
“Ekhem...” Bulan dan Alif menoleh dalam waktu yang bersamaan saat mendengar deheman seseorang.
“Kabin!” pekik Bulan girang dengan mata berseri-seri, ketika sang Kakak berdiri dengan tubuh bersandar pada pilar rumah dan tangan menyilang didepan dada.
Bulan segera bangkit dari duduknya, hendak berlari memeluk sang Kakak. Ia seakan lupa bahwa sedang dalam keadaan hamil, Alif yang melihat tingkah bar-bar sang istri membulatkan matanya.
“Sayang, jangan lari. Ingat kamu sedang hamil!” seru Alif khawatir, Bintang yang tadinya bersandar menegakkan badannya saat Alif mengatakan sang adik sedang hamil. Bintang langsung menangkap tubuh sang adik yang berlari ke arahnya, Alif menghela nafas panjang.
Bintang menepuk kepala sang adik, “Kamu hamil?” Bulan mengangguk dalam pelukan Bintang. “Kenapa lari-lari? dasar Bulbul!” omel Bintang.
“Lupa..” jawab Bulan tanpa merasa bersalah telah membuat suaminya khawatir, suaranya sedikit tidak jelas karena wajahnya tenggelam di dada Bintang. Bulan memeluk sang Kakak dengan erat seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
“Bisa-bisanya kamu lupa lagi hamil? Waktu buatnya tidak lupa, hah?” pungkas Bintang.
“Yang buat Mas Alif?”
“Mana bisa jadi, kalau Alif buat sendiri tanpa ada kamunya. Ngawur kamu!”
Wajah Alif sudah bersemu merah, ia membuang wajahnya ke sisi lain. Kakak beradik itu berbicara se frontal itu seakan mereka lupa, bahwa Alif yang sedang mereka bicarakan ada disana.
Bintang merenggangkan pelukannya, tangannya memegang pundak Bulan. Memandang wajah bulat adik kecilnya yang selalu mengajaknya berantem.
“Udah jadi istri, sebentar lagi mau jadi Ibu. Tapi kamu masih seperti anak-anak, dasar manja.” Menarik hidung Bulan, membuat empunya menjerit.
“Sakit, Kak!” Bulan merengut sambil memegang hidungnya.
“Itu hukuman, karena kamu tidak ngomong sama kakak kalau kamu lagi hamil. Wah.. ngga sabar sebentar lagi akan ada yang panggil Kakak dengan sebutan Uncle.” Bintang merangkul Bulan, membawanya kembali ke meja makan.
“Apaan Uncle sok bule! Pak Lek baru benar.” Ejek Bulan yang sudah kembali duduk di tempat semula.
“Kagak-kagak, ngga sesuai dengan tampang seorang Bintang yang tampan dan rupawan ini.” Menaik turunkan alisnya.
“Dih! Kumat narsisnya. Pacar aja kagak punya, tampan dari Hong Kong?” sindir Bulan.
__ADS_1
“Eh selepe nih emak-emak satu, kalau mau tinggal tunjuk langsung dapat. Tapi ngga gitu caranya, untuk cari pasangan hidup butuh selektif, ngga asal comot. Menikah cukup sekali selamanya, hanya maut yang memisahkan.” Kemudian Bintang menoleh pada adik iparnya.
“Benarkan Lif? Lu setuju dengan gue.” Tanya Bintang.
“Iya, Kak.”
“Sok bijak,” cibir Bulan.
“Bukan sok bijak, tapi begitulah kita dalam mencari pasangan. Kita harus tau baik buruknya, karena nantinya kita saling melengkapi untuk mencapai kesempurnaan.” Jelas Bintang, lalu ia mencomot salad buah milik Bulan.
“Kabiiin.... Itu salad buah Bulan.” Jerit Bulan dengan rengekan.
“Beli lagi!”
“Mana beli, itu Mas Alif yang buatin.”
“Lu yang buat Lif, untuk si manja ini?” tanya Bintang, telunjuknya menunjuk sang adik.
“Udah, jangan cemberut. Mas buat banyak tadi,” bujuk Alif.
