Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
26 - Kritis


__ADS_3

"Hei tenang... kamu tenang dulu!" pinta lelaki itu.


"Aku kesini mau minta tolong sama kamu, bisakah kamu hubungi suami wanita itu atau keluarganya. Dokter memintaku untuk menghubungi mereka secepatnya." Lelaki itu coba menjelaskan pada Nura.


"Ba-baiklah!" Nura dengan tangan masih gemetar menghubungi Alif.


Sementara di Hotel Alif merasa sangat gelisah, dadanya seakan ditekan dengan sesuatu yang sangat berat sehingga sulit untuk bernafas. Ia melonggarkan dasinya mungkin bisa membuatnya sedikit lega, tapi nyatanya tidak juga.


"Apa yang salah denganku, kenapa aku sangat gelisah seperti ini!" bisik Alif pada dirinya. Tangan lebarnya mengusap wajahnya dengan kasar, menghela nafas dengan berat.


Alif berdiri dari duduknya, ketika hendak berjalan tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas minumnya.


Praaaang


Deg


Apa ini? batin Alif.


Perasaannya semakin tidak karu-karuan, disaat Alif ingin berjongkok untuk mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan ponselnya pun berdering.


"Mas Alif.." Suara lirih Nura dari seberang sana.


"Nura!"


"Bulan Mas..." terdengar isak tangis Nura saat menyebut nama sang istri, membuat wajah Alif pias.


"Bulan kenapa Nura?" desak Alif cemas.


"Halo, maaf Mas. Bisakah anda sekarang kerumah sakit Harapan Bunda." Sambung suara seorang laki-laki dari seberang sana, ia mengambil alih ponsel Nura karena melihat gadis itu tidak mampu meneruskan kata-katanta lagi. Kaki Alif seketika lemas saat mendengar kata rumah sakit.


Grep


Reyhan menangkap tubuh Alif yang limbung, kebetulan ia masuk kedalam ruangan itu ingin mengantarkan laporan yang diminta oleh Alif. Namun siapa sangka ia menemukan atasannya dengan wajah pucat seputih kapas.


"Pak, anda kenapa?" tanya asisten dengan raut wajah cemas setelah mendudukan Alif diatas kursi.

__ADS_1


"Saya harus kerumah sakit,"


"Baik, saya akan mengantarkan Bapak." Alif mengangguk, dan Reyhan pun tidak banyak bertanya melihat kondisi atasannya seperti itu.


*****


Alif berlari dikoridor rumah sakit menuju ruang yang telah diberitahukan oleh bagian resepsionis. Tadi setelah selesai berbicara dengan Alif melalui Nura, laki-laki muda itu langsung menyelesaikan segala urusan administrasi Bulan.


Dari jauh Alif bisa melihat seorang laki-laki muda sedang duduk dengan tangan bertaut menompang dagunya dibangku tunggu depan ruang perawatan istrinya, Alif semakin mempercepat langkahnya. Lelaki muda itu mendengar derap langkah semakin mendekat padanya memutar kepalanya kesamping kiri ia memperhatikan sosok tegap dan berwibawa itu dengan seorang pria yang mengikutinya dibelakang.


"Mas Alif?" tegur laki-laki muda itu berdiri dari duduknya. Ia meyakini itu suami dari wanita yang ditolongnya tadi.


"Iya, dimana istri saya?" tanya Alif ramah.


"Didalam Mas, masih ditangani Dokter." Jawab laki-laki muda itu.


Selang beberapa menit, pintu ruang itu terbuka. Seorang Dokter wanita keluar dari ruang itu, Alif bergegas mendekat untuk menanyakan kondisi istrinya.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Alif, raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.


"Ja-janin?" Alif tergagap mendengar Dokter menyebut kata janin.


"Iya, istri anda saat ini sedang hamil. Apa anda tidak mengetahuinya? mungkin usia kehamilan sekitar delapan minggu, untuk lebih pastinya nanti akan dilakukan USG." Sang Dokter bertanya sekaligus menjelaskan.


