
Alif dan Bulan masih terlelap saling berpelukan, hingga masuk dua orang berbeda gender ke dalam ruangan itu mereka tidak menyadarinya. Kedua orang itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sepasang suami istri tidur di satu tempat tidur yang sempit, badan Bulan yang kecil tampak tenggelam dalam dekapan suaminya. Hanya tangannya saja yang terlihat melingkar dipinggang Alif.
Kedua orang itu tak lain adalah Arman dan Suci, orang tuanya Bulan. Setelah menghubungi menantunya tadi, mereka bergegas berangkat dan tak lupa membawa perlengkapan Bulan seperti yang diminta oleh menantunya. Suci juga membawa perlengkapan Alif, biarpun sang menantu tidak memintanya, pastinya menantunya itu juga membutuhkahnya.
Tak hanya itu, Suci juga membawa sarapan untuk mereka, karena ia ingin segera melihat keadaan Putrinya, dia dan suami memutuskan sarapan di Rumah Sakit saja. Tapi kedatangan mereka malah di sambut pemandangan yang membuat hati mereka terharu, bagaimana tidak? Sikap yang Alif tunjukkan, bagaimana ia memperlakukan istrinya membuat kedua orang tua itu sangat amat bersyukur Putrinya dinikahi oleh pria seperti Alif.
“Pah, sweet banget menantu kita.” Kata Suci dengan mata berbinar.
“Papa juga sweet kali Mah, bahkan lebih sweet dari menantu Mama itu.” sahut Arman tidak mau kalah.
“Sweet dari mana? Papa aja sewaktu muda dulu tidak pernah memperlakukan Mama seperti itu.” Cibir sang istri sembari berjalan menuju sofa dan menghempaskan bokongnya disana.
“Kalau Papa tidak sweet, tidak akan hadir Bulan dan Bintang Mah. Tiap malam Papa selalu bisa buat Mama merintih minta ampun, kurang sweet apa Papa?”
Plakk
Suci memukul paha suaminya, ia sangat gemas dengan suaminya itu. Suaminya selalu saja seperti itu bahas apa berakhir dengan apa.
“Ishh si Papa, itu bukan sweet. Dasar Papa aja yang mesum.” Arman tertawa kecil melihat istrinya mengomel.
“Eh Pah, mereka tidur beneran apa pura-pura ya? Kok ngga ada yang bangun, padahal kayaknya kita udah berisik deh.” Ucap Suci ketika melihat anak dan menantunya masih terlelap dalam posisi yang sama seperti saat mereka tiba tadi.
“Mama mau ngapain?” tanya Arman dengan kening berkerut ketika sang istri sudah berdiri dari duduknya.
“Mama mau lihat mereka,”
“Mama ini ada-ada saja, ntar gangguin mereka tidur loh.”
“Sssttt... Papa diem aja.”
Suci memperhatikan anak dan menantunya yang tidur dengan sangat nyenyak, bahkan untuk meyakinkan dirinya, Suci menggerakkan tangannya di depan wajah Alif. Arman hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Bulan yang lebih dulu terbangun mengeliat di dalam pelukan suaminya sehingga membuat tidur Alif terusik.
“Kenapa sayang?” tanya Alif mengecup puncak kepala istrinya, Bulan mendongakkan kepala melihat suaminya.
“Mau pipis,” jawab Bulan dengan suara lemah.
Baik Alif maupun Bulan belum menyadari jika ada dua pasang mata yang sedang melihat interaksi mereka, sementara kedua orang yang sejak tadi berada disana menunggu dua sejoli itu terbangun hanya diam saja, tidak berniat untuk bersuara.
Alif melepas botol infus dari tiang penyangga setelah ia mematikan aliran infusnya lalu menaruhnya ditangan Bulan, kemudian menggendong istrinya membawa kekamar mandi.
“Kita seperti lagi nonton drama romantis ya Pah!” ucap Suci setelah anak dan menantunya masuk kedalam kamar mandi sambil tertawa kecil.
“Iya Mah, mantan Satpam udah ketemu pawangnya. Dulu sewaktu masih jadi Satpam gaharnya minta ampun,” Arman terkekeh.
