Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
23 - Menerima Hukuman


__ADS_3

Setelah selesai pertemuan yang diadakan oleh Ayah mertuanya untuk memperkenalkannya sebagai pemilik dan juga sekaligus Direktur baru hotel tersebut kepada direksi dan juga para pemegang saham. Saat ini Alif telah berada di ruang kerjanya didampingi oleh asitennya yang bernama Reyhan, sang asisten dengan sabar menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan hotel dan juga laporan-laporan lainnya yang harus dipelajari oleh Alif.


"Rey.."


"Iya, pak."


"Boleh saya bertanya?"


"Silahkan, Pak."


"Sudah berapa lama kamu bergabung dengan hotel ini?" tanya Alif sambil menatap lelaki didepannya itu.


"Sejak hotel ini diresmikan beberapa tahun lalu, pak."


Alif mangut-mangut, "Baiklah, saya akan mempelajari berkas-berkas ini dulu. Jika ada yang tidak saya pahami saya akan panggil kamu lagi."


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Alif hanya mengangguk.


Alif kembali fokus pada kerjaannya hingga ponselnya berdering, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat melihat nama yang muncul dilayar ponselnya. Sebuah panggilan video dari sang istri.


"Assalamualaikum cinta..." Sapa Alif sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Bulan.


"Iihh Maaas, bikin Bulan salah tingkah aja."


"Jawab salam dulu sayang, jangan ngomel." Alif mengulum senyumnya, betapa lucu wajah istrinya itu jika sedang malu-malu meong.


"Iya ya.. walaikumsalam imamku, sayangku, belahan jiwaku, my lovely Hubby, mmmuuuaaahhh." Ucap Bulan dengan nada manja.


"Astagaa, kalian ini ya. Masih pagi woiii...!! liat sekeliling kalau mau bucin-bucinan!" omel Nura, pagi-pagi telinganya sudah mendengar kalimat uwu-uwuan yang membuat jiwa jomblonya kembali meronta-ronta.


Bulan tergelak dan Alif pun tidak dapat menahan tawanya saat mendengar teman istrinya itu ngomel-ngomel.


"Makanya buruan cari suami, biar bisa sayang-sayangan, kalau malam ada yang peluk. Jangan tiap malam cuma bisanya peluk guling doank, mungkin kalau guling punya kaki dia udah kabur ngga sanggup jadi korban jomblo ngenes." Ledek Bulan masih tertawa.

__ADS_1


Nura menatap tajam Bulan, menutup laptopnya dengan kasar lalu keluar dari ruangan itu dengan wajah cemberut. Mulutnya terus menggerutu, segala sumpah serapah dikeluarkan untuk bestienya itu, menutup pintu ruangan dengan keras. Bulan bukannya marah, ia semakin ketawa terpingkal-pingkal.


"Sayang, udah ketawanya. Ampe nangis gitu."


"Hah.. hah.. hah.. aduh mas, sakit perut Bulan. Cape ketawa!" Bulan berbicara sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena tertawa.


"Kamu usil banget sih, kasian Nura kamu ledekin terus."


"Ngga apa Mas, biar cepat ganti status. Soalnya ada yang sedang usaha untuk halalin Nura." Alif mengerutkan keningnya.


"Kamu ngga lagi jodohin Nura kan?" tanya Alif menyelidiki istrinya itu.


"Ngga Mas, cowoknya sendiri yang suka sama Nura. Udah lama sih, tapi setiap ketemu mereka ribut terus kayak kucing sama tikus." Jelas Bulan, membuat Alif sedikit lega.


"Ya Baguslah kalau gitu, tapi cowoknya baikkan? Mas ngga mau aja Nura nantinya cuma dimainin, Mas udah anggap Nura seperti adik Mas sendiri."


"Iya Mas, Bulan ngerti kok. Bulan kenal cowok itu, rekan kerja disini yang kemarin bantuin Nura di sidangnya pak Aldo."


"Ya udah kamu lanjut lagi kerja, Mas juga masih banyak yang harus Mas pelajari."


"Baiklah istriku, sampai ketemu nanti. Hati-hati nanti waktu kemari, jangan ngebut." Alif memperingati istri yang kalau menyetir mobil seperti pembalab saja.


