
Tidak terasa seminggu sudah Bulan dan suaminya berada dikampung, hari ini mereka akan kembali ke kota. Besok Alif sudah harus kembali bekerja, begitu juga dengan Bulan yang sudah habis masa liburnya.
“Mbok, ayok ikut ke kota.” Rengek Bulan bergelayut manja dilengan mertuanya.
“Mbok nanti kesana, kalau kamu sudah dekat mau melahirkan.” Mbok Maryam dengan penuh kelembutan membelai tangan menantunya yang melingkar dilengannya.
“Masih lama Mbok!” Bulan menyandarkan kepalanya dibahu sang mertua.
Alif dibantu oleh Bang Marto sedang memasukan barang bawaan mereka kedalam bagasi mobil, mereka membawa sangat banyak oleh-oleh. Ada jambu, mangga, kelapa muda, ikan gurami yang sudah diungkepin, ada juga beberapa sayuran hasil panen dikebun. Mobil yang awal nya ketika mereka datang hanya berisi satu koper pakaian kini penuh bahkan sampai di jok penumpang.
“Ini kalian udah seperti orang yang mau jual hasil panen ke kota.” Kekeh Bang Marto melihat isi dalam mobil.
“Ya mau gimana Bang, permintaan Nyonya. Ngga dituruti Abang tau sendirilah.” Bang Marto tergelak, “Yang sabar kamu, nanti ada saatnya kamu akan merindukan masa-masa seperti sekarang ini.” Bang Marto menepuk pelan pundak Alif.
Mereka menghampiri Bulan dan Mbok Maryam yang duduk dikursi depan rumah, sudah saatnya mereka berangkat agar tidak kesorean sampai di kota.
“Mbok, Alif berangkat ya. Kalau ada apa-apa Mbok telp Alif.” Ucap Alif memeluk Ibunya.
“Iya, kamu juga hati-hati ya dijalan. Jangan ngebut bawa mobilnya, ingat istri sama calon anak kalian. Kamu harus tetap sabar hadapi istri kamu yang sedang hamil.” Nasehat Mbok Maryam mengurai pelukannya.
“Iya Mbok, pasti.”
“Mbook...” Rengek Bulan dengan suara bergetar masuk kedalam pelukan mertuanya. Mbok Maryam mengusap-usap punggung Bulan memberikan ketenangan pada menantunya itu.
“Kok malah nangis, Nduk. Menantu si Mbok jadi jelek kalau nangis, sudah jangan sedih. Tidak baik untuk kandungan kamu, nanti anaknya ikut sedih.” Hibur si Mbok menyeka air mata diwajah bulat itu. Si Mbok mengantar menantunya itu sampai masuk kedalam mobil.
“Mbok... Bang Marto kami berangkat.” Pamit Bulan dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya, mobilpun perlahan melaju meninggalkan halaman rumah sederhana itu memasuki jalan perkampungan.
“Semoga mereka bahagia terus ya To!” lirih si Mbok.
“Aamiin....”
*****
“Mas, Bulan kebelet pub!” raut wajah Bulan sangat kecut.
“Masih bisa tahan kan?”
Bulan menggeleng dengan wajah yang sangat jelek, karena menahan pubnya.
“Sayang, kita masih di tol lhoh. Rest areanya masih jauh.”
“Tapi pubnya mana tau kita lagi di tol, Mas!” wajah Bulan sudah berkeringat, bahkan telapak tangannya juga sudah basah dengan keringat.
“Kebanyakan makan jambu kamu itu, makanya melilit.” Alif menoleh sebentar melihat istrinya yang duduk sudah seperti ulat bulu, yang kaki naik keatas joklah, yang diselonjorkan di atas dashboard, banyak macam gayanya.
“Yah, emang jambu salah apa Mas? Kasian dia yang ngga tau apa-apa dituduh.”
__ADS_1
“Mas, beneran udah ngga tahan ini. Udah diujung!” Bulan mengibaratkan dengan menyatukan ujung jari terlunjuk dan jempolnya.
“Tahan sebentar, sebentar aja!” Alif menghidupkan lampu sen kiri, ia akan meminggirkan mobil dibahu jalan.
“Mas, kok malah berhenti sih!” Alif keluar dari mobil berjalan kesamping kiri jalan, celingukan kesana kemari.
“Aduuh,, itu Mas Alif ngapain coba. Plongak plongok disana, ngga tau apa ini pubnya udah diujung tanduk!! kamu juga pub, kenapa kamu ngga bisa diajak kerja sama sih!” omel Bulan, wajah dipenuhi keringat padahal AC mobil menyala.
Tidak lama Alif masuk dan membawa batu kecil dalam genggaman, ia berikan pada istrinya.
“Untuk apa Mas?” tanya Bulan dengan wajah bingung, melihat batu ditelapak tangan suaminya lalu melihat suaminya lagi.
“Pegang aja, biar pubnya delay sebentar sampai rest area.” Bulan dengan wajah bingung pun menurut, mengambil batu tersebut dan menggenggamnya.
“Gimana?”
