
Alif tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan istrinya yang menginginkan makan ikan bakar hasil tangkapan Bagas, laki-laki muda yang berhasil membuat Alif merasakan cemburu hingga langit ke tujuh.
Saat menghubungi Bagas beberapa waktu lalu, Alif berharap Bagas sedang sibuk atau ada kegiatan lain. Sehingga ia tidak dapat menuruti permintaan Bulan, namun harapan tinggal harapan, Bagas dengan senang hati mengabulkan keinginan Bumil itu.
Alif menjambak frustasi rambutnya sendiri, ia menggigit gemas ponselnya setelah panggilan terputus. Ia tidak sanggup membayangkan jika nanti istrinya itu akan terus memuji ketampanan laki-laki muda itu.
Fiyuuhh
Arman dan Suci pun sepakat untuk ikut, mereka sangat penasaran seperti apa suasana kampung menantunya itu yang membuat sang anak sangat senang dan betah lama-lama di sana. Selama Bulan dan Alif menikah mereka belum sekalipun datang berkunjung, kepergian mereka kali ini rencananya sekalian untuk berlibur.
Tidak hanya mereka, Arman juga mengajak pengantin baru itu untuk ikut serta. Nura tentu saja sangat senang dan semangat di ajak ke kampung Alif, karena dia sudah pernah merasakan seperti apa suasana kampung suami bestienya itu.
Tapi sayangnya sang Putra mahkota Bintang tidak bisa ikut karena pekerjaannya yang tidak dapat ditinggalkan. Arman juga meminta Ibra dan Nura menginap di kediamannya, sehingga mereka tidak perlu repot-repot harus datang pagi-pagi.
Perjalanan pulang kampung kali ini sangat berbeda dari biasanya, Bulan ingin menikmati perjalanannya dengan menaiki mobil bak terbuka. Lagi-lagi Alif di bikin pusing oleh permintaan aneh istrinya. Bukannya duduk di depan, sang istri ternyata ingin duduk dibelakang.
Alif bukan migrain lagi kepalanya sudah mau meledak, seandainya bisa, Alif ingin rasanya mengeluarkan anak yang dikandung istrinya itu segera lahir kedunia supaya tidak membuat kepala Ayahnya sakit.
“Sabar Lif sabar, lima bulan lagi tu anak brojol.” Gumam Alif menyemangati dirinya sendiri.
Alif meletakkan kasur kecil di bak mobil itu, yang khusus dibelinya untuk alas tempat duduk Bulan agar sang istri nyaman dan juga terhindar dari guncangan karena kondisi istrinya yang sedang mengandung.
“Bego, lu yakin naik ini?” tanya Nura ragu, ia khawatir karena bestienya itu sedang hamil.
“Kenapa ngga? Lu liat tuh, laki gue udah buat senyaman mungkin. Stock makanan juga banyak.” Bulan menunjuk persediaan makanannya yang sudah di letakkan suaminya di atas mobil tersebut.
“Sayang gimana kalau kita bareng Bulan aja, kayaknya seru naik mobil ini.” Ucap Ibra melihat mobil berwarna putih yang terparkir di depan teras rumah orang tua Bulan.
“Kamu yakin yang?” Nura menunduk melihat suaminya yang duduk di atas kursi roda.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu ngga mau?” tanya Ibra melihat ke arah istrinya.
“Aku mah, oke-oke aja yang. Siap tempur, naik apa aja mah hayu.” Seru Nura semangat dengan senyum khasnya yang membuat Ibra ikut tersenyum karena senyuman istrinya.
“Lu jadinya pengen juga kan naik mobil ini?” cibir Bulan.
“Iya dong, berasa lagi kayak mau KKN.” Mereka saling tatap kemudian tergelak, mengingat saat mereka dulu hendak KKN karena Bus yang mereka tumpangi bermasalah. Akhirnya mereka menumpang sebuah mobil pick up yang membawah sayur untuk mengantar mereka ke desa yang mereka tuju.
“Sayang, pakai sweeternya biar ngga masuk angin,” Alif datang dengan membawa sweeter rajut, lalu memakaikan ke tubuh Bulan.
“Cieeee... Sweet banget sih Mas Alif.” Goda Nura.
“Emang suami kamu ngga sweet?” tanya Bulan.
