
"Mas,,"
"Hah, eh.. iya, kenapa sayang?"
"Iihh... malah bengong, katanya mau hukum Bulan, ayo hukum sekarang." Desak Bulan.
"Ngga sekarang sayang, nanti dirumah ya? ntar dikirain karyawan sini, Mas menganiaya istri lagi kalau dengar kamu jerit-jerit." Jelas Alif masih dengan hukuman yang ada di pikirannya.
"Emm.. iya juga sih. Ya udah deh, pending dulu hukumannya. Mending sekarang kita makan biar kuat untuk nanti malam." Bulan turun dari pangkuan Alif berjalan menuju sofa,
"Apa aku kesalon aja ya, perawatan dulu gitu. Hm, kayaknya abis makan ini, cuss..kesalon deh ajak si kampreto," gumam Bulan pelan senyum-senyum sendiri sambil membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Mereka menikmati makan siang sambil bercerita, diselingi dengan candaan bahkan mereka saling menyuapi satu sama lain. Tidak perlu dengan kemewahan, perhatian kecil seperti yang mereka lakukan saat ini cukup membuat mereka semakin saling mengenal dan mengetahui sifat masing-masing.
"Mas, Bulan rindu suasana dikampung, Kapan ya, kita kesana lagi?"
"Nanti ya sayang, pasti kita akan kekampung. Mas sekarang punya tanggung jawab yang besar, kamu juga punya tanggung jawab dengan kerjaan kamu." Alif memberi pengertian pada istrinya itu.
"Dan Mas juga masih harus banyak belajar, lebih baik sekarang kamu bantui Mas, ajari Mas untuk mengelola hotel ini dengan baik. Mas tidak ingin mengecewakan Papa." Imbuh Alif lagi.
"Ooh, kirain Bulan. Mas minta bantu ajari Mas untuk mencintaku,"
"Kamu udah berani ledekin Mas ya, tunggu nanti malam hukumannya double." Alif mencubit gemas pipi Bulan yang chubby, lalu dengan usilnya ia menekan kedua pipi mulus itu sehingga membuat wajah Bulan sangat lucu dengan bibir seperti donal bebek.
Realita tak sesuai ekspetasi itulah kata-kata yang cocok untuk Bulan, ia tadi sudah membayangkan akan melakukan perawatan disalon. Tapi nyatanya ia harus membantu suaminya itu, tak sedikit pun ia kesal dengan senang hati dan senyum yang merekah ia membantu suaminya. Alif yang memang memiliki otak yang cerdas, dengan cepat belajar tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari sudah menjelang sore, mereka menghabiskan waktu setengah hari ini di hotel Alif bekerja.
"Mas, udah sore aja. Ngga terasa ya, coba kalau dikantor rasanya waktu berjalan begitu lambat." Bulan melirik jam dipergelangan tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
__ADS_1
"Secara kerjanya dengan pria tampan, coba kalau sama aki-aki pasti kalau bisa waktu itu diputar biar cepat-cepat selesai, benarkan!" Alif mengedipkan sebelah matanya.
"Haihh, udahlah narsis, genit lagi,"
"Genit sama istri sendiri apa salahnya, mau berbuat mesum juga halal." Sahut Alif tanpa menoleh, tangannya sibuk membereskan berkas-berkas yang mereka pelajari tadi.
"Mau dong dimesumin." Kata-kata Bulan membuat Alif menoleh, Bulan menaik turunkan alisnya bibir bawahnya sengaja digigit, Alif meraup wajah istrinya.
"Ayo beberes, kita pulang."
*****
Dalam perjalanan pulang, Bulan minta makan diluar ia ingin makan sate di tempat biasa ia makan. Bahkan Alif dibuatnya tercengang, Bulan memesan tiga porsi sate untuk dirinya sendiri.
"Sayang, kamu yakin mau menghabiskan sate sebanyak ini?" Alif masih tidak percaya, bahkan ia kesulitan menelan salivanya dengan keinginan istrinya. Matanya tak lepas dari hidangan sate yang ada diatas meja didepannya.
"Kalau yakin tidak masalah, tapi jangan minta bantuan Mas, untuk ngabisinya." Alif sering menjadi tong sampahnya Bulan jika makanannya tidak habis, kalau sekarang ia harus menghabiskan sate sebanyak itu, ia juga tidak akan sanggup.
