Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
31 - Pak SATPAMKU SUAMIKU


__ADS_3

Esok harinya selesai sarapan Bulan menemani Alif mengambil ikan di tambak yang ada di belakang rumahnya. Bulan ingin ikan bakar yang dibuat oleh Suaminya, semenjak hamil Bulan selalu ingin makan makanan buatan suaminya.


Apapun itu, selama Alif yang membuat kondisi Bulan akan baik. Ia tidak akan merasa mual dan muntah begitupun sebaliknya.


Alif terlalu fokus menangkap ikan, tidak menyadari istrinya sudah masuk kedalam tambak. Untungnya tambak sederhana itu tidak terlalu dalam hanya sebatas pinggang orang dewasa.


“Maaass...!” jerit Bulan sambil lambai-lambai kedua tangannya, sontak membuat Alif yang jongkok dipinggir tambak hampir terjengkang kebelakang.


“ASTAGA BULAN, kapan kamu turunnya? Baik-baik tadi diatas duduk manis adem ayem, eh.. Malah main lumpur!” Awan menghela nafas, udahlah kemarin manjat batang jambu, sekarang main lumpur besok entah apa lagi yang akan dilakukan Bumil satu itu.


“Ibu sama Baby mau bantu Ayah tangkap ikan.” Ucap Bulan dengan senyum lebar menirukan suara anak kecil, ia seperti bocah kecil yang dibebaskan bermain oleh orang tuanya. Alif mendatangi Bulan, biar pun istrinya dibebaskan. Alif tentu saja tidak membiarkan Bulannya sendirian dengan kondisi yang sedang mengandung.


“Asal kamu bahagia sayang, apapun itu lakukanlah! Tapi tetap tidak boleh sampai kamu kelelahan, ingat kondisi kamu.” Alif membiarkan saja istrinya itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, ia tidak ingin merusak mood istrinya yang sedang hamil.


“Siap Pak SATPAMKU, SUAMIKU.” Bulan memberi hormat layaknya orang sedang upacara.


“Kamu ini ada aja jawabannya,” Alif mencubit kedua pipi Bulan yang semakin bulat.


“Tangan Mas bau amis, blueeekk!”


“Mana ada, Mas aja belum pegang ikan. Hidung kamu tuh yang salah!” balas Alif tidak mau kalah.


“Wah.. wah. Wah.. Ngga ajak-ajak nih tangkap ikan. Abang juga pengen rasain tangkapan orang kota seperti apa rasanya?” canda Bang Marto yang datang tiba-tiba sehingga menghentikan perdebatan suami istri itu.


“Bang..”


“Bang Marto, apakabar?” tanya Bulan.


“Alhamdulillah baik. Abang pikir orang kota tidak suka main lumpur.” Ucap Bang Marto terkekeh.


“Ya sekarang beda Bang, sekarang Bulan udah jadi gadis kampung. Jadi harus terbiasa dengan apa yang ada dikampung.” Sontak saja Alif mendelik, “Gadis ya sayang? Disini aja udah ada isi, terus ga-dis nya dimana? Hm?” tangan Alif terulur mengelus perut Bulan, ia menekankan kata gadis.


Bulan langsung menutup mulutnya, ia ngeri-ngeri sedap melihat tatapan suaminya itu. Sedang Bang Marto sendiri malah tertawa terbahak-bahak melihat pasangan suami istri itu.


Bang Marto yang sudah menganggap Alif seperti adik kandung, tentunya sangat bersyukur Alif mendapatkan istri seperti Bulan. Biar pun berasal dari keluarga kaya, lahir dan besar dikota tapi dia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan tempat asal suaminya.


“Maksud Bulan, Bulan sekarang kan udah jadi perempuan kampung Mas. Jadi ya harus bisa kayak-kayak gini, gitu maksud Bulan.”

__ADS_1


“Emang paling pintar kamu kalau ngeles!”


“Kalau ngga pinter, ngga bisa jadi pengacara dong. Iyakan, Mas Alif sayang?” Bulan mengedip matanya menggoda suaminya itu.


“Iya, Ibu PENGACARA SANG PENAKLUK HATI.”


*****


Saat ini Alif, Bulan dan Mbok Maryam sedang menyantap makan siang hasil dari tangkapan mereka. Menu siang ini ikan bakar bumbu rujak dengan sambal kecap tak lupa cah kangkung dan daun kemanggi seperti permintaan sang Bumil. Keringat mulai membasahi wajah cantik Bulan, istrinya itu terlihat sangat cantik dengan wajah yang memerah.


Alif yang duduk disamping sang istri mencuci tangannya kemudian ia menyatukan rambut Bulan lalu mencepolnya tinggi-tinggi agar istrinya itu bisa makan tanpa terganggu rambutnya yang tergerai. Bisa dilihat keringat yang mengalir dipelipis dan leher istrinya. Bulan makan dengan sangat lahap, ia telah menghabiskan dua ekor ikan gurami ukuran sedang. Mbok Maryam tersenyum melihat cara makan Bulan yang tidak ada jaimnya, Bulan menantunya itu masih sama dengan Bulan yang pertama kali datang kesini tidak ada yang berubah darinya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri.


Bulan yang merasa diperhatikan, melirik kearah samping dimana Alif masih menatap nya dengan tersenyum manis.


