Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
8 - Rainbow Cake


__ADS_3

"Maaaaassss...!" teriak Bulan dengan keras, wajahnya memerah karena amarah ditambah sengatan panas matahari. Alif tersentak lalu menoleh saat mendengar suara Bulan, dikampung itu tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.


"B-Bulan!" Alif tidak menduga jika Bulan akan menyusulnya kesini.


Bulan menatap nyalang pada Alif, lalu pandangannya menatap tajam pada perempuan yang berdiri disamping Alif.


"Jadi ini, alasan Mas tidak mengijinkanku ikut!" nada Bulan begitu datar dan dingin, Alif sampai kesulitan menekan salivanya.


Ini bukan Bulan, sangat berbeda jauh dari Bulan yang kukenal. Apa ini sisi lain dari dirinya. Alif menerka-nerka dalam hatinya.


"Kenapa diam, Mas. Jawab!" tatapan dingin Bulan membuat Alif membeku.


"Kamu apa-apaan marahin Bang Alif," ucap perempuan yang bernama Nila itu dengan sewot.


"Kau diam, aku sedang berbicara dengan Suamiku." Alif memejamkan matanya, menahan dirinya agar tidak terpancing emosi. Bulan terus menatap Alif tanpa melihat perempuan itu.


Bulan kau menambah masalahku. Batin Alif.


"Tidak mungkin, Bang Alif calon suamiku." Bulan menoleh pada perempuan itu lalu menelisik dari ujung rambut sampai kaki, Bulan tersenyum sinis melihat penampilan perempuan itu.


"Masih calon! aku udah jadi Istrinya."


"Seleramu Rainbow Cake, Mas?" imbuhnya lagi, salah satu sudut bibir Bulan tertarik tersenyum mengejek dengan mata melirik sinis.


"Apa maksudmu, mengatai aku Rainbow Cake?" ucap Nila tidak terima kata-kata Bulan.


"Apa di rumahmu tidak ada cermin, tante! berkacalah agar kau tau kenapa kau pantas disebut Rain...Bow..Cake!" sarkas Bulan penuh penekanan.


"Hei, kurang ajar kamu berani panggil aku tante. Kamu tidak tau siapa aku!" berang Nila.


"Tidak PENTING."


"Kamu!!"


"STOP!!!" Alif akhirnya bersuara menghentikan adu mulutnya kedua wanita itu.


"Bulan sebaiknya kamu pulang, apa kamu tidak malu dilihat semua orang." Titah Alif.


"Mas ngusir aku? kenapa bukan perempuan Rainbow Cake ini yang mas suruh pulang!" lantang Bulan, ia merasa Alif membela perempuan itu.


"Kenapa kamu terus saja menyebutnya Rainbow Cake?"


"Mata mas ngga buram kan? mas tau kalau Rainbow Cake banyak warna. Mas liat perempuan ini, Wajah putih dandanan dempul kayak ondel-ondel, leher coklat, tangan hitam. Salah, aku menyebutnya Rainbow Cake?" jelas Bulan menunjuk-nunjuk bagian pada perempuan itu, membuat Alif mengigit bibirnya agar tidak tertawa.


"Mau ketawa, ketawa aja Mas. Engga usah ditahan!" ledek Bulan.

__ADS_1


"Bulan cukup! saya tidak ingin bertengkar dengan kamu. Sekarang kamu pulang!" titah Alif dengan tatapan dinginnya, ia sangat lelah dengan cuaca panas ditambah harus berdebat dengan Bulan.


"Aku engga mau, kalau ada yang harus pulang, DIA!!" seru Bulan menunjuk Nila.


"Dan ini..."


Praaaaang


Bulan menarik rantang ditangan Alif lalu membantingnya membuat semua isi dalam rantang itu tumpah berserakan. Alif hilang kendali melihat Bulan semakin menjadi-jadi.


"Bulan!!!" Bentak Alif keras, membuat perhatian warga disana yang sedang menikmati makan siang melihat kearah mereka.


Bulan terjengkit, matanya langsung berkaca-kaca. Raut wajahnya yang tadi dipenuhi amarah kini terlihat kecewa, tangan Alif mengepal, ada rasa menyesal dihatinya telah membentak Bulan.


"Mas tega bentak aku?" lirih Bulan menatap Alif dengan air mata sudah membanjiri kedua pipinya. Sedangkan Nila, tersenyum puas bisa melihat Alif tidak bisa berkutik.


"Lan..."


"Aku benci sama, Mas!" raung Bulan. Ia meninggalkan Alif berlari sekuat tenaga.


