
Udara pagi diperkampungan begitu dingin menusuk hingga kedalam tulang, apalagi setelah diguyur hujan semalaman. Pagi ini rintikan gerimis masih terdengar, katak saling saut-sautan menyambut datangnya pagi.
Sementara didalam kamar berukuran kecil itu, Bulan tidur meringkuk dalam dekapan suaminya, mereka saling menghangatkan satu sama lain dibawah selimut tebal yang dibawa oleh Alif. Alif sudah mewanti-wanti, biasanya akhir tahun seperti ini akan sering turun hujan.
Alif mengerjap-ngerjap beberapa kali hingga matanya terbuka sempurna, bukannya melihat wajah cantik sang istri saat terbangun dari tidur. Ia justru hanya mendapati puncak kepala istrinya, wajah Bulan berada didalam ketiaknya. Masih pagi, tapi Alif sudah dibuat geleng-geleng kepala dengan cara tidur sang istri.
“Kenapa selama hamil, kamu semakin menggemaskan sayang?” Alif membelai rambut Bulan, kemudian mengecup dalam pangkal rambut istrinya.
Alif dengan sangat hati-hati menggeser tubuhnya agar tidak membuat istrinya terbangun. Secara perlahan Alif memindahkan kepala Bulan diatas bantal supaya leher Bulan tidak tegang karena posisi tidur yang tidak nyaman. Setelah merapatkan kembali selimut di tubuh Bulan, Alif beranjak keluar dari kamar.
“Baru bangun?” ledek si Mbok dengan menahan senyumnya.
“Mbok..” Alif yang sedang menutup pintu kamar terjengkit, si Mbok sudah duduk dengan santainya didepan tungku api.
“Sebentar lagi airnya mendidih, kamu bisa langsung mandi. Mbok tidak mau nanti kamu masuk angin, cukup istrimu saja yang kamu buat kembung hingga sembilan bulan kedepan.” Pipi Alif memerah, menjalar hingga ketelinganya. Alif menunduk malu, si Mbok tau perkara tadi malam.
“Tidak usah malu, itu hal yang wajar.” Alif menggaruk tengkuk yang tidak gatal, ia seperti anak perawan yang terciduk oleh orang tuanya ketauan pacaran.
“Maaf Mbok, seharusnya Alif bangun lebih awal!” sesalnya.
“Sudah tidak apa, kebetulan Mbok yang duluan bangun tidak masalah masak air untuk kamu.”
Air pun mendidih, Alif langsung mengangkat dan membawa panci yang berisi air rebusan ke sumur. Rintikan gerimis mulai reda, tetesan air didedaunan begitu sejuk saat mata memandang.
Begitu juga tetesan air dari rambut Alif yang basah, membuat wanita yang memandang akan tersedot akan pesonanya seperti lirik sebuah lagu wajahmu mengalihkan duniaku. Ketampananmu bertambah menjadikanmu semakin terlihat sangat sexy (semoga setelah author puji, isi dompetmu beralih ke dompet author ya babam. Ckckckck?).
*****
“Mas, jauh juga ya warungnya.” Keluh Bulan. Padahal baru setengah jalan kakinya terasa mau lepas.
“Kenapa? Nyesal? Ngga mau naik motor tadi!” Bulan mengangguk lemah.
“Kirain ngga bakal sejauh ini, Mas. Bisa sambil Bulan jalan-jalan, eh! Taunya jauh!”
__ADS_1
“Itu, Diujung jalan sana warungnya.” Bulan mangut-mangut, Alif menghentikan langkah kakinya. Ia jongkok didepan Bulan sambil berkata, “Ayok naik.”
Bulan langsung naik dipunggung suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu Alif. Tempat paling nyaman menurut Bulan.
Alif mendudukan Bulan, kemudian ia berjalan menuju rak tempat minuman. Mengambil air mineral untuk sang istri.
“Sayang, minum dulu.” Alif menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibukanya, Bulan yang sudah sangat haus meneguk hampir setengah botol minuman itu.
“Kamu duduk disini aja, okey?”
Alif pun mengambil beberapa bahan makanan dan juga jenis sayur-sayuran yang tidak ada dikebun rumahnya. Setelah dipastikan semuanya sudah diambil, saatnya membayar.
“Semuanya tiga ratus ribu,” Ibu-ibu itu terus memperhatikan wajah Alif dengan seksama, ia merasa tidak asing dengan pria didepannya itu.
“Ini uangnya Bu Fatimah, kembaliannya ambil aja.” Alif mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah lalu menyerahkan pada penjualnya.
