
Ibra tampak terdiam duduk bersandar diatas tempat tidur rumah sakit, pandangan matanya terlihat kosong. Setelah melewati masa kritis dan siuman, Ibra harus mendapati kenyataan ia mengalami kelumpuhan dikedua kakinya.
Nura yang sejak kejadian tidak pernah meninggalkan Ibra walau hanya sesaat, dengan berat hati ia harus keluar dari kamar itu atas permintaan Ibra yang ingin sendiri.
Saat sedang duduk dibangku ruang perawatan Ibra, Bulan dan suaminya datang. Bulan sendiri sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat semalam dirumah sakit itu, hari ini rencananya ia memang akan menjenguk Ibra.
"Ra!" panggil Bulan melihat bestinya tertunduk dengan kedua tangannya menangkup wajahnya.
Nura menaikkan wajahnya, wajahnya tampak pucat dengan mata sembab. Nura langsung menghamburkan diri memeluk Bulan, ia terisak menumpahkan perasaan sedihnya pada Bulan. Bulan menepuk pelan punggung Nura, memberikan ketenangan pada bestienya itu.
"Ibra lumpuh, Lan! semua gara-gara gue." Kata Nura disela tangisnya. Bulan menegang, secepatnya ia langsung menetralkan rasa terkejutnya.
"Lumpuh?" Nura mengangguk didalam pelukan Bulan. Bulan menghela nafas panjang.
"Apa yang terjadi karena takdir, Ra. Sekarang tugas kita memberi Ibra semangat, dia butuh dukungan dari orang terdekatnya. Hanya kita yang dia punya, jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri." Ujar Bulan bijak.
"Lu mau jenguk Ibra, masuk aja. Gue tunggu disini," ucap Nura setelah merasa sedikit tenang dan melepas pelukannya dari Bulan.
"Kenapa ngga ikut masuk?" timpal Alif.
Nura menggeleng, ia tersenyum getir. "Ibra meminta Nura keluar, Mas." Lirih Nura, Bulan dan Alif saling pandang. Kemudian Alif mengangguk, Bulan yang mengerti akhirnya meninggalkan Nura didepan.
Ceklek
Ibra menoleh, saat mendengar suara pintu dibuka.
"Hai, Ib. Gimana keadaan lu?" tanya Bulan basa basi pura-pura tidak tau keadaan Ibra. Bulan dan Alif melangkah mendekati Ibra yang duduk diatas brangkar.
"Gue cacat, Lan! kedua kaki gue lumpuh." Ungkap Ibra dengan suara bergetar, ia merasa sudah menjadi lelaki yang tidak berguna.
"Lu, ngga boleh ngomong gitu Ib. Lu harus tetap semangat jalani hidup lu, kalau tidak untuk diri sendiri paling tidak lu berjuang untuk cinta lu?" Bulan menyemangati Ibra. Ibra terdiam, mana ada perempuan yang mau dengan lelaki cacat seperti dia, pikir Ibra.
__ADS_1
"Cinta yang mana, Lan?" tanya Ibra lesu.
"Nura lah, emang cinta lu ada berapa?" sindir Bulan. Tampak Ibra menghela nafas berat.
"Gue normal aja dia engga mau sama gue. Apa lagi gue lumpuh, pasti dia akan ngehina gue, Lan!" Bulan mengalihkan pandangannya kearah lain, hatinya merasa iba dengan apa yang diucapkan oleh Ibra.
"Gue pinjam kamar mandi," ucap Bulan cepat, tiba-tiba saja ia merasa mual dan langsung lari kedalam kamar mandi.
"Lu kenapa, Lan?" tanya Ibra ketika Bulan sudah keluar dari kamar mandi, setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Gara-gara lu nih, kayaknya anak gue kagak suka liat lu sedih!" sahut Bulan asal.
"Anak? Lu- lu hamil, Lan?" Ibra tampak berbinar mengetahui teman sedang mengandung.
"Iya, gue juga baru tau. Gegara lu kecelakaan gue shock dan pendarahan, untungnya anak gue masih bisa diselamatkan."
