Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
41 - Pancake Strawberry


__ADS_3

“Kabin mana Mah? Kok ngga ikut sarapan?” tanya Bulan ketika tidak melihat sang Kakak di meja makan.


“Kakakmu ada apel pagi. Kesiangan dia ngga sempat sarapan, langsung pergi.” Bulan mangut-mangut.


“Sayang, ini susunya.” Alif menyodorkan segelas susu coklat yang baru di seduhnga didepan sang istri.


“Makasih Mas.” Ucap Bulan memberikan senyum manisnya, Bulan meminum susu hamil yang diberikan oleh suaminya. Mereka melanjutkan sarapan hingga selesai.


*****


“Bego, pulang kerja lu ikut gue kerumah Ibra ya?”


Kedua bestie itu sedang berjalan menuju keruang mereka, setelah tadi bertemu didepan saat Alif menurunkan sang istri didepan lobby kantornya.


“Kenapa gue harus ikut lu, ogah ah! Ntar gue lu jadiin obat nyamuk lagi. Kagak mau gue.” Bulan menggeleng cepat.


“Yeee,, siapa juga yang mau mesra-mesraan depan lu. Emang gue kayak lu, bucin ngga liat tempat.” Nura menggeplak kepala Bulan dengan map yang di pegang nya.


“Lu itu ya, suka banget geplakin pala gue. Gue aduin laki gue lu! Biar digantung di batang pisang, temenan lu sono sama mba-mba kunti.” Kata Bulan dengan ketus melirik Nura sinis.


“Kagak usah sok sinis, tampang lu kagak cocok jadi antagonis.”


“Kami mau diskusi ama lu, mau ya? Please?” kata Nura lagi menyatukan tangan dengan wajah memohon.


“Emang ada apa sih? Kok kayaknya serius banget.”


“Nanti lu juga bakal tau.”


“Ya udin, tapi awas aja kalau sampai mesra-mesraan. Gue tinggal pulang!” ancam Bulan.


“Iyaaa, galak amat sama bestie sendiri.”


Tok tokk tok


Ceklek


“Permisi Mba Bulan,” ucap seorang OB, setelah pintu ruangan Bulan di buka.


“Iya Pak Ujang, masuk.” Jawab Bulan.


“Ini Mba, tadi ada kurir makanan datang. Antar pesanan untuk Mba Bulan.” OB itu meletakkan bungkusan yang berisi makanan diatas meja Bulan. Bulan mengerutkan alisnya, seingatnya ia belum memesan makanan. Kemudian melihat Nura yang juga menggeleng.


“Laki lu mungkin,” tebak Nura.


“Makasih Pak Ujang,” ucap Bulan menerima bungkusan itu.


“Saya permisi Mba, mari Mba Nura.” Pamit OB itu, kemudian meninggalkan ruangan Bulan dan Nura.

__ADS_1


Saat Bulan ingin mengambil ponselnya untuk menghubungi Alif, panggilan video sang suami pun masuk.


Drrt


Drrt


Drrt


“Hai Mas, baru aja Bulan mau nelpon Mas. Eh! Mas udah nelpon duluan.” Kekeh Bulan.


“Benarkah?"


“Iya Mas, tanya Nura kalau Mas ngga percaya.”


“Mas percaya kok sama istri Mas, berarti kita emang sehati sayang. Gimana kamu suka makanannya?” tanya Alif kemudian.


“Jadi benar, Mas yang kirim makanan ini?” Bulan menunjukkan bungkusan yang masih ada di dalam plastik warna putih itu.


“Iya, biar istri Mas tinggal makan. Mas juga belikan untuk Nura.” Nura yang mendengar ia mendapat bagian tentu saja sangat senang.


“Wah... Makasih Mas, Mas Alif emang the best.” Jerit Nura dari mejanya.


“Mas, tadi si kampret geplakin pala Bulan. Ngapain Mas belikan juga untuk dia.” Adu Bulan pada suamimya.


Alif tergelak, “Bukan biasanya kalian juga suka gelut sayang?”


“Iihhh, Mas bukan bela istrinya?” Bulan mengerucutkan bibirnya.


“Mas aja yang mesum,” Bulan malah semakin menggoda suaminya, ia membuat bibirnya seolah ingin mencium.


“Sayang...” Alif memberi peringatan pada istrinya, tapi Bulan tidak peduli. Ia terus saja membuat wajahnya yang menggoda.


“Tunggu kamu ya.”


“Tunggu di mana Mas?” Ucap Bulan dengan suara mendayu-dayu, emang Bulan ini suka cari penyakit.