"Siap Bos."


*****


Nura masih saja terus ngedumel, melangkah tanpa tujuan hingga menapaki lantai pantry. Ia menarik salah satu kursi dan menjatuhkan bokongnya disana, tanpa memperhatikan sekitar yang dimana ada seorang lelaki disana mendengar segala gerutuan yang keluar dari mulut Nura.


"Nih minum," lelaki itu menyodorkan segelas coklat dingin yang baru dibuatnya didepan Nura.


"Pain lu kasih gue ini!" seru Nura masih dengan nada kesal.


"Biar hati lu dingin, ngga ngomel-ngomel terus." Sahutnya, kemudian ia berlalu meninggalkan Nura seorang diri.

__ADS_1


Nura masih terpaku menatap gelas yang berisi coklat dingin itu, ia membalikkan badannya kebelakang mencari sosok lelaki tadi. Setelah memastikan sosok itu tidak ada lagi disana, ia mendekatkan gelas itu lalu menyedot minuman itu dan menikmati rasa coklat dan sensasi dinginnya membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.


"Emm.. Enak, ngga kalah sama yang dicafe. Walau terkadang nyebelin tapi manis juga tuk cowok, kapan-kapan minta bikinin lagi aahh... Eh.. apaan, tensi lah gue minta dibikinin lagi, ntar dikira gue suka lagi sama dia. No..no.. nanti kalau pengen beli aja, ya bener beli aja." Nura bemonolog dengan dirinya sendiri.


"Seandainya gue bisa ketemu cowok kayak dia, apalagi jadi suami. Huaaa...pasti sweet banget, pasti gue kagak bakal kalah sama bestie durjana yang ngeselin itu. Hmm, dimana harus gue cari model kayak gitu ya..?" Bulan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, otak sedang berpikir keras.


"Haisss... otak gue akibat kelamaan ngejomblo udah kagak bener nih, ditambah liat keuwuan si Bulan kampret sama suaminya bikin gue mupeng kan!"


"Huffftt... Nasib-nasib, jodoh belum keliatan hilal." Nura menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Ada seulas senyum dibibir lelaki tadi yang membuatkan minuman untuk Nura, ia senang gadis itu menyukai minuman yang dibuatnya. Ibra lelaki yang disangka oleh Nura telah pergi ternyata berdiri dibalik pintu dan jelas mendengar semua cuitan dari bibir Nura. Ibra bergegas meninggalkan tempat itu sebelum ada yang memergokinya sedang melihat Nura, bisa-bisa gagal rencananya untuk mendekati gadis manis itu.


*****


Braaakkk


"Ya ampun, Lan. Itu pintu bisa jebol kamu buka kayak gitu." Alif yang sedang fokus terlonjak kaget spontan tangannya mengelus dada.


"Kaget ya Mas?" tanya Bulan nyengir tanpa merasa berdosa telah membuat suaminya itu terkejut. Ia terus melangkah mendekati Alif, lalu duduk diatas pangkuannya dengan kepala ia letakkan diceruk leher suaminya itu.


"Untung Mas ngga punya penyakit jantung, sayang. Kalau ngga mau jadi apa kamu?" Alif memeluk tubuh istrinya, saat ini Bulannya sedang dalam mode manja dan ia membiarkannya saja.


"Tinggal nikah lagi." Sahut Bulan enteng.


Alif mendelik, menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah istrinya itu. "Coba ulangi!" titah Alif, matanya menatap tajam.


"Tinggal nikah lagi, Mas!" ulang Bulan dengan penuh penekanan, Bulan sekuat hati menahan tawanya agar tidak meledak.


"Jadi kamu udah ada niat, hah! baik kalau begitu, Mas akan menghukum kamu."


"Dihukum Mas?" tanya Bulan meyakinkan lagi dan Alif mengangguk.


"Dengan senang hati Bulan akan menerima hukuman dari Mas. Ayo, kapan Bulan mau dihukum, sekarang? Bulan siap lahir batin." Tantang Bulan.

__ADS_1


Alif mengerutkan keningnya, kenapa istrinya itu sangat senang dihukum. bisanya orang kalau dihukum akan memohon jangan dihukum, lah ini malah menerima dengan senang hati.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2