Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
55 - Kebenaran


__ADS_3

Alif masih terdiam, terpaku menatap kertas usang itu. Pria yang beberapa bulan lagi akan berusia tiga puluh tahun itu, menggelengkan kepalanya tak percaya.


“Ini tidak mungkin... Tidak... Tidak, pasti bukan aku. Hanya namanya saja yang kebetulan sama.” Lirihnya dengan getir.


Kemudian pria yang pernah menjadi Satpam itu, memungut selembar foto yang juga telah usang. Ia semakin menggelengkan kepalanya, pria yang ada di foto itu memiliki kemiripan dengannya. Alif berharap jika saat ini dia sedang bermimpi buruk, istrinya! dimana istrinya. Pria itu teringat akan istrinya, hanya istrinya yang saat ini ia inginkan.


“Bulan... Bulaaaan...” Raungnya dengan tubuh lemas bersandar pada lemari.


Semua orang yang berada di luar kamar sontak terkejut mendengar suara Alif, mereka semuanya berhampur kearah suara hanya tersisa Ibra dan Nura saja diruang depan.


“Mas!” Bulan langsung saja masuk kedalam kamar si Mbok begitu melihat suaminya sudah terduduk di lantai dengan berurai air mata.


“Mas, kamu kenapa?” terlihat wajah panik Bumil itu, ia sangat cemas tiba-tiba suaminya memeluknya erat dan menangis.


Tangan Bumil itu terulur mengusap lembut punggung suaminya, begitu banyak yang ingin ditanyakannya. Apa yang membuat suaminya seperti ini, bukannya tadi si Mbok minta suaminya itu untuk mengambil ramuan untuk Ibra, lalu kenapa sekarang suaminya terlihat sangat kacau. Ada apa sebenarnya.


Tapi semua itu hanya ada dalam benaknya, tak mampu ia tanyakan pada suaminya yang masih terisak dalam dekapannya. Sementara Arman dan Suci yang berdiri di depan pintu saling tatap, apa yang terjadi dengan menantunya itu. Tapi tidak dengan Mbok Maryam, ia sudah bisa menebak saat melihat kotak kayu itu dilantai dengan isi yang berserakan di tambah lembaran yang di yakini sebuah foto berada di tangan Alif.


“Mas...” Bulan menyeka air mata di wajah suaminya dengan jemari tangannya setelah mengurai pelukan suaminya itu sambil menatap penuh cinta suaminya.


Alif tersenyum, tangannya terangkat menggenggam tangan Bulan yang berada di pipinya, kemudian membawanya ke bibir lalu mengecupnya dalam. Memandang wajah istrinya membuat rasa sesak didadanya sedikit berkurang.


Alif menghela nafasnya sangat dalam dan berat, pandangannya beralih menatap Mbok Maryam dengan air mata yang sudah membasahi pipinya yang keriput. Dari tatapan matanya si Mbok tau apa yang di ingikan oleh Putranya itu.

__ADS_1


“Mungkin ini waktunya.” Kata Mbok Maryam, kemudian wanita tua itu membalikkan badannya berjalan keluar kamar.


Mbok Maryam menjatuhkan bo-kongnya di atas tikar, Suci dan Arman juga kembali duduk di susul Alif dan Bulan. Alif tidak lupa membawa botol ramuan untuk pengobatan Ibra lalu menyerahkannya pada Nura begitu juga kotak kayu itu .


Suci berbisik pada suaminya, agar mereka sebaiknya keluar saja. Memberi waktu pada besan dan menantunya itu untuk lebih leluasa berbicara. Tapi Mbok Maryam yang duduk tidak jauh dari suci bisa mendengar dan Mbok Maryam meminta mereka semua untuk tetap di sana. Suasana rumah itu sesaat hening hingga Mbok Maryam membuka suaranya.


“Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Pak Arman dan Bu Suci, bukan niat hati saya ingin membohongi kalian.” Mbok terdiam sejenak, menarik nafas dalam dan panjang. Arman dan Suci masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, kenapa besannya itu meminta maaf. Mereka membiarkan dulu Mbok Maryam berbicara sampai selesai.


“Dan untuk Putraku Alif, maafkan Mbok. Tidak ada maksud Mbok merahasiakan semua ini darimu, dan apa yang kamu lihat semua itu benar. Itu adalah kamu, Nang.” Isak Mbok Maryam tertunduk.


“Jadi Alif...?” Mbok Maryam mengangguk cepat, ia tau apa yang ingin ditanyakan oleh anak yang sudah dibesarkannya itu.


“Siapa orang tua Alif Mbok dan dimana mereka? Kenapa mereka tidak menginginkan Alif Mbok?” Alif tidak mampu membendung lagi air matanya, rasa kecewanya sangat besar. Mau marah, kepada siapa ia harus melampiaskan amarahnya. Bulan yang duduk disampingnya pun ikut menangis, ia menggenggam tangan suaminya memberi kekuatan. Tidak mudah menerima semua kebenaran ini tentunya.


