Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
45 - Lamaran


__ADS_3

Ibra beserta Arman dan Suci berada dalam satu mobil yang di kemudikan oleh Bintang, sedangkan mobil di belakang mereka Alif dan istrinya dengan beberapa bingkisan hantaran yang mereka bawa untuk lamaran nanti.


Mobil yang mereka tumpangi telah memasuki halaman rumah berlantai dua dengan dominan cat warna putih dan abu, halaman yang luas dan banyak ditanami beraneka ragam tanaman dan bunga hias. Tampak rindang dan asri.


Ibra dibantu Bintang mendorong kursi rodanya. Ibra tampak gugup, jantungnya berdegup kencang.


“Lu gugup?” bisik Bintang yang sedikit menunduk, agar suaranya tidak di dengar yang lain.


“Iya Kak.” Balas Ibra dengan suara pelan.


“Sama, gue juga. Padahal lu yang mau lamaran.” Bintang cekikikan.


“Gugup kok masih bisa ketawa.”


“Nah, itulah bedanya gue. Gue kalau gugup ketawa, ngga kayak lu meringis gitu!” Bintang masih cekikikan hingga mereka tiba di depan pintu utama. Dimana kedua orang tua Nura sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.


“Selamat datang dirumah kecil kami ini Pak Arman,” sambut Ayah dari Nura dengan ramah sambil menjulurkan tangannya atas kedatangan keluarga Bulan sahabat anaknya dan juga merupakan rekan bisnisnya.


“Jangan merendah seperti itu Pak Beni, rumah anda besar seperti ini dan sangat nyaman.” Balas Arman tidak kalah ramah menerima uluran tangan dari Pak Beni.


Buset namanya sama kayak si kunyu, berarti si kunyu kalau udah tua begini wujudnya. Bintang cekikikan dalam hatinya, teringat rekan kerjanya.


“Maaf sebelumnya Pak Beni, mungkin anda dan istri bertanya-tanya kenapa saya dan keluarga bisa datang bersama Ibra.”


Saat ini mereka telah duduk diruang tamu saling berhadapan, di sofa sebelah kanan dari Arman di tempati oleh Bulan dan Alif. Ibra tetap di kursi rodanya disamping kiri Arman bersebelahan dengan sofa yang diduduki oleh Bintang.


“Ibra ini sudah saya anggap anak saya, jadi sebagai orang tuanya saya mendampingi Putra saya untuk melamar gadis pujaan hatinya yang kebetulan gadis itu anak dari Pak Beni sendiri.” Jelas Arman menjawab kebingungan dari orangnya Nura.


“Kami tidak masalah Pak Arman, hanya sedikit kaget saja. Karena Nura tidak mengatakan apapun pada kami, dia hanya bilang pada kami kalau nak Ibra hanya datang berdua saja dengan nak Alif, menantu Pak Arman ini.” Pak Beni melihat ke arah Alif.


“Mungkin mereka pikir, melamar anak gadis orang itu seperti mau apel malam minggu. Datang, minta ijin, ngobrol-ngobrol selesai pulang.” Gurau Arman terkekeh.


“Pak Arman ini bisa saja,” Pak Beni ikut terkekeh.


“Lu napa sih, celingak celinguk?” tanya Bintang setengah berbisik melihat Ibra seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


“Nura nya kok ngga keliatan ya?” tanya Ibra balik balas berbisik.


“Lu kayak seabad aja kagak ketemu Nura.”


“Bintang, Ibra ada apa?” tegur Suci yang melihat mereka sibuk berdua.


“Ini Mah, Ibra nanya kok Nura ngga kelihatan.” Ibra memplototin Bintang yang tidak bisa menutup mulutnya, Ibra menunduk ia sangat malu ketahuan mencari calon istrinya. Mana disana ada orang tua dari kekasihnya, wajahnya sudah memerah seperti tomat.


Moni sang calon mertua tersenyum, kemudian ia pamit ke dalam. Moni akan memanggil anaknya yang tadi masih berdandan untuk turun kebawah.


“Sayang, kok ngga turun?” tanya Moni melihat anaknya sedang mondar mandir di dalam kamar.


“Nura takut Ma.” Nura mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya.


“Takut kenapa? Mau ketemu calon suami kok takut, biasanya juga tiap hari ketemu.” Moni menggoda anaknya.