“Mas kenapa liatin Bulan? Bukannya makan! Ayo makan, enak tau. Iyakan Mbok enak banget, rugi Mas kalau ngga makan. Nanti Bulan abiskan.” Mbok Maryam mengangguk, wanita yang sudah berumur itu hanya melihat dan mendengar ocehan menantunya.


“Abiskan aja, Mas liat kalian makan dengan lahab udah bikin Mas kenyang.”


“Mana ada konsepnya begitu? Ayok makan, kalau Mas ngga makan. Bulan juga ngga mau makan. Biarin Baby nya lapar.” Ancam Bulan galak dengan mata melotot.


“Biarin, wleekk.”


“Tunggu ya, nanti Mas hukum kamu!” ucap Alif dengan seringai diwajahnya. Bulan membelalakan matanya mendengar kata hukuman, ingatan langsung berputar saat dulu dia digelitikin Alif tanpa ampun hingga badannya lemas karena hukuman yang diberikan oleh suaminya. Bulan langsung bergidik ngeri jika suaminya mengelitiknya lagi.


“Kamu ini sudah jadi suami masih saja usil, biarkan istrimu makan dengan tenang. Jangan diganggu terus, kamu juga makan.” Si Mbok menghentikan keusilan Putranya yang terus mengganggu menantunya.


Bulan mengejek suaminya dengan menjulurkan sedikit ujung lidahnya, Bulan sepertinya sangat suka memancing suaminya. Padahal nantinya dia sendiri yang kewalahan hadapi suaminya.


“Awas kamu!” seru Alif tanpa suara, hanya gerakan bibirnya saja tapi Bulan tau itu sebuah ancaman. Bukannya takut Bulan malah membuat wajah jelek seolah dia sedang meledek suaminya. Mbok Maryam geleng-geleng liat suami istri didepannya.


*****


Sore harinya, Bulan mengajak Alif jalan-jalan keliling kampung dan nantinya ia ingin melihat matahari terbenam dari tengah sawah, tapi Mbok Maryam melarangnya pergi untuk melihat matahari terbenam. Wanita yang sedang hamil tidak baik jika berkeliaran diluar rumah sewaktu petang, begitu kata Mbok Maryam. Bulan hanya menurut, jadilah sekarang ia duduk lesehan beralaskan tikar dibawah pohon jambu sambil makan jambu lilin yang dipetik oleh suaminya.


“Beneran kamu ngga pa-pa? Kita masih bisa kok keliling kampung?” tanya Alif sambil memotong jambu.


Bulan menggeleng sambil memasukan potongan jambu kedalam mulutnya. “Disini juga asik lesehan sambil makan jambu, benarkan sayang? Apalagi kita makan jambunya ditemani Ayah, kamu senang pastikan? Makan yang banyak ya, nanti kalau habis minta Ayah petik lagi.” Bulan bicara pada anak dalam kandungannya.

__ADS_1


“Maafin Mbok ya sayang?” Alif menjadi tidak enak hati, karena tadi setelah mandi dan berpakaian. Istrinya itu sangat berbinar-binar ketika mengatakan ingin lihat sunset.


“Engga Mas, Mbok melarang Bulan liat sunset itu karena Mbok menyayangi Bulan dan juga calon cucunya.” Ujar Bulan dengan ceria tapi Alif bisa manangkap rasa sedih dari binar mata istrinya.


“Mas, Mas ingat tidak? Waktu pertama kali Bulan kesini.” Bulan mengalihkan arah pembicaraan mereka.


“Ingat, kamu dengan tidak tau malunya langsung peluk Mas. Padahal saat itu badan Mas sangat kotor.” Bulan mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang gembung.


“Itu karena Bulan rindu sama Mas, Mas aja ngga rindu sama Bulan!” Bulan menyilangkan tangannya didepan dada.


“Memangnya kamu siapanya Mas, harus dirindukan?”


“Istri Mas!”


Pletak


“Awwhh...!” Bulan meringis, Alif menyentil kening Bulan, “Dulu sayang, kan kita cerita dulu.”


“Oh iya.. Hehehe...” Nyengir Bulan sembari mengusap keningnya.


“Apalagi tragedi jatuh didepan dapur, Mas sangat ingat detailnya sampai sekarang bahkan rasanya masih membekas disini.” Tunjuk Alif pada bibirnya.


Blussshh


Wajah Bulan seketika memerah, entah kenapa bila ingat kejadian itu Bulan selalu merasa malu. Awan mengulum senyumnya melihat Bulan yang salah tingkah, sangat menggemaskan dimata Alif.


“Sayang, kenapa wajahnya merah? Hm?” Alif masih tidak berhenti menggoda Bulan.


“Iisss... Apaan sih Mas!” Bulan membuang pandangannya kesembarang arah, sebelah tangannya mendorong Alif supaya menjauh darinya.


“Wajah kamu itu loh, merah. Padahal kita udah sering melakukan yang lebih dari yang didapur, kenapa masih malu? Hm? Bahkan....?” Alif membisikan sesuatu ditelinga istrinya.


“Maaaass... Iihh, kamu mesum banget sih!” Bulan memukul-mukul suaminya dengan tangannya, bukannya kesakitan Alif justru tertawa terpingkal-pingkal.


“Mas nyebelin....nyebelin....nyebelin!!!


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2