Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
53 - Ada Begal


__ADS_3

Mereka tidak menyadari jika sejak tadi tiga pasang mata memperhatikan mereka dari balik pohon yang tak jauh dari tempat mereka berhenti.


Tatapan liar yang mereka layangkan pada sosok perempuan yang sudah berstatus sebagai istri dari seorang pria yang di cintainya.


Wajah cantik dengan kulit putih bersih terawat, membuat pikiran mereka bertiga berkelana ke awang-awang. Sehingga mereka mempunyai niatan buruk pada perempuan yang sedang memeluk suaminya itu.


Mereka melihat sekitar, sepi! Setelah memastikan keadaan aman. Mereka keluar dari balik pohon dan berjalan mendekati ke arah pasangan suami istri itu.


“Halo cantik...” Sapa pria berambut gondrong yang terlihat sangat berantakan, mata merah, dekil, berkumis, baju kusut dengan kancing kemejanya terbuka setengah sehingga memperlihatkan dadanya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.


Haiisss... udah dekil pake pamer dada lagi, ntahlah kalau putih atau bersih, mungkin masih ada cewek yang klepek-klepek. Lah ini? Ya salam...othor tepuk jidat, mabok laot othor tiba-tiba.


“Siapa kalian?” tanya Ibra berusaha tenang, tapi jangan tanya jantung si babam Ibra. Udah seperti marching band, dug gedug... dug gedug... dug gedug... Begitulah kira-kira irama jantungnya si babam.


Ketiga pria itu saling pandang satu sama lain, tidak lama kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


“Kamu nanya? Kita siapa? Hahahaha...” Pria gondrong itu kembali tertawa setelah berucap, sepertinya dia kepala gengnya karena hanya dia yang terus berbicara. Giginya saja sangat kuning, mungkin sudah seabad pria gondrong itu tidak menyikat giginya, jangan dibayangkan! Ikan di tambak milik Mbok Maryam saja mungkin langsung koit saat hawa naganya berhembus.


“Kasih tau ngga ya..?” kata si gondrong lagi terdengar sangat menyebalkan.


Memang kampret emang si gondrong itu, berani-beraninya menguji kesabaran babam Ibra. Ngga ada sopan sapiannya, siapa pula yang ijinkan dia masuk dalam novel othor? minta di pentung juga nih si gongon, ngga tau apa orang lagi pacaran. Ganggu aja,, hufff!


Ibra menggenggam tangan istrinya yang berada di pundaknya dengan erat. Sementara Nura sendiri tidak menunjukkan reaksi apapun ia menatap datar pada ketiga pria di hadapan mereka.


“Mau apa kalian?” Ibra menatap tajam ketiga pria depannya.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Batin Ibra khawatir.


Jalanan perkampungan itu sangat sepi, tidak ada warga yang melintas di jam seperti saat ini. Karena para warga sudah turun kesawah dan juga ke ladang. Ibra semakin khawatir akan istrinya, apalagi kondisi kakinya yang lumpuh. Bagaimana dia akan melindung Nura dari pria-pria itu.

__ADS_1


“Kami mau apa?” tanya si gondrong dengan satu alis terangkat. “Tentu saja kami mau wanita cantik ini. Sepertinya sedikit bersenang-senang dengannya tidak masalah, bukan begitu cantik?” Si gondrong itu membasahi bibirnya memandang penuh gairah kepada Nura.


“Jangan kurang ajar kalian! Jangan coba-coba berani menyentuh istriku, atau kalian akan merasakan akibatnya!”


“Kalian dengar, ternyata perempuan cantik ini istrinya.” Si gondrong tertawa remeh pada Ibra, ia menelisik dari kepala hingga kaki. “Bagaimana kau akan melindunginya, sementara kau saja tidak berdaya. Kau pria cacat.” Ejek si gondrong.


“Sekali lagi kau menghina suamiku, maka mulut kotormu itu tidak akan bisa berbicara lagi. Walaupun saat ini suamiku hanya duduk di kursi roda. Tapi dia jauh lebih baik daripada kau yang bisa berdiri tapi sikapmu mines, berani mengganggu wanita bersuami. Seperti tidak bersekolah saja kau.” Sarkas Nura.


