
"Mbok kok repot-repot."
"Ngga apa, Nak. Badan Mbok malah sakit kalau engga gerak. Sekalian Mbok masak khusus untuk menantu Mbok yang cantik ini." Ucapan si Mbok membuat pipi Bulan bersemu merah.
"Makasih Mbok."
Pasangan Suami Istri itu sedang berada dikontrakan kecil milik Alif, suasana bahagia terus menyelimuti pengantin baru itu. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang bersama, sebelum Mbok Maryam balik kekampungnya.
"Mbok tinggal disini aja ya sama Bulan dan Mas Alif, disana Mbok sendirian, kalau ada apa-apa gimana?" ucap Bulan disela makannya.
"Mbok ngga bisa tinggalkan kampung, nduk. Mbok ingin menghabiskan hari tua Mbok disana." Hati Mbok Maryam terharu bahwa menantunya begitu peduli dan tulus padanya, ia sangat bersyukur Alif mendapatkan Istri seperti Bulan.
Selesai makan siang, mereka pun bersiap-siap pulang. Mbok Maryam akan pulang bersama Marto tetangganya yang selama ini menjaga si Mbok dikampung.
"Bang Marto, tolong jagain Mbok ya? Kalau ada apa-apa segera kabar Alif ya Bang."
"Kamu kayak sama siapa aja, Lif. Selama ini yang menjaga si Mbok kan Abang, Mbok udah kayak orang tua Abang sendiri. Kamu disini baik-baik, jagain Istri kamu itu jangan sampe lepas." Ujar Bang Marto setengah berseloroh.
Alif tersenyum melirik sang Istri yang berdiri disampingnya dengan tangan melingkar dilengan kekarnya. Mbok dan Bang Marto pun berangkat dengan mobil yang sudah disewa oleh Alif agar perjalanan mereka lebih nyaman.
*****
Sementara dikediaman Arman, pasangan Suami Istri itu baru saja menyelesaikan sarapan pagi rapel dengan makan siang. Suci benar-benar sebal dengan Suaminya itu yang sudah membuatnya susah jalan.
Sedangkan Arman menampilkan wajah tak bersalah, ia tak peduli tatapan horor sang Istri, yang penting ia sudah memberikan hukuman pada Istrinya dengan melahap abis Suci sampai pagi, eh siang.
Keduanya saat ini sedang bersantai diruang keluarga, seperti biasa Suci membaca majalah fashionnya sedangkan Arman berbaring dengan paha Suci sebagai bantal.
"Paaah.."
"Iya, Mah.."
"Mau tidur, tidur aja jangan ngusek-ngusek perut Mama."
Ditengah-tengah perdebatan mereka, Alif dan Bulan pulang bersamaan dengan Bintang.
"Mamaa.." Sapa Bulan saat melihat Suci duduk disofa membelakanginya.
Arman mendengus kesal saat mendengar suara Bulan, tandanya waktu ia bermanja-manja dengan Istrinya terganggu.
"Eh, ada Papa juga!" seru Bulan.
__ADS_1
"Kenapa kalian cepat sekali pulangnya?" tungkas Arman dengan wajah masam.
"Lhah, emang kenapa Pah?" tanya Bintang yang sudah menjatuhkan bokongnya diatas sofa single.
"Mengganggu Papa sama Mama buat adik untuk kalian!" sahutnya enteng.
"WHAAATTS!!" pekik Bulan Bintang secara bersamaan.
"Bulan ngga mau ya Pah-Mah, punya adik!" rajuk Bulan mengerucutkan bibirnya.
"Bintang juga, punya adik satu aja udah mau semaput. Papa-Mama pake acara nambah lagi." Melirik Bulan sang adik, yang dilirik melotot tajam pada Kakaknya.
"Awass.. Kalau nanti kangen, jangan cari-cari Bulan!"
"Kagak ke balik? siapa yang suka datang ke asrama pake nangis-nangis bilang kangen. Cuma demam dikit aja sampe suruh Kakak pulang." Bulan melempar bantal sofa ke wajah sang Kakak kemudian mendelik tajam.
Dasar Kakak laknat, main buka kartu aja. Karatein baru tau. Maki Bulan dalam hati.
"Pah, liat tuh kabin." Adunya pada Arman.
"Kabin-kabin, dasar gembul!"
"Kamu sekarang ngadunya sama yang disamping, bukan Papa atau Mama lagi. Udah jadi Istri orang juga." Bintang terus saja mengganggu adiknya.
"Biarin, udah jadi Istri orang juga masih anak Papa-Mama tau." sahut Bulan tidak mau kalah.
