
Semalam Alif berusaha membujuk istrinya yang sedang merajuk dengan berbagai cara, dari yang memijit kakinya, menyuapi cemilan kemulut Bulan, membopongnya saat ingin kekamar mandi, apapun ia lakukan. Tapi tak satu pun yang berhasil mengembalikan mood Bumil itu, istrinya tetap diam tapi tidak menolak apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sampai akhirnya, Alif menemukan sesuatu setelah ia mengugling di si uncle Gu cara meluluhkan istri yang sedang merajuk. Wajahnya sumringah, pria itu sangat yakin pasti kali ini ia akan berhasil membuat istrinya berbicara dan moodnya kembali membaik.
Disini lah sekarang Bumil itu, di sebuah mall besar bersama dengan bestienya. Iya, cara yang di pilih Alif untuk membujuk istrinya adalah memberi waktu istrinya bersenang-senang, baik itu shopping atau makan dan alhasil cara itu ampuh membuat istrinya kembali tersenyum.
Kedua wanita itu tampak bahagia, sepertinya sudah sangat lama mereka tidak berkeliling mall seperti sekarang ini. Mereka memilih makan terlebih dahulu, maklumlah yang satu Bumil tidak bisa kalau tidak makan nanti anak dalam perutnya bisa ngamuk. Awalnya mereka ingin makan korean food tapi, karena khawatir dagingnya ada yang mentah. Daripada daripada, lebih baik memilih makanan lain saja.
Saat sedang mencari tempat makan, Bumil melihat gerai bakmi. Ia menelan air liurnya, padahal baru membaca tulisannya saja.
"Kita makan ini aja," putus Bumil itu, Nura mengikuti saja apa maunya Bumil daripada nanti anaknya nces, dia juga yang pasti akan disalahkan.
“Kaki Ibra gimana?” tanya Bulan sambil menunggu pesanan mereka datang.
Karena kemarin bestienya itu membawa suaminya terapi, setelah jatuh dan lututnya terbentur saat kejadian di kampung. Ibra mulai bisa merasakan sakit pada kedua kakinya, jari-jari kakinya bisa digerakin walaupun masih samar-samar.
“Banyak kemajuan, malamnya gue juga sering pijitin seperti yang di ajarkan si Mbok.”
“Musibah membawa berkah judul nya,” tukas Bulan sambil terkekeh.
“Ya syukuri aja, mungkin ini cara Tuhan membuat Ibra bisa jalan lagi.” Kata Nura dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur.
“Lu sendiri kagak ada rencana beli persiapan baju bayi gitu? Udah gede juga perut lu.”
Bulan menggeleng, “Nanti aja udah mau deketan, emak gue ngga kasih beli sekarang.” Ucap Bulan lalu menyeruput minuman yang baru diantar oleh pelayan.
“Emang keburu, ntar yang ada pas lu mau beli. Tiba-tiba malah lahiran lu.”
Bulan mengedikkan bahunya, “Gue ngga ngerti, jadi gue sama Mas Alif ikutin aja apa kata emak gue. Beliau kan udah lebih pengalaman, secara anaknya dua.”
__ADS_1
Pesanan makanan mereka pun akhirnya datang, Bulan yang sudah sangat tergiur dengan bakmi langsung melahap seperti orang tidak makan beberapa hari.
“Eh bego, lu makan udah kayak orang kesurupan?”
“Gue laper banget, berisik lu ah!” Bulan kembali melanjutkan makannya tidak peduli bestienya atau pun orang yang ada disana melihatnya aneh.
Nura menghela nafas pelan sembari geleng-geleng lalu ia pun makan makanannya, mereka sibuk dengan makanan masing-masing hingga semua menu yang dipesan habis tak bersisa khususnya Bumil yang porsi makannya lebih banyak.
“Kenyang banget gue,” Bulan bersandar sambil memegang perutnya.
“Lagian lu makan kagak kira-kira, semua aja lu garap.” Omel Nura.
