sekalian gue congkel.”


“Terus kenapa lu terus muji-muji Bagas, lu kagak pikirin perasaan laki lu.” Tanya Nura lagi.


“Memangnya laki gue kenapa, orang Mas Alifnya fine-fine aja.” Sahut Bulan yang seperti belum paham maksud Nura. Nura menghela nafas dengan berat sambil menggelengkan kepalanya.


“Lu itu kalau terhadap orang lain peka banget, tapi giliran suami lu sendiri lu ngga ada pekanya sedikitpun. Apa lu ngga liat gimana muka suami lu waktu di belakang tadi, hah? Lu ngga lihat gimana Mas Alif nahan rasa cemburunya karena sepanjang ocehan lu tidak lupa muji adik tampan lu itu.” Nura berucap dengan suara yang sedikit meninggi karena sangat jengah dengan bestienya.


“Untung aja laki lu sabar, mungkin kalau laki lain udah ribut kalian.”


“Apa yang salah coba, kenyataan memang Bagas tampan?” Nura mengeram dengan mata terpejam sekejap, tangannya terkepal kuat di sisi kanan dan kiri tubuhnya.

__ADS_1


“Gimana dengan pangeran Hermes lu, yang dulu lu puja-puja. Bahkan sampai lu kejar kesini untuk dapatin nya, terus sekarang udah dapat lu buat seenaknya. Lu ngga mikirin perasaannya, hanya kemauan lu aja yang harus diturutinya, hah?” hardik Nura.


“Jangan karena kehamilan lu itu, lu menginjak harga diri suami lu sendiri di depan laki-laki lain.” Nura mencoba menarik nafas dalam-dalam agar dirinya tidak terbawa emosi. “Lu ingat, gimana mencak-mencaknya lu waktu ada perempuan bawain rantangan untuk laki lu? Bahkan lu campakin itu rantang, karena saking marahnya lu ada perempuan yang perhatian sama Hermes lu! Lu bisa semarah itu hanya karena perempuan lain kasih perhatian ke laki lu, padahal saat itu lu bukan siapa-siapanya Mas Alif. Bagaimana jika dari mulut laki lu sendiri mengeluarkan kata kekaguman kepada perempuan lain, yang jelas sekarang sudah menjadi suami lu?”


“Gue rasa lu bisa kalap.” Sarkas Nura dengan senyum mengejek.


Bulan terdiam meresapi dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bestienya, Bumil itu kembali teringat yang sudah di lakukannya siang tadi. Bulan bahkan sempat mengabaikan suaminya yang dengan setia menemaninya,


“Lu lihat apa yang laki lu lakuin, demi menuruti keinginan lu dia nahan perasaannya sendiri. Dia buang jauh egonya, karena apa? karena dia ingin lihat lu senang. Engga enak Lan, nahan rasa cemburu itu. Mungkin gue belum tau gimana rasanya cemburu tapi gue yakin, sangat ME-NYIK-SA. Dan hebatnya laki lu bisa nutupi itu semua di depan orang tua lu dan Ibunya.”


“Lu beruntung memiliki suami sesabar dan setenang Mas Alif, Lan. Gue sendiri sebagai laki-laki iri dengan sifat Mas Alif yang bisa menempati suasana hatinya. Sifat Mas Alif itu matang dan dewasa.” Sambung Ibra yang sejak tadi hanya menyimak saja.


Hati Bulan terasa sesak, benarkah ia sudah setega itu terhadap suaminya? Ia sudah sangat jahat sama suaminya itu.


“Lu mau kemana?” tanya Nura, ketika wanita hamil itu berbalik hendak melangkah.


“Laki lu di sumur belakang.”


Bulan membawa langkah kakinya ke tempat di mana suaminya, sambil sesekali menghapus air matanya dengan kasar. Wanita dengan rambut panjang tergerai itu, terus saja merutuki dirinya yang sangat bodoh.


Bulan bisa mendengar guyuran air dari balik dinding yang tertutup dengan terpal itu, pertanda orang yang dicarinya belum selesai dengan kegiatannya.


Bulan mere-mas re-mas tangannya, ia tampak gelisah. Sesekali matanya melihat ke arah pintu sumur itu, ia tidak sabar menanti suami selesai mandi. Hingga beberapa menit kemudia Alif keluar sambil menggosok rambutnya yang basah, sepertinya pria yang dulu di panggil dengan sebutan pangeran Hermes oleh sang istri habis keramas.


Wajah pria itu tampak segar, apalagi baju tanpa lengan yang di kenakannya membuat othor pengen di peluk karena otot bisepnya bikin othor susah nafas. Mau lihat otot bisepnya babam Alif cuss.. Melipir ke ig kak Jingga @diaryofjingga, ada noh di storynya cari updetan hari ini jika ketemu jangan lupa follow, hihihi...Udah-udah balik lagi ke babam Alif dan Bulan.


Alif tampak terkejut melihat istrinya ada disana dengan wajah sembab, sementara Bulan masih terpaku melihat suaminya yang sangat tampan, tidak ada yang berubah dari sejak pertama kali ia bertemu dengan pria di hadapannya itu, pria yang berstatus suaminya. Wajah itu pun masih sama bahkan sekarang terlihat semakin tampan.

__ADS_1


“Sayang...” Alif mendekati istrinya.


“Sa---”


Tangan Alif tergantung diudara sebelum menyentuh istrinya yang sudah lebih dulu menghamburkan diri kedalam dekapan suaminya. Perlahan tangan itu pun turun mengelus rambut istrinya yang panjang tergerai.


“Sayang, kamu kenapa nangis?” tanya Alif dengan lembut.


Bulan hanya menggelengkan kepalanya dalam dekapan Alif, “Terus kalau ngga ada apa-apa kenapa nangis, hm?”


“Maafin Bulan, Mas.” Ucap Bulan dengan suara serak, membuat Alif mengerutkan keningnya.


“Maaf untuk apa sayang? Kamu ada bikin salah?”


Bulan mengangguk-angguk, Alif menjatuhkan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala istrinya.


“Bulan udah buat Mas cemburu, Bulan udah nyakitin hati Mas. Maafin Bulan Mas? Padahal suami Bulan jauh lebih tampan.” Sudut bibir Alif tertarik membentuk senyuman, hanya karena dirinya cemburu. Bulannya sampai nangis.


Alif menarik diri sehingga ia bisa melihat wajah istrinya yang basah dengan air mata, dengan ibu jarinya Alif menyeka sisa air mata disudut mata indah itu. Netra keduanya bertemu, mereka saling tatap untuk beberapa saat.


“Mas sangat mencintai dan menyayangimu, apapun akan Mas lakukan asal kamu bahagia. Jangankan mengorbankan perasaan, nyawapun akan Mas berikan asal itu bisa membuatmu bahagia. Melihatmu tersenyum saja Mas sudah sangat bahagia, sayang.” Alif mengecup dalam kening istrinya dengan penuh rasa cinta dan sayang.


Tes


Bulan tidak dapat menahan rasa harunya, sebegitu besarnya rasa cinta yang dimiliki pria itu untuk dirinya. Mata indah itu kembali mengeluarkan butiran bening kristal, mengalir membasahi pipi mulus nan kenyal miliknya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2