“Entahlah Ma, sekarang tu rasanya beda. Deg-degan, coba Mama dengar jantung Nura. Kencang banget kan suaranya.” Nura meraih tangan Mamanya meletakkan di dada kirinya, Moni geleng-geleng seraya tersenyum.


“Ini baru lamaran loh sayang, gimana nanti pas nikahnya. Udah, ayuk turun. Kasian mereka kelamaan nunggu kamu, ntar keburu pulang baru tau. Rugi loh ngga liat calon suami kamu yang hari ini tampan sekali.” Moni mengompori Putrinya.


“Beneran Ma?” tanya Nura semangat.


“Sepertinya lebih menarik lantai dari pada lu Ib!” sindir Bulan, Nura yang mendengar suara bestienya sontak mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak dengan mulut menganga, kemudian Nura mengedarkan pandangannya menatap satu persatu yang ada disana.


“Kok lu sama keluarga lu?” Nura bertanya dengan mata berkedip cepat, ia masih belum percaya apa yang di lihatnya.


“Surprise buat lu, orang tua gue khusus datang buat melamar lu jadi istrinya Ibra. Jadi kudu lu terima lamarannya, awas kalau ngga.” Bulan menyipitkan matanya.


“Eh? Mana ada pula ngancam gitu!”


“Ada, khusus untuk lu. Rugi kalau ngga! gue udah dandanin calon suami lu itu sampai setampan itu.” Tunjuk Bulan dengan ujung matanya.


“Kedip woi kedip...ntar copot lagi biji matanya.” Bulan menggoda bestienya dan juga Ibra yang tengah saling pandang, mereka hari ini terlihat sangat tampan dan juga cantik. Kedua keluarga tergelak, Nura dan Ibra jadi salah tingkah.


“Sayang, kamu ini usil banget sih?” tegur Alif mencubit pipi sang istri.

__ADS_1


“Baiklah, mungkin di awal tadi kita sudah sempat menyinggung tujuan kedatangan kami kesini, sekarang Nura sudah ada ditengah-tengah kita. Sebaiknya kita tanyakkan langsung pada yang bersangkutan, perihal lamaran dari Ibra untuk meminang Nura menjadi istrinya.” Ucap Arman memulai lamaran untuk Ibra.


“Bagaimana nak, apa jawaban kamu?” tanya Pak Beni pada Putrinya.


Nura mengangguk, “Nura terima lamaran Ibra.”


“Pah, ada yang ingin Nura sampaikan.” Ucap Nura melihat Papanya.


“Katakan nak, apa itu!” kata Pak Beni.


Nura tampak menghela nafas panjang, “Kami sepakat untuk menikah aja dulu, untuk resepsinya kami akan melakukannya setelah Ibra sembuh nanti.”


“Lhoh, kenapa tidak sekalian saja?” tanya Arman.


“Nura tidak ingin Ibra sampai kelelahan Om, jika resepsi pasti akan menyita waktu hampir seharian. Ibra jika terlalu lama duduk, sering merasakan nyeri Om. Karena itu Nura ingin menunda resepsi sampai Ibra sembuh.” Jelas Nura.


“Kamu beruntung Ibra, calon istri kamu begitu pengertian.” Pungkas Arman melihat Ibra yang tersenyum bahagia melihat kearahnya.


“Kapan kalian ingin menikah?” tanya Beni lagi.


“Maunya sih tiga hari lagi Pah?” jawab Nura mantap.


Hah?


Semua orang disana sontak kaget dengan keinginan Nura, yang sudah kebelet menikah.


“Kamu serius sayang?” tanya Moni terkejut dengan keinginan anaknya.


“Iya Mah, biar Nura bisa menemani suami Nura setiap saat dan merawatnya dengan baik. Ngga seperti sekarang.”


“Bilang aja udah ngga bisa jauh-jauhan lagi!” ledek Bulan, Nura mendelikkan matanya pada bestienya itu yang terus aja meledek dirinya.


“Baiklah, jika itu udah keputusan kalian. Kami ikut saja." Putus Beni sebagai orang tua dari pihak perempuan.


"Gimana Ibra, kamu siap tiga hari lagi menikah?" tanya Arman pada anak angkatnya itu.

__ADS_1


"Siap lahir bathin..."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2