"Makanya lu jangan sedih-sedih ngga ada semangat hidup!" omel Bulan, yang tengah bersandar pada sofa dengan mata terpejam.
"Noh, dengar tuh apa yang laki gue bilang!"
"Maaf,"
"Terus kenapa Nura kamu suruh keluar?" tanya Alif.
Ibra menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan, "Maaf Mas Alif, aku hanya tidak ingin Nura merasa kasian melihat kondisi aku yang sekarang." Rasa percaya diri Ibra seketika lenyap entah kemana.
"Apa kamu tau, Nura tidak sedetikpun meninggalkan kamu selama kamu dirawat bahkan dia tidak henti-hentinya menangis karena kamu belum siuman. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, Nura sangat mengkhawatirkan kamu Ib. Sekarang pun dia masih menangis didepan sana,"
Ibra terdiam, apa dia sudah keterlaluan pada Nura. Gadis itu sudah menunggui selama ia tidak sadar, tapi malah mengusir gadis itu.
*****
__ADS_1
Sementara Nura mendengarkan semua pembicaraan mereka dari balik pintu, Nura yang ingin masuk untuk pamit pulang menghentikan tangannya ketika akan membuka pintu kamar perawatan Ibra.
Ia tidak menyangka lelaki yang selama ini selalu berdebat dengannya ternyata menyimpan rasa cinta untuk dirinya, bahkan nyawa lelaki itu hampir terengut karena menolongnya. Nura menekan dadanya yang terasa sesak, ia kembali terisak menyadari betapa kasarnya dulu kelakuan dia kepada Ibra. Ternyata lelaki itu begitu tulus mencintainya.
Nura menghapus jejak air matanya, menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Dadanya terasa hampa, Nura berusaha menenangkan dirinya, entah kenapa tiba-tiba ia menjadi gugup ketika hendak masuk kedalam. Apa mungkin karena ia sudah mengetahui perasaan Ibra atau ia juga memiliki perasaan yang sama tapi ia belum menyadarinya, hanya dia dan author yang tau.
Tokk tokkk
Ceklek
Atensi ketiga orang yang ada didalam kamar itu beralih pada pintu yang diketuk dan munculah Nura dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Maaf, mengganggu. Gue cuma mau pamit pulang." Hati Nura merasa berat untuk meninggalkan Ibra, selama menunggui Ibra dirawat ia merasa nyaman berada disisi pria itu.
"Gue minta maaf, udah ngusir lu tadi."
"Ngga apa, gue ngerti kok. Ya udah, kalau gitu gue pamit." Nura berusaha tersenyum.
"Lu yakin mau pulang, Ra? terus Ibra sama siapa?" celutuk Bulan yang sedari tadi ia dan suaminya hanya memperhatikan interaksi kedua orang itu, Bulan yang peka akan arti dari tatapan Ibra tentu saja tidak akan membiarkan bestinya itu pergi. Bulan tau Ibra berharap Nura mau menemaninya, tapi ia takut akan penolakkan dari Nura.
"Tapi Lan.." Nura melirik kearah Ibra.
"Udah lu disini aja, Ibra ngga keberatan kok. Kalau bukan lu siapa lagi yang jagain dia, emang lu tega ngebiarin dia sendirian?" Bulan menaikkan sebelah alisnya, Nura tanpa sadar menggeleng membuat senyum lebar iwajah Bulan.
Sambil menunggu makanan yang dipesan oleh Alif, mereka tampak mengobrol ngalur kidul sesekali mereka tertawa ketika ada yang lucu. Begitu juga Ibra, ia bisa melupakan apa yang sedang dialaminya. Terlebih saat melihat gadis yang dicintainya tertawa lepas membuat Ibra ikut tersenyum. Hatinya kembali menghangat, ia tidak boleh menjadi laki-laki lemah.
Ibra bertekad akan melakukan terapi agar bisa berjalan kembali, walaupun Dokter memvonisnya tidak akan bisa berjalan lagi. Tapi ia yakin pasti suatu saat akan ada keajaiban, sehingga ia bisa berjalan seperti dulu.
Semangat Ibra, demi cintamu. BERJUANGLAH!
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1