
Setelah mengambil tas yang berisi pakaian dan perlengkapan mandi, Bulan dan Nura mengikuti Alif kebelakang rumah dimana letak kamar mandi berada. Bulan ingin segera membersihkan diri dan berganti pakaian, Bulan melongo saat melihat keadaan kamar mandi yang akan dipakainya untuk mandi terbuka bebas melompong. Hanya dinding terpal sebagai penutupnya.
"Mas, yang benar aja mandi disini. Ngga ada kamar mandinya?" rengek manja Bulan.
"Disini kampung, engga ada kamar mandi. Kalau mau mandi dialam lepas seperti ini!" terang Alif dengan santai, ia sebenarnya sangat ingin ketawa betapa lucunya ekspresi Bulan.
"Ra, mandi bareng ya?" mohon Bulan menoleh kearah Nura yang sejak tadi hanya duduk diam menikmati angin sepoi-sepoi.
"Lu mandi duluan aja, gue masih mau nyantai." Sahut Nura tanpa menoleh.
Bulan menghentakan kaki dengan wajah cemberut masuk kedalam kamar mandi ala-ala jaman jahiliyah, mulutnya terus saja menggerutu. Alif masih setia berdiri di depan pintu sumur itu, ia menunggu reaksi Bulan selanjutnya sambil menghitung dalam hatinya.
Satu...
Dua...
Ti...
"Maaaass!" teriak Bulan, Alif menahan tawanya agar tidak pecah, Bulan kembali keluar dengan wajah semakin ditekuknya.
"Mas, airnya engga ada!"
"Ya.. kamu harus nimba, kalau mau mandi."
Bulan melongo matanya berkedip pelan, otaknya sedang bekerja bagaimana caranya nimba. Selama ini, kalau mau mandi tinggal nyalakan shower putar kran air. Lhah, sekarang disuruh nimba. Anak sulthan mah, taunya bathtub sama shower.
"Mas, serius... Masa harus nimba, aku engga tau caranya," sangat menyedihkan tampang Bulan.
Mau mandi aja butuh perjuangan, seperti cintaku padamu, Mas. Gunung kan kudaki lautan luas kan kuseberangi. Bulan berpuitis dalam hatinya.
Merasa tak tega, akhirnya Alif menimba air dari dalam sumur dan mengisi beberapa ember air untuk Bulan. Bulan memperhatikan lengan kekar Alif saat menimba, otot-ototnya begitu sempurna membuat bulan hampir nces dibuatnya.
Ya Tuhan, otot lengannya aja kayak gitu, gimana otot yang lain? haistsss... Bulan sadaar, otak lu kudu di soKlin, mikirnya udah diluar jangkauan. Bulan mencecar dirinya dalam hati.
__ADS_1
Alif yang udah selesai menimba air, mengerutkan keningnya melihat Bulan geleng-geleng kepala dan mengetok-ngetok kepalanya sendiri.
"Ngga panas, kenapa geleng-geleng terus ketok-ketok kepala gitu! kesambet?" tanya Alif yang sudah berdiri di depan Bulan menempelkan punggung tangannya pada kening Bulan, memastikan kalau Bulan baik-baik aja.
"Iihhh, siapa juga yang kesambet!" Bulan langsung berlalu masuk kedalam, tanpa bisa dicegah jantungnya sudah bermain drum di dalam sana.
Lama-lama dekat Mas Alif, bisa sawan gue. Cicit hati Bulan.
*****
Saat ini mereka sedang duduk diruang tamu yang berukuran kecil setelah drama mandi sore tadi, tidak ada sofa atau pun kursi yang terpajang disana. Lantai rumah tidak ada ubin atau keramik, masih semen yang kasar. Duduk hanya beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan duri, rumah itu hanya ada dua kamar tidur.
Sebenarnya satu, tetapi Alif menyekat sedikit ruang dapur untuk dijadikan sebuah kamar yang ditempati olehnya. Jadilah saat pintu kamar itu dibuka langsung terhubung dengan dapur, sedangkan untuk kamar depan ditempati oleh Mbok Maryam.
"Lu yakin, kita nginap disini?" bisik Nura ditelinga Bulan.
"Yakinlah, demi ayang Alif. Tidur dikolong jembatan pun gue mah hayu," balas Bulan juga ikut berbisik.