Alif menggeleng, Dokter itu kembali tersenyum. Ia sudah sering mendapati situasi seperti ini, dimana para pasangan suami istri yang baru menikah banyak yang tidak menyadari jika sang istri sedang berbadan dua. Apalagi hal itu jika tidak ada gejala-gejala awal tanda kehamilan, salah satunya seperti Morning Sickness dan tanda-tanda kehamilan lainnya.


"Kalau begitu, saya ucapkan selamat Pak atas kehamilan istri anda, anda akan menjadi seorang Ayah." Dokter itu mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat dengan tulus, Alif menyambut uluran tangan itu dengan rasa percaya ngga percaya kalau Bulannya sedang mengandung buah cinta mereka.


"Terima kasih banyak, Dokter. Apa saya bisa melihat istri saya."


"Sama-sama, silahkan Pak. Saya permisi dulu, mari."


Saat pintu dibuka, tampak wanita yang sangat dicintainya terbaring lemah dengan wajah pucat dan jarum infus yang bertengger dipunggung tangan kanannya. Dengan langkah gontai ia mendekat kearah brangkar, Reyhan dan laki-laki muda tadi memilih duduk didepan ruang perawatan Bulan.


"Sayang.. Mas disini!" lirih Alif membelai kepala sang istri yang masih tidur. Tak lupa ia juga mengecup lembut kening Bulan.

__ADS_1


Tangan Alif terulur mengelus perut rata Bulan, ia masih tidak menyangka bahwa didalam tubuh sang istri telah tumbuh kehidupan baru.


"Hai sayang, jagoan Ayah. Makasih nak, kamu masih bertahan didalam sana." Alif berbicara dengan calon anaknya dengan suara bergetar, air matanya menetes. Ia yang hampir tidak pernah menangis, hari ini menangis haru.


Merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak diatas perutnya, Bulan membuka matanya. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya dari lampu didalam kamar perawatannya.


"Mas..!" lirih Bulan saat menyadari sosok yang duduk disisi brangkar adalah suaminya.


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Alif menghapus kasar air matanya. "apa yang sakit? katakan."


Bulan menggeleng, "Mas kenapa nangis?" tanya Bulan, suaranya sangat lemah.


"Mas nangis bahagia sayang. Apa kamu tau?" tanya Alif.


"Apa?"


Alif tersenyum, "Didalam sini, ada calon anak kita." Alif mengusap perut Bulan.


"Ma-maksud Mas?" mata Bulan mulai berkaca-kaca.


"Iya sayang, kamu saat ini sedang hamil calon anak kita, buah cinta kita. Makasih sayang, makasih Bulanku." Alif mengecup bertubi-tubi punggung tangan Bulan yang berada dalam genggamannya.


*****


Jika Alif dan Bulan sedang bersuka cita atas kehamilannya, maka Nura sedang berduka. Ibra yang sudah menyelamatkan nyawanya kini sedang berjuang antara hidup dan mati, operasi yang dijalaninya berhasil namun kondisi Ibra saat ini kritis.


Ditubuhnya terpasang berbagai macam alat medis penunjang kehidupan. Berharap keajaiban, kita hanya manusia tidak bisa memprediksikan usia. Nura tidak sedetikpun beranjak dari sisi Ibra, kalau bukan dia yang menunggui Ibra siapa lagi, pikirnya.


Ibra yang hanya sebatang kara, tidak tau siapa orang tuanya. Sejak kecil ia dirawat oleh seorang wanita paruh baya yang menemukan Ibra bayi didepan rumahnya dalam keadaan masih merah dengan sepucuk surat yang bertuliskan namanya.


Setelah lulus sekolah ia bekerja sambil kuliah, ia ingin membahagiakan perempuan yang dipanggilnya ibu itu. Walaupun bukan ibu kandungnya, tapi wanita itu dengan ikhlas merawat dan membesarkannya.


Namun takdir berkata lain, sehari sebelum hari wisudanya. Wanita itu meninggalkan Ibra untuk selamanya, karena faktor usia dan juga sakit yang dideritanya. Walaupun kini ia sudah tidak memiliki orang tua tapi Ibra bertekad harus menjadi orang sukses, Ibra ingin membuat sang ibu bangga padanya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2