
Disebuah rumah mewah, tepatnya dalam sebuah kamar dengan tampilan maskulin. Cat yang didominasi dengan warna putih dipadu dengan sedikit warna hitam, tidak ada lagi sentuhan perempuan dalam kamar itu. Iya, setelah resmi bercerai pria itu mengubah seluruh isi kamar dan juga warna kamar kembali seperti warna saat ia masih lajang dulu.
Seorang pria yang memiliki rahang kokoh, rambut lurus hitam lebat kulit sawo matang dengan wajah manis bermata bulat. Ia sudah lengkap dengan setelan baju kerjanya, pria yang baru saja menyandang status sebagai duda anak satu itu kini siap menyambut hari barunya bersama Putra semata wayangnya yang masih berusia tiga bulan.
Pria itu yang tak lain adalah Aldo, ia membawa langkah kakinya keluar dari kamarnya untuk menyapa sang Putra yang berada di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Saat pintu dibuka, tatapannya langsung tertuju pada sebuah box bayi berwarna putih dimana sang buah hati tercintanya berada yang ditemani oleh seorang baby sitter.
Sebelum mendekati box bayi itu, ia menarik nafasnya sejenak berusaha menguatkan hatinya. Selain menjadi seorang Ayah dia juga harus menjadi seorang ibu untuk anaknya. Baby sitter yang mengurus anaknya segera menjauh kala majikannya yang tak lain Ayah dari Baby Boy itu mendekat.
"Morning, sayang!" sapa pria itu pada bayi Laki-laki berusia tiga bulan itu, matanya memanas kala melihat sang anak yang tidak berdosa itu harus menerima dampak dari perpisahan kedua orang tuanya terlebih sang ibu yang sama sekali tidak mengharapkannya. Sakit, sedih, kecewa! tentu itu yang dirasakan pria itu, tapi demi sang buah hati ia harus kuat, ia akan melakukan apapun agar putranya itu tidak kekurangan cinta dan kasih sayang dari orang tuanya sedikitpun.
Tidak mudah memang menjadi single parent apalagi seorang pria seperti dia, yang hari-harinya sering dihabiskan hanya untuk kerja. Tapi mulai sekarang ia akan mengatur semua itu demi anaknya, sekarang prioritas utamanya adalah Putranya.
"Duh, anak Ayah udah wangi rupanya." Meraih tubuh mungil itu membawanya kedalam gendongannya, menjatuhkan beberapa kecupan diwajah sang anak. Bayi laki-laki yang belum mengerti apa yang dikatakan Ayahnya hanya tersenyum dan menggeliat-geliat kecil dalam gendongan pria itu, mungkin karena terkena rambut-rambut halus dari wajah Ayahnya.
"Mba, tolong siapkan semua kebutuhan Juna ya. Hari ini saya akan membawanya kekantor." Pinta Aldo pada Baby sitter anaknya itu.
"Apa Bapak yakin, membawan den Juna kekantor? maaf pak, bukan maksud saya lancang." Sang Baby sitter yang bernama puji itu merasa tidak enak hati setelah berucap seperti itu.
Aldo hanya tersenyum tipis, "Tidak apa, Mba. Biar Juna ikut saya aja, mba tolong siapkan semuanya."
Puji tidak berkata lagi, Wanita yang berusia 40 tahun itu langsung mengerjakan perintah majikannya. Pria itu langsung keluar dari kamar membawa Juna menuruni tangga menuju ruang makan sambil menunggu baby sitter anaknya menyiapkan segalanya.
"Sayang, kamu disini dulu ya. Ayah sarapan sebentar. Setelah itu kita akan berangkat kekantor, Ayah tidak akan meninggalkan kamu dirumah." Aldo mencium gemas pipi Putranya lalu meletakkan Juna dalam stroller bayi yang ia letakkan disamping tempat duduknya, sambil menikmati sarapannya ia bisa melihat bayinya dan mengajaknya berbicara. Aldo merasa khawatir meninggalkan anaknya dirumah walaupun dalam pengawasan yang ketat, entah kenapa tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenang.
*****
Kebetulan hari ini pekerjaan Aldo tidak begitu banyak ia masih sempat bermain dengan Juna, saat menginjakan kaki dikantor tadi ia menjadi pusat perhatian karena membawa seorang bayi mungil kekantor. Ada yang merasa iba, ada yang kagum akan sosok itu karena perhatiannya pada sang anak.
