Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
25 - Jomblo Berkelas


__ADS_3

Tanpa terasa dua bulan sudah usia pernikahan Alif dan Bulan, tapi seakan mereka masih seperti pengantin baru. Semakin hari Bulan semakin manja dan terus menempel pada suaminya. Risih? tentu saja tidak, Alif dengan senang hati memanjakannya bahkan yang selalu protes adalah kedua mertuanya karena Putri mereka itu, manjanya sudah tidak ketulungan.


Seperti pagi ini, mau turun tangga aja ia minta digendong. Kedua orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mantan perawan itu.


"Pagi, Ma-Pa." Sapa Alif dan Bulan bersamaan.


"Pagi," jawab kedua orang tua itu sembari tersenyum.


Bulan menyendokkan nasi goreng diatas piring Alif, serta telur dadar dan sambal sebagai pelengkap lalu meletakkan kembali didepan Alif.


"Makasih, sayang."


"Sama-sama, Mas." Balas Bulan sembari menyodorkan segelas air mineral. Setelah selesai mengurus makanan suaminya, Bulan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.


"Oh ya, Ma. Semalam Kak Bintang nelpon? Kabin bilang bulan depan baru bisa pulang." Ujar Bulan sambil mengolesi roti dengan selai Blueberry kesukaannya.


"Bintang apa kamu yang nelpon!" tungkas sang Papa.


"Hehehe, iya Pah. Bulan yang nelpon." Bulan tertawa nyengir, kalau Kakaknya yang nelpon duluan wajib dapat piagam penghargaan atau masuk rekor Muri. Karena itu termasuk hal langka.


Seorang Bintang akan menelpon adiknya? jangan harap, kecuali adiknya telat pulang kerumah baru ponselnya itu akan tercantum panggilan keluar dengan nama BulBul alias Bulan, begitulah nama yang disimpan oleh sang Kakak tersayangnya itu.


*****


Hari ini pekerjaan dikantor cukup menguras tenaga baik Bulan maupun Alif, sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Biasanya setiap jam makan siang mereka akan mendatangi pasangan mereka jika salah satu diantara mereka memiliki cukup waktu.


Tapi berbeda dengan hari ini, Alif memilih makan dikantor. Sedangkan Bulan makan direstoran yang ada diseberang kantornya, kebetulan klien yang sedang ditangani kasusnya mengajak ketemu siang ini dan Bulan pun mengiyakan pertemuan itu. Tak lupa ia juga mengajak Nura, ia sadar dengan statusnya yang sekarang. Sudah menjadi seorang istri, ia harus bisa menjaga nama baik suaminya dan tentunya nama baik untuk dirinya sendiri.


Kita tidak pernah tau diluar sana, sedikit ada celah orang akan mengambil kesempatan untuk menjatuhkan. Apalagi Bulan seorang pengacara muda yang patut diperhitungkan sepak terjangnya, pasti banyak diluar sana yang tidak menyukainya. Jadi sebisa mungkin ia harus menjaga diri.


Mereka berbicara banyak hal tentang masalah yang sedang dialaminya, didalam ruang VIP itu yang hanya ada mereka berlima, pria itu dengan sekretaris dan asitennya, Bulan dan Nura. Pembicaraan diantara mereka terlihat santai namun serius, hingga pertemuan mereka ditutup dengan sesi makan siang.


"Bu Bulan, terima kasih banyak. Senang bekerja sama dengan anda. Jika ada yang diperlukan lagi anda bisa menghubungi sekretaris saya." Pria itu menjulurkan tangannya.

__ADS_1


"Sama-sama Pak Rico, terima kasih karena anda sudah mempercayakan kasus ini pada saya dan tim. Dan juga terima kasih untuk jamuan makan siangnya." Balas Bulan seraya menyambut uluran tangan pria itu.


Selesai dengan segala urusannya, Bulan dan Nura memilih rehat sejenak disana.


"Bego, kenapa kasusnya selalu berurusan dengan rumah tangga ya. Kemarin pak Aldo, sekarang pak Rico, sebelumnya lagi pak Ridwan. Beberapa bulan lalu pak Asep. Apa di wajah lu tertulis spesialis rumah tangga ya? mereka lebih percaya kasusnya pada lu." tanya Nura penasaran sambil menatap intens wajah bestie.


"Napa lu liatin gue ampe gitu. Ntar naksir loh."


"Idiihhh.. najis tralala trilili gue, biar kata gue jomblo tapi jomblo berkelas masih suka laki gue."


