
Bulan terlihat begitu semangat, senyum dibibirnya terus merekah ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Labuan Bajo. Di dalam kepalanya sudah tertulis apa saja yang akan dilakukannya saat disana nanti.
Saat ini mereka sudah berada di Bandara diantar oleh Papa-Mama dan Bintang. Bulan terus bergelayut pada lengan kekar Suaminya.
"Selamat bersenang-senang, sayang. Semoga kamu suka apa yang disiapkan oleh Kakakmu, segera beri Mama-Papa cucu." Ucap Suci sambil menggoda Bulan dengan membisikkan sesuatu pada telinganya.
Bulan dan Alif kemudian berpamitan, karena pesawat mereka akan segera berangkat. Menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka tiba di Labuan Bajo, lebih tepatnya sebuah villa pribadi dengan hamparan pemandangan laut yang luas.
Keduanya masuk kedalam kamar yang sudah dihias dengan sangat cantik dan romantis, kelopak Bunga mawar berserakan diatas tempat tidur super besar dan sangat mewah.
"Maasss... keren banget kamarnya." Sorak Bulan senang.
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu, senyum diwajah manisnya semakin mengembang, ia membawa kedua kakinya melangkah menuju balkon kamar. Memandang pantai lepas dengan birunya air laut, nampak begitu segar di depan mata ketika membuka tirai jendela.
Villa ini juga memberikan pemandangan pantai yang sangat dekat dan juga indah, Bintang sang Kakak benar-benar memberikan hadiah terbaik untuk mereka.
"Kamu suka, sayang?" tanya Alif yang sudah merengkuh tubuh Istrinya dari belakang, memeluknya dengan begitu erat sambil meletakkan dagunya diatas pundak sang Istri.
Bulan menanggapinya dengan sebuah anggukan, "Ini indah banget, Mas. Kak Bintang emang terbaik." Alif tersenyum sembari memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi sang Istri hingga perlahan bibirnya turun menyusuri leher putih milik Bulan, meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Hembusan nafas Alif menyapu tengkuk lehernya dengan begitu lembut membuat Bulan menggeliat. Bulan memejamkan kedua matanya menikmati sentuhan demi sentuhan yang sukses membuat tubuh Bulan meremang, merasakan sensasi aneh yang menjalar hampir sekujur tubuhnya. Bahkan tangan kekar itu tidak hanya memeluknya, ia sudah menyusup kemana-mana membuat Bulan semakin pontang panting tidak karuan.
"Maaas!" tubuh Bulan memanas, rasanya sentuhan-sentuhan itu membuatnya gila.
"Ya." Alif berbisik lirih dengan nada sensual plus bonus kecupan didaun telinga sang Istri, membuat tubuh Bulan sedikit bergetar.
Alif membalikkan tubuh sang Istri, kedua tangannya melingkar sempurna dipinggang ramping Bulan. Memeluknya dengan posesif, menatap dalam mata indah itu, Alif segera meraih tengkuk Bulan meraup dan mengecup bibir tipis merah muda itu tanpa ampun.
Mengesap dengan gerakan lembut namun mampu membuat Bulan tidak bisa menompang badannya. Bulan mengalungkan kedua tangannya pada leher Suaminya, kakinya berasa lemas saat satu tangan Alif semakin menekan tengkuknya. Memperdalam ciumannya dengan penuh gairah, bibir itu sungguh luar biasa gila.
__ADS_1
Alif melepaskan tautan bibir mereka sejenak, mata mereka bertemu. Sebuah tatapan berkabut yang menginginkan hal lebih ada disana, membuat senyum terlukis diwajah mereka dengan sempurna.
Baru bibir aja udah bikin aku cenat cenut atas bawah, gimana yang lain. Batin Alif berucap.
"Sayang,,, sekarang ya?"
Bulan mengganguk dengan wajah bersemu merah, tanpa membuang waktu lagi Alif segera menggendong sang Istri membawanya kedalam kamar.