"Bodoh banget sih, itu perempuan. Demi lelaki kaya rela tinggalin anak sama suami eh mantan suami!"
"Kalau gue yang jadi istrinya pak Aldo, ngga bakalan gue selingkuh sama lelaki tua gitu. Apa coba yang dicari, kalau masalah harta pak Aldo ngga kalah kaya."
"Sampe-sampe tega telantarin anak sendiri. Ck, terbuat dari apa itu hatinya."
"Tau deh, horang kaya mah terkadang ngga ngerti jalan pikirannya."
__ADS_1
"Dikasih permata malah nyari kerikil kali, ck... sangat membagongkan emang."
"Mending kayak kita, hidup berkecukupan."
"Ho'oh, banyak-banyakin bersyukur aja."
Tanpa mereka sadari, sang asisten dari Aldo telah berdiri dibelakang mereka dan mendengar semua ucapan karyawan bosnya.
"Apa kalian digaji untuk membicarakan orang lain!"
Deg!
Mereka semuanya tersentak dengan suara yang sangat mereka kenal, secara bersamaan mereka berbalik dan langsung menundukkan kepala begitu melihat tatapan tajam setajam silet milik sang asisten seakan ingin menguliti mangsa.
"Maaf, Pak!" ucap mereka serentak.
"Jika saya melihat kalian seperti ini lagi, saya pastikan kalian semua dipecat secara tidak terhormat!"
"I-iya, pak."
"Gila itu asisten, bagai langit dan bumi sama pak bos!"
"Udah-udah, balik kerja lagi. Gue kagak mau dipecat."
*****
"Begoooo...."
"Heh kampreto, lu kira gue budeg pake teriak-teriak!" sungut Bulan kesal saat menjawab panggilan telepon dari bestienya, Bulan merasa telinganya pengang akibat jeritan Nura.
"Hahaha...."
"Ketawa lagi lu, dasar peak. Ngapain lu telp gue, ganggu aja!"
"Idiih... sombong benar lu yee, mentang-mentang udah dapat babang hermes! kagak boleh gue telp lagi!"
__ADS_1
"Ya iyalah, ngerusakin mood gue lu!"
"Kagak usah marah-marah napa sih lu, apa laki lu kurang kasih jatah makanya lu ampe senewen gini?"
"Ada apa lu telpon gue?"
Bukannya menjawab, Bulan malah balik bertanya membuat Nura mendengus sebal. Tapi berhubung mereka udah lama ngga bertemu tahan-tahan ajalah judes level dewanya Bulan.
"Ck, menyebalkan lu emang. Gue mau ajakin lu jalan, sejak lu nikah gue lu sia-siain. Kagak kasian lu sama jomblo ini, mengsedih gue dicuekin!"
"Eh, Jubaedah kagak usah lebay lu. Emang Mau kemana?"
"Kita ngemall, sekalian makan ditempat biasa."
"Okey, nanti gue kesana sama laki gue."
Tut
"Astaga naga bonar, dasar markonah kampret belum juga gue selesai ngomong. Benar-benar minta dijambak nih orang, huufff.... sabar Nura sabar!" Nura menatap nanar ponselnya yang udah diputusin sepihak oleh Bulan, Nura membuang nafas kasar sambil mengelus dadanya.
Sementara dirumah Bulan, ia yang baru selesai menerima telpon dari bestienya mendatangi Alif yang sedang duduk diteras belakang rumah yang langsung berhadapan dengan kolam renang.
"Mas.."
Alif memutar kepalanya kebelakang saat mendengar suara wanitanya, menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang begitu manis membuat para gadis yang melihat klepek-klepek tak karuan termasuk author sering salting! hahaha....
Alif mengulurkan tangannya menyambut sang istri, Bulan menerima dengan senyum Mengembang. Suaminya ini selalu saja bisa membuat hatinya berbunga-bunga dengan hal-hal kecil yang dilakukannya.
"Mas, Nura ajakin ngemall." Ucap Bulan yang sudah duduk diatas pangkuan suaminya, tangannya ia lingkarkan dileher lelaki itu.
"Tapi Mas ikut juga, Bulan ngga mau jauh-jauh dari Mas. Nanti kalau Mas diculik, Bulan ngga bisa tolongin." Imbuhnya lagi
Alif tergelak dengan ucapan istrinya, bisa-bisanya Bulan berpikir seperti itu.
"Siapa juga yang mau nyulik Mas, ada-ada saja kamu ini." Alif mencubit gemas pipi chubby sang istri.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