“Diem-diem Pah mereka keluar,” kata Suci saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Baru dua langkah kakinya keluar dari kamar mandi, langkah Alif terhenti. Pandangan matanya tertuju pada kedua mertuanya yang sedang tersenyum padanya, tampak raut wajah pria itu terkejut.
“Kapan Mama-Papa datang?” tanya Bulan dengan pelan.
“Baringkan dulu istrimu, masa mau berdiri terus kalian disitu.” Seru Arman.
“Ah! Iya Pah,” Alif pun membaringkan istrinya, ia menyetel brangkar itu menjadi setengah berbaring.
Pasangan paruh baya itu pun mendekati mereka, “Kamu kenapa sayang? Sampai bisa masuk Rumah Sakit gini.” Tanya Suci membelai rambut Putrinya.
“Dari jam dua Bulan muntah-muntah terus Ma, sampai tubuhnya lemas. Takut terjadi apa-apa, Alif langsung bawa Bulan ke sini. Maaf Mah, Alif cuma titip pesan sama bibik.” Jawab Alif menjelaskan.
“Kami ngerti, Papa pun kalau di posisi kamu juga akan melakukan hal yang sama. Terus apa kata Dokter?” tanya Arman.
“HB Bulan sangat rendah, tujuh koma sembilan gr/dl ( gram/desiliter) Pah.”
__ADS_1
“Anak dalam kandungan Bulan ngga apa-apa kan?” tanya Suci dengan raut wajah cemas, ia menatap menantunya lalu menatap Putrinya. Ibu dua anak itu tentu saja tau jika HB rendah dampaknya apa pada bayi.
“Tidak apa-apa Mah, tapi nanti ada Dokter Kandungan yang akan memeriksanya untuk memastikan lebih lanjut.” Kata Alif.
Seperti yang dikatakan Alif, tidak berapa lama seorang Dokter wanita seusia Suci masuk di dampingi seorang perawat yang mendorong kursi roda.
“Selamat pagi,” sapa Dokter itu ramah.
“Pagi Dok,” jawab mereka serempak.
“Bagaimana Bu Bulan, apa masih muntah-muntah atau mual?” tanya Dokter itu yang sebelumnya sudah membaca hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Dokter jaga yang menangani Bulan saat mereka datang pagi tadi.
“Pusing Dok!” jawab Bulan lemah.
Dokter wanita itu tersenyum, “Itu pasti, karena HB ibu sangat rendah, kita akan lakukan USG untuk mengecek keadaan janin.” Ucap Dokter itu.
Perawat wanita itu mendorong kursi roda lebih dekat dengan pasien, Alif mengangkat tubuh Bulan dan menurunkan di atas kursi roda, kemudian ia meminta biar dia saja yang mendorong kursi roda tersebut.
Alif mendorong kursi roda mengikuti Dokter Kandungan tersebut keruangannya, sementara kedua orang tuanya menunggu di kamar perawatan Bulan.
Sampai diruang Dokter itu, Alif mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di atas brangkar. Pria itu juga membantu menaikan baju istrinya saat seorang perawat akan mengoleskan gel di atas perut Bulan.
“Sudah 24 minggu ya,” kata Dokter itu ketika ia menggerakkan alat yang ditangannya.
Dokter itu mengecek semuanya, bahkan kedua calon orang tua itu bisa mendengar dengan jelas detak jantung sang bayi.
“Semuanya masih baik, bayinya sangat kuat." ucap Dokter itu. "Mau lihat jenis kelaminnya?” tanya sang Dokter.
Alif menatap istrinya, Bulan menggelengkan kepala. Mereka sudah sepakat tidak akan melihat jenis kelamin calon anak mereka. Biar itu menjadi kejutan saat sang bayi lahir nanti.
Setelah selesai pemeriksaan USG, Alif kembali membawa istrinya ke kamar perawatannya. Alif menjadi lebih ketat sekarang dalam urusan makanan yang apa saja yang harus dimakan oleh istrinya sesuai saran dari Dokter tadi agar HB sang istri cepat naik.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