
“Pagi Ma-Pa..” Sapa Bulan ketika kedua orang tuanya masuk keruang makan.
“Pagi juga sayang..” Sahut keduanya.
“Suamimu ngga ikut sarapan, Lan?” tanya Arman melihat sang Putri tidak ditemani oleh suaminya.
“Tuh, menantu Papa.” Alif keluar dari dapur dengan membawa segelas susu hamil rasa strawberry ditangannya.
“Tumben pagi ini cepat?”
“Cucu Mama demo, pagi-pagi udah minta makan.” Kekeh Bulan, menyuapi mie tiaw goreng seafood kedalam mulutnya.
“Ma-Pa cobain deh mie tiaw nya. Enak banget, nyesal kalau ngga coba.” Bulan sedang mempromosikan masakan buatan suaminya.
“Serius?” tanya Suci, Bulan mengangguk-angguk cepat dengan mulut penuh.
“Tumben si bibi bikinin sarapan mie tiaw.” Kata Suci, biasa ART nya hanya menyiapkan roti panggang.
“Eh, enak aja si bibi yang bikin. Mas Alif yang masak ini.” Protes Bulan.
“Benar Lif, kamu yang masak ini?” tanya Arman pada menantunya, kemudian ia mengambil dan mencicipi mie tiaw itu.
“Iya Pah, Bulan maunya makan mie tiaw seafood. Sekalian aja Alif masak untuk sarapan kita.” Ucap Alif.
Arman mangut-mangut, “Enak, kamu ternyata ngga hanya pintar bisnis tapi juga pinter masak.” Puji Arman sambil terus menyuapi mie tiaw kedalam mulutnya.
“Bisa nih, kita buka restoran. Pasti banyak peminatnya.” Usul Arman, setelah otak bisnisnya berjalan.
“Ngga! ngga ada ya Pah, Mas Alif masak hanya untuk Bulan seorang TITIK. Ngga ada untuk yang lain apalagi masakannya sampai dimakan perempuan lain. No.. Nooo...” Ujar Bulan dengan jari telunjuk bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“Ngga boleh pokoknya, awas aja Mas kalau setuju dengan idenya Papah.” Bulan melirik tajam suaminya yang duduk di sisi kanannya.
“Duh..duhh...duhh... posesif banget Bulbulnya Kakak.” Seru Bintang yang baru turun dari lantai atas, sambil berjalan ke kursinya dengan jahil tangannya menarik cepolan rambut Bulan sehingga rambut sang adik tergerai. Alif dengan sigap mencepol kembali rambut istrinya yang sedang makan.
“Kabin....!! Resek banget tu tangan.” Pekik Bulan dengan bibir manyun melototin sang kakak, Bintang malah tertawa melihat raut muka adiknya yang lucu dan gemas.
__ADS_1
“Aduh, gembulnya kakak makin gemes aja kalau marah. Jadi pengen uyel-uyel pipi bakpau nya.” Bulan spontan memegang pipinya dengan kedua tangannya. Tingkah Bulan seperti itu semakin membuat wajahnya terlihat imut hingga mengundang gelak tawa mereka yang ada di sana.
“Sudah-sudah, ayo lanjutin sarapannya. Masih pagi kalian ini sudah ribut.” Lerai Suci biar tidak semakin panjang, lalu mengambilkan sarapan untuk Putranya. Karena kalau tetap dibiarkan mereka tidak akan berhenti sampai Bulannya nangis.
Selesai sarapan, mereka memilih bersantai di ruang tengah. Kebetulan hari ini tanggal merah, mereka memilih menghabiskan waktu bersama keluarga terlebih Bintang yang jarang sekali pulang ke rumah. Ia lebih betah berada di asramanya, kalau bukan sang adik yang menerornya untuk pulang.
“Kak, pokoknya Kakak ngga boleh balik asrama sampai Bulan melahirkan.” Celutuk Bulan.
“Eh? Ngga bisa gitu dong dek, lagian masih lama juga kamu ngeluarin tuh bocah. Nanti kalau udah mau dekat waktunya, baru Kakak pulang. Ya.. Yaa. Yaa..” Mohon Bintang yang tetap fokus melihat layar lebar di depannya.
“Ngga mau.. Bulan mau Kakak di sini.” Kekeuh Bulan.
“Mau Kakak di sini sampai kamu lahiran tapi setelah itu Kakak balik asrama atau Kakak di sini saat kamu lahiran tapi setelah itu Kakak ngga balik lagi asrama, pilih mana?” ucap Bintang tanpa melihat sang adik.
“Ngga mau milih!” rajuk Bulan.
“Harus pilih dong.” Tegas Bintang.