“Udah ngga kebelet. kok bisa?" tanya Bulan heran.
Alif sedikit bernafas lega, Bulannya tidak seperti cacing kepanasan lagi.
"Mungkin pubnya berubah keras seperti batu itu." Jawab Alif asal.
"Bisa gitu?" Bulan masih dibuat bingung oleh suaminya, Alif mengangkat bahunya.
Alif kembali melajukan mobil mereka, ia harus segera sampai di rest area sebelum istrinya itu kebelet lagi. Sekitar lima belas menit kemudian, Bulan kembali kebelet.
“Batu tadi mana?” Bulan menunjukkan batu dalam genggamannya.
“Aduuhh Mas... Udah ngga tahan nih, beneran.. serius!! Batunya udah ngga mempan. Ini lagi tumbenan sih rest area jauh banget!” Bulan bersungut-sungut kesal.
“Tahan sebentar sayang, lima belas menit lagi, okey?”
“Udah ngga kuat Mas, pub di mobil aja ya..?” pinta Bulan dengan wajah memelas.
“Eh.. Jangan dong!” cegah Alif cepat, kemudian
muncul sebuah ide di kepala. Sebuah cara yang sering di lakukan bersama teman-temannya dulu sewaktu masih sekolah dasar.
“Nah, kamu buat gini aja. Kamu tepuk pan-tat tapi bilang kepala, kamu tepuk kepala tapi bilang pan-tat. Itu biasanya manjur juga selain pegang batu tadi.”
“Hah..!” Bulan melongo, “yang benar aja Mas? Masak kepala dikatain pan-tat, terus pan-tat dikatain kepala.” Bulan menggaruk kepalanya dengan bingung.
“Udah, coba aja!”
“Mas, ajaran siapa sih ini. Ngadi-ngadi deh! ajaran sesat kok diikuti!” omel Bulan merengut.
“Pan-tat!”
__ADS_1
“Kepala!”
“Pan-tat!”
“Kepala!”
“Pan-tat!”
“Kepala!”
“Apaan coba, ngga jelas!” sembur Bulan galak. Saking kesalnya karena ide aneh suaminya, Bulan bahkan lupa kalau tadi dia kebelet pub.
Alif sangat ingin tertawa, tapi di tahannya. Bisa makin ngamuk istrinya kalau ia sampai tertawa. Ah! Seandainya bisa, ingin sekali rasanya Alif mengabadikan moment istrinya itu.
*****
“Aaahhh.. Lega rasanya.” Ucap Bulan ketika sudah selesai dengan hajatnya yang membuat dirinya heboh sendiri.
Bulan kembali keparkiran rest area, dimana suaminya menunggu. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya bersama seorang lelaki tua, bahkan lebih tua dari usia Papanya. Mereka terlihat sangat mesra, dengan jari tangan saling bertautan.
Alif menghampiri istrinya yang berdiri tidak jauh dari mobil, “Sayang, kamu liat apa sih? Kok bengong gitu.” Alif pun mengikuti arah pandang Bulan pada sepasang manusia beda usia.
“Sayang...”
“Hah! Eh.. Iya Mas.”
Alif menghela nafas pelan, “Kamu kenapa, kok bengong gitu liat mereka. Kamu kenal?” tanya Alif dengan alis berkerut karena melihat istrinya terus saja melihat kearah pasangan itu.
“Itu Alin, Mas. Tapi laki-laki itu Bulan engga kenal.”
“Ya udah, kalau kamu penasaran samperin aja.” Saran Alif.
“Ngga Mas, takutnya jadi ngga enak nanti. Soalnya kami udah lama lost contact, dan sepertinya mereka ada hubungan deh Mas.”
“Bagus dong, berarti temen-temen kamu udah punya pasangan semua, bukannya itu kabar bahagia.”
“Tapi ngga itu juga Mas, lebih pantas jadi kakeknya daripada pasangan.” Alif menarik lembut tangan sang istri membawanya masuk kedalam mobil.
“Sayang, dengerin Mas.” Alif meraih tangan Bulan, menggenggamnya sambil mengelus lembut. Bulan melihat wajah suaminya yang terlihat sangat serius.
“Jodoh seseorang itu, bukan kita yang atur. Harus dengan ini atau itu, mau dengan yang disini atau yang disana. Harus seperti ini dan itu. Dengan siapa kita berjodoh itu udah ada takdirnya masing-masing, mau lebih tua atau muda, mau janda ataupun duda itu udah garis hidupnya.” Alif menasehati istrinya.
“Jangan menilai seseorang itu dari luarnya, fisik bukan patokan segalanya. Seiring berjalannya waktu, semua akan dimakan usia. Tapi hanya satu yang tidak pernah berubah yaitu CINTA, dia akan abadi selamanya.“
Mata Bulan berkaca-kaca, “Sweet banget sih Mas?” Bulan langsung menghambur kedalam pelukan suaminya, ia sangat bersyukur dipertemukan dengan laki-laki yang kini telah menjadi suaminya. Dan sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua, tentunya ia harus semakin banyak belajar lagi supaya kelak ia bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1