Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
46 - Gara- Gara Kecoa


__ADS_3

“Maaaaaaaaasss......” Pekikan keras dan nyaring yang berasal dari lantai atas membuat Alif yang berada di dapur menyemburkan minuman yang sedang di teguknya.


Tuk


Alif meletakkan gelas yang di pegangnya dengan sedikit kasar karena terburu-buru lari ke atas, ia khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya.


Braakkk


Dengan sangat keras Alif membuka pintu kamarnya, ia melihat sang istri sedang berjongkok di atas meja riasnya tangannya menggosok-gosok kakinya dengan tisu basah.


“Bulan, kamu kenapa sayang?” Alif melangkah masuk menghampiri istrinya.


“Itu ada kecoa, Mas. Tolong usir, dia tadi main-main di kaki Bulan. Iiihh...jijik banget tau.” Rengek Bulan dengan manja pada suaminya, Bulan masih menggosok-gosok kakinya yang sudah terlihat merah.


“Sayang udah, itu kulit kamu nanti bisa terkelupas di gosok terus.” Alif memegang tangan istrinya, agar istrinya itu berhenti.


“Biarin, jijik tau Mas hiks..” Bulan yang tidak bisa menahan rasa kesalnya akhirnya menangis. Alif menghela nafas kasar, ia kemudian meraih tubuh Bulan menggendongnya dan membawanya keluar kamar menuju ruang santai di lantai atas tersebut.


Alif membiarkan saja istrinya itu menangis sampai puas untuk meluapkan rasa kesalnya, baju yang di pakainya itu tampak basah di bagian dadanya karena air mata Bulan. Alif dengan penuh kasih sayang membelai lembut rambut Bulan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hanya isak tangis sang istri yang memenuhi ruang itu.


“Sayang...” Panggil Alif lembut saat di rasa istrinya sudah lebih tenang, Bulan merenggangkan pelukannya mendongak menatap suaminya yang juga sedang menatapnya dengan teduh dan hangat tak lupa senyum manis miliknya yang membuat hati Bulan meleleh seperti butter kena panas. Alif menghapus jejak air mata Bulan dengan Ibu jarinya. Kemudian Alif melirik kaki kiri istrinya yang merah dan lecet.


“Bentar ya,” kata Alif mengusap pipi chubby itu. Kemudian Alif berlalu kekamar, tidak lama ia kembali dengan membawa kotak P3K. Alif duduk lesehan di atas karpet bulu dengan kaki Bulan ia letakkan di atas pangkuannya.


Alif membersihkan terlebih dahulu kaki istrinya yang lecet dengan alkohol sebelum ia mengoleskan antiseptik, sesekali ia meniup kala mendengar Bulan berdesis karena rasa perih.


“Lagi pada ngapain?” tanya Bintang yang baru keluar dari kamarnya.


“Kabin mau kemana?” tanya Bulan memperhatikan Bintang dari ujung kepala sampai kaki, rapi dan wangi.


“Yee, ni bocah ditanyain malah balik tanya. Udah kayak lagi dinas aja, mau keluar harus lapor.” Gerutu Bintang.


“Tuh kaki Bulbul kenapa Lif?” Bintang bertanya pada Alif yang sedang meniup-niup kaki adiknya.


“Gara-gara kecoa.”


Bintang menghela nafas panjang, “Lu ngga tau kalau bocah ini, paling anti sama kecoa?” Alif menggelengkan kepalanya, memang sih kebanyakan wanita geli dengan kecoa, tapi tidak sampai seperti Bulan yang menggosok-gosok bekas kecoa sampai melukai diri sendiri.


"Mulai sekarang lu jauhin makhluk satu itu dari kehidupan istri lu, kalau ngga mau bagian tubuhnya ada yang lecet."

__ADS_1


"Tumbenan dirumah ada kecoa?" gumam Bintang.


“Kabin belum jawab, mau kemana?” rengek Bulan cemberut karena di cuekin oleh Kakaknya.


Bintang mendengus, “Mau balik asrama adikku sayang, yang paling cantik, bawel, cengeng, manja. Besok Kakak ada kegiatan pagi.” Jelas Bintang.


*****


“Malik, lu kemana aja? Hah? Mana informasi yang gue minta?” semprot Bulan galak ketika panggilannya di jawab oleh Malik.


“Heyy you... Information yang you minta udah gue email se-mu-a-nya!” balas Malik tidak kalah galak menekan setiap kata yang di ucapkannya.