Alif menarik nafas panjang dan dalam, “Tunggu aja kamu, tidak akan Mas biarkan kamu tidur sampai pagi.” Ancam Alif tegas.


“Uuuu... Atuuut.” Bukannya takut Bulan semakin memancing suaminya dengan tingkahnya. Nura yang mendengar obrolan absurd pasangan suami istri itu hanya memutar bola matanya dengan malas. Ia sudah tidak heran dengan kelakuan mereka.


“Kamu...” Alif menatap tajam sang istri.


“Hahahaha..” Tawa Bulan pecah memenuhi ruang kerjanya.


“Sekarang kamu bisa tertawa sayang, tapi liat nanti sampai dirumah. Apa kamu masih bisa tertawa, hm?” Alif menarik satu sudut bibirnya sembari mengedipkan satu matanya. Sepertinya ia telah memiliki sebuah rencana di kepalanya. Hingga senyum mengerikan itu, membuat Bulan langsung terdiam.


“Kenapa diam sayang? Ayo tertawa lagi.”

__ADS_1


“Em.. i...itu.. Ah.. Eh itu Mas.. Eeem.. Bulan mau bilang, nanti pulang kerja Bulan di ajak Nura ke rumah Ibra. Katanya ada yang ingin mereka bicarakan dengan Bulan, boleh Mas?” Bulan menjadi sangat gugup, ia mengalihkan pembicaraan mereka. Sedangkan Alif mengulum senyum melihat istrinya seperti itu.


“Berarti nanti Mas jemput dirumah Ibra?” tanya Alif menatap wajah istrinya dari layar ponselnya dengan jari telunjuk tangannya mengusap bibirnya.


“I—iya Mas.” Jawab Bulan terbata, melihat apa yang dilakukan suaminya itu.


“Ya udah, sekarang kamu makan ya. Biar kuat nanti malam.” Alif mengedipkan satu matanya seraya memberikan senyuman mautnya.


“Bye Mas,” Bulan tidak menjawab, ia langsung melambaikan tangannya di depan kamera ponselnya.


“Bye sayang.”


Setelah panggilan terputus, Bulan merasa tidak memiliki tulang lagi untuk duduk dengan benar. Ia terbayang senyuman suaminya yang sangat....sangat...Bulan menghela nafasnya.


Mas Alif kalau udah senyum kayak gitu, pasti udah ada rencana di kepalanya, padahal niatnya cuma mau gangguin aja. Tapi malah.... Aaaa...dasar suami mesum. Umpat Bulan dalam hatinya.


“Woi, napa lu. Abis telponan kayak orang hilang ruh.” Tegur Nura yang melihat bestienya seperti tidak ada gairah hidup.


“Gue lapar, yok makan!”


*****


Sore hari mereka telah tiba di rumah Ibra, Ibra menyambut kedatangan mereka di depan teras dengan senyum diwajah tampannya.


“Sore sayang...” Sapa Nura langsung menghampiri dan memeluk kekasih hatinya tidak lupa memberikan beberapa kecupan di wajah Ibra.


“Cape?” tanya Ibra menyelipkan helaian rambut Nura di belakang telinga.


“Udah hilang capenya begitu liat kamu.” Ucap Nura menggenggam tangan Ibra.


“Ekhem.. Ekhemm...” Bulan berdehem keras.


“Kenapa lu, seret. Noh air kran ada.”


“Lu kira gue tanaman, lu kasih air kran.” Sewot Bulan, langsung masuk kedalam rumah Ibra.


“Bulan kenapa sayang?” tanya Ibra menatap kekasihnya.


“Biasa urusan dengan suaminya,” ucap Nura dengan kekehan. “Yuk masuk, nanti ngamuk lagi tuh Bumil.” Imbuh Nura kemudian.


“Nura.. Ibra.. Gue laperrr!!” Teriak Bulan dari dalam.


“Tuh kan bener!” Nura langsung mendorong kursi roda Ibra masuk ke dalam rumah.


“Ya ampun, lu masuk-masuk main nyelonong aja kedapur.” Nura yang ketika masuk tidak melihat Bulan ada diruang tamu langsung aja ke dapur, dan ternyata benar Bumil itu udah ada di sana. Duduk dengan manis di kursi meja makan.


“Kan gue udah bilang, gue laper!” Nura mendengus, ia harus banyak-banyak stock sabar menghadapi Bumil satu itu.

__ADS_1


“Terus, lu mau apa? Biar gue pesanin.” Bulan menggeleng, “Gue mau pancake strawberry yang ada di lemari pendingin.”


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2