
“Halo..” Terdengar jawaban dengan suara serak khas bangun tidur dari seberang sana setelah panggilan telpon dari Ibu hamil di jawab.
“Bangun, tidur aja lu!” teriak Bumil.
“Hey gerhana Bulan, you tidak taukah? Disini masih malam! Dan you teriak-teriak gangguin eyke ho-neymoon!” semprot orang yang diseberang sana dengan kesal.
“Honeymoon pala lu peyang, kagak ada laki yang mau sama lu Malika!” sarkas Bumil, orang yang dihubungi Bumil adalah Malik atau Malika.
“Sembarangan you, asal you tau banyak lekong-lekong yang antri mau jadikan eyke bini nye. Mana ada yang berani menolak pesona seorang Malika yang cantika plus seksong. Apalagi goyang patah-patah eyke bisa bikin gempa seantero nusantara.” Jawab Malik dengan pongah.
“Serah lu dah, halu aja terus yang kencang sampai lupa jalan pulang.”
“Iiisss... Dasar Bos Durjana! Buruan mau apa lu?” tanya Malik yang sudah hafal sama kelakuan anak Bosnya itu.
“Cakep, gue demen kalau mode laki lu udah ON.” Kekeh Bulan ketika Malik dengan suara beratnya.
“Siapa orang yang lu incar?” tanya Malik serius dengan mata tertutup.
“Sabar dong, buru-buru amat sih lu!” Bulan sangat suka menggoda kaki tangan sang Papa yang selalu bekerja dibalik layar itu, jika sedang dalam mode laki-laki.
“Gue serius ngantuk banget ini, buruan!” ponsel yang dipegangnya berkali-kali merosot di atas bantal.
“Eh, berani bentak Bos lu ya. Wah.. Ngelunjak nih orang.” Bulan menghela nafas panjang.
“Gue mau lu cari tau tentang seorang laki-laki namanya Bagas Arsenio, gue mau secepatnya lu kasih informasinya sedetail mungkin.” Kata Bulan kemudian.
“Oke! besok lu udah dapat laporannya. Udah kan, eyke ngantuk bok.” Kesadaran Malik sudah timbul tenggelam antara ada dan tiada.
“Kok lu ngga nanya, siapa tu laki?” heran Bulan.
“Besok gue juga bakal tau, please ya Bu Bos baginda Ratu, ijinkan hamba tidur.” Malik benar-benar sudah mulai memasuki pintu menuju alam mimpi, ia tidak mendengar lagi apa yang akan diucapkan Bulan.
__ADS_1
“Ya udah tidur sana!” sunyi tidak ada sahutan lagi.
“Dasar!” Bulan mendengus.
Bulan menarik nafasnya dalam-dalam setelah mengakhiri panggilannya, Bulan melemparkan pandangannya jauh kedepan. Tanpa ia sadari, Alif sudah masuk kedalam kamar dan memperhatikan istrinya yang sedang duduk di balkon kamar mereka.
“Sayang,” Alif memeluk istrinya dari belakang, tangannya berada tepat didepan perut Bulan, Alif bisa merasa perut sang istri yang sudah mulai membuncit. Pipi keduanya saling menempel, hingga Bulan bisa merasakan hembusan hangat nafas suaminya.
Mata Bulan terpejam hangatnya pelukan suaminya itu selalu membuatnya tenang, nyaman merasa terlindungi bahkan terkadang membuatnya sampai terlelap.
“Cape?” Bulan mengangguk. Tanpa banyak kata Alif mengangkat tubuh istrinya membawa ke dalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang.
“Tidurlah, Mas ganti baju dulu.” Kata Alif lalu mengecup kening Bulan. Alif menarik selimut menutupi tubuh sang istri sampai batas dada, mengusap pelan rambut Bulan kemudian beranjak ke kamar mandi.
Dibawah pancuran shower kedua tangannya bertumpu pada dinding dengan mata terpejam, ia terngiang-ngiang dengan semua kata yang di ucapkan istrinya. Biar pun bibirnya berkata tidak, tapi hatinya tidak bisa dibohongi. Alif membenarkan apa yang istrinya katakan, wajah Bagas dan dirinya memang memilki kemiripan. Dan itu sangat mengusik hati dan pikirannya.