“Serius Mas?” tanya Bulan senang, wajahnya kembali cerah matanya berbinar-binar, melihat suaminya mengangguk Bulan melirik Bintang lalu menjulurkan lidahnya.
“Masih ada, wleek...” Ucap Bulan tanpa suara, hanya gerakan bibirnya saja, Alif sampai geleng-geleng kepala.
*****
“Papa sama Mama pacaran terus, anak sesekali pulang bukan disambut. Awas aja kebablasan bikin adik lagi, ingat! udah mau punya cucu.” Kata Bintang mengingatkan kedua orang tuanya yang seperti ABG kasmaran.
Mereka saat ini sedang berkumpul di ruang santai dilantai dua setelah selesai makan malam. Rencananya Arman dan Istri akan makan malam diluar, namun karena sang Putra pertualangnya sudah pulang terpaksa mereka membatalkan rencananya. Arman dan Suci tiba di rumah menjelang makan malam.
“Memangnya kamu ada bilang mau pulang? Engga kan?” Arman menatap sang Putra yang duduk lesehan didepannya, asik memasukan kacang kedalam mulutnya.
“Ya, paling ngga ada dirumahlah. Ini, anak pulang rumah kosong. Cuma ada si Bulbul sama suaminya.” Tunjuk Bintang pada adiknya yang sedang makan puding strawberry tidak jauh darinya.
__ADS_1
Mereka bertiga duduk lesehan diatas karpet bulu dengan sebuah meja bulat ditengah, sedangkan Arman dan Suci duduk di atas sofa mini yang tingginya hanya sejengkal dari lantai, sofa yang dulu sering di jadikan tempat tidur oleh Bulan ketika dirinya malas balik kekamar setelah ia mengerjakan sesuatu disana.
“Kamu juga pulang karena pasti adikmu itu yang merengek, kalau ngga mana mau kamu pulang.” Tambah Suci yang sangat tau watak anaknya, sampai berbuih mulutnya meminta Putranya pulang hampir tidak pernah di dengarnya.
Tapi jika sang adik yang menelpon memintanya pulang, detik itu juga dia iyakan dan alhasil esok harinya batang hidung Putra satu-satunya itu sudah berada dirumah.
Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir, apa yang di katakan sang Mama memang benar adanya. Sesayang itu ia pada sang adik, walaupun setiap hari mereka selalu ribut, berantem timpuk-timpukan saling meledek.
Mungkin itu cara mereka menunjukkan kasih sayang diantara mereka, sehingga membuat adik kakak itu rindu bila berjauhan.
“Mama kayak ngga tau aja si Bulbul.”
“Kalian sama aja, jauh rindu kalau dekat rumah udah kayak rimbanya Tarzan.” Sela Arman.
“Kok kayak rimba Tarzan Pah?” celutuk Bulan melihat Papanya.
“Gimana ngga kayak rimba Tarzan, dari melek suara kalian udah membahana ke segala penjuru rumah. Kamu diam Kakakmu yang mengulah, Kakak mu diam kamu yang bikin ulah gitu terus sampai kalian merem, besoknya ya gitu lagi.” Jelas Arman.
“Kakak itu, suka usilin Bulan.” Menunjuk Bintang dengan sendok yang dipegangnya.
“Kok kamu salahin Kakak, kamu itu yang selalu gangguin Kakak.” Melempar kacang yang ada ditangannya.
“Nah kan, baru juga di bilangin. Udah mulai aja lagi.” Arman menghela nafas berat.
“Anak-anak kamu, Mah?” Ucap Arman menyandarkan tubuhnya, melihat perdebatan kedua anak-anaknya. Suci mengusap pelan lengan suaminya seraya tersenyum.
“Iihhh, Kakak pake lempar kacang lagi, nanti bersemut karpetnya.” Bulan mengutip kacang yang di lempar Bintang.
“Biarin, biar badan kamu bentol-bentol kayak dulu. Wleekk...” Bintang balas mengejek Bulan, seperti yang di lakukan sang adik tadi.
“Itu gara-gara Kakak juga, udah tumpahin keripik tapi ngga bilang.” Bintang memasang wajah meledek, “Mas, lihat Kabin?” rengeknya menarik-narik celana yang dipakai Alif, persis seperti bocah yang mainannya direbut.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1