
Liburan telah usai, sepuluh hari berlalu setelah menghabiskan waktu berdua dengan segala aktivitas selama disana. Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang kerumah dari bandara di jemput oleh supir yang tugaskan oleh Arman.
Bulan tampak kelelahan, ia sejak dari dalam pesawat terus saja bersandar pada tubuh suaminya tidak sedetikpun ia berjauhan.
"Mas, rasanya belum puas main disana!" rengek Bulan.
"Belum puas? semuanya udah, ngga ada yang terlewatkan sampai pipi kamu chubby karena kuliner terus dan kulit kamu gosong gini." Alif tidak habis pikir dengan istrinya itu.
"Ya, pokoknya kurang. Masih mau liburan lagi."
"Bilang aja mau liburan lagi, pake bilang belum puas main disana." Alif mencubit gemas pipi sang istri.
Bulan tertawa nyengir, ia kembali memejamkan mata kepalanya terasa berat. Untungnya perjalanan tidak macet, sehingga tidak butuh waktu lama mereka tiba dirumah dan disambut oleh kedua orang tua Bulan yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Ya ampun sayang, kenapa anak mama jadi kopi susu gini dan ini juga pipinya makin tembem aja." Suci menangkup kedua pipi Putrinya itu.
"Kagak mau keluar dari air, Ma. Kalau ngga dipaksa, itu juga pake acara ngambek." Sahut Alif, Bulan mengerucutkan bibirnya melirik sang suami dengan cemberut.
"Udah jadi istri masih kayak bocah kamu, Lan." Suci menggeleng pelan, membuang nafas kasar. Kelakuan anak perempuannya selalu diluar nalar.
"Kamu yang sabar ya, Lif. Kelakuannya emang kadang suka aneh, Mama aja kadang berpikir apa anak Mama tertukar ya."
"Ma, tega banget sih bilang Bulan anak yang tertukar. Anak pulang bukannya dipeluk, tanyain udah makan apa belum, gimana liburannya atau tanyain apa kek." Pipi Bulan semakin dibuat gembung, Alif yang melihat semakin gemas ingin rasanya ia menggigit pipi chubby itu.
"Lif, sebaiknya bawa anak manja ini ke kamar. Kalian istirahatlah, pasti capek. Wajah Bulan juga tampak pucat." Sela Arman diantara perdebatan Ibu dan anak itu sebelum semakin panjang.
"Baik, Pa. Kalau gitu Alif sama Bulan pamit ke kamar dulu Pa-Ma." Alif menarik tangan Bulan membawanya ke lantai atas dimana kamar Bulan berada.
"Pa..."
"Hm.."
__ADS_1
"Papa perhatikan ngga, wajah anak kita pucat terus badannya agak berisi gitu?" Mama Suci sangat bersemangat mengutarakan apa yang ada dipikirannya.
"Iya, terus masalahnya apa Ma?"
"Jangan-jangan bentar lagi kita bakal jadi Opa-Oma, Pa."
"Kenapa Mama bisa berpikir sejauh itu? kalau ternyata ngga, Mama yang ada kecewa." Nasehat Arman sang suami.
"Tapi, Mama yakin Pa. Karena sebelum mereka nikah, Putri kita baru selesai datang bulan, Pa. Terus mereka langsung pergi honeymoon, Mama jadi ngga sabar, semoga dugaan Mama benar."
"Aamiin..."
Sampai dikamar, Bulan langsung berjalan menuju kamar mandi ingin segera membersihkan diri, mengganti baju yang lebih nyaman dan bergegas merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Mas, mau dikelonin tidurnya."
Bulan yang telah berbaring meletakkan kepalanya diatas paha Alif, memeluk erat pinggang suaminya. Wajah ia tenggelamkan di perut Alif, dengan lembut dan penuh kasih sayang Alif mengelus rambut sang istri.
"Ngga mau, udah pewe ini."