Alif membaringkan tubuh Bulan ke atas ranjang kemudian memberikan sebuah kecupan dikeningnya. Bulan pasrah, bahkan ketika Alif mulai melucuti satu persatu pakaiannya ia hanya diam sambil memejamkan mata karena menahan malu.
Kini pasangan pengantin baru itu sudah sama-sama polos, Bulan mulai membuka mata, melihat dengan jelas dari jarak yang cukup dekat tubuh Alif sungguh luar biasa indah dan mengundang has rat Bulan untuk menyentuh setiap inci demi inci tubuh itu.
Alif memposisikan diri diatas tubuh polos sang Istri, hangat tubuh itu membuat Bulan merasa nyaman dibawah tubuh sang Suami. Alif kembali memagut bibir Bulan, ia mengeram pelan kedua matanya terpejam kala tangan jahiliyah Bulan memberikan sentuhan seringan kapas didada miliknya lalu perlahan turun keperutnya. Gesekan kulit mereka benar-benar membuat Bulan gila dan lupa diri.
"Mas." Lirih Bulan.
"Kamu siap?"
"Gaskan...!"
Alif kembali melahap bibir Bulan yang sudah bengkak dan memerah, saling menyalurkan segala rasa dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Suasana kamar panas membara kala suara-suara jahanam dari kedua insan yang tengah memadu kasih di sore pertama. Alif mengobrak abrik seluruh tubuh sang Istri, Bulan merasakan tubuhnya seperti terbelah saat sesuatu yang asing menerobos dibawah sana.
"Kita hentikan, ya?" tanya Alif tidak tega melihat sang Istri kesakitan.
"NO... Jangan, Ayo lanjutin Mas. Kentang nih."
Alif tersenyum lalu berkata, "Jangan menyesal, kalau nanti kamu ngga bisa jalan, Mas ngga akan kasih kamu ampun."
__ADS_1
"Mas juga jangan menyesal, kalau MoMoGi." Balas Bulan tak mau kalah.
Alif kembali melanjutkan aksinya, saat ini kedua pengantin baru itu tengah menikmati masa-masa manis sore pengantin mereka.
Pagi menjelang, sepasang pengantin baru itu masih berada dibawah selimut setelah menghabiskan sore panas mereka hingga...hingga... Ah! engga tau sampai jam berapa mereka menyelesaikannya.
Alif benar-benar membuktikan ucapannya, Bulan mengeliat pelan didalam dekapan Alif yang masih memejamkan kedua matanya. Pemandangan indah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah pria yang sudah mengobrak-abrik hati serta tubuhnya.
Bulan tersenyum kecil mengingat adegan demi adegan yang terjadi, ia menjulurkan tangannya membelai lembut wajah Suaminya.
"Kamu luar biasa, Mas. Membuat seorang Bulan sampai ter-Alif-Alif." Bulan terkekeh dengan ucapan sendiri.
"I LOVE YOU, MY HUBBY." Perlahan Bulan mendekati wajah Alif, mencium bibir itu dengan lembut.
"Maaas!!!" pekik Bulan ketika Alif dengan mata masih terpejam menarik Bulan semakin menempel pada tubuhnya. Perlahan matanya terbuka memandang wajah polos Istrinya tanpa make-up dengan rambut acak-acakan.
"I LOVE YOU MORE, MY HONEY. Kamu juga luar biasa, sayang. Makasih udah mencintai dan menerima laki-laki biasa ini, makasih juga sudah menjaganya dan menjadikan Mas yang pertama."
"Maaf, Mas pernah salah menilai kamu. Mammmpphh...."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Malam Bestie, Mohon maaf yaπ kalau sedikit berantakanπ
Kak Jingga puyeng ampe semaput DUA HARI DUA MALAM nulis ini, semoga suka ya.. Maafπ engga bisa nulis yang HOT-HOT POPπ€§
Lebih baik makam pisang aja kita dulu biar lebih rileks
πππππππππππππππππ
__ADS_1