Alif tersenyum tipis melihat perdebatan Kakak beradik itu, sangat terlihat mereka saling menyayangi satu sama lain dengan cara mereka sendiri. Sementara kedua orang tuanya hanya menggeleng-geleng dengan kelakuan mereka.
"Bulan-Bintang, cukup." Tegas Arman, kalau tidak dihentikan akan ada pertumpahan air mata.
Arman menghirup nafasnya dalam-dalam, udahlah gagal mau ngadon. Eh, malah dibuat pusing sama dua bocah cecunguk ini.
"Kebetulan kita kumpul semua disini, ada yang mau Papa sama Mama kasih untuk kalian berdua sebagai kado pernikahan." Setelah hening sejenak, Arman berucap serius sambil menatap anak dan menantunya, kedua pengantin baru itu saling pandang.
Arman memanggil ART nya, kemudian meminta tolong mengambil sebuah amplop diatas meja dalam ruang kerjanya. Tak berselang lama, ART itu kembali dengan membawa amplop yang dimaksud oleh majikannya lalu memberikan pada Arman.
"Papa tidak menerima penolakan." Ucapnya tegas dan lugas menyodorkan amplop coklat itu pada Alif.
"Ayo dibuka, kenapa cuma dilihat?" sambung Suci, menantunya hanya melihat saja amplop yang ada ditangannya
Dengan ragu Alif membuka dan mengeluarkan isi dari dalam amplop itu, betapa terkejutnya Alif melihat dokumen kepemilikan sebuah hotel atas namanya. Ia menatap tak percaya pada kedua mertuanya itu,
__ADS_1
"Pah.. Mah, ini terlalu berlebihan. Alif diterima sebagai menantu dikeluarga ini aja udah sangat bersyukur. Maaf Pah-Mah, tapi Alif tidak bisa menerimanya." Tolak Alif halus, ia merasa tidak pantas menerimanya.
"Apa kamu tidak menganggap kami sebagai orang tuamu? walaupun kamu seorang menantu di rumah ini, kami sudah menganggap kamu sebagai anak. Dan sebagai seorang anak tidak menolak pemberian dari orang tuanya." Jelas Papa mertua.
"Tapi Pah..."
"Papa tidak menerima penolakan, Lif. Jika kamu masih mau menjadi Suami dari Putri Papa." Ancam Arman.
"Udah terima aja, Lif. Namanya juga kado tak terduga, dan gue juga punya sesuatu." Bintang mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya kemudian memberikan pada Bulan yang duduk tak jauh darinya.
"Labuan Bajo." Pekik Bulan keras saat menerima paket bulan madu dari Bintang. Ia berjingkrak-jingkrak ngga karuan saking senangnya, sang Papa mimijit pelipisnya dengan kelakuan anak yang ngga ada jaimnya di depan Suami.
"Sayang,,," Alif menarik tangan Bulan agar kembali duduk.
"Biasanya orang kegirangan dikasih paket honeymoon keluar negeri. Nah, dia masih Indonesia aja udah kayak orang kesurupan girangnya." Bintang ngga abis pikir dengan tingkah absurd adiknya.
"Yeeeyy.. Kakak ngga tau ya, Bulan kan cinta Indonesia. Lagi pula Bulan belum pernah kesana, katanya sih banyak tempat romantis. Aduh,,,jadi engga sabar nunggu besok." Ungkap Bulan dengan mata berbinar sambil menepuk-nepuk kedua tangannya, senyum terus tersungging dibibirnya.
"Untuk kamu, Lif. Kita akan membahasnya setelah kalian pulang bulan madu." Terang Arman.
"Iya Pah."
"Kalian istirahatlah, Papa juga mau istirahat. Ayo Mah..."
"Papa duluan, nanti Mama nyusul!" Suci sangat yakin istirahat yang dimaksud Suaminya itu.
Dasar Suami mesum. Suci menggerutu dalam hatinya.
"Nanti Mama susah jalannya kalau ngga Papa bantuin!"
"Emang Mama kenapa, Pah?" tanya Bintang khawatir.
"Oh, itu.. Mama sakit kakinya jatuh dikamar!" jawab Papa santai
"Bulan semalam juga jatuh dikamar mandi, sampe kaki Bulan terkilir, rasanya Bulan terpipis-pipis nahan sakit waktu diurut sama Mas Alif. Padahal Bulan udah jerit-jerit minta ampun, tetap aja Mas Alif engga mau berhenti urutnya." Cerita Bulan pada keluarganya.
"APAAA....!! Suci dan Arman saling pandang. ternyata mereka salah menduga.
"Jadi semalam...."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1