Pak Satpam, Marry Me...!!!

Pak Satpam, Marry Me...!!!
58 - ISTRI???


__ADS_3

Gue kagak bisa jongkok kampret, perut gue kejepit.” Keluh Bulan berucap dengan suara pelan, ia tidak peduli malah dengan santainya Bumil itu duduk bersila di lantai.


“Ciaa ilah.. Si Markonah malah lesehan. Lagian lu siapa suruh hamil.”


Pluukk


“Heh.. Jubaedah! Kerjaan laki gue nih, bikin gue jadi blendung gini.”


“Lu titip aja dulu gih sono anak lu, di tempat penitipan barang. Nanti udah selesai misi kita ambil lagi.”


“Kalau bisa udah duluan gue titipin sama Bapak Moyangnya, kampret!”


Obrolan absurd unfaedah mereka harus terhenti ketika pramuniaga yang sedang bertugas memergoki mereka sedang duduk dengan santainya.


“Maaf Mba, ada yang bisa dibantu?” tanya pramuniaga itu dengan sopan dan ramah.


“Oh, maaf mba kita numpang duduk bentar. Soalnya ini teman saya lagi hamil, kecapean jadinya lesehan bentar kita di sini.” Sahut Nura sambil menunjuk Bulan.


“Disana ada sofa, Mba- mba ini bisa duduk di sana agar lebih nyaman. Kasian Mba yang hamil ini, harus duduk di lantai.” Kata pramuniaga itu lagi.


“Oh iya, makasih Mba.” Jawab Bulan sambil tersenyum.


Nura membantu Bulan berdiri, tapi sebelum itu ia melihat sebentar ke sekeliling. Setelah tidak di temukan orang yang di ikutinya tadi baru mereka keluar dari sana.


“Gue penasaran deh, itu aki-aki siapa sih? Mesra banget lagi sama si lola, ketemu dimana lagi tu aki-aki.” Sambil berjalan mata Nura masih mengitari sekitar, siapa tau temannya itu masih ada di sana.


“Apa jangan-jangan, Alin jadi simpanan aki-aki itu?” tebak Bulan.


“Aduuh Alin, apa ngga ada gitu stok cowok yang masih kekar luar dalam. Kenapa pilihannya malah aki-aki.” Nura bergidik, ia membayangkan sesuatu-sesuatu itu.


“Eh, jangan salah lu. Biar lu kata tua, mungkin aja dalemnya hot mantep. Bikin si Alin gagal berpaling.” Bulan cekikikan, isi kepalanya sama Nura tidak beda jauh.


“Emang iya gitu?” tanya Nura dengan kening berkerut.


“Katanya sih gitu, laki-laki itu makin tua makin hot jelotot ampe mata melotot. Makanya sekarang banyak aki-aki nyari daun muda, biar waktu bertarung tenaganya seimbang.” Bulan tidak bisa lagi menahan rasa gelinya, ia tergelak sambil menutup mulutnya. Sudah jauh kemana-mana pikiran mereka itu.

__ADS_1


“Wahh.. Kalau laki gue berani kayak gitu. Gue sunat abis!” Nura membuat jarinya seperti sedang menggunting.


“Lah, kalau abis lu kagak ke bagian dong?” ejek Bulan.


“Iya juga ya..?” Nura jadi berpikir, “Ah! tau ah...nanti aja urusan itu.” Tukas Nura yang tidak mau pusing, sekarang misinya cari Alin dulu.


Kedua perempuan itu terus saja berjalan sambil melihat kiri-kanan, atas-bawah bahkan sesekali menoleh ke belakang. Sejak keluar dari toko baju tadi mereka kehilangan jejak Alin, tapi karena rasa penasaran keduanya sangat besar. Mereka bahkan sampai lupa tujuan awal mereka datang ke mall itu.


Ternyata Dewi Fortuna masih berpihak pada mereka, saat melewati toko kosmetik, Bulan melihat Alin sedang memilih-milih dan mencoba lipstick di bibirnya.


“Kampret, tu Alin.”


“Mana-mana?” sahut Nura dengan semangat, ia celinguk kesana kemari. Bulan memegang kepala bestienya kemudian memutarnya kearah di mana posisi Alin, “Noh, di sana.” Ucapnya kemudian.


“Eh! Sejak kapan dia suka dandan?” Nura heran, karena yang mereka tau Alin paling tidak suka dandan. Paling kalau keluar rumah dia hanya memakai bedak baby sama lipbalm aja, lah ini dia belanja banyak alat kosmetik.


