Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
7 - Kesurupan Reog


__ADS_3

Udara pagi begitu menusuk kulit hingga tembus ketulang, langit masih terlihat gelap seorang gadis terusik tidurnya karena kebelet pipis.


"Ra, bangun dong. Temenin gue pipis." Menguncang tubuh Nura kuat.


"Gue masih ngantuk, Lan. Lu pergi sendiri aja." Nura merapatkan selimut hampir menutup seluruh tubuhnya, udara dingin yang masuk lewat celah dinding yang terbuat dari papan membuatnya enggan beranjak.


"Ck, lu kagak setia kawan banget si, Ra!" decak kesal Bulan.


Nura tidak menjawabnya, alam mereka sudah berbeda. Nura kembali merajut kealam mimpi, sedangkan Bulan di alam nyata sedang menahan pipis yang sudah di ujung.


Dengan terpaksa Bulan turun dari tempat tidur membenarkan Hoody milik Alif yang dipakaikannya semalam, saat melihat Bulan kedinginan. Saat pintu dibuka pandangannya tertuju pada sosok yang sedang tidur meringkuk diatas sebuah kasur busa yang sangat tipis, tubuhnya terbungkus dengan kain sarung.


Perlahan Bulan melangkah mendekatinya, berjongkok dengan kaki bertumpu pada kedua lututnya. Menatap wajah itu dengan sangat dalam, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


Tidur aja kamu sangat tampan, Mas. Bulan membatin.


Bulan mengulurkan tangannya menyentuh hidung Alif yang tertutup kain, perlahan ia menoel-noel hidung itu dengan ujung jarinya.


"Mas.. Mas Alif, bangun!" ucap Bulan dengan suara pelan. Alif hanya mengusap hidungnya, mungkin ia merasa hanya seekor nyamuk yang menginginkan darahnya.


"Maaas, bangun." Bulan kembali menusuk-nusuk pipi Alif sedikit kuat, Alif bergerak tapi tidak membuka matanya ia hanya merubah posisi tidurnya menjadi terlentang sambil membenarkan letak kain yang menutupi badannya.


Bulan menghela nafas sedikit kasar, ia sudah tidak tahan ingin segera kebelakang. Bulan menarik selimut sambil menggoyangkan badan Alif.


"Mas, ayoo bangun. Bulan kebelet nih, Bulan takut kebe--"


Bukhh


Alif tiba-tiba menarik tubuh Bulan hingga jatuh diatas dada bidangnya dan memeluk erat Bulan layaknya sebuah guling. Bulan terdiam sejenak, kepalanya ia sandarkan pada dada bidang Alif, ia bisa mendengar detakan jantung laki-laki itu yang berdetak dengan teratur.


Menikmati hangatnya pelukan lelaki itu, hingga kesadarannya kembali ia meronta-ronta dalam dekapan Alif membuat tidur laki-laki itu terganggu.


"Kamu? ngapain kamu disini!" pekik Alif saat membuka kedua matanya melihat Bulan berada diatas tubuhnya.


"Mas, aku pengen pipis udah ngga tahan. Ayo cepetan." rengek Bulan mengabaikan pertanyaan Alif, ia langsung bangun dan menarik tangan laki-laki itu menggeret kebelakang.


"Lan, pelan-pelan dong jalannya. Nyawa Mas belum balik semua!" cetus Alif yang sedikit pusing karena bangun secara tiba-tiba dari tidurnya.


Bulan reflek membalikkan badannya saat mendengar Alif menyebut dirinya 'Mas', karena gerakan yang tiba-tiba dari Bulan membuat Alif menabraknya hingga tubuh keduanya jatuh kelantai dengan Alif menindih tubuh Bulan. Untungnya dengan cepat tangan Alif langsung berada dikepala belakang gadis itu, dengan begitu kepala Bulan tidak terbentur lantai.

__ADS_1


Akan tetapi, momen itu berujung pada bibir mereka yang saling berSILATURAHMI, Alif sontak membulat matanya. Pria tampan itu hendak menarik wajahnya supaya tak menempel, sayangnya dengan cepat kedua tangan Bulan sudah berada diatas kepala Alif.


Bibir Bulan yang mengatup itu perlahan terbuka lalu ia melu mat bibir Alif dengan lembut, seketika tubuh Alif menegang. Jantungnya bergemuruh hebat, Alif menelan salivanya saat merasakan apa yang dilakukan Bulan. Entah nyasar dari mana bisikan setan itu sehingga Alif membalas ciuman itu, menghisap dan memagut bibir Bulan yang terasa manis.


Habis makan apa dia? manis sekali bibirnya. Apa gula atau madu? batin Alif.