Pria berambut gondrong bukannya marah, ia semakin tertarik dengan Nura. Mendengar suara Nura membuat jiwa lelakinya semakin menginginkan wanita itu, pria rambut gondrong itu pun melangkah ke arah Nura yang berdiri di belakang suaminya.


Wanita itu semakin mengeratkan genggaman tangannya yang tertaut dengan suaminya, Nura menggeserkan tubuhnya ke samping saat pria itu mendekat. Ia hampir muntah, aroma dari pria gondrong itu sangat aneh tercium di hidungnya.


“Kau sangat wangi ternyata,” kata si gondrong dengan seringai di wajah kumalnya. Dengan lirikan matanya ia memberi kode pada kedua temannya, mereka yang mengerti akan kode itu langsung mendekati Nura.


Belum sempat tangan mereka menyentuh Nura, sebuah tendangan mendarat dengan begitu cantik tepat di perut keduanya.


Bughh


Bughh


“Ya—yang!” Ibra tergagap menatap tak percaya pada istrinya itu, Nura tersenyum manis ke arah suaminya. Lalu di detik kemudian menatap tajam pada si gondrong, “Bukannya kau sudah kuperingatkan.”


Pria berambut gondrong itu tersenyum, kemudian tanpa diduga ia menarik kursi roda Ibra lalu dari balik pinggangnya ia mengeluarkan sebilah pisau dengan cepat menodongkannya ke leher Ibra.


“Mundur atau aku tusuk pisau ini ke leher suami cacatmu ini!” dengan seringainya.


Nura yang tidak menduga suaminya akan menjadi sasaran, dengan terpaksa ia mundur selangkah. Ia harus mengalihkan si gondrong itu, agar bisa menolong suaminya.


“Hei.. Kalian bangun, tangkap perempuan itu.” Titahnya pada kedua temannya yang sudah ambruk tadi, dengan menahan rasa sakit diperut mereka berdiri dan mendekati Nura.

__ADS_1


Grep


"Lepasin aku.. berani sekali kalian menyentuhku!" kesal Nura, kedua tangannya sudah dipegang oleh kedua pria yang ditunjangnya tadi.


“Jangan sentuh istriku,” teriak Ibra memberontak tidak peduli ujung pisau itu melukai lehernya.


“Kau berani melawan maka suamimu ini akan menemui ajalnya.” Ancam si gondrong dengan menekan pisau di leher suaminya, karena Nura menginjak kaki salah satu pria yang memegang tangannya.


“Lepaskan suamiku, jangan sakiti dia,” raung Nura yang melihat darah mengalir dari ujung pisau itu.


“Kau mau suamimu selamat, maka ikuti keinginanku.”


“Brengseeek!!! Lepaskan istriku, lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan istriku pada pria ba-jingan seperti kalian.” Ibra menggelengkan kepalanya dengan tatapan memohon pada Nura.


Si-aaaaall... Disaat seperti ini, aku benar-benar tidak berguna. Menolong istriku saja tidak bisa, bagaimana aku akan melindunginya. Ibra membatin merutuki dirinya sendiri.


"Mas.. Mas berhenti. Stoop.. stop.. stop!" seru Nura menepuk-nepuk pundak suaminya.


"Ada apa sayang?" tanya Alif memiringkan sedikit tubuhnya melihat Bulannya setelah motornya berhenti.


"Putar balik, di pertigaan tadi. Buruaaan!" Alif pun dengan bingung menuruti permintaan istrinya, ia memutar balik motornya kembali ke arah pertigaan yang ditunjuk oleh sang istri.


"Itu bukannya Ibra sama Nura, Mas?" Mereka berhenti tepat di pertigaan, Bulan menunjuk sosok yang di kenalnya tadi ketika melintas.


"Iya sayang, itu mereka." Alif melajukan motornya kejalan yang di lalui Nura dan suaminya.


"Wah mereka di begal itu, ayo tolongi Mas."


"Masa ada begal di kampung?"

__ADS_1


"Mau begal atau apa kek, buruan tolongi mereka."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2