"Bulaaan...Arrrgghhh!" teriak Alif melempar topi sawahnya ke sembarang arah.


"Bang." Nila memeluk lengan Alif.


"Bang...Bang Alif."


Alif berlari mengejar Bulan tidak peduli dengan teriakan Nila yang memanggil dirinya, saat ini yang ada dipikirannya hanya Bulan.


Bulan terus saja berlari, ia ingin segera sampai di rumah si Mbok mengambil barangnya dan kembali kekota. Dengan air mata yang mengenang membuat padangan Bulan tidak fokus, ia menginjak gundukan tanah sehingga membuat tubuhnya tidak seimbang dan terjerembab.


"Bulan!"


Nura yang sejak tadi hanya melihat apa yang terjadi pada bestienya dan Alif dari jauh tidak sedikit pun ikut campur. Ia hanya mengejar Bulan begitu melihat Bulan lari menjauh dari hadapan Alif dan perempuan yang tidak dikenalnya.


"Sakit, Ra!" tangis Bulan semakin pecah. Nura memeluk tubuh Bulan, air matanya ikut menetes.


"Ayo bangun, kita pulang sekarang." Nura bisa merasakan kesedihan bestienya itu, tapi saat Bulan akan berdiri ia merintih kesakitan.


"Awwh.."


"Lan, lu kenapa?"


"Kaki gue sakit, kayaknya terkilir."


Nura menunduk, melihat kaki Bulan yang terlihat memerah kemudian melihat sekitar berharap ada warga yang bisa diminta tolong. Tapi nihil, tidak ada satupun warga yang terlihat di sana.

__ADS_1


"Lu sanggup jalan?" Nura terlihat cemas, Bulan membalas dengan sebuah anggukan.


Nura memapah tubuh Bulan, membantunya berjalan dengan perlahan. Dari kejauhan Alif melihat Bulan jalan dengan tertatih, wajahnya langsung berubah panik.


"Bulan, kaki kamu kenapa?" Bulan menepis kasar tangan Alif yang merangkul pinggangnya. Tanpa A I U ba bi bu Alif menggendongnya ala Bridal Style, Bulan meronta-ronta dalam gendongan Alif.


"Diamlah, kalau tidak kamu akan jatuh." Ucap Alif.


"Biarin jatuh, mati sekalian!" raung Bulan memukul-mukul tubuh Alif, Nura berjalan mengikuti mereka dari belakang. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, karena ia tidak tau permasalahannya.


"Kamu bicara apa sih, Lan?"


"Mas jahat, Bulan benci sama Mas." Bulan mengalung tangannya dileher laki-laki itu, wajahnya ia benamkan diceruk leher Alif menumpahkan air matanya disana.


Sesampainya di rumah si Mbok, Alif membaringkan tubuh Bulan diatas kasur yang ia tidur semalam. Karena kelelahan menangis Bulan tertidur dalam gendongan Alif saat jalan pulang menuju rumah.


"Bulan kenapa, Nang?" tanya Mbok Maryam khawatir.


"Ada sedikit masalah tadi, Mbok. Alif... Alif membentak Bulan." Alif menundukkan dalam kepalanya, perasaan bersalah menjalar dihatinya. Seandainya ia tidak terbawa emosi tadi pasti Bulan tidak akan seperti ini.


"Lebih baik sekarang kamu bersihkan diri dulu, setelah itu kita bicara lagi." Ucap Mbok Maryam lembut pada Alif. Ia tau Putranya memiliki rasa pada Bulan dan Mbok Maryam bisa menebak apa yang terjadi disawah tadi.


*****


Hari menjelang sore ketika Bulan terbangun dari tidurnya.


"Lan, Alhamdulillah akhirnya lu bangun juga." Nura menarik nafas lega.


"Emangnya gue kenapa?" tanya Bulan bingung.


"Lu tidur hampir tiga jam lebih, gue takut lu kenapa-napa." Bulan seketika teringat kejadian siang tadi, ia kembali menangis.


"Eh, kok lu malah nangis!" panik Nura.


"Udah bangun kamu?" tiba-tiba Alif masuk dari arah dapur langsung duduk didekat kaki Bulan.


"Mas mau ngapain!" pekik Bulan ketika kaki kanannya di pegang Alif.


"Mau obatin kaki kamu, biar ngga makin parah."


"Engga usah, nanti juga sembuh sendiri." Ketus Bulan berusaha menarik kakinya yang dipegang Alif menahan rasa ngilu dan berdenyut.


"Jangan keras kepala, ngga baik jadi perempuan terlalu keras." Nasehat Alif sambil mengobati kaki Bulan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2