“Saat pertama kali Mbok melihat Ibra, Mbok seperti melihat Anisa Ibumu dan melihat Bagas seperti kamu saat berusia remaja. Jika Bagas dan Ibra juga lahir dari rahim yang sama, maka kalian saudara. Apa yang sebenarnya terjadi setelah kami membawamu pergi Mbok tidak tau."


Ibra, Bagas dan Alif saling pandang. Kemudian tatapan mereka beralih pada wanita tua itu.


“Maksud Mbok?” tanya Alif.


“Coba kamu perhatikan wanita di foto itu, lalu kamu perhatikan wajah Ibra. Mereka mirip bukan?” Tunjuk si Mbok pada foto yang dipegang Alif, Alif pun memandang foto itu, ia melihat Ibra secara bergantian dengan wanita yang ada di dalam foto itu.


“Maaf Mbok, tapi Ibra tidak pernah tau siapa orang tua Ibra. Bahkan wajah mereka aja Ibra tidak tau Mbok, Ibra hanya seorang anak yang tidak diinginkan. Ibra ditemukan oleh Ibu di depan rumahnya saat masih bayi.” Kata Ibra yang juga bingung dengan kenyataan yang di di dengarnya atau hanya kebetulan semata.

__ADS_1


Sementara Bagas sendiri masih terdiam dan menyimak.


“Bukan tidak di inginkan, tapi karena keadaan yang membuat orang tua kalian seperti ini.”


“Keadaan?” tanya Alif dengan kening berkerut.


“Keluarga Ayahmu sangat menginginkan kehadiran anak perempuan lebih tepatnya nenek kalian, karena mereka terikat perjanjian dengan keluarga keturunan bangsawan kala itu untuk memperkuat hubungan bisnis mereka. Jadi mereka sepakat menjodohkan anak dari Ayahmu, nenekmu bersikeras Ibumu harus melahirkan seorang bayi perempuan.”


Si Mbok menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, “Saat Anisa di nyatakan hamil, keluarga besar Ayahmu menyambut dengan sangat antusias kehamilan Anisa. Mereka bahkan memperlakukan Anisa layaknya seorang Ratu tapi itu tidak berlangsung lama, saat usia kehamilan mulai besar dan Anisa ternyata mengandung bayi laki-laki. Sikap mereka berubah dratis, bahkan tanpa sepengetahuan Ayahmu, Anisa pernah seharian tidak makan, karena mereka tidak mengijinkannya untuk menyentuh apapun makanan yang ada dirumah itu.”


“Kenapa mereka sekejam itu Mbok?” tanya Alif lagi.


“Tidak ada yang berani membantah perintah nenekmu, jika beliau sudah memberi keputusan. Kecuali jika ingin tidak di anggap keturunan keluarga itu lagi. Sampai suatu hari tanpa sengaja Anisa mendengar pembicaraan nenek dan Ayahmu, beliau meminta Ayahmu untuk menggugurkan kandungan Ibumu. Agar setelah itu Anisa bisa hamil lagi dan mengandung bayi perempuan."


Suci bahkan sampai menutup mulutnya tidak menyangka ada orang tua yang ingin membunuh cucunya sendiri. Suci tidak habis pikir, hanya untuk sebuah hubungan bisnis sampai harus mengorbankan kebahagiaan anaknya.


“Tapi Ayahmu dengan keras menentang keinginan Ibunya, ia rela tidak di anggap oleh keluarga itu lagi dan pergi dari rumah itu. Nenekmu yang memiliki kekuasaan tentu saja tidak semudah itu membiarkan Ayahmu pergi, itu sama saja merusak kehormatan dan nama baiknya.”


“Sampai tiba waktunya Anisa melahirkan, tidak ada satu orang pun yang ada dirumah. Saat itu Mbok tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja Ayahmu tidak bisa dihubungi. Mbok tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya, yang terpenting bagi Mbok saat itu membantu membawanya kerumah sakit karena air ketubannya sudah pecah.”


“Mbok meminta Bapak untuk datang membantu akhirnya bisa membawa Anisa ke rumah sakit, tidak butuh waktu lama akhirnya kamu lahir. Mbok juga masih tidak bisa menghubungi Ayahmu untuk mengabarkan bahwa anaknya sudah lahir.”


“Saat sudah di pindahkan keruang perawatan, di situlah Anisa memohon pada si Mbok dengan berlinang air mata dengan kedua tangannya menyerahkan bayi laki-laki yang baru saja dilahirkannya pada Mbok dan Bapak agar membawamu pergi jauh dari kota itu,”

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2