
“Sayang, ingat ya kamu sedang hamil. Jangan sampai kelelahan.” Pesan Alif. Saat ini mereka sedang berhenti karena lampu merah, pria tampan bertubuh atletis mantan Satpam itu akan mengantar istrinya terlebih dahulu. Ia tidak mengijinkan istrinya untuk menyetir sendiri.
“Oke sayang?” Bulan mengedipkan matanya, kemudian ia memeluk lengan Alif yang sedang menyetir.
“Mulai genit ya kamu, sekarang?”
“Nular dari Mas.”
“Eh, enak aja. Kamu emang udah genit dari dulu.” Sanggah Alif.
“Dulu masih sedikit, makin parah sejak terkontaminasi dengan Mas.”
“Kamu kira Mas virus!” Bulan cekikikan.
Sepanjang perjalanan mereka tidak berhenti berdebat ada saja yang mereka debatkan, hingga akhirnya mereka sampai di Firma Hukum.
“Ingat pesan Mas tadi?” tekan Alif sebelum Bulan turun.
“Ingat Mas sayang, tidak boleh sampai kelelahan, tidak boleh telat makan, harus banyak minum air putih, ma...” Alif langsung mengecup bibir Bulan dan melu-matnya agar istrinya itu berhenti mengoceh karena meledeknya. Mereka berciuman cukup lumayan lama hingga akhirnya Alif melepaskan pagutan mereka karena pasokan udara yang menipis.
“Mas kebiasaan deh, suka nyerang tiba-tiba!” gerutu Bulan, mengambil tisu lalu membersihkan bibirnya yang berlepotan lipstick miliknya. “Mana bengkak lagi!! Iisss... Mas ini nyebelin tau ngga?” Bulan memukul-mukul paha suaminya, Alif tergelak melihat wajah kesal sang istri.
“Itu hukuman, karena kamu ledekin Mas.”
“Mana ada ledekin, Bulan hanya mengulang pesan Mas. Mas aja yang nyari kesempatan.” Bulan memoles kembali lipstick warna peach favoritnya dengan berkaca pada spion depan mobil.
“Salah sendiri bibirnya monyong-monyong, mana Mas tahan liatnya.”
“Dasar mesum!”
Alif dibantu oleh seorang Security menurunkan dua kardus berukuran sedang yang berisi mangga dan jambu, Bulan akan membagikan oleh-oleh yang dibawanya pada rekan-rekan kerjanya.
“Widiiihh... Panen Bu? Banyak amat? Lu mau jualan disini?” tanya Nura yang baru sampai, melihat dua kardus yang berisi mangga dan jambu.
“Lumayan kan hasilnya bisa buat tambahan beli bedung anak gue nanti,” sahut Bulan sekenanya.
“Eh, bego. Lu kagak mendadak misquin kan? gaya lu beli bedong pake duit dari jualan mangga sama jambu. Belum juga sempat beli, lu udah keburu jajan pukis mang Udin didepan sana.”
__ADS_1
“Oh bestie.. Baik banget sih lu, ingatin gue pukis, jadi pengen pukis gue. Mas, ayo kita beli pukis di gang depan sana.” Bulan mencubit kedua pipi Nura, kemudian ia melepaskan cubitannya lalu menarik tangan suaminya pergi begitu saja meninggalkan Nura yang melongo disamping kardus mangga dan jambu.
“Begooo...titip jualan gue yaaa...” Teriak Bulan yang sudah hampir sampai didepan gerbang.
Nura mendengus, “Dasar bestie menyebalkan!” Nura meminta Security yang tadi membantu Alif untuk membawa kardus-kardus itu ke ruangannya dan Bulan.
“Ini masih pagi sayang, emang ada yang jual?” tanya Alif, tangannya terus menggandeng istrinya mereka jalan bersisian di atas trotoar.
“Ada Mas, Mang Udin jualannya dari abis subuh,” jawab Bulan. “Tuh gerobaknya?” Bulan menunjuk pada sebuah gerobak berwana biru yang warna catnya tampak sudah usang, mangkal didekat sebuah gang.
“Kamu tiap hari beli pukis?” tanya Alif menoleh pada istrinya. Bulan mengangguk, “Iya Mas, pukisnya enak harganya juga murah meriah.” Ujar Bulan dengan senyum merekah.
“Mas cobain deh, pasti nagih.” Imbuhnya lagi kemudian.
Mereka pun sampai, terlihat beberapa anak sekolah dan juga Ibu-ibu yang sedang mengantri pukis Mas Udin. Walaupun tempatnya bukan dipinggir jalan besar, akan tetapi pukis Mang Udin sangat terkenal.
