
Hueekk... Huekk.. Hueekk
“Lan, lu napa sih ampe muntah-muntah gini?” Nura memijit-mijit tengkuk Bulan. Bulan tidak menjawab ia terus saja mengeluarkan semua makanan yang ada di perutnya, sampai-sampai rasanya usus perutnya pun ingin keluar.
“Sayang, telpon Mas Alif coba. Aku khawatir banget nih, mana ngga berhenti lagi?” seru Nura pada kekasihnya.
“Bentar aku telpon dulu,” Ibra menggerakkan kursi rodanya menuju meja yang ada di ruang tamu. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Alif.
“Halo.”
“Halo Mas Alif, ini Ibra Mas.”
“Iya Ib, gimana?”
“Mas bisa ke rumah sekarang, Bulan dari tadi muntah-muntah terus.” Beritahu Ibra dengan cemas.
“Mas udah di dekat rumah kamu ini,”
“Iya Mas,”
Tin tin
Tidak sampai lima menit Alif sudah tiba, Ibra yang mendengar suara klakson mobil langsung menggerakkan kursi rodanya kedepan. Alif melangkah masuk kedalam halaman rumah dengan tergesa-gesa.
“Dimana Bulan?” tanya Alif.
“Masuk aja Mas, di kamar mandi.” Alif langsung saja masuk ke dalam dan ia bisa mendengar suara istrinya, “Sakit banget, hiks..” Lirih pelan Bulan.
“Sayang..” Alif sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan raut wajah cemas, Nura langsung menyingkir melihat Alif masuk ke dalam kamar mandi.
“Sudah..?” tanya Alif lembut mengusap punggung istrinya. Bulan tidak sanggup lagi bersuara ia hanya mengangguk lemah.
Alif langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya keruang tamu lalu mendudukkan istrinya dengan kepala bersandar di dadanya.
Alif meraih tisu yang ada di atas meja, membersihkan wajah istrinya yang basah, Bulan mendongak melihat suaminya dengan wajah memelas.
“Kenapa, hm?” tanya Alif membersihkan sisa air mata di sudut mata istrinya dengan Ibu jarinya.
“Lapar, mau pancake itu,” tunjuk Bulan pada pancake di atas meja makan yang baru sedikit dimakannya tadi.
“Jangan!” cegah Nura cepat.
“Kenapa?” tanya Alif heran dengan kening berkerut.
“Jangan Mas, gara-gara pancake itu makanya Bulan kayak gini.” Sahut Nura.
__ADS_1
Alif tersenyum, “Ngga apa, kita coba lagi mungkin sekarang udah ngga.” Alif memandang wajah istrinya seraya mengelus pipi chubby itu.
“Kok coba-coba sih Mas?” tanya Nura keberatan, ia tidak mau melihat bestienya sampai muntah-muntah lagi. Sekarang aja bestienya udah kayak ayam sayur.
“Udah sayang, ambil aja.” Titah Ibra, Nura pun mengambil pancake tersebut dan memberikannya pada Alif.
Alif menyuapi pancake strawberry itu kedalam mulut istrinya, Nura dan Ibra melongo, Eee... Sepasang kekasih itu kemudian saling tatap, berbicara lewat sorot mata. Tau yang ditanyakan oleh Nura, Ibra mengangkat bahunya tidak mengerti. Mereka hanya diam, seolah sedang menonton drama romantis.
“Sayang, kita udah kayak obat nyamuk ya?” bisik Nura tapi masih bisa di dengar oleh Alif dan Bulan. Alif menoleh ke arah pasangan kekasih itu.
“Minta Ibra dong suapin.”
“Eh! Ngga gitu juga Mas.”
“Tapi itu kenapa Bulan aman-aman aja makan pancake nya ngga kayak tadi?” tanya Nura yang penasaran.
“Mungkin anak kami mau Ayahnya yang suapi,” kata Alif, tangannya mengambil air mineral yang ada diatas meja.
“Hah! Emang bisa gitu?” tanya Nura heran.
“Ya bisa aja, buktinya Bulan bisa makan sampai habis.”
“Anak lu ya Lan, benar-benar deh. Masih diperut aja udah bikin pusing. Tau aja bau Bapaknya, gimana udah lahir nanti bisa-bisa nemplok mulu di ketek Bapaknya.” Kekeh Nura membayangi tingkah anak bestienya.