Bulan mengedikkan bahunya, “Sejak sama aki-aki itu kali.” Nura pun mengangguk-angguk setuju.


Mereka kembali menjadi women spy, mulut keduanya tidak berhenti berkomentar setiap melihat apa yang dilakukan Alin. Sudah seperti komentator sepak bola saja mereka, mentang-mentang lagi musim piala dunia, ngoceh aja kedua wanita itu tanpa rem. Apa kita rekomendasikan saja mereka untuk jadi komentator?


*****


“Apartemen?” kedua wanita itu bersuara secara bersamaan ketika melihat gedung tinggi di depan mereka.


Ya, saat ini mereka berada di sebuah apartemen elit yang mana keduanya mengikuti Alin sampai kesini. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat, seolah batin mereka sedang saling berbicara dan meyakini kalau mereka tidak salah.


Setelah memarkirkan mobil tidak jauh dari tempat mobil yang Alin naiki terparkir, mereka keluar dari mobil. Tingkah mereka tidak seperti penguntit, karena bisa bahaya jika ada yang melihat mereka dan curiga. Mereka bersikap seolah sedang bertandang ke salah satu unit temannya, dan memang benar teman mereka ada di sana. Siapa lagi kalau bukan Alin.


“Buseett.. Lantai dua puluh tujuh, kalau gempa gimana cara kaburnya?” Ucap Nura ketika melihat angka lift yang di masukin oleh Alin.


“Husss.. Pikiran lu udah ke mana-mana aja, nih akibat hobi travelling. Otak pun jadi suka ikut travelling.” Sindir Bulan


“Kan bener gue!”


Ting

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan mereka pun masuk, Bulan menekan tombol yang tertulis angka dua puluh tujuh. Kotak besi itu naik membawa mereka ke lantai yang di tuju, sesampainya di atas mereka malah jadi kebingungan karena disana ternyata ada lima unit. Sementara mereka tidak tau unit mana yang di tempati oleh Alin.


“Bego, lu punya ide? Otak gue mendadak buntu.”


“Ketuk aja satu persatu, bereskan?” sahut Bulan enteng.


“Yang benar aja lu? Yang ada kita di maki orang main asal ketuk. Syukur orangnya baik, kalau galak? Hmm.. Bisa habis kita kena sumpah serapahnya.” Nura merasa keberatan dengan ide bestienya.


Bulan dengan nekat menekan bel di salah satu unit, tidak berapa lama terdengar suara kunci pintu terbuka.


Klik


“Bulan? Nura?” seru seorang perempuan saat pintu terbuka dengan mata membesar karena rasa terkejutnya. Tidak menyangka kedatangan kedua temannya itu.


“Siapa sayang?” suara seorang pria bertanya dari dalam.


“A—anu..” Alin tergagap.


“Apa kami tidak disuruh masuk?” sela Bulan dengan satu alis terangkat, tatapan intimidasi yang diberikan Bulan membuat Alin tidak bisa berkata-kata selain mempersilahkan kedua temannya itu masuk.


“Sayang, siapa mereka?” pria itu tampak terkejut, ia menatap tajam pada Alin ketika Bulan dan Nura sudah masuk kedalam.


“Mereka...”


“Maaf Om, kami temannya Alin. Lebih tepatnya sahabat lamanya.” Kata Nura sembari menyindir Alin, kening pria itu tampak berkerut.


“Sekali lagi kami minta maaf Om, jika kedatangan kami mengganggu waktu Om dan juga Alin. Kami kesini karena sudah lama tidak ada kabar dari Alin. Kami hanya khawatir padanya, karena dulu kami sering bersama tapi tiba-tiba Alin menghilang. Dan maaf juga jika kami tidak sopan karena mengikuti Om dan Alin tadi.” Jelas Bulan dan pria itu lagi-lagi melirik Alin yang tertunduk.


“Benar yang mereka katakan?” pria itu bertanya pada Alin dengan datar. Alin hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


Pria itu tampak membuang nafasnya dengan kasar, “Jika benar seperti itu, saya minta maaf sudah membuat kalian khawatir kepada istri saya.”


“APAAA?? ISTRI?” pekik Bulan dan Nura, saking terkejutnya mereka dengan apa yang baru saja mereka dengar sampai-sampai mereka berdiri dari duduknya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2