Alif menghela nafas panjang, menggeleng lemah, kalau sudah seperti ini dia bisa apa. Istrinya ini sangat susah ditebak suasana hatinya, Alif terus mengelus kepala Bulan sesekali tangannya berpindah pada pipi chubby sang istri hingga dirasa nafas Bulan mulai teratur ia memindahkan kepala sang istri keatas bantal. Perlahan menarik selimut menutupi tubuh Bulan hingga diatas dada, tak lupa ia menjatuhkan kecupan dikening, pipi dan juga bibir Bulan hingga membuat wanita itu menggeliat tapi masih dengan mata tertutup.
Setelah memastikan Bulan benar-benar terlelap barulah Alif melangkah kedalam kamar mandi, menikmati ritual mandinya yang tertunda.
*****
"Akhirnya selesai juga..." Nura menghempaskan tubuhnya bersandar pada kursi mobil, Nura bernafas lega, kasus yang dilimpahkan padanya terselesaikan dengan baik.
"Kita makan dulu ya?" tanya seorang lelaki yang duduk dibalik stir kemudi sambil menoleh kearah samping dimana seorang wanita sedang duduk dengan mata terpejam.
"Iya!" jawaban yang sangat singkat membuat sang lelaki hanya bisa mendengus pelan.
__ADS_1
Lelaki itu kemudian menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya menyusuri jalan raya menuju tempat makan. Hening! tidak ada satu pun kata yang terucap dari bibir keduanya hingga mobil berhenti didepan sebuah tempat makan sederhana yang terletak dipinggir jalan.
"Kita makan disini ngga apakan? atau kamu mau ke tempat lain?" tanya lelaki itu setelah memarkirkan mobilnya.
Nura yang sejak tadi memejamkan matanya, perlahan membuka kedua matanya dan memandang sekeliling. Kemudian melihat lelaki itu dan tersenyum.
Ya ampun, dia malah senyum. Biasanya singa betina ini jutek minta ampun. Batin lelaki itu.
"Disini aja, udah lama gue ngga makan ditempat kayak gini." Lelaki itu yang tak lain adalah rekan kerjanya yang selalu tidak pernah akur hanya bisa manggut-manggut. Untuk saat ini jangan membangunkan singa tidur, bisa-bisa makan siangnya akan berantakan.
Mereka keluar dari mobil berjalan berdampingan masuk kedalam tempat makan tersebut dan mengambil tempat duduk sedikit agak dipojokan, suasana sedikit lenggang karena sudah lewat jam makan siang.
"Makasih ya Ib, udah bantuin gue selesain kasus ini. Baru kali ini gue harus hadapi kasus seperti ini, kalau menurut Bulan ini kasus mudah. Tapi, ya tetap aja sulit bagi gue karena masalah rumah tangga apalagi sangkut paut dengan anak."
"Ya namanya rumah tangga pasti ada problemnya, yang kena imbasnya pasti anak. Tapi gue salut sama pak Aldo, beliau begitu gencar mempertahankan hak asuh anaknya."
"Kasian anaknya sih gue, masih bayi gitu tapi ngga dapat kasih sayang Ibunya. Semoga aja mantan istri pak Aldo menyesal dengan keputusannya, perempuan kayak gitu pengen banget gue bejek-bejek! udah gitu gue paketin dia gue kirim deh ke planet pluto biar nyahok dia disana."
Kesal Nura mengingat wajah mantan istri kliennya itu tidak ada sedikitpun belas kasih atau penyesalan. Apa coba tujuannya harus cape-cape perjuangin hak asuh tapi dia sendiri tidak sedikitpun mengharapkan bayi itu.
"Eh, kita kok jadi bahas masalah pak Aldo sih!"
"Lu yang mulai!"
"Enak aja, kok malah gue. Udah lu yang pertama bahas, ya gue ikut aja!" sanggah Ibra.
Belum sempat Nura membalas Ibra, makanan yang dipesan mereka datang. Karena penghuni perut udah mencak-mencak didalam sana minta diisi, mereka melupakan sejenak obrolan yang bisa memicu urat leher tegang.
Untung aja makanan datang, kalau ngga bisa bangun singa betina ini. Kalau bukan karena permintaan Bulan ogah gue dampingin perempuan bar-bar keras kepala ini. Umpat Ibra dalam hati
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1