“Eeemmm, tapi janji ya ngga boleh balik asrama lagi kalau Bulan pilih yang kedua. Selamanya?” Bulan menggeser duduknya menghadap Bintang yang sedang bermain game, kini Kakak beradik itu duduk saling berhadapan. Melihat sang adik menyodorkan kelingking tangannya, Bintang meletakkan stik PS nya, sambil tersenyum Bintang melingkarkan kelingkingnya pada kelingking sang adik.
“Nanti suami kamu cemburu, peluk-peluk cowok lain di depannya.” Gurau Bintang.
“Mana ada cemburu?” Bulan memiringkan kepalanya melihat Alif tanpa melepaskan pelukan di tubuh Bintang.
“Mas cemburu, Bulan peluk Kabin?” tanya Bulan pada suaminya., Alif menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Tuh, ngga cemburu. Kakak aja yang ngga mau Bulan peluk?” mendongak melihat Bintang.
“Udahkan peluknya, Kakak mau lanjut lagi.” Bintang menunduk melihat Bulan yang tidak mau melepaskan pelukannya.
“Kan benar, Kabin yang ngga mau Bulan peluk.” Bulan menggembungkan pipinya.
“Sekarang minta peluk suami kamu aja, nanti Kakak peluk lagi.” Kata Bintang sambil menekan-nekan pipi sang adik dengan kedua jarinya.
“Harap maklum ya Lif, begitulah istrimu. Sejak kecil Bulan tidak memiliki teman, hanya Kakaknya yang selalu di jadikan teman bermainnya. Kebiasan-kebiasaan mereka itu masih terbawa sampai sekarang.” Ujar Arman memandang anak-anaknya.
__ADS_1
Papa masih tidak percaya kalian sudah sebesar ini, bahkan Putri kecilku sudah memiliki suami dan sebentar lagi aku akan memiliki cucu. Gumam Arman dalam hati.
“Ngga apa Pa, Alif mungkin jika punya adik juga akan bersikap yang sama seperti Kak Bintang.” Arman mengangguk kepalanya.
Bulan kembali duduk di posisinya, membiarkan Bintang bermain dengan PS nya. Ia akan membicarakan perihal yang semalam dibahas bersama suaminya dengan kedua orang tuanya.
“Pah.. Mah.. Ada yang mau Bulan omongin.” Ucap Bulan melirik Arman dan Suci bergantian, kedua orang tuanya saling tatap kemudian kembali melihat Putri mereka yang sekarang sudah ada Alif bersamanya.
“Ngomong aja,”
Bulan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuang perlahan, “Pah-Mah, teman Bulan ada yang mau lamar pacarnya. Tapi dia hanya sebatang kara tidak punya siapa-siapa, bahkan dia sendiri tidak pernah tau siapa orang tuanya. Asalnya dari mana dia ngga tau, dia sewaktu masih bayi ditemukan di depan rumah warga yang akhirnya Ibu-ibu itu merawatnya sampai besar, tapi sayangnya Ibu itu udah meninggal."
Bulan menarik nafasnya lagi, "Mas Alif kemarin udah bersedia untuk mendampingi Ibra lamar Nura.” Lanjut Bulan kemudian.
“Nura? Nura teman kamu itu?” tanya Suci.
Bulan mengangguk, “Iya Ma, yang mau Ibra lamar Nura.”
“Jadi nama laki-laki itu Ibra?” tanya Arman, Bulan mengangguk-angguk menatap kedua orang tuanya.
“Jadi masalahnya dimana?” tanya Arman.
Bulan menoleh melihat suaminya, Alif mengangguk. Bulan menghela nafas panjang, “Jadi gini Pah-Mah, Bulan mau Papa sama Mama ikut saat lamaran nanti. Setidaknya dengan adanya Mama sama Papa, Ibra merasakan kehadiran kedua orang tuanya. Ini kan momen penting dalam hidupnya, apalagi kondisi Ibra sekarang lumpuh."
"Bulan tau setegar apapun Ibra tapi jauh di dalam hatinya ia terluka, ia berkecil hati dengan hidupnya.” Bulan menunduk, tenggorokannya tercekat ia tidak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Alif langsung merangkul istrinya, tubuh Bulan bergetar karena tangisannya.
Suci pun menitikkan air mata, Putrinya ini sungguh berhati lembut dan sangat perasa. Tidak pernah sanggup melihat orang disekelilingnya kesusahan terlebih orang yang dia sayang sampai bersedih.
Suci melihat suaminya kemudian ia mengangguk, menyetujui keinginan Putrinya begitu juga dengan Arman, mereka tidak keberatan sama sekali.
“Kapan kamu mengajak Ibra kemari?” Bulan mengangkat wajahnya yang sembab dari dekapan suaminya.
“Papa?” Arman mengangguk membuat Bulan tersenyum senang.
“Makasih Pah.. Mah..”
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