Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
37 - Malaikat Penolong


__ADS_3

Setelah puas membuat wajah Ibra dan bestienya bak kepiting rebus, Bulan dan Alif segera menuju ke parkiran Rumah Sakit. Saat hendak membuka pintu mobil untuk istrinya, seseorang memanggilnya.


“Mas Alif?” Alif yang merasa namanya dipanggil menoleh, begitu juga Bulan ikut menoleh ke arah suara. Tampak seorang pria muda sedang berlari kecil kearah mereka.


“Siapa Mas?” tanya Bulan saat keduanya saling pandang.


“Engga tau Mas.” Jawab Alif.


“Ternyata benar Mas Alif, aku kira salah orang tadi!” ucap laki-laki muda itu dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipi di pipi kirinya.


Alif mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa laki-laki muda itu. Melihat raut wajah bingung pada pasangan didepannya, laki-laki itu angkat bicara.


“Mas Alif pasti tidak ingat aku, aku yang waktu itu bawa istri Mas ke Rumah Sakit.” Jelasnya.


“Oh, ya ampun. Maaf-maaf, saya beneran lupa. Kamu jangan tersinggung ya, waktu itu saya terlalu panik karena keadaan istri saya. Jadi saya tidak sampai memperhatikan kamu, sekali lagi saya minta maaf ya.” Ucap Alif dengan sungguh-sungguh, Bulan pun tersenyum ke arah laki-laki muda itu.


“Tidak apa Mas, waktu itu saya juga langsung pergi. Tidak sempat berpamitan dengan Mas Alif dan Mba Bulan,” ucapnya sambil melihat Bulan yang berdiri disamping Alif.


“Mba Bulan apa kabar? Gimana kandungannya? Maaf, saya belum sempat jenguk waktu itu.”


“Alhamdulillah baik, kandungannya juga sehat. Mungkin kalau saat itu kamu tidak menolong saya, entah apa yang akan terjadi pada calon anak kami. Terima kasih ya.” Ucap Bulan tulus.


“Sama-sama Mba, kita sesama manusia sudah seharusnya saling tolong menolong bukan begitu Mas Alif?” Alif pun mengangguk. Alif suka dengan pembawaan laki-laki muda di depannya.


“Oh, iya. Kamu sendiri, siapa yang sakit?” tanya Alif.


“Ngga ada yang sakit Mas, tadi saya mengantar Bapak tua yang diserempet mobil.”


“Kamu emang malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuk menolong orang lain.”


“Itu terlalu berlebihan Mba.”


“Gimana kalau kita makan siang bareng nanti, ya hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya dan istri. Karena kamu sudah menolongnya waktu itu."


“Ah.. Tidak usah Mas, saya ikhlas kok.” Laki-laki muda itu menolak dengan sopan.

__ADS_1


“Ngga boleh nolak rezeki. Kalau kamu nolak, anak saya nanti sedih. Kamu menolak ajakan Ayah-Ibunya.” Bulan mengelus perutnya.


Laki-laki itu tersenyum, “Baiklah kalau begitu, saya ikut gimana Mas Alif sama Mba Bulan aja.”


“Enaknya dimana ya? Kamu ada ide sayang?” Alif bertanya pada istrinya, Bulan menjawab dengan sebuah gelengan.


“Jika Mas Alif sama Mba Bulan tidak keberatan, bagaimana kalau di cafe saya aja?” laki-laki itu memberi saran.


“Boleh juga,” sahut Bulan yang setuju dengan ide laki-laki itu, lalu ia pun memberikan kartu nama yang tercantum nama dan alamat cafenya.


“Wow, ini Cafe & Resto yang sedang viral itu kan?” seru Bulan sangat antusias.


“Alhamdulillah, Mba. Masih merintis.”


“Ternyata Ownernya masih muda ya Mas, mana tampan lagi.” Bulan tersenyum senang.


“Mba Bulan bisa aja.” laki-laki itu tersenyum atas pujian istri Alif.


“Baiklah kalau gitu, kami permisi dulu. Sampai ketemu siang nanti.” Pamit Alif yang harus segera ke Hotel dan Bulan juga harus ke kantornya.


