
"Engga gitu juga, Al. Udah jodoh aja, jadi semuanya dipermudah." Sanggah Alif, tapi tidak membuat seorang Aldo percaya begitu aja.
Kita liat aja Lif, suatu saat akan ku buat kau menceritakan semuanya. Batin Aldo.
Selesai makan, mereka mengobrol banyak hal hingga Bulan meminta untuk menggendong baby Juna. Bayi laki-laki nan lucu dan menggemaskan yang berhasil mencuri perhatian Bulan dan Nura.
"Mas, Bulan pengen gendong bayinya pak Aldo. Boleh?" bisik Bulan pelan ditelinga Alif.
"Kamu yakin, bisa?" Bulan mengangguk dengan mata penuh harap.
"Al, istri aku pengen gendong anak kamu, apa kamu keberatan?"
"Oh, silahkan. Aku tidak keberatan." Aldo meraih tubuh putranya dari dalam stroller, menggendongnya dan memberikan pada Alif. Didalam gendongan Alif, Juna begitu anteng. Terlihat bayi laki-laki itu merasa nyaman dalam dekapannya.
"Buruan Lif, bikin! udah cocok jadi Ayah." Seloroh Aldo melihat Alif tidak canggung sedikitpun saat menggendong anaknya.
"Tenang Al, lagi otewe masih on proses. Tiap ada kesempatan, pasti aku gempur istri aku."
Membuat Alif dapat plototan dan cubitan dari sang istri secara bersamaan, membuat kedua pria itu terkekeh.
"Mas ini, ngga ingat ada yang jomblo disini. Entar tu anak pengen, yang susah kita juga. Apalagi tadi...." Ucap Bulan menggantung melirik Nura yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Kagak usah nyindir, gue denger!" sewot Nura.
Bulan tidak berani menggendong bayi itu, sesaat ia menjadi takut melihat bayi gembul itu. Pikiran terlintas macam-macam membuatnya parno, jadilah ia hanya bermain dengan bayi itu yang ada dalam gendongan suaminya.
Sampai akhirnya mereka berpisah didepan resto itu, Aldo harus segera membawa bayinya pulang karena hari sudah sore. Begitupun Nura dan pasangan suami istri itu juga memilih untuk pulang tidak melanjutkan acara belanja mereka.
"Mas, pak Aldo itu baik ya. Penyayang, royal, perhatian. Kalau menurut Bulan sih, sempurna sebagai suami." Ucap Bulan dengan maksud terselubung.
__ADS_1
"Lu kagak usah macem-macem ya markonah, gue masih disini ngomong aja langsung."
"Kalian kenapa sih, ribut mulu!"
"Mas Alif, kagak tau aja. Ucapan bini Mas ini ada niat terselubung!" sinis Nura.
"Benar sayang?"
"Mana ada, Nura aja yang terlalu kepedean, Mas!"
"Heh, Bulan kabisat! laki lu bisa lu kibulin tapi ngga dengan gue. Lu mau sodorin itu duda kan sama gue, jangan lu pikir akal bulus lu kagak tau gue! isi usus lu aja gue tau!"
"Sayang.. Kamu ini ya," Bulan memasang tampang memelas tanpa rasa bersalah.
"Tidak baik menjodoh-jodohkan begitu, biar Nura tentukan pilihannya sendiri. Apalagi Aldo baru bercerai, apa kamu tidak lihat betapa hancurnya dia, tapi berusaha nutupinnya didepan semua orang. Luka itu tidak langsung sembuh sayang, pasti akan meninggalkan bekas." Alif menasehati istrinya dengan lembut sambil merangkul tubuh Bulan berjalan menuju parkiran di basement mall tersebut diikuti Nura di belakang mereka masih dengan mulut komat kamit dengan bibir mengerucut.
"Mas, aku beruntung memilikimu. Kamu begitu peduli dan peka terhadap orang lain, aku sangat-sangat mencintaimu my Hubby." Bulan mengeratkan pelukannya dipinggang Alif.
"Woi... woii... ingat masih ada orang disini, malah kecup-kecupan kalian! ya Tuhan... kasian nya jiwaku yang misquin belaian ini meronta-ronta."