“Apa benar kami memiliki hubungan, tapi bagaimana mungkin? Aku anak Mbok, sedangkan Mbok tidak memiliki anak lain? Apa Bapak punya istri lain yang tidak diketahui oleh si Mbok? Apa aku bukan anaknya si Mbok?” Begitu banyak tanda tanya dalam benaknya.
“Arrggghh... Aku mikir apa sih?” Alif merasa frustasi dengan pikirannya sendiri.
*****
“Mas..” rengek Bulan manja, ia menghampiri suaminya yang sedang membuat sesuatu didapur. Bulan memeluk suaminya dari belakang, wajahnya ia tenggelamkan dipunggung suaminya. Aroma maskulin dari tubuh suaminya itu, membuatnya enggan melepaskan pelukan. Bulan semakin erat memeluk posesif Alif, Alif hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang manja.
“Kok udah bangun?” tanya Alif lembut mengusap tangan sang istri.
“Kangen!” gumam Bulan pelan membuat kening Alif berkerut. Apa istrinya ini sedang ngigau, pikir Alif.
“Sayang, kamu mimpi?” tanya Alif yang ingin membalikkan badannya tapi tidak bisa karena Bumil itu menahannya agar tetap dengan posisi seperti itu. Alif bisa merasakan istrinya menggeleng dibalik punggungnya.
“Terus, kenapa tiba-tiba kangen? Hm?”
__ADS_1
“Ngga tau kangen aja.”
Alif menarik sudut bibirnya, mood Ibu hamil benar-benar susah ditebak.
“Makan ya? Mas udah buatin salad buah untuk kalian.” Ucap Alif, mendengar kata salad tangan Bulan yang tadi memeluknya dengan erat dan posesif perlahan merenggang. Alif membalikkan badannya, kini mereka saling berhadapan.
“Mana saladnya?” tanya Bulan yang mendongak karena tubuh suaminya yang tinggi besar.
Alif pun tersenyum sembari menggeleng kecil, “Kalau makan aja nomor satu.” Kekeh Alif.
Alif pun menarik tangan istrinya, membawa dan mendudukkan istrinya itu di kursi meja makan. Kemudian ia kembali lagi kedapur menuju ke lemari pendingan mengambil salad yang sudah dibuatnya tadi.
Mata Bulan berbinar-binar, saat salad full taburan keju dan strawberry itu ada di depannya. Bulan langsung memasukan suapan pertama kedalam mulutnya, matanya membesar.
“Mmmm... Enak banget Mas.” Kata Bulan, kemudian menyuapkan lagi salad kedalam mulutnya, sehingga mulutnya menjadi penuh.
“Habiskan kalau enak.” Bulan mengangguk-angguk senang. “Makannya pelan-pelan aja sayang, ngga akan ada yang minta.” Bulan senyum dengan pipi gembung karena penuh salad dalam mulutnya. Alif saking gemasnya mengacak-acak rambut Bulan.
Alif menompang dagunya dengan satu tangan, matanya memandang Bulan yang sedang menikmati salad buah. Pipi istrinya yang chubby membuat Bulan semakin imut, badan bulan semakin berisi dan padat.
Tapi fokus Alif bukan pada pipi sang istri melainkan pada bibir merah muda milik Bulan yang membuatnya tersenyum-senyum. Sebuah ide nakal muncul di kepalanya, ketika melihat sudut bibir istrinya yang sedikit blepotan. Alif mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
"Ma...mmhhpp..."
Belum sempat Bulan berkata, Alif sudah membungkam dengan bibirnya. Alif tidak hanya membersihkan bibir istrinya yang blepotan tapi juga melahap bibir ranum sang istri yang sudah menjadi candu untuknya.
Tangan Alif yang berada di belakang kepala Bulan semakin menekan tengkuk sang istri membuat ciuman mereka makin dalam, Bulan yang awalnya terkejut dengan serangan dadakan suaminya itu perlahan membalas ciuman sang suami.
Pukk
Bulan memukul dada suaminya setelah Alif melepas pagutan mereka, karena pasokan udara yang semakin menipis. "Orang lagi enak-enak makan, Mas ganggu aja!" sembur Bulan sambil menghirup udara, akibat ulah suaminya ia sampai kekurangan pasokan oksigen.
__ADS_1
"Enakkan mana?" Alif mengedipkan matanya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