Mereka saling berpagut dan mengesap untuk beberapa saat, hingga Alif melepaskan ciumannya karena merasa pasokan udara sudah mulai menipis


"Maaf!" ucap Alif menatap lekat kedalam mata gadis itu. Bulan hanya tersenyum, karena ia sedang sibuk mengontrol saraf-saraf dikepalanya agar engga putus. Bisa sawan beneran dia kayak kesurupan Reog.


"Mas.."


"Hm."


"Kebelet pipis!"


"Kirain mau lagi!"


Bugh


Bulan memukul dada Alif gemas, wajahnya memerah mengingat bagaimana dia dengan beraninya mencium Alif begitu intim. Ditambah posisi mereka yang au aahh..gelap.


*****


Sedangkan Nura sendiri sedang membantu Mbok Maryam mengupas ubi dihalaman belakang dekat tambak ikan. Ia begitu senang berada diperkampungan seperti ini, selain udara yang masih bersih dan sejuk.


Tanaman sayur-sayurannya juga sangat segar karena dipetik langsung dari kebun saat ingin memasak. Beraneka macam sayur tumbuh disana, belum lagi jika ingin makan ikan harus ditangkap dulu. Ah.. benar-benar sangat menyenangkan.


"Mas, Bulan ikut ya?" pinta Bulan setelah mereka selesai sarapan dan Alif sudah bersiap-siap akan kesawah.


"Jangan, disana panas. Nanti kulit kamu gosong." Larang Alif.


"Eeleh... eeleh.. yang meni perhatian." Seru Nura.


"Iriii.. bilang Boss!!!" pungkas Bulan.


"Kagak ada dalam kamus gue iri sama lu." Sanggah Nura.


"Udah-udah, napa kalian jadi berantem!" Alif menghentikan debat Bulan dan Nura kalau dibiarkan bisa panjang sampai tujuh turunan.

__ADS_1


"Mas pergi, kamu di rumah aja temenin si Mbok."


Bulan menarik ujung bibirnya, matanya berbinar, lagi-lagi Alif menyebut dirinya 'Mas'.


"Awaass,,, bentar lagi ada yang jadi Reog!" teriak Nura sambil berlari masuk kedalam, sebelum sandal yang dipakai Bulan melayang kearahnya.


Alif geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua gadis itu. Katanya pengacara, tapi tingkah mereka tidak menunjukkan seorang pengacara.


*****


Siang hari Bulan yang rindu pada Alif, berniat menyusulnya kesawah. Setelah meminta ijin pada Mbok Maryam dan diberi petunjuk arah, Bulan yang ditemani Nura berjalan kesana melewati beberapa rumah dan kebun sayuran milik warga


"Gue pengen hari tua gue nanti, tinggal dikampung kayak gini, Lan?" Nura melihat kiri dan kanan.


"Kejauhan lu mikir, cari suami dulu baru benar!" ucap Bulan.


"Lu mah, selalu matahin hayalan gue. Dasar Bestie kampret!" sahut Nura sebal.


Mereka telah sampai dibawah pohon jambu klutuk yang rindang sesuai yang dikatakan si Mbok.


"Ra, Luas banget sawahnya. Gimana gue bisa tau dimana Mas Alif, lu liat banyak banget manusia ditengah sawah!" mereka mengedarkan pandangan menyusuri hamparan sawah yang terbentang luas.


"Disini mata batin lu yang bekerja, kalau hati kalian saling terpaut. Pasti dengan mudah lu temukan pangeran Hermes lu." Nura berucap dengan bijak.


Bulan mengikuti saran Nura, ia memperhatikan satu persatu dari kejauhan, hingga kedua matanya menangkap sosok yang dicarinya sedang berdiri dipematang sawah. Bulan tersenyum lebar, ia segera melangkahkan kakinya ketempat pangeran hatinya berada.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, senyuman itu perlahan memudar saat ia melihat seorang perempuan menghampiri Alif dengan menenteng sebuah rantang dan menyerahkan rantang itu pada Alif.


Hatinya memanas, rasa cemburu secepat kilat menguasai dirinya. ubun-ubunnya sudah berapi-api, Jin segala jin telah merasuki jiwanya (kalau Jin BTS aku mau). Bulan mempercepat jalannya, nafasnya memburu.


"Maaaaassss...!"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Babam kuciwa daku padamuπŸ₯Ί kau bilang tidak suka padanya tapi nyatanya kau sosor juga, taukah engkau betapa tersayat-sayat dan tercabik-cabiknya hati adinda🀧


Dah lah, kalau begini. Adinda kembali pada Jef aja😌


Makan pisang biar kuat hadapi kenyataan.

__ADS_1


🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌🍌


__ADS_2