
“Mas, stop!! Jangan mendekat!” seru Bulan dengan membuat tangan seperti menahan, ketika Alif akan masuk kedalam kamar mandi.
“Tapi sayang...”
“Ngga ada tapi-tapi,” Ucap Bulan galak dengan wajah yang pucat duduk dibawah westafel bersandar pada dinding. Tubuhnya sangat lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
Pagi ini tiba-tiba Bulan merasakan perutnya seperti di obok-obok, setelah mencium aroma parfum milik suaminya. Padahal selama ini ia tidak pernah merasakan hal-hal yang aneh, Alif yang sangat khawatir karena melihat Bulan yang sudah terkulai lemas dengan mata terpejam. Langsung menerobos masuk, saat ia akan mengangkat tubuh Bulan, mata istrinya langsung terbuka perutnya terasa kembali di obok-obok. Tapi tidak ada apapun yang dikeluarkannya hanya cairan berwarna kuning.
“Mas please! jangan dekat-dekat. Parfum Mas bikin Bulan mual!” ucap Bulan dengan suara pelan dan serak, matanya merah dan berair.
“Tapi ini parfum yang kamu suka sayang!”
“Mas mandi lagi, Bulan ngga suka baunya.” Bulan mendorong tubuh tegap suaminya itu agar menjauh darinya, kepalanya terasa sangat pusing.
Alif tidak banyak berkata lagi, ia langsung melepas setelan jas kerjanya dan memasukkannya kedalam keranjang pakaian kotor. Kemudian mengguyur tubuhnya dibawah pancuran shower bahkan Alif juga keramas ia tidak ingin sedikit pun ada sisa wangi parfum yang menempel di tubuhnya.
Sementara Bulan dengan mata terpejam berbaring dilantai kamar mandi ia tidak sanggup membawa tubuhnya kembali kedalam kamar. Alif tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi, karena sebelumnya ia sudah mandi dan berpakaian rapi.
“Sayang, kok jadi malah tiduran disini?” Alif hanya mengenakan handuk, ia melihat istrinya yang sudah tertidur diatas lantai langsung menggendong tubuh Bulan membawanya kekamar dan menidurkannnya diatas ranjang mereka. Alif kembali memakai pakaian kerjanya, kali ini ia tidak memakai parfum. Alif tidak ingin membuat Bulan harus muntah-muntah lagi, Alif juga membantu Bulan mengganti bajunya yang basah.
Setelah selesai, Alif bergegas turun kebawah. Ia akan mengambil sarapan yang telah dibuatnya untuk Bulan dan membuatkan susu ibu hamil. Alif harus memastikan sendiri sang istri makan dengan baik.
“Sayang... Sarapan dulu ya?” Alif mengelus lembut pipi Bulan agar istrinya itu membuka matanya.
“Pusing banget Mas.” Ucap Bulan dengan manja, matanya masih terpejam.
“Makan dulu sedikit, Mas udah masakin kamu nasi goreng seafood sesuai permintaan kamu semalam, kasian utunnya lapar tidak ada makanan yang masuk.” Bujuk Alif dengan penuh perhatian.
“Utun? Utun siapa Mas?” tanya Bulan, matanya menyipit karena menahan rasa pusing yang mendera.
“Utun, calon anak kita sayang.” Sahut Alif mengelus lembut dan penuh cinta perut Bulan.
__ADS_1
“Ngga ada nama yang kerenan dikit gitu Mas, masak utun kasih nama anak!” protes Bulan memberengut.
Alif tergelak, “Kita belum tau jenis kelaminnya sayang, jadi sementara panggil aja utun untuk janinnya.” Alif mencubit hidung Bulan dengan gemasnya.
“Ngga mau, ngga keren Mas. Kita panggil aja baby, sayang, adik bayi kan bisa Mas, pokoknya ngga mau utun!”
“Ya udah, tapi sekarang kamu makan ya. Pasti calon anak kita udah lapar.”
Alif dengan sangat telaten menyuapi Bulan hingga makanan yang ada diatas piring habis tak tersisa. Susu yang dibuatnya juga tandas menyisakan gelas yang kosong melompong.