"Ya kali aja, akibat kelamaan ngejomblo lu jadi belok atau serong!"


"Tau ah, abis nikah lu makin ngeselin. Gue mau balik ikut ngga?"


Nura beranjak dari duduknya, ia segera keluar dari ruangan itu. Berjalan menuju pintu keluar dari restoran itu tanpa menoleh kebelakang, Bulan yang ingin menyusul Nura tapi langkah kakinya terhenti ketika melihat Ibra.


"Ibra!" Bulan menepuk kuat bahu Ibra.


"Astaga Lan, lu kecil-kecil kalau nabok orang rasanya bekas tabokan lu itu panas! lu sama siapa?" tanya Ibra, tangannya mengusap-usap bahu yang ditabok Bulan.


"Ya udah, balik bareng aja. Gue juga udah selesai." Ajak Ibra, jadilah mereka barengan keluar dari restoran itu.


"Jubaedah, ngapain lu? mau jadi satpam restoran ini?" cetus Bulan, melihat Nura masih berdiri di tempatnya.


"Kok lu, bisa ada disini?" Nura bukannya menjawab pertanyaan Bulan, malah bertanya pada Ibra.


"Ra, lu napa sih. Pertanyaan lu aneh banget, coba lu liat kebelakang itu tempat apa!" Nura pun menoleh kebelakang lalu tanpa mempedulikan Ibra dan Bulan ia langsung berjalan buru-buru meninggalkan mereka dan berharap cepat sampai kekantor.


"Nura awaaaass....!"


Braakk


Tubuh Ibra ditabrak dengan keras oleh sebuah mobil, karena mendorong Nura yang menyebrang tidak memperhatikan kondisi jalan.

__ADS_1


"Ibra....!" Bukan Nura yang menjerit histeris tapi Bulan, yang melihat langsung bagaimana tubuh Ibra dihantam oleh mobil yang menabraknya dan terhempas kebadan jalan dengan tubuh berlumuran darah.


"Ib-ibra!" lirih Nura dengan bibir bergetar. Nura begitu syok, ia melihat Bulan yang berdiri kaku di tempat kemudian melihat Ibra yang tergeletak dijalan. Jalanan seketika menjadi macet karena kejadian itu.


Seorang laki-laki muda melihat Bulan yang terpaku di tempat, tanpa sengaja matanya melihat darah dikaki Bulan dan juga diatas paving block. Ia segera mendekati Bulan, takut terjadi sesuatu dengan wanita itu.


"Mba, kaki Mba berdarah. Mba kenapa?" Bulan tersentak mendengar kata darah, matanya langsung melihat ke bawah. Tubuhnya seketika luruh, dengan cepat laki-laki tadi langsung menangkap tubuh Bulan sebelum jatuh.


"Mba.. Mba sadar Mba!" laki-laki itu menepuk-nepuk pipi Bulan.


"Sepertinya wanita ini pendarahan, ayo cepat bawa kerumah sakit." titah seorang wanita paruh baya tiba-tiba. Laki-laki itu segera membopong Bulan kedalam mobilnya.


*****


"Maaf, anda suaminya?" tanya seorang suster yang keluar dari ruang perawatan Bulan.


"Bukan, saya yang bawa wanita itu kesini."


"Tolong hubungi pihak keluarganya terutama suaminya."


"Baik suster,"


"Dimana aku cari tau siapa suaminya!" laki-laki itu menyugar rambutnya kebelakang. Ia mondar-mandir didepan ruang itu.


"Ha, perempuan itu. Pasti dia tau, sepertinya tadi mereka bersama. Kalau tidak... Ah! coba aja dulu semoga aja benar."


laki-laki itu segera mencari keberadaan Nura, iya yakin, pasti korban kecelakaan tadi dilarikan kerumah sakit ini. Setelah bertanya dibagian resepsionis, ia langsung berlari ke ruang operasi. Karena perempuan itu pasti ada disana, pikirnya. Dan ternyata tebakannya tepat.


"Hai..."


Nura yang sedang menunduk, mendongakkan kepalanya. Tampak matanya sembab, penampilannya terlihat berantakan.


"Em, kamu temannya wanita itu benarkan? wanita yang bersama kalian tadi." tanya laki-laki itu ragu-ragu.

__ADS_1


"Bulan? maksud kamu Bulan? dimana Bulan? apa yang terjadi dengannya?"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2