Setelah drama panjang, dan ternyata Bulan dengan santainya menghabiskan ketiga porsi sate itu tak tersisa sedikit pun. Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang kerumah tak lupa Bulan juga membeli ART nya sate.
Saat sampai dirumah, suasana rumah sangat sepi ternyata kedua mertuanya sedang berada diluar. Mereka langsung menuju kamar, tapi sebelum itu mereka menyerahkan dulu sate pada ART nya dan meminta untuk tidak menyiapkan makan malam.
Bulan lebih dulu memilih untuk mandi, ia ingin segera tubuhnya diguyur dengan air. Keramas, pasti rasanya segar banget, setelah hampir tiga puluh menit Bulan di dalam kamar mandi. Ia keluar sudah mengenakan baju tidur bercelana pendek diatas lutut. Rambut masih digulung dengan handuk, sejak keluar dari kamar mandi Alif sudah melihat kearah istrinya itu tanpa suara.
"Mas, liatinnya gitu amat sih!"
Alif tidak menjawab, ia langsung mengangkat tubuh istrinya. Menggendongnya lalu membaringkan tubuh Bulan diatas tempat tidur, matanya tak sekalipun beralih dari menatap sang istri. Tiba-tiba senyum terbit di wajahnya, sebuah senyum yang membuat Bulan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Saatnya kamu menerima hukuman," seru Alif semangat.
Jemari Alif langsung bergerak menggelitik telapak kaki Bulan, ia tidak menghiraukan suara istrinya jerit-jerit. Ia terus menggelitik, Bulan sudah seperti cacing kepanasan.
"Haa..haaa...haa...Mas, am..pun.. Mas, ampun." Bulan paling tidak kuat menahan geli, apalagi suaminya itu menggelitik di telapak kaki, Bulan langsung tidak berdaya kalau bagian itu.
"Ampun,,,? Mas tidak akan kasih kamu ampun. Bukannya tadi kamu nantangi Mas, hm. Sekarang nikmati aja hukumannya." Bulan dengan susah payah berusaha bangun, karena kakinya dikunci tubuh Alif yang duduk diatas kedua kakinya.
"Haa.. ha..haaa.. Maaaas.. stop, please...stop Mas, Bulan mau terpipis ini," bujuk Bulan disela tawanya menahan beli dari gelitikan tangan suaminya.
"Mas, tidak bisa kamu tipu sayang. Nikmati aja, anggap ini terapi."
Bulan memaksa bangun dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, ia mendorong tubuh suaminya dengan kuat kesamping. Bulan berusaha lari keluar kamar, tapi karena kakinya sudah lemas gerakan menjadi lambat. Alhasil Alif berhasil menangkapnya lagi lalu menarik tubuh Bulan dan menjatuhkannya diatas sofa, kali ini ia menggelitik pinggang istrinya.
"Masih niat mau nikah lagi, hm?" Alif menghentikan kegiatannya, istrinya sudah terlihat tak berdaya.
"Maaass,, cukup, Bulan minta ampun. Ngga ngga lagi godain Mas, Bulan cuma gangguin Mas aja. Ngga ada niat nikah lagi, Mas. Ampun..mas.. ampun.." Bulan memasang wajah memelas, wajahnya sudah memerah karena terus ketawa.
Ternyata hukumannya tidak seperti yang kupikirkan, kalau tau hukumannya seperti ini aku ngga akan nantangin, aku kapooook. Hati Bulan meringis.
*****
Perkenalan mereka yang singkat, lalu memutuskan untuk menikah adalah sebuah keputusan besar yang mereka ambil. Tapi mereka belajar untuk saling memahami, saling terbuka, dan saling menjaga kepercayaan itulah komitmen mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Sebelum tidur setiap malamnya mereka akan bercerita tentang hari yang mereka jalani, kadang kala mereka bertukar pikiran, memberi pendapat dan masukan. Tak jarang mencari solusi bersama dan mendukung kegiatan pasangan yang bernilai positif. Tidak mudah menyatukan dua kepala untuk menjadi satu pemikiran, mereka harus bisa lebih menekan ego masing-masing demi langgengnya pernikahan yang mereka jalani.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1