“Kamu Alif bukan? Anaknya Mbok Maryam?”
“Pantesan aja, sedari kamu masuk tadi. Kok saya seperti kenal sama kamu, eh! Taunya emang anak Mbok Maryam. Pangling sih liat kamu sekarang, makin tampan saja.”
“Itu istri kamu?” tanya Bu Fatimah lagi dengan melirik menunjuk Bulan yang sedang duduk di bangku depan. Alif mengangguk, “Iya Bu.”
“Cantik ya, pantesan aja kamu betah dikota. Lah wong istrinya bening gitu. Benarkan Ibu-ibu?” tanyanya pada Ibu-ibu yang juga sedang berbelanja disana.
“Iya betul itu.” Seru Ibu-ibu rempong yang kalau sudah berkumpul, lima menit belanja dua puluh lima menit bergosip.
“Seharusnya istrimu yang milih- milih sayur, kenapa kamu yang repot-repot belanja. Istrimu malah duduk santai disana sudah seperti Ratu saja dia, masak pun pasti tidak bisa!” celoteh seorang Ibu dengan sinisnya, melihat Bulan dari ujung kepala sampai kaki. Beliau adalah Ibu Nila, perempuan yang dijulukin Rainbow Cake oleh Bulan tempo hari.
Alif tersenyum, “Saya menikahinya untuk dijadikan RATU, bukan PEMBANTU. Saya yang meminta istri saya untuk duduk, saya tidak ingin dia kelelahan dengan kondisi yang sedang mengandung. Sudah sepantasnya, saya me-RATU-kan istri saya. Karena istri saya yang akan melahirkan anak-anak saya, apa yang saya lakukan padanya tidak sebanding dengan perjuangannya.” Skakmat Alif, membuatnya tak berkutik.
Ibu dari Nila itu terlihat sangat tidak terima diceramahin oleh Alif, apalagi dia dan suaminya tidak berhasil mengikat Alif dengan anaknya. Bahkan Mbok Maryam dengan ikhlas melepaskan semua sawahnya pada juragan Syamsol. Ibu dari Nila itu langsung meninggalkan warung dengan muka merah padam, saat keluar dari warung ia melirik Bulan yang tersenyum ramah padanya dengan sinis.
“Nah betul itu, seharusnya laki-laki itu menghargai perempuan. Tidak usah kamu ambil hati omongan Bu Syamsol, beliau emang suka begitu." Bela seorang Ibu.
__ADS_1
“Saya kalau punya anak perempuan, mau saya jodohkan dengan Nak Alif. Sudahlah tampan, baik, sangat memanjakan istri.” Ucap Ibu yang lainnya.
“Sayangnya situ anak lanang semua.” Ejek Ibu lain, mereka tergelak.
“Lagi pula ya Ibu-ibu, Nak Alif ini sudah punya istri. Mana mau dia poligami, betulkan Nak Alif?” Ujar Bu Fatimah, Alif hanya menjawab dengan senyuman.
*****
“Mas,” panggil Bulan yang menyusul suaminya dibelakang yang sedang mengambil kelapa muda untuk dirinya. Bulan datang dengan membawa sabun batang ditangannya yang dia temukan didalam plastik belanjaan mereka tadi.
“Mas..” Alif pun menoleh.
“Bulan mau sesuatu!” ucap Bulan dengan senyum diwajahnya, ia menyembunyikan sabun batang di belakang tubuhnya
“Mau apa?” tanya Alif.
“Eemm.. Bulan mau liat Mas parut ini dengan parutan.” Menunjukkan sabun batang yang dibawanya tadi, alis Alif berkerut.
“Ini?” Bulan mengangguk dengan senyum lebar bahkan menampakkan deretan giginya yang putih bersih.
“Inikan sabun?” tanya Alif lagi.
“Iya, Bulan mau liat Mas parut sabun ini.” Alif menghela nafas panjang.
“Ya udah, ayok ambil parutannya dulu.” Bulan bersorak senang dengan kedua tangannya ia kepalkan didepan dadanya. “YES....!!”
Alif mencubit hidung Bulan, “Kamu makin hari makin menggemaskan, sayang. Apalagi pipi kamu ini membuat kamu terlihat imut.” Alif menusuk-nusuk pipi tembem Bulan yang sudah seperti bakpau.
“Tapi Mas suka kan?” menaik turunkan alisnya.
“Suka, sangat suka. Saking sukanya Mas ingin....” Alif menggigit pipi Bulan, membuat sang empunya menjerit.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1