*****


“Sayang, maaf ya. Kamu sama anak kita jadi telat makan.” Ucap Alif ketika sang istri sudah masuk kedalam mobil, Alif sudah menjalankan kembali mobilnya membelah jalanan Ibu kota.


“Ngga pa-pa Ayah, kami udah makan biskuit yang Ayah beli.” Jawab Bulan menirukan suara anak kecil dengan wajah dibuat imut.


“Jangan buat wajah seperti itu sayang, Mas ngga tahan lihatnya.” Alif mengedipkan matanya, Bulan memutar bola mata jengah. Alif tersenyum melihat reaksi istrinya itu.


“Sayang, kamu udah kabari laki-laki itu?” Alif melihat sekilas istrinya kemudian kembali fokus ke jalan.


“Bagas?” tanya Bulan. Tadi Alif meminta Bulan untuk mengabari laki-laki muda itu, bahwa mereka akan datang sedikit terlambat.


“Dari mana kamu tau namanya?” selidik Alif.


“Tadikan dia kasih kartu nama Mas, gimana sih? Mas belum tua udah pikun!” ejek Bulan cekikikan.

__ADS_1


“Kamu ini, udah berani ngatain Mas ya? Mau dihukum? Hm?”


Bulan berdecak sebal, “Mas ini dikit-dikit ancamannya hukuman!” Bulan memajukan bibir bawahnya dan itu membuat Alif benar-benar ingin melahap abis bibir merah muda itu.


“Tolong kondisikan bibirnya sayang?” rayu Alif. “Jangan sampai Mas putar arah nih kita ke Hotel.” Alif sangat greget dengan tingkah istrinya.


“Kenapa ke Hotel Mas?” tanya Bulan yang belum menyadari ulahnya sudah membuat sisi lelaki Alif yang sensitif jadi terganggu.


“Mas mau melahap kamu sampai abis.” Alif menaik turunkan alisnya.


“Iihh, Mas ini udah kayak kanibal aja.” Bulan bergidik melirik suaminya.


“Beda dong sayang, kalau Mas membuat kamu enak dan minta ampun,” Alif mengedipkan matanya dengan wajah mesum. “Bonusnya bisa menghadirkan kehidupan baru. “Buktinya itu.” Tunjuk Alif dengan bibirnya pada perut sang istri.


“Mas udah ah, mesumnya makin menjadi-jadi.” Bulan membuang pandangannya keluar jendela, suaminya itu sangat suka sekali sekarang menggodanya. Malah tidak liat sikon lagi.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di Cafe & Resto milik Bagas, Bagas yang melihat kedatangan Alif dan Bulan langsung menyambut mereka.


“Selamat datang di Bagas Cafe & Resto.” Sambut Bagas layaknya pelayan yang menyambut pelanggan Cafe.


“Terima kasih sambutannya adik tampan.” Ucap Bulan membuat Alif mendelik, sedangkan Bagas terkekeh mendengar Bulan memanggilnya adik tampan.


“Maaf ya, kami datang sangat terlambat. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang tidak bisa di undur.” Kata Alif yang merasa tidak enak.


“Ngga apa, Mas Alif. Ayo, kita langsung aja kebelakang.” Ajak Bagas membawa tamunya ke tempat yang sudah disiapkannya.


“Kenapa kamu manggil Bagas adik tampan?” tanya Alif sedikit berbisik pada istrinya. Mereka berjalan mengikuti Bagas dari belakang.


“Orangnya tampan mosok dipanggil jelek,” Bulan balas berbisik.


“Masih tampan Mas kemana-mana!” ucap Alif dengan Pe De nya. Alis Bulan mengkerut, sejak kapan suaminya itu jadi narsis begini pikir Bulan.


Sampai di halaman belakang Cafe itu Bulan dibuat takjub dengan desainnya, Jika di depan didesain klasik maka sisi belakang dari Cafe ini di bagian sisi kiri membentuk taman baca cocok untuk anak sekolah atau kuliah berkumpul mengerjakan tugas mereka.


Sedangkan sisi kanan dihiasi berbagai macam tanaman hias disekitar kolam ikan dilengkapi air terjun minimalis cocok dijadikan spot untuk bersua foto. Area cafe bagian belakang

__ADS_1


ini didesain khusus untuk lesehan hanya ada bantal duduk santai dan meja.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2