“Sweet dong, pake banget malahan.” Nura dengan manjanya memeluk Ibra dari samping, pipi mereka saling menempel. Bulan bisa melihat betapa bahagianya mereka, Bulan pun tidak mau kalah ia juga memeluk suaminya.
“Ekhem.. Ekhem...” Arman dan Suci muncul dari dalam rumah, melihat anak-anaknya yang sedang bermesraan Arman berdehem. Atensi mereka berempat tertuju pada pasangan suami istri yang masih terlihat tampan dan cantik di usia mereka yang hampir kepala lima.
“Ngga apa Om, nasib yang ngontrak emang begitu Om.” Ucap Bagas yang sedari tadi dia emang cuek dengan kelakuan pasangan suami istri yang sedang bermesraan itu.
“Kamu jangan contoh sikap mereka yang seperti itu ya, mereka memang suka tidak tau tempat.” Arman menepuk pelan bahu Bagas.
“Papa juga suka gitu, mesra-mesraan sama Mama ngga liat tempat.” Tukas Bulan.
Skakmat!
Arman mendelik ke arah Bulan, Arman menarik nafas dalam-dalam. Anaknya ini, benar-benar....!! Tangan Arman gatal ingin dia gulung-gulung kecil Putrinya itu terus masukin lagi kedalam perut istrinya, biar aman kalau di dalam sana.
Bumil sangat kegirangan ketika sudah duduk di atas mobil pick up. Sesaat setelah mobil berjalan, ia menghirup udara pagi yang masih sangat segar sambil memejamkan mata dengan tangan di rentangkan.
__ADS_1
Alif geleng-geleng kepala dengan tingkah absurd istrinya. Namun ia ikut tersenyum senang melihat Bulannya bahagia. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, biar tidak terlalu panas saat di perjalanan nanti.
“Mah, lihat deh anak kamu. Dulu perasaan Papa, waktu Mama hamil Bulan ngidamnya ngga ada yang aneh. Baru kali ini Papa lihat orang hamil, pinginnya naik mobil bak terbuka.” Arman terus memandang anaknya yang berada di depan mobilnya sedang tertawa lepas.
“Anak Papa juga kan, sifat Bulan sama Bintang sebelas dua belas sama Papa.” Sindir Suci.
“Jadi kalau mereka aneh, ngga salah dong. Orang ngikutin kelakuan Papanya.” Imbuh Suci lagi.
Arman memutar kepalanya cepat dengan mata melotot, kemudian dia tersenyum jahil. “Aneh-aneh gini, tapi kamu cintakan Mah?” Arman menoel-noel dagu istrinya sambil menaik turunkan alisnya.
“Papa jangan mulai deh!” sungut kesal Suci menepis tangan suaminya.
“Anak sama Papanya sama aja,” kata Suci kemudian.
Sementara di mobil Pick up, baik Bulan maupun Nura mereka sangat menikmati perjalanannya. Mereka tertawa lepas, ketika membahas sesuatu yang lucu. Jiwa petualangan mereka seakan muncul, udara dingin nan sejuk yang menyapu wajah dan kulit mereka kalah dengan kehangatan yang mereka ciptakan.
“Sayang, kamu ketawa terus nanti perutnya keram.” Kata Alif lembut, satu tangannya mengusap pinggang belakang istrinya.
“Iya Mas, maaf.” Bulan tersenyum memandang suaminya yang sangat perhatian kepadanya. Bulan merebahkan kepalanya di bahu Alif dengan tangan memeluk lengan suaminya itu dengan manja.
"Mas, sudah panen belum ya sawahnya?" tanya Bulan yang masih bersandar pada suaminya.
"Belum kayaknya, kenapa?" Alif mengecup kening istrinya.
"Kita makan di sawah boleh? nanti gelar tikar aja, pasti seru makan ikan bakar ditengah-tengah sawah gitu." Bulan membayangkan betapa nikmatnya makan di alam bebas di temani angin sepoi-sepoi, belum lagi pemandangan hijau dari hamparan sawah yang terbentang luas yang sedang ditumbuhi tanaman padi.
"Awas ngences..." Ledek Nura.
"Ck... aah... lu ngga asik, ganggu hayalan gue aja!" Bulan berdecak sebal.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