“Nanti lu rasakan sendiri kalau udah nikah dan hamil.” Balas Bulan setelah meneguk air minum yang diberikan Alif hingga tandas.
“Gue doain lu hamilnya lebih parah dari gue!” kata Bulan mendoakan bestienya.
“Eh bego, lu doa yang bener. Jangan ngadi-ngadi, amit-amit Tuhan jangan kabulkan doa si bego!” Nura mengetuk-ngetuk meja di depannya.
“Kabulkan ya Tuhan,”
“Begooo... iisss elu mah, sungguh sangat menyebalkan.” Nura melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.
Alif dan Ibra geleng-geleng kepala, padahal tadi kalau lihat keadaan Bulan untuk bicara aja dia sudah tidak ada tenaga.
*****
“Jadi kamu serius mau melamar Nura?” tanya Alif setelah Ibra mengatakan semuanya, perihal kenapa ia meminta Bulan untuk datang.
“Iya Mas,” jawab Ibra yakin dan mantap.
“Mas udah anggap kalian seperti adik Mas sendiri, terlepas kalian berteman dengan Bulan.”
“Dan kamu Nura, sudah siap lahir bathin? Kamu tau sendiri kehidupan Ibra seperti apa, jangan sampai kamu menyesal di tengah jalan.” Imbuh Alif lagi.
__ADS_1
“Nura yakin Mas.” Jawab Nura tanpa keraguan sedikit pun, keputusannya sudah bulat dan ia sudah memantapkan hatinya hanya untuk Ibra seorang.
“Baiklah kalau kalian berdua sudah yakin, Mas akan mendampingi kamu melamar Nura sebagai pengganti orang tua kamu.”
“Mas Alif serius?” tanya Ibra masih tidak percaya.
“Iya saya serius,”
Ibra sangat terharu, matanya sampai berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur di kelilingi oleh orang-orang yang sangat baik dan peduli padanya tanpa melihat latar belakang hidupnya.
“Jadi kapan kamu akan melamar kekasih kamu ini?” Alif menggoda pasangan didepannya.
“Minggu depan Mas.” Alif mangut-mangut.
“Ciee.. Yang mau lamaran... Cuitt.. Cuittt...” Bulan menggoda Bestienya.
“Apaan sih lu?” wajah Nura merona, ia menunduk malu.
“Dulu aja ngga mau, sekarang malah mau nikah.” Ledek Bulan.
“Makanya jangan terlalu benci, antara benci dan cinta itu cuma setipis kulit ari.” Cibir Bulan.
“Sayang, udah dong. Kamu lihat wajah Nura udah merah gitu.”
*****
"Mas, gimana kalau kita minta Papa sama Mama juga ikut waktu acara lamaran nanti. Biar Mas ngga sendirian juga, Bulan kasian lihat Ibra Mas. Paling ngga dengan adanya Mama sama Papa, Ibra bisa merasakan kehadiran kedua orang tuanya." Ucap Bulan yang berbaring di atas ranjang dengan kepala di atas pangkuan suaminya.
"Kalau Mas ngga masalah sayang, apa Papa sama Mama mau? terus gimana dengan Ibranya sendiri?" tanya Alif memandang wajah sang istri dengan satu tangannya mengusap-usap kening Bulan. Satunya lagi berada dalam genggaman tangan Bulan yang memainkan jari-jari tangan suaminya.
"Mama sama Papa pasti mau, kalau Ibra..." Bulan menjeda ucapannya sejenak, ia sedang berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk jari Alif.
"Kita ajak Ibra makan malam dirumah gimana Mas?" Bulan melanjutkan ucapannya setelah menemukan ide.
"Boleh, berarti kita harus bicara dulu sama Papa dan Mama." Alif setuju dengan saran yang di usulkan istrinya.
"Besok kita bicara, kalau mereka setuju. Malamnya langsung gas." Ucap Bulan semangat.
"Kamu ini, gas-gas. Udah kayak naik motor aja."
"Hehehehe... Bulan semangat Mas kalau buat orang bahagia."
Alif membawa tangan istrinya di depan bibirnya, ia mengecup tangan sang istri dengan sangat dalam.
"Mas bangga punya istri yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap orang lain. Tetaplah seperti ini sayang, sampai kapanpun."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