“Lu kira sawah di garap, gue mau ke toilet. Kebelet!”
“Gue temenin ngga?” tawar Nura.
“Ngga usah gue bisa sendiri,”
Nura menyipitkan matanya, agar apa yang di lihat nya tidak salah. Matanya melebar, saat apa yang di lihat ternyata sesuai dugaannya. Wanita itu, mengambil tasnya lalu bergegas keluar dari tempat makan itu mengikuti perempuan tadi. Ia bahkan lupa sudah meninggalkan bestienya di sana sendirian.
Dengan tetap menjaga jarak aman ia terus mengikuti perempuan itu. Kelakuannya persis seperti sedang menciduk pasangan yang kedapatan jalan dengan selingkuhannya, hingga ponselnya bergetar membuat fokusnya buyar.
“Haisss... Siapa sih, ganggu aja. Ngga tau apa lagi jadi women spy.” Umpat Nura sambil merogoh tasnya mengambil benda pipi yang bergetar itu, matanya terus mengikuti kemana perempuan tadi pergi.
“Halo, siapa ini?” tanya Nura tanpa melihat siapa yang menelponnya.
“Siapa... Siapa! Emang dasar kampret lu emang, main tinggalin gue. Udah makanan belum lu bayar lagi, main pergi-pergi aja lu. Emang minta gue gantung lu di batang kecambah!” Omel Bulan dari nada suaranya terlihat sangat kesal Bumil itu.
“Hadeuuh... Lu jangan ngomel-ngomel terus, ada misi yang lebih penting ini. Buruan lu susul gue kesini, gue jamin lu bakalan berhenti ngomel.” Nura pun menyebutkan dimana posisinya saat ini.
__ADS_1
Bulan tiba di tempat yang disebutkan oleh bestienya, ia melihat bestienya bersembunyi di depan sebuah manekin, kepalanya memanjang seperti jerapah.
Plaakk
“Eh, Jubaedah lu pain udah kayak penguntit aja! Melongak longok.” Bulan pun mengikuti arah yang di lihat bestienya, tapi ia tidak melihat siapapun.
“Sssstt... Lu berisik banget, lu tau apa?”
Bulan menggeleng, “Lu aja belum ngomong, ya mana gue tau kampret!”
“Oh iya,,, hehehe. Peace!” Nura mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya seraya nyengir, Bulan mencebik.
Saat Nura menoleh, ia kehilangan jejak perempuan yang di ikutinya tadi, “Kan hilang, gara-gara lu sih?” Nura keluar dari persembunyianya di balik manekin, ia mencari-cari targetnya tadi.
“Kok malah nyalahin gue!” sewot Bulan.
“Lagian lu nguntit siapa sih?” tanya Bulan penasaran.
“Gue ngikutin Alin sama aki-aki.” Sahut Nura yang masih fokus mencari, mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru outlet baju itu.
“Hah!! Serius lu liat Alin? Mana-mana...” Bulan heboh begitu mengetahui Alin yang sedang di ikuti oleh bestienya itu. Ia juga ikut menyisir seluruh tempat itu, bahkan ia sudah berjalan mencari setiap bagian.
“Eh bego, lu mau kita ketauan. Cara lu langsung terang-terangan gitu.” Nura menarik tangan Bulan yang berjalan dengan santai mencari keberadaan Alin.
“Kalau ngga gini kita ngga akan tau, dia ada dimana.” Ucap Bulan, matanya masih melihat ke sana kemari.
“Ya.. Tapi ngga gitu juga kelesss...!” ucap Nura dengan giginya yang rapat karena gemas dengan bestienya.
“Udah lu temmpphhh....” Nura membekap mulut Bulan sambil menarik Bumil itu agar bersembunyi di antara baju-baju yang tergantung, saat melihat Alin keluar dari fitting room. Nura menaruh telunjuknya di depan bibir, agar bestienya itu tidak bersuara.
__ADS_1
“Ada Alin.” Ucapnya dengan gerakan bibir tanpa suara.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