“Yang bener lu, kok gue ngga nerima notif E-mail masuk ya?” Bulan membuka aplikasi E-mail di ponselnya. Seperti yang di katakan Malik, semuanya sudah di kirimnya.


“Mana KETEHE!” ketus Malik.


“Hihihi.. Udah masuk ternyata, gue aja yang ngga cek!” ucap Bulan cekikikan, tidak merasa bersalah sudah galak pada Malik tadi.


Malik mendengus, “Dasar!”


“Eh, btw by the way busaway, lu mau menyelidiki si bagas karena wajahnya itu mirip laki lu?”


“Semoga you berhasil,”


“Kok semoga?” tanya Bulan heran.


“Karena cuma you yang bisa dapatkan infonya lebih akurat.” Pungkas Malik kemudian.


“Lhoh, kok gue? Heh! Jumadi, gue bayar lu buat dapatin nih info. Kenapa lu malah nyuruh gue yang cari.”


Lagi-lagi Malik menghela nafasnya dengan berat, “Karena ini semua ada kaitannya dengan mertua lu, dan hanya lu yang bisa gali itu semua informasi?” Malik berbicara dengan sangat serius, membuat Bulan terdiam sejenak memikirkan maksud dari ucapan Malik.


“Gimana caranya?” tanya Bulan terdengar lirih.


“Astogeee Bos..! Kenapa mendadak si Bos jadi oon.” Teriak Malik dari seberang sana.


“Heh, lu katain gue oon. Gue potong lima puluh persen bonus lu.” Ancam Bulan garang.


“Eh.. Eh.. Ya jangan Bos! Maaf Bos Maaf.” Mohon Malik sembari menangkupkan tangan di depan dadanya sambil memasang wajah memelas.

__ADS_1


Mereka ini aneh, berbicara melalui telepon tapi seakan-akan lawan bicara berada di depan mereka dan melihat apa yang mereka lakukan.


Nih mulut malah blong lagi remnya. Umpat Malik menabok bibirnya.


“Bos, bisa mulai dari foto yang gue kirim.” Ujar Malik memberikan idenya.


“Kalau itu gue juga tau Malik!” geram Bulan mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia meninju anak buah kesayangan sang Papa.


“Maksud gue gimana caranya gue ketemu lagi sama mertua gue, baru beberapa minggu yang lalu gue balik dari sana.”


“Iya juga ya Bos,” Mereka saling diam beberapa saat, sampai akhirnya Malik berseru.


“Jumadiiiii.... Lu bisa kagak sih, ngga usah teriak-teriak! Gue belum budek,” hardik Bulan kesal, ia mengusap-usap telinganya yang terasa pengang.


“Maaf Bos, soalnya eyke dapat ide brillian. Pasti Bos bakal setuju dengan ide akikah.”


“Awas aja kalau ide lu aneh-aneh, gue tebas abis aset lu.”


Malik spontan menutup aset masa depannya dengan kedua tangannya, “Ya elah Bos, sadis amat sih. Kalau ini abis gimana goyang dombretnya.” Malik terlihat cemberut.


“Buruan, apa ide lu?” ketus Bulan.


Untung stock sabar Malik banyak untuk berhadapan dengan anak Bosnya itu, Malik menarik nafasnya dalam-dalam.


“Lu bilang aja lu lagi ngidam pengen kesana, gampang kan. Pasti laki lu ngga akan nolak.”


“Heh, lu kalau ngomong enak Jumadi. Asal lu tau ni ya, gue kemarin kesana juga karena anak gue yang minta. Masak alasan gue itu lagi?”


“Why Not! Namanya juga keinginan Bumil.”


“Hadeuuuhh.. Ngomong sama lu hampir sejam percuma aja, ngga ada hasilnya.” Bulan memutuskan panggilan telponnya begitu saja.


Tut


“Kebiasan nih anak, kalau bukan anak si Bos. Udah eyke ganti tuh prosesor otaknya.” Malik melempar ponselnya ke atas tempat tidur, kemudian ia beranjak ke kamar mandi. Ia harus menyegarkan isi kepalanya agar tidak darah tinggi menghadapi si Bulanus.


"Untung sayang, kalau ngga udah tak jadikan pergedel. Menyet-menyet kayak ayam penyet, kan jadi lapar." Malik terus ngedumel-dumel ngga jelas hingga hilang di balik pintu kamar mandi.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2