“Mas berangkat ya sayang,” ucap Alif seraya mencium kening Bulan. Tak lupa Alif juga berpamitan pada sang jabang bayi, “Sayang, Ayah berangkat kerja ya. Jangan bikin susah Ibu!” pesannya pada janin yang ada didalam perut sang istri.
“Kalau pengen apa-apa minta tolong aja sama bibi, ingat! Jangan naik turun tangga.” Alif mengecup sekilas bibir Bulan sebelum keluar dari kamar itu.
Bulan mengangguk, “Semangat Mas, semoga berhasil.”
*****
Nura sedang menyuapi Ibra sarapan, diantara mereka sudah tidak terlihat rasa canggung lagi. Nura dengan ikhlas merawat Ibra, ternyata laki-laki yang sangat menyebalkan itu tidak seburuk yang dilihatnya selama ini.
“Ra! itukan bubur sisa gue, kenapa lo makan?” Nura memakan bubur milik Ibra yang masih dipegangnya.
“Sayang kalau dibuang, buburnya enak.” Nura memakan bubur itu dengan sangat lahap.
“Lo ngga jijik bekas gue?” tanya Ibra lagi, Ibra senang melihat Nura makan makanan yang sama dengannya tak hanya itu bahkan sendok dan tempat yang sama pula, ada yang berdesir dihatinya
Nura menggeleng sambil terus menyuapi bubur kedalam mulutnya, “Lo ngga rabieskan?” tanya Nura setelah menelan buburnya.
“Enggalah,” jawab Ibra disertai gelengan kepalanya.
“Berarti aman.” Bulan meneguk air mineral yang ada diatas nakas, kemudian membuka bubur miliknya.
__ADS_1
“Lo ngga kenyang Ra? Itu porsinya besar loh? Gue aja setengah udah mau mampus nelannnya.” Ibra bergidik ngeri melihat Nura makan bubur ayam, sebenarnya dia ngga heran liat porsi makan Nura seperti kuli bangunan. Masalahnya bubur itu porsinya besar, dan Nura sudah menghabiskan sisa bubur yang dimakan oleh dirinya.
“Lo tenang aja, bakalan gue abisin.” Jawab Nura santai.
Ibra terus memperhatikan Nura yang sedang menikmati bubur ayamnya, gadis yang disuka ini memang beda dari yang lain. Tidak ada kata jaim dalam kamusnya, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Itulah yang membuat rasa cinta itu perlahan hadir dihatinya.
“Jangan liatin gue terus, nanti lo bisa jatuh cinta sama gue.” Ucap Nura yang sadar sejak tadi Ibra terus memperhatikannya,
“Bagaimana jika cinta itu udah hadir disini?” tanya Ibra menunjuk dada kirinya.
Uhuukk uhuuukk
Nura tersedak bubur yang dimakannya, Ibra mengambil air minum lalu menyodorkannnya pada Nura. Nura meminum air itu dengan wajah yang merona.
“Makanya pelan-pelan makannya,”
Eh, Marzuki gue tersedak karena ucapan lo. Jerit batin Nura.
Nura diam saja, ia tidak melanjutkan lagi makannya. Melihat Nura yang hanya diam, Ibra kembali mengatakan isi hatinya.
“Gue serius sama ucapan gue, Ra. Gue suka sama lo, gue cinta sama lo. Sejak kapan rasa itu hadir gue ngga tau, yang jelas sejak pertama liat lo gue udah suka.”
“Gue ngga minta lo balas perasaan gue Ra, gue hanya ingin lo tau gimana perasaan gue ke lo.” Hati Ibra terasa lega setelah mengungkapkan isi hatinya.
“Jadi lo nembak gue nih, ceritanya?” Nura dengan susah payah berbicara karena rasa gugupnya, jantungnya beedegup tak karuan seakan ingin keluar dari rongga dadanya.
Ibra tersenyum, lalu menggeleng. “Bukan gitu, mak...” Nura langsung menyela sebelum Ibra selesai bicara.
“Itu namanya lo nembak gue, haisss... Ngga ada romantisnya lo!”
Ibra mencerna kata-kata Nura, kemudian matanya membola sempurna. “Jadi, artinya lo?”
__ADS_1
“Tau ah! Dasar laki-laki tidak peka.”
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