"Astagaa bego, lu benar-benar udah kurang seKILO!" Nura mende sah pelan, ia yang jadi frustasi karena bestienya itu.
"Tapi gue juga engga akan segila elu, begoo!" kesal Nura.
Bulan hanya mengedikkan bahunya, obrolan unfaedah mereka terhenti saat Alif keluar bersama seorang wanita tua yang dipapahnya. Bulan terus memperhatikan setiap gerak-gerik Alif, ia semakin kagum dengan sosok Alif.
Orang tua aja diperlakukan begitu sangat lembut, apalagi istrinya. Wah, Bulan kamu sungguh beruntung. Batin Bulan tersenyum senang.
"Mbok, kenalin ini Bulan dan temannya." Ujar Alif menunjuk Bulan dan Nura pada Mbok Maryam sesaat setelah mendudukan si Mbok dengan posisi yang nyaman.
Bulan mendekat, meraih tangan wanita tua itu lalu menciumnya disusul oleh Nura juga melakukan hal yang sama dan memperkenalkan dirinya. Alif terkesima dengan sikap Bulan, dibalik tingkahnya yang bar-bar dan agresif, juga dari kalangan atas Bulan bisa menempatkan dirinya dengan begitu baik (catet Babam, poin plus ini, limited edition).
"Kamu pintar cari calon Istri, Nang. Cantik!" Mbok Maryam tersenyum tulus, menatap teduh pada Bulan. Jangan tanya hati Bulan bentuknya udah seperti apa sekarang.
Apa?? cantik? calon Istri? huaaa... Mbok tau aja kalau Bulan calonnya Mas Alif. Hati Bulan jumpalitan mendengar ucapan si Mbok.
__ADS_1
"Mbok, tapi Bulan bukan..." Belum selesai Alif menjelaskan, kalimatnya sudah dipotong Mbok Maryam.
"Sudah jangan ngeles, selama ini tidak ada satupun gadis yang kamu bawa kesini. Dan sekarang, kamu membawanya. Berarti gadis ini begitu istimewa buat kamu." terang Mbok lagi membuat hati Bulan makin ngga karu-karuan.
Gue yang pertama kesini bestiiie.... asik-asik josss! teriak Bulan dalam hatinya.
"Dari cara dia menatap kamu saja Mbok sudah bisa melihat, cintanya begitu besar dan tulus untuk kamu. Kalau Mbok jadi Nak Bulan, emoh Mbok sama laki-laki seperti Alif ini!" imbuhnya lagi.
"Kenapa Mbok?" tanya Bulan penasaran.
"Secara Nak Bulan cantik, dari penampilannya saja sudah terlihat dari keluarga kaya. Sedangkan Alif sudahlah tidak tampan, cuma seorang satpam lagi. Apa yang bisa dibanggakan?" jawab Mbok Maryam sambil melirik Alif.
Kedua mata Alif terbelalak mendengar Mbok Maryam mengatakan dia tidak tampan, padahal dia sangat tampan paripurna. Artis sekelas bredpit aja yang incaran emak-emak jaman dulu lewat, apalagi artist Koreyah yang digandrungi kidz jaman now sudah pasti kalah tampannya dari dia.
"Alif tampan begini, Mbok ngga mengakui. Orang-orang aja pada bilang Alif sangat tampan." Protes Alif merajuk.
"Yang bilang kamu tampan, mereka harus periksa mata. Takutnya tertutup sama katarak."
Masih muda dan unyu-unyu gini, dikatain udah katarak. Batin Bulan.
"Astagfirullah, Mbok. Teganya sama anak sendiri!" lunak sudah semua tulang dan sendi Alif, hilang semua imej dan wibawanya di depan gadis yang selalu merusuh hari-harinya.
Aku butuh mantra yang bisa ngilang dari sini...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Eh Babam, kagak usah mantra pakai pintu Doraemon aja langsung kerumah Kak Jingga🤭
Happy Monday Bestie.... 🤗
Ketemu lagi sama Bulan dan Babam Alif😘
Yang udah LIKE, KOMEN dan VOTE MAKASIH BANYAK YA..
__ADS_1
Terus dukung Bulan dan Babam Alif, lope youuuuu Bestie.. Muaahh... muah.. muaahh.. 😌