Alif dan Bulan saling pandang, sedetik kemudian mereka tergelak dengan ucapan Nura.
"Dasar bestie kagak ada akhlak!"
*****
Alif dengan perasaan tak menentu masuk kedalam ruang kerja Papa mertuanya, Arman meminta Alif menemuinya untuk membicarakan masalah kepemilikan hotel yang diberikannya untuk Alif. Arman ingin Alif segera bekerja disana, untuk seorang yang cerdas seperti Alif, Arman yakin menantunya itu pasti dengan cepat menguasai segalanya.
"Pa, maaf. Alif benar-benar tidak mengerti sedikitpun tentang perhotelan, bagaimana bisa Alif memimpinnya." Alif sudah duduk berhadapan dengan sang mertua disofa dalam ruang kerja itu.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa memimpin sambil belajar. Nanti istrimu akan membantu sampai kamu mengerti semuanya, dan disana juga akan ada asisten yang akan mendampingimu."
"Maksud Papa, Bulan?"
"Iya, Bulan istrimu. Memangnya kau punya berapa istri!" Arman memberikan tatapan tajam pada menantunya itu.
"I-Itu, maksud Alif Bulan kan pengacara Pa."
"Iya, dia memang pengacara. Bulan itu sudah belajar managemen hotel sejak masih duduk dibangku SMA dan selama ini Bulan istrimu yang selalu bantu Papa di hotel disela-sela kesibukannya sebagai seorang pengacara. Setiap hari pasti dia akan datang ke hotel untuk memeriksa semuanya, bahkan terkadang istrimu itu juga yang langsung turun tangan menghadiri beberapa rapat penting." Jelas Arman.
Ternyata setiap hari dia datang ke hotel karena bantu Papa, akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Alif berucap dalam hatinya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Arman pada menantunya karena sejak tadi hanya diam saja.
"Baiklah, Pa. Alif akan menerima pemberian Papa." Arman tersenyum senang dengan keputusan menantunya itu, setidaknya ia bisa menaikkan derajat menantunya itu agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
Bukan Arman malu karena mendapat seorang menantu dari kalangan bawah, tapi Arman sudah banyak mendengar segala hinaan untuk menantunya itu, ia berharap dengan kemampuan Alif dalam mengembangkan hotel yang sudah menjadi miliknya itu bisa mematahkan segala asumsi buruk untuk Alif. Walaupun tidak semua, paling tidak dengan kesuksesan yang akan diraih Alif nanti menjadikannya seorang pengusaha sukses.
Malam semakin larut, hampir dua jam Alif berada diruang kerja mertuanya. Banyak hal yang mereka bicarakan, tapi hanya mereka berdua yang tau.
Ceklek
Alif membuka pintu kamarnya, ia tersenyum melihat sang Istri sudah terlelap. Langkah kakinya bergerak menuju tempat tidur, perlahan ia duduk disisi tempat tidur agar tidak membuat wanitanya terbangun. Tangannya terulur memindahkan helai rambut yang menutupi wajah cantik itu, Alif menatap dalam istrinya beberapa waktu senyum terbit diwajah pria itu.
"Haissshh,, kenapa kamu bereaksi!" umpatnya pelan ketika merasa bagian tubuhnya ada yang protes.
Alif menarik nafas dalam-dalam, matanya terpejam. Berusaha menghilangkan gairah yang tiba-tiba datang, Bulan sang istri seperti candu untuknya. Setelahnya ia segera beranjak kedalam kamar mandi, mencuci muka, gosok gigi dan berganti baju tidur.
Setelah selesai dengan segala ritualnya Alif kembali ke kamar, dengan sangat pelan Alif naik ke atas tempat tidur, masuk kedalam selimut lalu menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. Memberikan beberapa kecupan diwajah wanita itu hingga membuatnya terusik, untung wanita itu tidak terbangun. Matanya masih terpejam, mungkin karena hangat dan nyaman nya dekapan sang suami membuat wanita tersebut enggan membuka kedua matanya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