Seperti Bulan sendiri dan juga bestienya Nura, sejak pertama kali mencoba pukis Mang Udin saat masih dibangku SMA. Keduanya hingga sekarang tiada hari tanpa jajanan itu, kecuali jika ada agenda lain yang tidak memungkinkan mereka untuk membelinya.
“Mang, seperti biasa ya.” Kata Bulan. Mang Udin menoleh, “Eh! Neng Bulan. Sudah sehat Neng?” sapa Mang Udin ramah.
“Alhamdulillah udah Mang.” Jawab Bulan tak kalah ramah.
“Iya Mang, makasih."
Setelah selesai melayani pembeli yang lain, kini Mang Udin membuat pukis untuk Bulan. Saat ini hanya tinggal mereka bertiga.
“Ini suaminya Neng?” tanya Mang Udin.
“Iya Mang, ini suami Bulan. Namanya Mas Alif.” Bulan memperkenalkan suaminya.
“Meni kasep pisan.” Mang Udin terkagum-kagum akan ketampanan Alif dengan badan tinggi tegap, jangan lupakan jas lengkap yang dipakai Alif semakin menambah kadar pesona dan wibawanya.
Alif menjulurkan tangannya, “Aduuhh, kumaha ini teh tangan Mamang kotor.” Mang Udin mengelap tangannya pada celana yang dikenakannya. Mereka pun berjabat tangan, “Maaf, tangannya jadi kotor gara-gara Mamang.”
“Bersih kok Mang tidak kotor.” Sahut Alif memperlihatkan telapak tangannya.
Mang Udin kembali sibuk membuat pukis untuk Bulan, Alif sesekali mengusilin istrinya yang asik melahap beberapa pukis yang sudah matang. Mendapati plototan dari Bulan tidak juga membuat Alif berhenti.
__ADS_1
“Oh iya Mang, apa Aya sakit lagi? Biasanya Aya suka bantu Mamang disini sebelum sekolah.” Tanya Bulan yang teringat, sejak datang tadi ia tidak melihat anaknya Mang Udin.
“Iya Neng, asma nya kambuh!” lirih Mang Udin sarat akan kesedihan dari getar suaranya.
“Sudah dibawa kedokter, Mang?” tanya Alif, tangannya mencomot pukis milik Bulan yang mendapat timpukan dari sang istri.
Si Mamang tersenyum getir, “Orang kecil seperti kami ini, mana sanggup kalau harus kedokter. Paling cuma minum obat warung saja.” Katanya dengan lirih.
Hati Alif tersentuh, merasakan bagaimana sulitnya kehidupan Mang Udin dan keluarganya. Alif yang juga berasal dari keluarga yang tidak mampu, tau seperti apa perjuangan Mang Udin.
“Mang, saya pesan semua ya. Bungkus aja dulu punya istri saya, nanti saya ambil setelah mengantar Bulan kekantornya.”
“Mas ini serius mau ngeborong?” tanya Mang Udin kaget.
Alif mengangguk, “Iya Mang, teman kantor saya liat saya posting pukis Mamang pada minta.” Jelas Alif walaupun sedikit berbohong.
“Alhamdulillah, makasih banyak Mas.” Raut wajah Mang Udin berbinar-binar, masih sepagi ini pukisnya sudah habis. Mang Udin tak berhenti-hentinya berucap syukur dalam hatinya.
Hati Bulan menghangat dan terharu atas apa yang dilakukan suaminya, “Makin tambah cinta.” Bisik Bulan tepat ditelinga Alif, lalu mengecup sekilas pipi suaminya.
Cup
*****
Memasuki loby Hotel Alif dengan santainya jalan sambil menenteng banyak kantong plastik di kedua tangannya. Saat tiba diruangannya ia langsung memanggil asistennya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Masuk.” Ucap Alif
“Tolong kamu bagikan pukis itu pada semua divisi Hotel, dan pastikan semuanya kebagian.” Titah Alif pada asistennya, setelah Reyhan masuk kedalam.
“Semuanya Pak?” tanya Rey, melihat meja dekat sofa penuh plastik yang tentunya pukis yang seperti dikatakan oleh atasannya.
“Iya semua, bagi rata.”
“Kamu juga boleh mengambilnya.” Imbuh Alif lagi.
“Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi.” Rey mengambil semua bungkusan plastik itu dan membawanya keluar untuk ia bagikan pada masing-masing divisi yang ada di Hotel itu.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